Ada dua jenis manusia ketika bertambah tua.
Olivier de Kersauson tampaknya masuk kategori kedua.
Bedanya, ia seorang pelaut Prancis yang filosofis, sehingga keluhan soal usia
terdengar seperti puisi laut, bukan status WhatsApp keluarga.
Dalam renungannya tentang berjalan di tepi laut, Kersauson
tidak berbicara tentang cara awet muda, diet keto, atau seminar “menaklukkan
usia dengan mindset positif.” Ia malah menerima kenyataan paling brutal dalam
hidup manusia: semakin tua, semakin banyak masa lalu dibanding masa depan.
Kersauson memilih melawan godaan itu. Ia tetap ingin
menciptakan momen baru. Ini keputusan yang luar biasa berani. Sebab kebanyakan
orang tua mulai memperlakukan hidup seperti museum: semua yang indah dianggap
sudah selesai terjadi di masa lalu.
Pokoknya masa lalu selalu tampak seperti gabungan surga
dunia dan diskon akhir tahun.
Padahal kalau benar masa lalu seindah itu, manusia zaman
dulu mestinya tidak pernah ribut. Faktanya, orang tahun 1980 juga mengeluh
tentang tahun 1970. Rupanya manusia memang hobi mengedit kenangan seperti
editor sinetron: bagian buruk dipotong, bagian indah diperlambat pakai musik
melankolis.
Di sinilah pemikiran Kersauson terasa segar. Ia tidak
menjadikan masa lalu sebagai kasur empuk untuk rebahan emosional. Ia memilih
tetap hidup di hari ini. Meski langkah mulai lambat, ia masih ingin kagum pada
ombak, angin, dan aroma bunga kecil yang mungkin bahkan tidak difoto siapa pun
untuk Instagram.
Dan ini menarik: di era modern, kemampuan menikmati hal
kecil hampir punah.
Sekarang orang pergi ke pantai bukan untuk mendengar ombak,
tetapi untuk mencari sudut foto yang tidak ada manusia lain. Begitu ketemu
angle bagus, mereka langsung sibuk membuat caption:
“Healing dulu ya.”
Padahal selama dua jam di pantai, yang sembuh cuma feed
Instagram.
Kersauson tampaknya berasal dari generasi yang masih bisa
duduk diam memandangi laut tanpa kebutuhan mendesak untuk membuktikan kepada
dunia bahwa ia sedang bahagia. Bayangkan betapa revolusionernya itu hari ini.
Bahkan ada orang yang menangis sambil memastikan kamera
depan aktif. Ini level spiritual yang sulit dipahami para sufi.
Yang paling lucu dari refleksi Kersauson adalah ketika ia
berkata ingin dikenang sebagai orang yang “poli” terhadap kehidupan—sopan
terhadap hidup.
Betapa rendah hati cita-cita itu.
Di zaman sekarang orang ingin dikenang sebagai:
- visionary,
- disruptor,
- game
changer,
- thought
leader,
- alpha
male,
- atau
minimal “CEO mindset.”
Jarang ada yang bercita-cita:
“Semoga saya dikenang sebagai manusia yang tidak bikin hidup
tambah ribut.”
Padahal mungkin itulah bentuk kedewasaan tertinggi.
Karena banyak manusia hidup seperti tamu tidak tahu diri di
pesta semesta. Datang dengan banyak tuntutan, komplain terus, lalu marah karena
kursinya tidak dekat AC.
Seolah-olah alam semesta adalah customer service yang wajib
memenuhi ekspektasi kita 24 jam.
Kersauson menawarkan etika yang sederhana: mungkin hidup ini
bukan soal menaklukkan dunia, tetapi soal tidak berlaku kasar terhadap
keberadaan.
Mungkin tugas manusia bukan menjadi paling sukses, tetapi
paling mampu kagum.
Sebab pada akhirnya hidup memang aneh. Kita menghabiskan
masa muda mengejar masa depan, lalu menghabiskan masa tua mengejar ketenangan
yang dulu kita abaikan.
Dan mungkin, di penghujung semuanya, ukuran kebijaksanaan
bukanlah seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa kecil
kita merepotkan dunia saat pergi.
Seperti tamu yang selesai makan di hajatan lalu pulang
sambil berkata pelan:
“Terima kasih. Makanannya enak. Saya pamit dulu. Kursinya
sudah saya rapikan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.