Jumat, 15 Mei 2026

Universitas dan Hilangnya Seni Menjadi Manusia

Ada masa ketika orang masuk universitas untuk mencari kebijaksanaan. Sekarang, orang masuk universitas untuk mencari Wi-Fi kampus yang cukup kuat agar bisa mengunduh template CV dari LinkedIn.

Dulu mahasiswa bertanya, “Apa makna hidup?”
Sekarang mahasiswa bertanya, “Kak, kalau IPK saya 3,42 masih bisa kerja di startup unicorn nggak?”

Perubahan inilah yang diam-diam disindir oleh akun CLT Exam melalui kritik mereka terhadap pendidikan modern. Kritiknya sebenarnya sederhana: universitas sudah lupa cara mendidik manusia. Kampus terlalu sibuk mencetak tenaga kerja sampai lupa bahwa mahasiswa itu bukan printer Epson yang tinggal diisi tinta kompetensi lalu disuruh menghasilkan PDF profesional.

Hari ini, universitas modern mirip pusat perbelanjaan akademik. Ada fakultas teknik untuk mencetak calon budak Excel, fakultas bisnis untuk melahirkan nabi PowerPoint, dan fakultas komunikasi untuk memproduksi manusia yang bisa berbicara tiga jam tanpa mengatakan apa pun.

Semua tampak sibuk, produktif, dan penuh jargon. Kata-kata seperti skillset, networking, industry readiness, dan personal branding beterbangan di udara kampus seperti nyamuk musim hujan. Tetapi anehnya, di tengah semua kecanggihan itu, banyak lulusan yang panik ketika diminta membedakan mana argumen logis dan mana caption motivasi TikTok.

Di situlah kritik pendidikan klasik mulai terasa menampar.

Pada Abad Pertengahan, pendidikan tinggi justru dimulai dari sesuatu yang hari ini dianggap “tidak menghasilkan uang”: belajar berpikir. Orang harus melewati Trivium—Grammar, Logic, dan Rhetoric—sebelum merasa cukup pintar untuk berdebat soal dunia.

Bayangkan betapa tragisnya konsep itu bila diterapkan hari ini.

Mahasiswa semester satu belum boleh belajar bisnis sebelum mampu membedakan mana argumen valid dan mana utas Twitter penuh halu geopolitik. Bisa jadi separuh internet langsung gulung tikar.

Sistem klasik percaya bahwa manusia tidak boleh terlalu cepat menjadi spesialis. Sebab orang yang terlalu cepat spesialis biasanya berubah menjadi makhluk aneh: sangat ahli memperbaiki mesin, tetapi tidak mampu memperbaiki cara bicara kepada ibunya sendiri.

Maka pendidikan klasik mengajarkan logika, retorika, matematika, musik, astronomi—semua demi membentuk manusia merdeka. Bukan sekadar pekerja.

Sedangkan pendidikan modern sering kali terasa seperti pelatihan menjadi obeng premium.

Kampus sekarang bangga jika lulusannya “siap kerja.”
Padahal kadang yang terjadi lebih mirip “siap lembur.”

Poster universitas penuh slogan heroik:

“Membentuk Generasi Unggul dan Kompetitif!”

Yang artinya:

“Selamat datang di empat tahun pelatihan agar Anda kuat membuka spreadsheet sambil menangis diam-diam.”

Bahkan konsep “passion” ikut berubah. Dahulu passion berarti panggilan jiwa. Sekarang passion berarti kesediaan bekerja 14 jam sehari sambil diberi kopi gratis dan bean bag warna-warni.

Tentu saja, romantisme pendidikan klasik juga tidak boleh ditelan mentah-mentah. Abad Pertengahan bukan trailer film fantasi Netflix. Saat itu pendidikan tinggi hanya dinikmati segelintir orang elit. Kalau hidup di zaman itu, kemungkinan besar kita bukan sedang mendiskusikan filsafat Aristoteles, melainkan sedang sibuk memanen gandum sambil berharap tidak kena wabah.

Selain itu, dunia modern memang membutuhkan spesialisasi. Sulit membayangkan dokter bedah berkata:

“Saya belum bisa operasi usus buntu karena masih mendalami puisi Latin dan harmoni kosmik Pythagoras.”

Pasien keburu wafat sambil mendengar kuliah retorika.

Namun, kritik terhadap universitas modern tetap penting. Sebab ada sesuatu yang hilang ketika pendidikan hanya diukur dari gaji pertama setelah wisuda.

Kita mulai menghasilkan manusia yang sangat efisien tetapi mudah bingung. Sangat terampil tetapi gampang termakan hoaks. Bisa membuat presentasi 80 slide, tetapi tidak bisa membedakan mana opini, mana fakta, dan mana omongan influencer yang terlalu banyak minum americano.

Ironisnya, semakin tinggi pendidikan seseorang, kadang semakin canggih pula cara dia membungkus kebodohan.

Karena itu, mungkin dunia modern tidak perlu kembali sepenuhnya ke Abad Pertengahan. Tidak perlu semua mahasiswa diwajibkan membaca Euclid sambil menatap bintang di biara batu.

Tetapi mungkin universitas memang perlu sedikit ingat bahwa manusia bukan sekadar alat produksi ekonomi.

Sebab kalau tujuan akhir pendidikan hanya agar orang cepat diterima kerja, lama-lama kampus tidak berbeda jauh dari tempat kursus “Cara Menjadi Karyawan yang Tahan Tekanan dan Tidak Banyak Bertanya.”

Padahal inti pendidikan seharusnya bukan hanya membuat manusia bisa bekerja, melainkan membuat manusia sulit dibodohi.

Dan di zaman modern, kemampuan terakhir itu justru jauh lebih langka daripada gelar master.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.