Tentang Akhlak, Nasihat, dan Jempol yang Terlalu Aktif
Di zaman modern ini, manusia memiliki banyak cara untuk
menunjukkan keimanan. Ada yang rajin menghadiri majelis ilmu. Ada yang
mengoleksi kitab. Ada juga yang setiap pagi mengirim tulisan “Assalamualaikum,
jangan lupa bersyukur 😊” ke 14 grup WhatsApp
sambil lima menit kemudian marah-marah karena motornya disalip tukang cilok.
Inilah mungkin alasan mengapa nasihat sederhana tentang iman
dan akhlak terasa semakin relevan. Sebab ternyata, masalah terbesar manusia
modern bukan kurang informasi agama, melainkan terlalu cepat jempolnya
dibanding pikirannya.
Sebuah ceramah ringan mencoba mengingatkan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah sangat klasik dalam
Islam: kalau iman itu benar-benar hidup di hati, biasanya mulut akan lebih
sopan, tangan lebih hati-hati, dan komentar di media sosial tidak selalu
diawali kalimat, “Maaf nih ya sebelumnya…”
Nasehat itu sederhana sekali. Tidak ada ledakan CGI. Tidak ada
musik dramatis ala trailer kiamat. Hanya obrolan santai yang isinya
mengingatkan bahwa hidup ini singkat, dunia cuma sementara, dan manusia
sebaiknya jangan terlalu sibuk menjadi netizen profesional sampai lupa jadi
manusia normal.
Nasihatnya bertingkat dan sangat realistis. Kalau bisa,
berbuat baiklah kepada orang lain. Kalau belum mampu, minimal berbuat baik
kepada diri sendiri untuk bekal akhirat. Dan kalau itu pun terasa berat, paling
tidak jangan jadi sumber masalah bagi umat manusia. Jangan menyakiti orang
lain. Jangan membuat hidup orang lain lebih sulit. Jangan menjadi manusia yang
keberadaannya membuat grup keluarga harus dimute selama delapan jam.
Sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia terasa
menampar.
Sebab sering kali manusia modern mengira iman itu hanya
urusan simbol. Padahal nasehat tersebut mengingatkan bahwa tanda iman bukan hanya
panjangnya status religius di bio Instagram. Tanda iman itu terlihat dari cara
berbicara, cara memperlakukan orang lain, dan kemampuan menahan diri untuk
tidak menulis komentar yang dimulai dengan, “Saya sih cuma berkata jujur…”
Di situlah letak kelucuannya. Banyak orang ingin masuk
surga, tetapi tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas komentar Facebook
pukul dua pagi.
Nasehat itu juga menjelaskan bahwa semakin kuat iman
seseorang, semakin baik akhlaknya. Ini sebenarnya konsep yang sangat tua dalam
Islam, tetapi entah mengapa selalu terasa baru setiap kali manusia kembali
ribut gara-gara perbedaan merek kopi, pilihan politik, atau cara melipat
sajadah.
Rasulullah ï·º diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.
Artinya, inti agama bukan membuat manusia pandai berdebat sambil urat leher
menegang seperti kabel WiFi yang ditarik terlalu keras. Inti agama adalah
membuat manusia menjadi lebih lembut, lebih jujur, lebih sabar, dan lebih sulit
tersulut hanya karena seseorang salah menyebut nama tokoh favoritnya.
Yang menarik, nasehat ini tidak menggurui. Ia hadir seperti
obrolan ringan selepas subuh atau nasihat bapak-bapak bijak yang biasanya
muncul di teras masjid sambil memegang gelas teh hangat. Bahasanya santai.
Tidak memukul meja. Tidak membuat pendengar merasa sedang diinterogasi
malaikat.
Dan mungkin justru itu kekuatannya.
Di era ketika sebagian dakwah tampil seperti seminar
motivasi bercampur pertandingan tinju, nasihat lembut terasa jauh lebih
menenangkan. Orang modern sudah cukup lelah dengan notifikasi, tagihan,
kemacetan, dan password yang selalu salah. Kadang yang dibutuhkan memang hanya
pengingat sederhana: “Jangan jadi orang jahat.”
Nasehatnya cukup
repetitif dan tidak terlalu mendalam. Bagi yang sudah sering mengikuti kajian,
pesannya mungkin terasa seperti menu prasmanan yang sudah akrab: enak, tetapi
kita tahu rasanya. Tidak banyak dalil rinci atau pembahasan teologis kompleks.
Semuanya dibuat sederhana agar mudah dicerna.
Namun justru di situlah letak kecerdasannya.
Karena masalah manusia modern sering kali bukan tidak tahu
kebaikan, melainkan terlalu sibuk untuk mengingatnya. Kita hidup di zaman
ketika orang bisa hafal diskon tanggal kembar, tetapi lupa meminta maaf kepada
ibunya. Bisa mengingat jadwal drama Korea, tetapi lupa menjaga lisannya
sendiri.
Maka nasihat sederhana menjadi penting. Ia bekerja seperti
alarm kecil di hati yang mulai tertutup debu notifikasi.
Pada akhirnya, Nasehat ini mengingatkan kita bahwa
iman bukan sekadar benda pajangan spiritual. Ia seharusnya menghasilkan akhlak.
Kalau seseorang rajin bicara tentang surga tetapi membuat semua orang di
sekitarnya stres, mungkin ada kabel spiritual yang belum tersambung dengan
benar.
Karena iman yang benar biasanya membuat manusia lebih teduh,
bukan lebih gaduh.
Dan mungkin ukuran keberhasilan dakwah paling sederhana
bukanlah seberapa panjang ceramah seseorang, melainkan apakah setelah
mendengarnya orang jadi lebih baik kepada sesama — atau minimal, tidak lagi
mengetik komentar marah sambil rebahan tengah malam.
Sebab di akhir zaman ini, menjaga hati ternyata sulit.
Menjaga lisan lebih sulit lagi. Tetapi yang paling sulit mungkin adalah menjaga
jempol.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.