Ada satu jenis manusia modern yang hidupnya sangat religius di media sosial. Pagi upload kopi dengan caption “Bersyukur atas nikmat sederhana”, siang mengeluh harga cabai, malam galau karena mantan menikah dengan pegawai BUMN. Di antara semua drama itu, ia tetap percaya bahwa hidup orang lain selalu lebih bahagia. Tetangganya tampak damai. Temannya tampak sukses. Bahkan kucing influencer pun tampak lebih ikhlas menjalani hidup.
Padahal belum tentu.
Begitulah kira-kira pelajaran besar dari pengajian tasawuf
yang membahas “Kun Fayakun.” Sebuah tema yang terdengar sangat langit, tetapi
ternyata relevan juga untuk orang yang panik ketika kuota tinggal 2%.
Konsepnya sederhana: Allah berkata “Jadilah,” maka jadilah.
Selesai. Tidak ada rapat koordinasi. Tidak perlu tanda tangan RT. Tidak pakai
survei kepuasan pelanggan. Alam semesta berjalan karena kehendak Tuhan, bukan
karena manusia berhasil membuat vision board di Pinterest.
Masalahnya, manusia modern sangat percaya pada ilusi
kontrol. Kita membuat to-do list seolah hidup bisa diatur seperti rak
minimarket. Bangun jam 5. Meditasi. Minum air lemon. Olahraga. Produktif. Kaya
sebelum usia 30. Menikah harmonis. Pensiun dini. Padahal kadang jam 8 pagi saja
kita sudah kalah oleh notifikasi cicilan.
Tasawuf datang seperti teman tua yang menepuk pundak sambil
berkata:
“Santai sedikit boleh.”
Bukan berarti malas. Bukan berarti rebahan sambil menunggu
karung uang jatuh dari langit seperti sinetron azab versi ekonomi syariah.
Tetapi manusia diingatkan bahwa usaha itu penting, hanya saja hasil akhir tetap
bukan milik kita.
Lucunya, manusia sering terlalu percaya pada “zahir.” Kalau
melihat orang naik mobil mewah, kita langsung mengira hidupnya tenang. Padahal
bisa jadi ia sedang menghafal doa penagih leasing. Kita iri melihat pasangan
romantis di Instagram, padahal lima menit setelah foto diambil mereka
bertengkar soal siapa yang lupa matikan rice cooker.
Hidup memang sawang sinawang — saling memandang
kehidupan orang lain sambil lupa bahwa semua orang juga sedang bingung dengan
hidupnya masing-masing.
Media sosial memperparah keadaan. Semua orang terlihat
seperti wali Allah yang sekaligus sukses startup. Ada yang posting tahajud,
lalu sejam kemudian flexing jam tangan. Ada yang menulis caption tentang
ikhlas, tetapi marah besar karena view TikTok turun drastis. Dunia
modern membuat manusia sulit membedakan antara zuhud dan pencitraan dengan
filter Valencia.
Di titik inilah tasawuf terasa lucu sekaligus menampar.
Kita diingatkan agar tidak terlalu sombong saat sehat,
karena flu saja bisa membuat seseorang merasa seperti daun kering tertiup
angin. Jangan terlalu bangga dengan uang, karena harga telur bisa naik lebih
cepat daripada tabungan. Jangan terlalu percaya diri dengan kecantikan atau
ketampanan, sebab foto KTP tetap lebih jujur daripada kamera iPhone.
Ada pula pelajaran menarik tentang rahmat Tuhan. Manusia
ternyata masuk surga bukan semata karena amalnya. Kalau benar-benar dihitung
secara detail, mungkin banyak amal kita yang bolong seperti jalan kabupaten
setelah musim hujan. Salat khusyuk lima menit, sisanya memikirkan diskon
e-commerce. Zikir di lisan, tetapi hati sibuk menghitung siapa yang belum
membalas chat.
Namun justru di situlah letak harapan.
Agama ternyata bukan sistem administrasi yang dingin seperti
loket fotokopi. Ada kasih sayang. Ada rahmat. Ada kemungkinan bahwa Tuhan
menerima hamba-Nya bukan karena sempurna, melainkan karena terus datang meski
penuh cacat.
Dan ini melegakan.
Sebab sebagian manusia hidup seolah-olah Tuhan adalah HRD
kosmik yang kerjanya hanya menilai performa bulanan. Sedikit salah langsung
panik. Sedikit gagal langsung merasa tamat. Padahal dalam tradisi spiritual,
manusia justru diajari untuk tetap berjalan meski tertatih-tatih.
Yang menarik lagi adalah cara memandang ibadah. Dalam
tasawuf, zikir bukan sekadar manusia mengingat Tuhan, tetapi karena Tuhan lebih
dulu mengingat manusia. Jadi ketika seseorang tiba-tiba rajin berdoa setelah
hidupnya berantakan, mungkin itu bukan semata kesadarannya sendiri. Bisa jadi
itu “panggilan halus” dari langit.
Romantis sekali. Sedikit seperti mantan yang tiba-tiba
menghubungi setelah bertahun-tahun, hanya saja kali ini tujuannya menyelamatkan
jiwa, bukan meminjam uang.
Akhirnya, pelajaran terbesar dari semua ini adalah paradoks
yang indah: manusia harus berusaha sekuat tenaga sambil sadar bahwa dirinya
tidak sepenuhnya berkuasa atas hasil. Kita diminta bekerja keras, tetapi tidak
mabuk oleh hasil kerja keras itu. Kita disuruh berharap, tetapi tidak menyembah
harapan.
Mungkin hidup memang seperti orang jual gorengan di pinggir
jalan saat hujan. Kita sudah menyiapkan tepung terbaik, minyak terbaik, cabai
terbaik, bahkan senyum terbaik. Tetapi apakah dagangan laris atau tidak, tetap
ada wilayah misterius yang tidak bisa dikendalikan manusia.
Dan anehnya, justru ketika seseorang menerima kenyataan itu
dengan tenang, hidup terasa lebih ringan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.