Di dunia modern, politik biasanya identik dengan rapat tertutup, lobi elite, pencitraan media, dan senyum yang kadang lebih tipis daripada iman setelah lihat diskon tanggal kembar. Tetapi para sufi ternyata punya politik sendiri. Bedanya, mereka tidak rebutan kursi DPR. Mereka rebutan rahmat Allah.
Dan uniknya, “politik” ini bukan dimainkan di gedung
parlemen, melainkan di lorong hati manusia.
Imam Ibn Atha'illah al-Sakandari seakan memberi pelajaran
bahwa seorang hamba yang cerdas itu bukan hanya pandai shalat, puasa, dan
sedekah, tetapi juga pandai “bersikap” di hadapan Allah. Ini bukan politik
licik ala manusia yang pagi memuji, sore menjatuhkan. Ini politik sufistik:
seni menyelamatkan diri dari keadilan Tuhan dengan cara memohon rahmat-Nya.
Karena para sufi sadar satu hal yang mengerikan: kalau Allah
memperlakukan kita murni dengan keadilan-Nya saja, tamatlah sudah.
Bayangkan sidang akhirat tanpa rahmat. Semua dosa diputar
ulang seperti CCTV dosa nasional. Mulai dari ghibah kecil, iri hati
tersembunyi, sampai komentar “wkwkwk” pada postingan fitnah. Sementara amal
baik kita yang selama ini dibanggakan ternyata ringan sekali timbangannya.
Shalat khusyuk cuma tiga menit, sisanya mikir cicilan motor dan notifikasi
marketplace.
Ini yang disebut politik hati.
Padahal kalimat “bukan saya yang baik” biasanya ditulis
memakai font yang sangat yakin bahwa dirinya baik.
Para sufi mungkin akan pingsan melihat fenomena ini. Sebab
menurut mereka, amal terbaik justru amal yang membuat pelakunya lupa bahwa ia
pernah melakukannya. Bukan amal yang diingat terus seperti mantan paling
romantis.
Dalam hikmah tasawuf, semakin seseorang merasa besar karena
amalnya, semakin kecil amal itu nilainya di hadapan Allah. Sebaliknya, semakin
seseorang malu dengan amalnya, justru semakin harum amal tersebut di sisi-Nya.
Ini paradoks sufi yang sulit dipahami generasi penghitung
pahala digital.
Kita sekarang hidup dengan mental “dashboard amal.” Semua
ingin terukur:
- berapa
juz,
- berapa
rakaat,
- berapa
sedekah,
- berapa
subscriber hijrah,
- bahkan mungkin suatu hari ada aplikasi:“Selamat! Anda naik ke level Mukmin Premium Plus.”
Padahal para arif billah justru takut ketika amal mereka
terlihat terlalu jelas oleh diri sendiri. Mereka khawatir diam-diam sedang
menyembah amal, bukan menyembah Allah.
Dan di sinilah humor paling halus dari tasawuf muncul.
Padahal semakin tinggi ma’rifah seseorang, semakin ia sadar
bahwa dirinya tidak punya apa-apa selain rahmat Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.