Di zaman modern ini, ada satu spesies manusia yang sangat mudah dikenali: eksekutif yang semakin tinggi jabatannya, semakin alergi terhadap kenyataan. Begitu naik pangkat sedikit, mendadak suaranya berubah menjadi penuh istilah seperti synergy, alignment, dan strategic roadmap. Padahal tiga tahun sebelumnya ia masih rebutan colokan charger di ruang staf sambil makan gorengan dingin.
Namun di tengah dunia korporasi yang dipenuhi PowerPoint dan
kopi mahal rasa arang, muncullah sosok langka bernama Mitsuru Kawai. Ia adalah
tipe manusia yang membuat para konsultan manajemen gelisah, sebab keberadaannya
membuktikan bahwa kadang-kadang perusahaan besar tidak dibangun oleh presentasi
120 slide, melainkan oleh orang tua yang hafal bunyi baut.
Kisahnya sederhana. Tahun 1966, Kawai masuk Toyota sebagai
pekerja forge—bagian penempaan logam. Pendidikan cuma sampai SMP. Bukan lulusan
MBA luar negeri. Tidak pernah ikut seminar bertema “Unlocking Your Inner
Leadership DNA.” Bahkan kemungkinan besar ia tidak pernah membuat unggahan
LinkedIn dengan foto memegang kopi sambil menulis: “Honored and humbled.”
Tetapi inilah masalahnya: orang seperti itu justru berbahaya
bagi industri motivasi modern. Sebab ia bekerja sungguhan.
Bayangkan. Setelah puluhan tahun, ia naik menjadi Wakil
Presiden. Jabatan yang di banyak perusahaan biasanya otomatis disertai tiga
hal: kantor kaca, kursi pijat, dan kemampuan menghilang dari dunia nyata. Namun
Kawai malah tetap nongkrong di lantai pabrik yang sama. Meja dan lockernya
tetap di gedung forge. Ia datang pagi-pagi, mandi di pemandian pekerja, makan
di kantin buruh, lalu memakai seragam kerja seperti biasa.
Di perusahaan lain, eksekutif kalau makan di kantin pekerja
biasanya cuma saat ada tim dokumentasi.
Yang lebih ajaib lagi, para pekerja muda memanggilnya
“Oyaji”—“Pak Tua”. Bukan “Bapak Wakil Presiden Senior Divisi Integrasi
Strategis dan Transformasi Masa Depan”. Tidak ada aura LinkedIn sama sekali.
Sangat mengganggu estetika korporasi modern.
Konon, ketika Toyota memberinya kantor pribadi di gedung
eksekutif, ia bahkan tidak memakainya. Ia cuma minta foto ruangan itu. Mungkin
buat kenang-kenangan. Atau mungkin buat membuktikan kepada cucunya bahwa ia
pernah punya kantor ber-AC sebelum kembali hidup bersama mesin-mesin panas dan
baut yang tidak pernah mengkhianati manusia.
Di titik inilah filosofi gemba Toyota mulai terasa
seperti ajaran silat kuno.
Kawai pernah berkata:
“Kalau saya tidak bisa mendengar suara, mencium bau, dan
merasakan getaran lantai pabrik, insting saya akan tumpul.”
Kalimat ini terdengar sangat puitis. Tapi juga sedikit
menyeramkan. Karena di banyak perusahaan modern, sebagian eksekutif bahkan
tidak tahu suara printer kantornya sendiri. Mereka hidup di habitat alami
bernama ruang meeting, tempat manusia berbicara selama dua jam untuk
menghasilkan keputusan yang sebenarnya bisa diringkas dalam satu kalimat
WhatsApp.
Kawai percaya bahwa suara baut punya irama. Bahwa pekerja
senior bisa tahu ada yang salah hanya dari bunyi “kachi kachi kachi.” Ini
adalah jenis kemampuan yang mustahil dipahami oleh manusia yang terlalu lama
hidup di depan spreadsheet.
Hari ini, banyak pimpinan perusahaan merasa sudah “turun ke
lapangan” hanya karena berjalan lima menit sambil memakai helm proyek baru yang
masih ada stiker harganya.
Di sinilah Kawai menjadi anomali. Ia tidak pernah
benar-benar meninggalkan lantai produksi. Jabatan naik, tetapi telinganya tetap
mendengar bunyi baut. Pangkat berubah, tetapi hidungnya tetap mencium bau oli.
Ini hampir mustahil di era sekarang, ketika banyak orang baru menjadi
supervisor saja sudah mulai lupa cara membuka file Excel tanpa bantuan staf.
Tentu, kita hidup di zaman AI dan otomatisasi. Sensor modern
bisa mendeteksi getaran mesin lebih akurat daripada manusia. Algoritma bisa
membaca pola kerusakan sebelum bautnya sendiri sadar ia rusak. Tetapi ada
sesuatu yang tidak bisa digantikan mesin: keterhubungan emosional dengan
pekerjaan nyata.
Karena masalah terbesar dunia modern bukan kurangnya data.
Masalahnya adalah terlalu banyak orang mengambil keputusan tanpa pernah
menyentuh kenyataan.
Banyak CEO hari ini mengenal perusahaannya seperti turis
mengenal kota: tahu gedung depannya, tidak tahu dapurnya.
Maka kisah Mitsuru Kawai terasa seperti dongeng kuno dari
peradaban yang lebih waras. Sebuah zaman ketika orang boleh naik jabatan tanpa
harus berubah menjadi manusia PowerPoint.
Sebab pada akhirnya, perusahaan besar tidak runtuh karena
kurang slogan motivasi. Mereka runtuh ketika para pemimpinnya sudah terlalu
lama tidak mendengar suara baut.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.