Di dunia diplomasi modern, ada dua jenis kunjungan kenegaraan. Pertama, kunjungan yang menghasilkan kesepakatan dagang. Kedua, kunjungan yang menghasilkan meme. Kunjungan Donald Trump ke Beijing tahun 2026 tampaknya masuk kategori kedua.
Kalau biasanya pemimpin dunia datang membawa kontrak
miliaran dolar, Trump datang membawa sesuatu yang lebih sederhana: ekspresi
wajah sopan dan posisi duduk yang rapi. Tidak ada kesepakatan besar. Tidak ada
pengumuman monumental. Bahkan mungkin satu-satunya yang benar-benar
“ditandatangani” hanyalah buku tamu dan menu makan malam.
Namun justru di situlah kejeniusan propaganda bekerja.
Akun nasionalis China, @BeijingDai, melihat momen ini
seperti guru TK melihat murid paling nakal akhirnya duduk manis di pojok kelas.
Dengan penuh kepuasan batin geopolitik, mereka menulis bahwa China berhasil
mengubah Trump menjadi “well-behaved kid”—anak yang berperilaku baik.
Kalimat itu terdengar ringan. Tapi efeknya seperti tamparan
memakai sarung tangan sutra.
Bayangkan saja. Selama bertahun-tahun Trump dikenal seperti
kombinasi antara negosiator kasino, komentator gulat, dan pelanggan restoran
yang merasa supnya terlalu dingin. Ia mengancam tarif pagi hari, memuji
diktator siang hari, lalu malamnya bisa saja menulis huruf kapital penuh emosi
di media sosial. Diplomasi ala Trump kadang terasa seperti orang main Monopoly
sambil membalik meja.
Lalu tiba-tiba di Beijing, ia duduk tenang.
Senyum.
Mengangguk.
Tidak mengancam siapa-siapa selama beberapa jam.
Bagi propaganda China, ini setara dengan menyaksikan
orang antre beli tiket MRT.
Maka narasi pun dibangun dengan elegan: “Lihat? Bahkan Trump
pun bisa sopan kalau masuk rumah China.”
Dan harus diakui, teknik mereka cerdas. Mereka tidak
menyerang Trump secara frontal. Tidak ada kalimat, “Amerika lemah!” Tidak ada
pidato revolusioner sambil mengepalkan tangan. Yang ada justru nada seperti
ibu-ibu yang bangga karena anak tetangga akhirnya berhenti memanjat lemari.
“Bagus ya… ternyata bisa anteng juga.”
Inilah seni propaganda modern: menyindir sambil terdengar
seperti sedang memuji.
China tampaknya memahami satu prinsip penting dalam perang
informasi abad ke-21: kadang kemenangan terbesar bukan membuat lawan kalah,
melainkan membuat lawan terlihat seperti peserta pelatihan etika.
Dan media sosial memang tempat sempurna untuk itu. Dulu
negara-negara adidaya bertarung memakai kapal induk. Sekarang mereka bertarung
memakai caption dan foto sudut kamera yang tepat.
Satu foto Trump duduk diam bisa diperlakukan seperti
kemenangan Perang Candu versi digital.
Tentu realitasnya jauh lebih rumit. Trump kemungkinan memang
sedang menjalankan protokol diplomatik biasa. Tidak mungkin juga ia datang ke
Beijing lalu membuka konferensi pers dengan kalimat:
“Xi, listen, terrible tea, absolutely terrible.”
Tim Trump pasti sudah menyiapkan semuanya dengan hati-hati.
Dalam diplomasi, bahkan cara mengambil sumpit kadang sudah dibahas dalam rapat
keamanan nasional.
Tetapi propaganda tidak pernah terlalu tertarik pada
realitas penuh. Propaganda hanya butuh satu momen kecil yang bisa dipotong
menjadi narasi besar.
Dan China menemukan momen itu.
Yang menarik, seluruh episode ini menunjukkan perubahan
psikologis global yang cukup besar. Dulu banyak negara berkembang memandang
Amerika seperti guru galak yang datang membawa daftar sanksi. Sekarang China
ingin tampil sebagai kepala sekolah baru yang berkata:
“Di sini semuanya tertib. Bahkan murid paling ribut pun bisa
diam.”
Masalahnya, dunia internasional sekarang mirip grup WhatsApp
keluarga besar: semua orang saling menyindir lewat status, tetapi tetap
membutuhkan satu sama lain saat acara makan bersama.
Amerika masih kuat.
China semakin percaya diri.
Trump tetap Trump.
Dan netizen tetap pihak yang paling menikmati semuanya.
Pada akhirnya, kunjungan itu mungkin tidak menghasilkan
kesepakatan besar. Tetapi ia menghasilkan sesuatu yang lebih berharga bagi era
internet: bahan sindiran lintas benua.
Karena di zaman modern, kemenangan diplomatik tidak lagi
diukur hanya dari berapa banyak perjanjian yang ditandatangani, tetapi juga
dari siapa yang berhasil membuat lawannya tampak seperti bocah yang baru
selesai dimarahi guru BP.
Dan di medan perang media sosial, kadang satu tweet yang
sarkastik memang terasa lebih mematikan daripada seribu halaman dokumen
diplomatik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.