Di negeri yang warganya paling kreatif membuat status “Ikhlas kok 😊” setelah bertengkar tiga hari di WhatsApp keluarga, ceramah tentang Abrar dan Akhyar terasa seperti tamparan lembut memakai sajadah lipat.
Kita hidup di zaman aneh. Orang sedekah mi instan dua bungkus, tetapi dokumentasinya enam belas slide Instagram. Baru bantu tetangga sekali, caption-nya sudah seperti laporan tahunan lembaga internasional: “Tidak perlu banyak, cukup bergerak dari hati.” Padahal yang paling banyak bergerak justru tripod dan kameramennya.
Di tengah suasana spiritual yang kadang lebih mirip produksi konten itu, muncul nasihat tentang menjadi Abrar dan Akhyar—orang-orang baik pilihan Tuhan. Ternyata jalannya tidak semudah memberi sandal jepit bekas ke mushala lalu berharap masuk golongan wali.
Menurut penjelasan sang kiai, pintu menuju kebajikan sejati bukan dibuka dengan memberi barang yang sudah mau dibuang. Justru yang diminta adalah sesuatu yang kita cintai. Nah, di titik inilah iman mulai berkeringat.
Tetapi memberi sesuatu yang benar-benar disukai? Di situlah hati mulai berkata, “Ya Allah, bukankah Engkau Maha Tahu kalau saya juga butuh?”
Manusia memang unik. Kadang lebih mudah menyumbang semen satu truk daripada meminjamkan charger iPhone lima menit. Ada orang rela traktir teman sekampung, tetapi kalau diminta password Wi-Fi, wajahnya berubah seperti bendahara negara habis diaudit.
Ceramah ini mengingatkan bahwa ukuran amal bukan di nominalnya, melainkan di rasa “aduh”-nya. Kalau memberi masih terlalu nyaman, jangan-jangan itu belum sedekah—itu bersih-bersih gudang.
Masalah berikutnya adalah soal ikhlas. Ini bagian paling berat setelah diet dan bangun tahajud musim hujan.
Ikhlas itu konsep yang sederhana di teori, tetapi rumit dalam praktik. Sebab hati manusia sering seperti aplikasi gratis: penuh iklan tersembunyi. Kelihatannya menolong orang, padahal di belakang ada pop-up: “Mohon apresiasi dan pujian.”
Ada orang setelah membantu langsung berubah menjadi arsip nasional berjalan.
Pahala akhirnya habis bukan karena kurang amal, tetapi karena mulut terlalu rajin membuat trailer kebaikan masa lalu.
Mengungkit bantuan memang penyakit klasik manusia. Bahkan sebagian orang bersedekah seperti kredit motor: cicilannya selesai, pengingatnya tidak pernah selesai. Setiap konflik kecil langsung keluar kalimat pamungkas:
“Coba ingat dulu!”
Kalimat itu kalau diterjemahkan secara spiritual kira-kira berarti: “Saya ingin pahala saya diuangkan kembali.”
Padahal inti dari kebajikan sejati justru melupakan apa yang sudah diberikan. Orang ikhlas itu setelah membantu malah sering lupa. Sedangkan yang tidak ikhlas, bantuan receh tahun 2017 saja masih disimpan di memori internal hati dengan resolusi 4K.
Lalu masuklah pembahasan tentang nazar. Nah, ini wilayah yang sering membuat manusia religius mendadak menjadi negosiator profesional.
“Ya Allah, kalau saya lulus, saya puasa tujuh hari.”
Begitu lulus, puasanya ikut menghilang bersama file skripsi revisi.
Nazar sering dibuat dalam keadaan panik dan dilupakan dalam keadaan nyaman. Manusia memang makhluk penuh improvisasi. Saat terdesak, janjinya seperti calon kepala daerah. Begitu selamat, memorinya seperti hard disk kena magnet.
Ceramah ini seperti alarm spiritual bahwa banyak hidup seret bukan karena kurang usaha, tetapi mungkin ada janji kepada Tuhan yang parkir bertahun-tahun tanpa kejelasan administrasi.
Yang menarik, semua pembahasan ini sebenarnya sangat cocok dengan zaman media sosial. Hari ini riya tidak lagi memakai pengeras suara masjid, tetapi memakai kamera depan dan filter estetik.
Kita hidup di era ketika amal saleh sering kalah cepat dengan keinginan membuat konten. Baru selesai membantu orang, tangan otomatis mencari angle terbaik sambil berpikir: “Caption yang menyentuh apa ya?”
Akibatnya, manusia modern perlahan berubah menjadi makhluk spiritual yang bingung membedakan antara ibadah dan branding personal.
Padahal pesan utama ceramah ini sederhana sekali: Tuhan melihat hati, bukan feed Instagram.
Menjadi Abrar dan Akhyar ternyata bukan soal tampil paling religius, paling sibuk ceramah, atau paling panjang caption nasihatnya. Justru ukurannya ada pada kemampuan melawan ego kecil yang selalu ingin dipuji.
Dan ternyata ego itu licin sekali. Kadang ia masuk lewat hal-hal yang tampak suci. Sedekah ingin dipuji. Mengaji ingin dianggap alim. Diam-diam ingin dikenal sebagai orang paling tawaduk sedunia.
Lucunya, orang yang benar-benar ikhlas biasanya malah tidak sadar dirinya hebat. Sementara yang baru sedekah dua kardus air mineral kadang sudah berjalan seperti penanggung jawab kesejahteraan umat.
Pada akhirnya, jalan menuju Abrar dan Akhyar memang tidak murah. Bukan karena harus kaya, tetapi karena yang dibayar adalah ego. Dan ternyata, melepas ego jauh lebih mahal daripada melepas uang.
Maka barangkali tanda kita mulai menjadi orang baik bukan ketika semua orang memuji kita, melainkan ketika kita bisa berbuat baik tanpa kebutuhan untuk diumumkan seperti promo akhir tahun.
Karena di hadapan Tuhan, mungkin amal terbaik adalah amal yang bahkan tetangga pun tidak tahu—kecuali malaikat pencatat yang kerja lembur melihat manusia diam-diam belajar ikhlas di tengah dunia yang terlalu ramai ingin terlihat suci.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.