Ada dua jenis penderitaan paling menyakitkan di dunia modern.
Dan rupanya, pengalaman “di-seen tanpa jawaban” itu bukan
cuma milik anak muda yang curhat di media sosial. Hồ Chí Minh pun pernah
mengalaminya. Bedanya, yang meng-ghosting beliau bukan gebetan,
melainkan Presiden Amerika Serikat: Harry Truman.
Lalu Hồ Chí Minh datang sambil membawa catatan kecil dan
berkata sopan:
“Maaf Pak, tadi Amerika bilang semua manusia setara ya? Nah,
kami ini manusia juga.”
Dan di situlah suasana langsung menjadi canggung.
Ketika Vietnam Mengutip Amerika Seperti Mahasiswa
Mengutip Dosen
Kecerdikan Hồ Chí Minh sebenarnya sederhana, tapi mematikan
secara retoris. Ia tidak menyerang Amerika memakai slogan Soviet. Tidak. Ia
justru memakai kata-kata Amerika sendiri.
Ini seperti murid yang berkata kepada guru:
“Pak, kemarin Bapak sendiri bilang kalau tugas dikumpulkan
terlambat masih boleh diterima…”
Atau seperti warga yang mendatangi pejabat sambil membawa
print-screen janji kampanye.
Sulit dibantah.
Hồ Chí Minh mengutip langsung Deklarasi Kemerdekaan Amerika:
- self-evident
truths
- unalienable
rights
- consent
of the governed
Intinya sederhana:
“Pak Truman, kami cuma ingin Amerika konsisten. Jangan
pidato kebebasan di podium, lalu begitu Vietnam minta merdeka malah pura-pura
sinyal hilang.”
Ini yang membuat surat Hồ Chí Minh terasa seperti jebakan
Batman diplomatik. Karena kalau Truman menjawab “tidak”, Amerika terlihat
munafik. Tapi kalau menjawab “iya”, Prancis bisa ngamuk dan geopolitik Perang
Dingin jadi berantakan.
Truman dan Seni Administratif Bernama “Nanti Kita Bahas”
Dalam birokrasi modern, ada kalimat sakti yang bisa membunuh
harapan tanpa menolak secara langsung:
“Akan kami pertimbangkan.”
Versi geopolitiknya adalah: tidak dibalas sama sekali.
Surat Hồ Chí Minh akhirnya seperti email lamaran kerja yang
masuk folder arsip nasional. Tetap tersimpan rapi, tapi tak pernah mendapat
jawaban selain kesunyian administratif.
Dan menariknya, keheningan itu justru menjadi jawaban paling
keras.
Karena kadang-kadang, diam adalah cara paling elegan untuk
berkata:
“Prinsip kami universal… tapi ada syarat dan ketentuan
berlaku.”
Amerika dan Menu Restoran Demokrasi
Masalah terbesar kekuatan besar memang sering sama: mereka
suka menjual nilai universal seperti restoran cepat saji menjual paket promo.
Di papan reklame tertulis besar:
“Kebebasan untuk semua!”
Tetapi setelah masuk kasir, ternyata ada tulisan kecil:
- Tidak
berlaku untuk negara yang terlalu kiri
- Tidak
berlaku bila mengganggu sekutu
- Tidak
berlaku saat harga minyak naik
- Tidak
berlaku bila dekat Soviet
Hồ Chí Minh membaca tulisan kecil itu lebih cepat daripada
banyak orang Amerika sendiri.
Dan ini yang membuat tweet Sony Thăng terasa pedas. Ia
menunjukkan bahwa terkadang negara adidaya paling takut bukan pada misil,
melainkan pada arsip.
Ironi Terbesar: Semua Orang Sedikit Munafik
Namun cerita ini juga lucu karena tidak ada pihak yang
benar-benar suci.
Amerika bicara kebebasan sambil mendukung kolonialisme
Prancis.
Tetapi Hồ Chí Minh sendiri, setelah berkuasa, juga tidak
mendirikan negeri liberal penuh multipartai ala brosur Harvard. Kritik
dibatasi, oposisi dipersempit, dan demokrasi akhirnya lebih mirip nasi kotak
rapat: tersedia, tapi pilihannya cuma satu.
Jadi dunia politik internasional sebenarnya seperti grup
keluarga besar:
Surat yang Menang Secara Moral
Meski begitu, secara retoris Hồ Chí Minh memang menang
telak.
Ia berhasil melakukan teknik paling mematikan dalam debat:
membuat lawan berdebat melawan kata-katanya sendiri.
Ini seperti pegawai yang membawa screenshot SOP perusahaan
ketika bos mulai semena-mena.
Atau netizen yang membalas tweet lama politisi dengan
caption:
“Admin lupa ya?”
Dan Amerika sampai hari ini masih sulit sepenuhnya keluar
dari jebakan itu. Sebab semakin keras negara besar berbicara tentang hak asasi
manusia, semakin banyak arsip lama yang bangkit dari kubur sambil berkata:
“Baik, mari kita cek konsistensinya.”
Dunia Memang Digerakkan oleh Orang yang Bisa
Mengutip dengan Tepat
Melainkan kemampuan mengutip pidato lawan pada waktu yang
tepat.
Hồ Chí Minh memahami bahwa manusia paling sulit melawan
dirinya sendiri. Dan negara paling sulit melawan arsipnya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.