Jumat, 15 Mei 2026

Menjadi Tamu yang Tidak Merepotkan Semesta

Ada dua jenis manusia ketika bertambah tua.

Jenis pertama mulai rajin olahraga, minum kolagen, membeli sepeda mahal, lalu mengunggah foto dengan caption: “50 is the new 30.”
Jenis kedua mulai duduk lebih lama di teras rumah sambil memandangi langit sore, lalu berkata pelan:
“Kayaknya dengkul saya sudah join grup pensiunan.”

Olivier de Kersauson tampaknya masuk kategori kedua. Bedanya, ia seorang pelaut Prancis yang filosofis, sehingga keluhan soal usia terdengar seperti puisi laut, bukan status WhatsApp keluarga.

Dalam renungannya tentang berjalan di tepi laut, Kersauson tidak berbicara tentang cara awet muda, diet keto, atau seminar “menaklukkan usia dengan mindset positif.” Ia malah menerima kenyataan paling brutal dalam hidup manusia: semakin tua, semakin banyak masa lalu dibanding masa depan.

Dan memang begitu kenyataannya.
Di usia muda, kita punya daftar mimpi.
Di usia tua, kita punya daftar obat.

Namun hebatnya, Kersauson tidak tenggelam dalam drama nostalgia. Ia sadar nostalgia itu berbahaya. Nostalgia adalah semacam tukang tipu emosional. Awalnya cuma mengingat lagu lama, lima menit kemudian kita sudah mencari nama mantan di Facebook sambil bertanya dalam hati:
“Kalau dulu aku tidak goblok, mungkin hidupku beda.”

Kersauson memilih melawan godaan itu. Ia tetap ingin menciptakan momen baru. Ini keputusan yang luar biasa berani. Sebab kebanyakan orang tua mulai memperlakukan hidup seperti museum: semua yang indah dianggap sudah selesai terjadi di masa lalu.

Kalimat favorit para senior biasanya:
“Dulu…”
Dan setelah kata “dulu,” percakapan bisa berlangsung tiga jam tanpa jeda napas.

“Dulu nasi goreng murah.”
“Dulu musik lebih bagus.”
“Dulu orang sopan.”
“Dulu bensin belum bikin jantung copot.”

Pokoknya masa lalu selalu tampak seperti gabungan surga dunia dan diskon akhir tahun.

Padahal kalau benar masa lalu seindah itu, manusia zaman dulu mestinya tidak pernah ribut. Faktanya, orang tahun 1980 juga mengeluh tentang tahun 1970. Rupanya manusia memang hobi mengedit kenangan seperti editor sinetron: bagian buruk dipotong, bagian indah diperlambat pakai musik melankolis.

Di sinilah pemikiran Kersauson terasa segar. Ia tidak menjadikan masa lalu sebagai kasur empuk untuk rebahan emosional. Ia memilih tetap hidup di hari ini. Meski langkah mulai lambat, ia masih ingin kagum pada ombak, angin, dan aroma bunga kecil yang mungkin bahkan tidak difoto siapa pun untuk Instagram.

Dan ini menarik: di era modern, kemampuan menikmati hal kecil hampir punah.

Sekarang orang pergi ke pantai bukan untuk mendengar ombak, tetapi untuk mencari sudut foto yang tidak ada manusia lain. Begitu ketemu angle bagus, mereka langsung sibuk membuat caption:

“Healing dulu ya.”

Padahal selama dua jam di pantai, yang sembuh cuma feed Instagram.

Kersauson tampaknya berasal dari generasi yang masih bisa duduk diam memandangi laut tanpa kebutuhan mendesak untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia sedang bahagia. Bayangkan betapa revolusionernya itu hari ini.

Sekarang kebahagiaan modern aneh sekali.
Kita tidak cukup bahagia kalau tidak disaksikan orang lain.

Makan kopi harus difoto.
Liburan harus direkam drone.
Sedih pun harus dibuat konten.

Bahkan ada orang yang menangis sambil memastikan kamera depan aktif. Ini level spiritual yang sulit dipahami para sufi.

Yang paling lucu dari refleksi Kersauson adalah ketika ia berkata ingin dikenang sebagai orang yang “poli” terhadap kehidupan—sopan terhadap hidup.

Betapa rendah hati cita-cita itu.

Di zaman sekarang orang ingin dikenang sebagai:

  • visionary,
  • disruptor,
  • game changer,
  • thought leader,
  • alpha male,
  • atau minimal “CEO mindset.”

Jarang ada yang bercita-cita:

“Semoga saya dikenang sebagai manusia yang tidak bikin hidup tambah ribut.”

Padahal mungkin itulah bentuk kedewasaan tertinggi.

Karena banyak manusia hidup seperti tamu tidak tahu diri di pesta semesta. Datang dengan banyak tuntutan, komplain terus, lalu marah karena kursinya tidak dekat AC.

Kita protes cuaca panas.
Begitu hujan, kita juga marah.
Gaji kurang.
Libur kurang.
Wi-Fi lambat sedikit rasanya seperti penjajahan digital.

Seolah-olah alam semesta adalah customer service yang wajib memenuhi ekspektasi kita 24 jam.

Kersauson menawarkan etika yang sederhana: mungkin hidup ini bukan soal menaklukkan dunia, tetapi soal tidak berlaku kasar terhadap keberadaan.

Mungkin tugas manusia bukan menjadi paling sukses, tetapi paling mampu kagum.

Kagum pada angin sore.
Kagum pada kopi hangat.
Kagum karena lutut masih bisa dipakai jongkok meski bunyi “krek” sudah seperti bambu diinjak.

Sebab pada akhirnya hidup memang aneh. Kita menghabiskan masa muda mengejar masa depan, lalu menghabiskan masa tua mengejar ketenangan yang dulu kita abaikan.

Dan mungkin, di penghujung semuanya, ukuran kebijaksanaan bukanlah seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa kecil kita merepotkan dunia saat pergi.

Seperti tamu yang selesai makan di hajatan lalu pulang sambil berkata pelan:

“Terima kasih. Makanannya enak. Saya pamit dulu. Kursinya sudah saya rapikan.”

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.