Kamis, 14 Mei 2026

GDP, Gym, dan Generasi Kelelahan

Tentang Amerika, China, dan Spreadsheet yang Terlalu Optimis

Di zaman media sosial, perdebatan ekonomi dunia kadang kualitasnya mirip debat warung kopi jam dua pagi: siapa yang GDP-nya lebih besar, dia yang paling hebat. Amerika Serikat melihat angka GDP sambil berkata penuh percaya diri, “Kami nomor satu!” Sementara China menatap pabrik-pabriknya dan menjawab santai, “Bagus. Tapi siapa yang bikin barang buat isi Walmart?”

Lalu muncullah ekonom bernama Evrim Kanbur yang tampaknya lelah melihat manusia modern memperlakukan GDP seperti skor FIFA atau ranking Mobile Legends. Ia mengingatkan dunia bahwa GDP itu hanya ukuran aktivitas ekonomi—bukan ukuran apakah rakyat masih punya tenaga untuk tersenyum tanpa bantuan kopi ukuran galon.

Kanbur pada dasarnya berkata: “Kalau rakyatmu kerja tiga shift, tidur sambil Zoom meeting, makan siang sambil membayar cicilan, lalu GDP naik… itu prestasi ekonomi atau eksperimen sosial?”

Dan di situlah letak humor tragis ekonomi modern.

Spreadsheet yang Sehat, Rakyat yang Masuk Angin

Amerika memang punya GDP raksasa. Angkanya besar sekali sampai kalau dipajang di ruang tamu mungkin bisa dijadikan wallpaper nasionalisme. Namun, menurut kritik Kanbur, ada ironi kecil: GDP Amerika naik terus, tetapi rakyatnya mulai hidup seperti karakter game survival mode.

Bayangkan seorang warga Amerika modern:

  • pagi jadi barista,
  • siang jadi programmer,
  • malam jadi driver aplikasi,
  • akhir pekan ikut seminar “financial freedom” yang tiketnya dicicil tiga bulan.

Semua itu dilakukan demi sesuatu yang dulu disebut “kehidupan normal”.

Sementara itu, spreadsheet pemerintah berkata:

“Ekonomi tumbuh positif.”

Rakyatnya menjawab:

“Saya juga tumbuh… lingkar mata saya.”

GDP memang unik. Ia tidak peduli apakah uang berputar karena inovasi hebat atau karena rakyat terpaksa bayar ambulans seharga motor sport. Yang penting uang bergerak. Dalam logika GDP ekstrem, orang terpeleset kulit pisang lalu masuk rumah sakit pun tetap dianggap kontribusi ekonomi.

Secara teknis, tragedi bisa menjadi pertumbuhan.

China: Negeri yang Masih Bisa Membuat Barang Selain Konten Motivasi

Kanbur lalu membandingkan dengan China. Menurutnya, kekuatan utama China bukan sekadar angka GDP, tetapi kemampuan membuat barang nyata.

China membuat:

  • panel surya,
  • baterai mobil listrik,
  • drone,
  • robot,
  • kereta cepat,
  • mesin industri,
  • dan mungkin sebentar lagi toaster yang bisa mengkritik kapitalisme sambil memanggang roti.

Amerika? Amerika kadang tampak lebih fokus membuat:

  • aplikasi meditasi,
  • startup pengantar makanan organik,
  • platform NFT,
  • dan podcast berdurasi tiga jam tentang “mindset hustling”.

Ini bukan berarti Amerika lemah. Tidak. Amerika masih sangat unggul dalam teknologi tinggi, inovasi, keuangan, hiburan, dan kemampuan membuat dunia percaya bahwa membeli gelas Stanley seharga jutaan rupiah adalah kebutuhan spiritual.

Tetapi kritik Kanbur cukup menampar:

“Kalau perang ekonomi terjadi, siapa yang lebih penting: orang yang bisa membuat chip dan baja, atau orang yang membuat aplikasi untuk menghitung langkah menuju kulkas?”

