Minggu, 10 Mei 2026

Kun Fayakun dan Nasib Gorengan di Dunia yang Serba “Masya Allah Story”

Ada satu jenis manusia modern yang hidupnya sangat religius di media sosial. Pagi upload kopi dengan caption “Bersyukur atas nikmat sederhana”, siang mengeluh harga cabai, malam galau karena mantan menikah dengan pegawai BUMN. Di antara semua drama itu, ia tetap percaya bahwa hidup orang lain selalu lebih bahagia. Tetangganya tampak damai. Temannya tampak sukses. Bahkan kucing influencer pun tampak lebih ikhlas menjalani hidup.

Padahal belum tentu.

Begitulah kira-kira pelajaran besar dari pengajian tasawuf yang membahas “Kun Fayakun.” Sebuah tema yang terdengar sangat langit, tetapi ternyata relevan juga untuk orang yang panik ketika kuota tinggal 2%.

Konsepnya sederhana: Allah berkata “Jadilah,” maka jadilah. Selesai. Tidak ada rapat koordinasi. Tidak perlu tanda tangan RT. Tidak pakai survei kepuasan pelanggan. Alam semesta berjalan karena kehendak Tuhan, bukan karena manusia berhasil membuat vision board di Pinterest.

Masalahnya, manusia modern sangat percaya pada ilusi kontrol. Kita membuat to-do list seolah hidup bisa diatur seperti rak minimarket. Bangun jam 5. Meditasi. Minum air lemon. Olahraga. Produktif. Kaya sebelum usia 30. Menikah harmonis. Pensiun dini. Padahal kadang jam 8 pagi saja kita sudah kalah oleh notifikasi cicilan.

Tasawuf datang seperti teman tua yang menepuk pundak sambil berkata:

“Santai sedikit boleh.”

Bukan berarti malas. Bukan berarti rebahan sambil menunggu karung uang jatuh dari langit seperti sinetron azab versi ekonomi syariah. Tetapi manusia diingatkan bahwa usaha itu penting, hanya saja hasil akhir tetap bukan milik kita.

Lucunya, manusia sering terlalu percaya pada “zahir.” Kalau melihat orang naik mobil mewah, kita langsung mengira hidupnya tenang. Padahal bisa jadi ia sedang menghafal doa penagih leasing. Kita iri melihat pasangan romantis di Instagram, padahal lima menit setelah foto diambil mereka bertengkar soal siapa yang lupa matikan rice cooker.

Hidup memang sawang sinawang — saling memandang kehidupan orang lain sambil lupa bahwa semua orang juga sedang bingung dengan hidupnya masing-masing.

Media sosial memperparah keadaan. Semua orang terlihat seperti wali Allah yang sekaligus sukses startup. Ada yang posting tahajud, lalu sejam kemudian flexing jam tangan. Ada yang menulis caption tentang ikhlas, tetapi marah besar karena view TikTok turun drastis. Dunia modern membuat manusia sulit membedakan antara zuhud dan pencitraan dengan filter Valencia.

Di titik inilah tasawuf terasa lucu sekaligus menampar.

Kita diingatkan agar tidak terlalu sombong saat sehat, karena flu saja bisa membuat seseorang merasa seperti daun kering tertiup angin. Jangan terlalu bangga dengan uang, karena harga telur bisa naik lebih cepat daripada tabungan. Jangan terlalu percaya diri dengan kecantikan atau ketampanan, sebab foto KTP tetap lebih jujur daripada kamera iPhone.

Ada pula pelajaran menarik tentang rahmat Tuhan. Manusia ternyata masuk surga bukan semata karena amalnya. Kalau benar-benar dihitung secara detail, mungkin banyak amal kita yang bolong seperti jalan kabupaten setelah musim hujan. Salat khusyuk lima menit, sisanya memikirkan diskon e-commerce. Zikir di lisan, tetapi hati sibuk menghitung siapa yang belum membalas chat.

Namun justru di situlah letak harapan.

Agama ternyata bukan sistem administrasi yang dingin seperti loket fotokopi. Ada kasih sayang. Ada rahmat. Ada kemungkinan bahwa Tuhan menerima hamba-Nya bukan karena sempurna, melainkan karena terus datang meski penuh cacat.

Dan ini melegakan.

Sebab sebagian manusia hidup seolah-olah Tuhan adalah HRD kosmik yang kerjanya hanya menilai performa bulanan. Sedikit salah langsung panik. Sedikit gagal langsung merasa tamat. Padahal dalam tradisi spiritual, manusia justru diajari untuk tetap berjalan meski tertatih-tatih.

Yang menarik lagi adalah cara memandang ibadah. Dalam tasawuf, zikir bukan sekadar manusia mengingat Tuhan, tetapi karena Tuhan lebih dulu mengingat manusia. Jadi ketika seseorang tiba-tiba rajin berdoa setelah hidupnya berantakan, mungkin itu bukan semata kesadarannya sendiri. Bisa jadi itu “panggilan halus” dari langit.

Romantis sekali. Sedikit seperti mantan yang tiba-tiba menghubungi setelah bertahun-tahun, hanya saja kali ini tujuannya menyelamatkan jiwa, bukan meminjam uang.

Akhirnya, pelajaran terbesar dari semua ini adalah paradoks yang indah: manusia harus berusaha sekuat tenaga sambil sadar bahwa dirinya tidak sepenuhnya berkuasa atas hasil. Kita diminta bekerja keras, tetapi tidak mabuk oleh hasil kerja keras itu. Kita disuruh berharap, tetapi tidak menyembah harapan.

Mungkin hidup memang seperti orang jual gorengan di pinggir jalan saat hujan. Kita sudah menyiapkan tepung terbaik, minyak terbaik, cabai terbaik, bahkan senyum terbaik. Tetapi apakah dagangan laris atau tidak, tetap ada wilayah misterius yang tidak bisa dikendalikan manusia.

Dan anehnya, justru ketika seseorang menerima kenyataan itu dengan tenang, hidup terasa lebih ringan.

Mungkin itulah “Kun Fayakun” versi rakyat jelata:
manusia cukup mengaduk adonan sebaik mungkin, sementara urusan langit biarlah tetap menjadi urusan langit.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.