Konon, pada masa lalu, untuk menghapus sejarah seseorang harus menjadi diktator. Ia perlu membakar perpustakaan, menyita koran, memenjarakan penulis, lalu memasang patung dirinya sendiri setinggi tiang listrik. Ribet. Banyak tenaga. Banyak bensin.
Lalu muncullah kalimat paling menyeramkan abad ini:
“404 Page Not Found.”
Kalimat itu pendek, dingin, dan tanpa dosa. Tidak ada
tentara. Tidak ada asap pembakaran buku. Tidak ada suara dramatis ala film
perang. Hanya tulisan kecil di layar. Tetapi efeknya luar biasa: sejarah
mendadak menguap seperti mantan yang menghapus chat setelah menikah dengan
orang lain.
Julian Assange, tokoh yang mungkin lebih sering dicari
intelijen daripada dicari jodoh, mengingatkan bahwa digitalisasi bukan cuma
soal kemudahan, melainkan juga soal kekuasaan. Ketika semua arsip dipindahkan
ke server, sejarah tidak lagi dijaga pustakawan berkacamata tebal, melainkan
admin panel dengan password “admin123”.
Dulu, kalau pemerintah mau menghapus sebuah dokumen, mereka
harus bekerja keras. Bayangkan seorang pejabat berlari dari perpustakaan ke
perpustakaan sambil berkata:
“Cepat! Cari semua salinan koran edisi 1987!”
Sekarang tidak perlu. Tinggal rapat kecil.
Maka sejarah pun wafat dengan tenang, ditemani secangkir
kopi kantor dan koneksi Wi-Fi stabil.
Yang lucu, manusia modern sangat percaya pada internet. Kita
menyimpan semuanya di sana: foto bayi, skripsi, bukti transfer, bahkan
screenshot pertengkaran rumah tangga. Kita menganggap cloud itu seperti langit
spiritual—abadi, maha tahu, dan selalu ada.
Padahal cloud hanyalah komputer orang lain.
Ini ironi besar peradaban digital. Kita hidup di zaman
ketika manusia bisa menyimpan 40 ribu foto makan siang, tetapi tidak bisa
menemukan file PDF yang dikirim kemarin sore. Kita yakin internet “tidak pernah
lupa”, padahal internet sering lupa lebih cepat daripada bapak-bapak yang masuk
kamar lalu lupa mau mengambil apa.
Mamane Gondwana tampaknya paham betul absurditas ini.
Sebagai komedian satiris, ia tahu bahwa kekuasaan modern tidak selalu datang
memakai seragam militer. Kadang ia datang memakai logo perusahaan teknologi dan
syarat layanan sepanjang 98 halaman yang disetujui orang tanpa dibaca.
Klik “I Agree”.
Selesai.
Dan tiba-tiba hidup kita berada di bawah belas kasihan
algoritma yang lebih misterius daripada isi hati mantan.
Hari ini sebuah berita viral. Besok hilang. Lusa orang mulai
berkata:
“Memangnya pernah ada?”
Begitulah cara ingatan kolektif perlahan berubah menjadi
permainan sulap digital. Bukan lagi “abrakadabra”, melainkan “content
unavailable”.
George Orwell mungkin akan kaget melihat perkembangan zaman.
Dalam novel 1984, negara harus bekerja keras menulis ulang arsip dan
membuang dokumen ke “lubang memori”. Hari ini, Orwell mungkin akan stres
melihat pekerjaan itu bisa dilakukan magang divisi IT sambil makan mi instan.
Bahkan Wikipedia—kitab suci mahasiswa deadline—kadang
berubah lebih cepat daripada pendapat netizen soal sepak bola. Hari ini seorang
tokoh disebut pahlawan. Besok jadi kontroversial. Minggu depan “perlu
verifikasi tambahan”. Sejarah diedit seperti status Facebook tahun 2009 yang
malu dilihat kembali.
Namun tentu saja teknologi digital bukan musuh. Masalahnya
bukan pada internet, melainkan pada kenyataan bahwa terlalu banyak manusia
menyerahkan ingatan hidupnya kepada server yang bahkan password Wi-Fi-nya tidak
mereka ketahui.
Kita seperti menyimpan seluruh album keluarga di rumah
tetangga, lalu berkata dengan percaya diri:
“Tenang saja, pasti aman.”
Padahal tetangganya sendiri lupa bayar listrik.
Karena itu muncul gerakan penyelamatan arsip digital:
blockchain, IPFS, Wayback Machine, backup lokal, hard disk eksternal, dan
orang-orang paranoid yang mencetak PDF menjadi kertas setebal kitab tafsir.
Mereka dulu dianggap aneh.
Sekarang mereka mulai terlihat seperti nabi kecil teknologi.
Mungkin benar kata Assange: di zaman digital, yang menguasai
server akan menguasai sejarah. Sebab masa depan bukan lagi perang senjata,
melainkan perang memori. Siapa yang bisa menentukan apa yang boleh diingat,
dialah penguasa sebenarnya.
Minimal jangan menyimpan seluruh hidup hanya di satu akun
Google.
Karena kalau suatu hari akun itu terkunci, bukan cuma file
yang hilang. Kadang identitas kita ikut lenyap.
Lalu kita menatap layar kosong sambil bergumam lirih:
“Ya Allah… ternyata hidup saya cuma 15 GB.”
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.