Rabu, 13 Mei 2026

Politik Sufi: Ketika Hamba “Melobi” Tuhan dengan Air Mata

Di dunia modern, politik biasanya identik dengan rapat tertutup, lobi elite, pencitraan media, dan senyum yang kadang lebih tipis daripada iman setelah lihat diskon tanggal kembar. Tetapi para sufi ternyata punya politik sendiri. Bedanya, mereka tidak rebutan kursi DPR. Mereka rebutan rahmat Allah.

Dan uniknya, “politik” ini bukan dimainkan di gedung parlemen, melainkan di lorong hati manusia.

Imam Ibn Atha'illah al-Sakandari seakan memberi pelajaran bahwa seorang hamba yang cerdas itu bukan hanya pandai shalat, puasa, dan sedekah, tetapi juga pandai “bersikap” di hadapan Allah. Ini bukan politik licik ala manusia yang pagi memuji, sore menjatuhkan. Ini politik sufistik: seni menyelamatkan diri dari keadilan Tuhan dengan cara memohon rahmat-Nya.

Karena para sufi sadar satu hal yang mengerikan: kalau Allah memperlakukan kita murni dengan keadilan-Nya saja, tamatlah sudah.

Bayangkan sidang akhirat tanpa rahmat. Semua dosa diputar ulang seperti CCTV dosa nasional. Mulai dari ghibah kecil, iri hati tersembunyi, sampai komentar “wkwkwk” pada postingan fitnah. Sementara amal baik kita yang selama ini dibanggakan ternyata ringan sekali timbangannya. Shalat khusyuk cuma tiga menit, sisanya mikir cicilan motor dan notifikasi marketplace.

Di titik ini para sufi tampak sangat “realistis.” Mereka tidak datang kepada Allah sambil membawa map prestasi ibadah seperti pelamar CPNS membawa fotokopi legalisir. Mereka datang sambil berkata:
“Ya Allah, kalau Engkau lihat amal saya, saya malu. Tapi kalau Engkau lihat rahmat-Mu sendiri, saya masih punya harapan.”

Ini yang disebut politik hati.

Lucunya, manusia modern justru sering kebalikannya. Kita hidup di zaman ketika amal baik diperlakukan seperti konten media sosial. Sedekah harus difoto. Tahajud harus dibuat story. Umrah minimal bikin vlog cinematic dengan backsound musik sendu dan caption:
“Bukan saya yang baik, hanya sedang belajar istiqamah 🥺.”

Padahal kalimat “bukan saya yang baik” biasanya ditulis memakai font yang sangat yakin bahwa dirinya baik.

Para sufi mungkin akan pingsan melihat fenomena ini. Sebab menurut mereka, amal terbaik justru amal yang membuat pelakunya lupa bahwa ia pernah melakukannya. Bukan amal yang diingat terus seperti mantan paling romantis.

Ada orang yang sedekah lima tahun lalu tetapi masih diceritakan sampai hari ini dengan detail sinematik:
“Waktu itu saya bantu dia… hujan deras… saya ikhlas…”
Kalau ceritanya sudah punya season dan spin-off, kemungkinan besar keikhlasannya memang sedang diuji.

Dalam hikmah tasawuf, semakin seseorang merasa besar karena amalnya, semakin kecil amal itu nilainya di hadapan Allah. Sebaliknya, semakin seseorang malu dengan amalnya, justru semakin harum amal tersebut di sisi-Nya.

Ini paradoks sufi yang sulit dipahami generasi penghitung pahala digital.

Kita sekarang hidup dengan mental “dashboard amal.” Semua ingin terukur:

  • berapa juz,
  • berapa rakaat,
  • berapa sedekah,
  • berapa subscriber hijrah,
  • bahkan mungkin suatu hari ada aplikasi:
    “Selamat! Anda naik ke level Mukmin Premium Plus.”

Padahal para arif billah justru takut ketika amal mereka terlihat terlalu jelas oleh diri sendiri. Mereka khawatir diam-diam sedang menyembah amal, bukan menyembah Allah.

Dan di sinilah humor paling halus dari tasawuf muncul.

Sufi itu rajin ibadah, tetapi tidak pede dengan ibadahnya.
Sementara kita kadang ibadahnya biasa saja, tetapi pede-nya seperti sudah booking kavling surga cluster VIP.

Para sufi menangis karena merasa amalnya belum layak.
Kita baru sekali ikut kajian sudah mulai memberi tatapan iba kepada tetangga yang belum “move on dari dunia.”

Padahal semakin tinggi ma’rifah seseorang, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak punya apa-apa selain rahmat Allah.

Ini seperti orang yang mendaki gunung spiritual. Semakin tinggi ia naik, semakin ia sadar ternyata dirinya kecil. Sedangkan orang yang baru naik batu dua meter biasanya sudah teriak:
“Masya Allah, pemandangannya luar biasa!”
Lalu bikin podcast.

Tasawuf akhirnya mengajarkan keseimbangan yang indah:
beramal sekuat tenaga, tetapi jangan menyembah amal;
bertaubat terus-menerus, tetapi jangan putus asa;
berharap surga, tetapi jangan merasa sudah pasti masuk.

Karena pada akhirnya, hubungan dengan Allah bukan transaksi matematis:
“Ya Allah, saya sudah sekian rakaat, mohon upgrade fasilitas akhirat.”

Hubungan dengan Allah lebih mirip seorang fakir yang mengetuk pintu Raja:
membawa amal kecil, rasa malu besar, dan harapan yang tidak habis-habis kepada rahmat-Nya.

Dan mungkin inilah politik paling elegan dalam sejarah manusia:
bukan politik menjatuhkan lawan,
tetapi politik menjatuhkan ego sendiri di hadapan Tuhan.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.