Ada masa ketika orang masuk universitas untuk mencari kebijaksanaan. Sekarang, orang masuk universitas untuk mencari Wi-Fi kampus yang cukup kuat agar bisa mengunduh template CV dari LinkedIn.
Perubahan inilah yang diam-diam disindir oleh akun CLT Exam melalui
kritik mereka terhadap pendidikan modern. Kritiknya sebenarnya sederhana:
universitas sudah lupa cara mendidik manusia. Kampus terlalu sibuk mencetak
tenaga kerja sampai lupa bahwa mahasiswa itu bukan printer Epson yang tinggal
diisi tinta kompetensi lalu disuruh menghasilkan PDF profesional.
Hari ini, universitas modern mirip pusat perbelanjaan
akademik. Ada fakultas teknik untuk mencetak calon budak Excel, fakultas bisnis
untuk melahirkan nabi PowerPoint, dan fakultas komunikasi untuk memproduksi
manusia yang bisa berbicara tiga jam tanpa mengatakan apa pun.
Semua tampak sibuk, produktif, dan penuh jargon. Kata-kata
seperti skillset, networking, industry readiness, dan personal
branding beterbangan di udara kampus seperti nyamuk musim hujan. Tetapi
anehnya, di tengah semua kecanggihan itu, banyak lulusan yang panik ketika
diminta membedakan mana argumen logis dan mana caption motivasi TikTok.
Di situlah kritik pendidikan klasik mulai terasa menampar.
Pada Abad Pertengahan, pendidikan tinggi justru dimulai dari
sesuatu yang hari ini dianggap “tidak menghasilkan uang”: belajar berpikir.
Orang harus melewati Trivium—Grammar, Logic, dan Rhetoric—sebelum merasa
cukup pintar untuk berdebat soal dunia.
Bayangkan betapa tragisnya konsep itu bila diterapkan hari
ini.
Mahasiswa semester satu belum boleh belajar bisnis sebelum
mampu membedakan mana argumen valid dan mana utas Twitter penuh halu
geopolitik. Bisa jadi separuh internet langsung gulung tikar.
Sistem klasik percaya bahwa manusia tidak boleh terlalu
cepat menjadi spesialis. Sebab orang yang terlalu cepat spesialis biasanya
berubah menjadi makhluk aneh: sangat ahli memperbaiki mesin, tetapi tidak mampu
memperbaiki cara bicara kepada ibunya sendiri.
Maka pendidikan klasik mengajarkan logika, retorika,
matematika, musik, astronomi—semua demi membentuk manusia merdeka. Bukan
sekadar pekerja.
Sedangkan pendidikan modern sering kali terasa seperti
pelatihan menjadi obeng premium.
Poster universitas penuh slogan heroik:
“Membentuk Generasi Unggul dan Kompetitif!”
Yang artinya:
“Selamat datang di empat tahun pelatihan agar Anda kuat
membuka spreadsheet sambil menangis diam-diam.”
Bahkan konsep “passion” ikut berubah. Dahulu passion berarti
panggilan jiwa. Sekarang passion berarti kesediaan bekerja 14 jam sehari sambil
diberi kopi gratis dan bean bag warna-warni.
Tentu saja, romantisme pendidikan klasik juga tidak boleh
ditelan mentah-mentah. Abad Pertengahan bukan trailer film fantasi Netflix.
Saat itu pendidikan tinggi hanya dinikmati segelintir orang elit. Kalau hidup
di zaman itu, kemungkinan besar kita bukan sedang mendiskusikan filsafat
Aristoteles, melainkan sedang sibuk memanen gandum sambil berharap tidak kena
wabah.
Selain itu, dunia modern memang membutuhkan spesialisasi.
Sulit membayangkan dokter bedah berkata:
“Saya belum bisa operasi usus buntu karena masih mendalami
puisi Latin dan harmoni kosmik Pythagoras.”
Pasien keburu wafat sambil mendengar kuliah retorika.
Namun, kritik terhadap universitas modern tetap penting.
Sebab ada sesuatu yang hilang ketika pendidikan hanya diukur dari gaji pertama
setelah wisuda.
Kita mulai menghasilkan manusia yang sangat efisien tetapi
mudah bingung. Sangat terampil tetapi gampang termakan hoaks. Bisa membuat
presentasi 80 slide, tetapi tidak bisa membedakan mana opini, mana fakta, dan
mana omongan influencer yang terlalu banyak minum americano.
Ironisnya, semakin tinggi pendidikan seseorang, kadang
semakin canggih pula cara dia membungkus kebodohan.
Karena itu, mungkin dunia modern tidak perlu kembali
sepenuhnya ke Abad Pertengahan. Tidak perlu semua mahasiswa diwajibkan membaca
Euclid sambil menatap bintang di biara batu.
Tetapi mungkin universitas memang perlu sedikit ingat bahwa
manusia bukan sekadar alat produksi ekonomi.
Sebab kalau tujuan akhir pendidikan hanya agar orang cepat
diterima kerja, lama-lama kampus tidak berbeda jauh dari tempat kursus “Cara
Menjadi Karyawan yang Tahan Tekanan dan Tidak Banyak Bertanya.”
Padahal inti pendidikan seharusnya bukan hanya membuat
manusia bisa bekerja, melainkan membuat manusia sulit dibodohi.
Dan di zaman modern, kemampuan terakhir itu justru jauh
lebih langka daripada gelar master.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.