Pertanyaan itu membuat banyak ekonom mendadak pura-pura sibuk membuka Excel.

GDP dan Agama Baru Bernama Pertumbuhan

Masalah terbesar dunia modern mungkin bukan inflasi atau utang, melainkan keyakinan bahwa angka pertumbuhan ekonomi otomatis berarti kebahagiaan nasional.

GDP hari ini diperlakukan seperti dewa statistik:

  • kalau naik → pemerintah pidato,
  • kalau turun → menteri keuangan insomnia,
  • kalau stagnan → ekonom muncul di televisi dengan wajah seperti habis kehilangan deposito.

Padahal, seperti diingatkan Kanbur, GDP itu mirip timbangan badan. Berat badan naik belum tentu sehat. Bisa jadi karena otot. Bisa jadi juga karena kebanyakan gorengan.

Negara pun demikian.

Sebuah negara bisa GDP-nya besar, tetapi:

  • rakyat stres,
  • rumah tidak terbeli,
  • pendidikan jadi utang seumur hidup,
  • layanan kesehatan terasa seperti paket premium MMORPG,
  • dan pensiun hanya menjadi legenda urban.

Namun selama grafik naik ke kanan, semua dianggap baik-baik saja.

Ekonomi modern kadang seperti orang yang bangga punya mobil mewah, tetapi tidur di dalamnya karena cicilan rumah terlalu mahal.

Romantisme China dan Kenyataan yang Tidak Masuk Brosur

Tentu saja, Kanbur juga tidak sepenuhnya bebas dari romantisme. Internet memang punya kebiasaan lucu: kalau sedang mengkritik Amerika, China tampak seperti surga efisiensi; kalau sedang mengkritik China, Amerika tampak seperti negeri Avengers.

Padahal realitas jauh lebih berantakan.

China juga punya masalah:

  • krisis properti,
  • pengangguran muda,
  • populasi menua,
  • utang besar,
  • dan tekanan kerja yang membuat istilah “996” terdengar seperti kode boss terakhir video game.

Banyak pekerja migran China bekerja sangat keras dengan perlindungan sosial minim. Jadi gambaran “satu pekerjaan cukup untuk hidup nyaman” kadang terdengar seperti iklan apartemen yang fotonya memakai filter berlebihan.

Sementara Amerika, meski penuh masalah biaya hidup, tetap menjadi magnet talenta dunia. Silicon Valley masih tempat lahirnya teknologi yang mengubah dunia—dan juga tempat lahirnya aplikasi yang membantu manusia memesan kopi tanpa perlu berbicara dengan kasir.

Kemajuan dan absurditas berjalan berdampingan.

Jangan Menikahi Angka

Pada akhirnya, kritik Kanbur penting karena mengingatkan kita bahwa ekonomi bukan sekadar angka yang dipresentasikan memakai PowerPoint mahal.

Tujuan ekonomi seharusnya bukan membuat grafik tampak atletis, melainkan membuat manusia bisa hidup layak tanpa perlu menjual kesehatan mental demi diskon cicilan.

GDP memang penting. Tetapi menjadikannya ukuran tunggal keberhasilan negara itu seperti memilih pasangan hidup hanya berdasarkan jumlah followers Instagram. Angkanya mungkin impresif, tetapi belum tentu bisa diajak hidup susah saat AC rusak.

Mungkin ukuran ekonomi terbaik sebenarnya sederhana:

  • apakah rakyat bisa hidup tenang,
  • apakah mereka punya waktu bersama keluarga,
  • apakah rumah masih bisa dibeli tanpa menjual ginjal,
  • dan apakah manusia masih sempat tertawa tanpa harus menjadwalkannya di Google Calendar.

Sebab pada akhirnya, ekonomi yang sehat bukan ekonomi yang membuat spreadsheet tersenyum.

Melainkan ekonomi yang membuat manusia tetap waras.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.