Di zaman sekarang, ukuran kecerdasan kadang lebih aneh daripada menu kopi kekinian. Orang dianggap pintar kalau bisa bikin presentasi dengan animasi beterbangan, ngomong “disrupsi” lima kali dalam satu napas, atau bisa menjelaskan blockchain sambil makan croissant. Sementara itu, orang yang rajin merenung tentang hidup malah dicurigai sedang galau karena gagal investasi kripto.
Padahal, menurut dunia tasawuf, kecerdasan sejati bukan soal
isi kepala saja—tetapi juga soal arah hati. Sebab kepala tanpa hati itu seperti
motor sport tanpa rem: kelihatannya keren, tapi tinggal tunggu waktu untuk
nyemplung ke sawah.
Kajian tentang Kecerdasan Jiwa Menuju Ma’rifatullah
ini seperti tamparan lembut memakai sajadah. Tidak keras, tetapi bikin sadar.
Rasulullah SAW menyebut bahwa orang cerdas adalah orang yang mengenal dirinya
dan mempersiapkan kehidupan setelah mati. Sedangkan orang bodoh adalah mereka
yang mengikuti hawa nafsu sambil berharap Allah tetap memberi diskon surga.
Nah, di sinilah letak humor tragis manusia modern. Kita bisa
hafal password Wi-Fi kantor, tapi lupa password menuju ketenangan batin. Kita
tahu cara menghapus cache ponsel, tetapi tidak tahu cara membersihkan iri hati.
Kita rajin upgrade gadget, namun jiwa masih memakai “sistem operasi”
dendam versi 2009.
Manusia hari ini seperti sibuk mengecat pagar rumah yang
megah, sementara dapurnya kebakaran.
Tasawuf lalu datang membawa pertanyaan sederhana tapi
mematikan ego:
“Sudahkah engkau mengenal dirimu sendiri?”
Mendadak seluruh alam batin gemetar.
Sebab mengenal diri bukan sekadar tahu nama lengkap,
golongan darah, atau hasil tes MBTI. Mengenal diri berarti sadar bahwa tubuh
ini cuma kendaraan sewaan. Ruh lah penumpang aslinya. Dunia hanyalah terminal
transit, bukan kampung halaman terakhir.
Celakanya, kebanyakan manusia memperlakukan dunia seperti
tamu hotel yang terlalu nyaman. Baru dua hari menginap sudah pasang wallpaper,
beli lemari baru, lalu marah-marah kalau waktu check-out tiba.
Di sinilah tasawuf mengajarkan tentang ma’rifatullah—mengenal
Allah secara mendalam. Bukan sekadar hafal sifat wajib dua puluh lalu merasa
sudah spiritual. Ma’rifat itu lebih mirip seseorang yang tenggelam dalam cinta.
Semua yang dilihat mengingatkan kepada Sang Kekasih.
Orang yang ma’rifat melihat hujan bukan sekadar fenomena
cuaca, tetapi surat cinta langit kepada bumi. Bahkan kegagalan pun dianggap
undangan untuk pulang mendekat kepada Tuhan.
Tidak.
Ma’rifat adalah hadiah. Anugerah. Bonus dari Allah kepada
hati yang dibersihkan.
Manusia cuma bisa menyiapkan wadahnya.
Kurang lebih seperti gelas kopi. Kalau gelasnya penuh
lumpur, mau dituangi cappuccino surga pun hasilnya tetap rasa got.
Ego ini licik sekali.
Tasawuf membongkar semua kepalsuan itu seperti tukang servis
membongkar kipas angin berdebu.
Salah satu bagian paling indah dari kajian ini adalah
metafor pohon ma’rifat. Hati manusia digambarkan sebagai tanah tempat Allah
menanam pohon spiritual. Kalau tanahnya bersih, pohon itu tumbuh subur. Akarnya
adalah iman. Batangnya kesabaran. Cabangnya akhlak mulia. Buahnya ketenangan.
Lucunya, manusia modern justru sering sibuk menyemprot
pewangi ke daun, padahal akarnya keropos.
Para sufi seperti Abu Yazid al-Busthomi bahkan berkata bahwa
banyak manusia mati tanpa pernah merasakan nikmat sejati. Bukan karena miskin,
tetapi karena tidak pernah merasakan manisnya dekat dengan Allah.
Ironis memang.
Manusia bisa rela antre tiga jam demi kopi viral, tetapi
lima menit dzikir saja sudah melihat jam tiap tiga puluh detik.
Padahal ketenangan batin itu bukan barang mewah. Ia cuma
tertutup oleh kebisingan nafsu.
Dunia modern sebenarnya tidak kekurangan informasi. Kita
justru kebanjiran informasi. Yang kurang adalah keheningan. Semua orang sibuk
bicara, sedikit yang benar-benar mendengar suara hatinya sendiri.
Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara digital
tetapi rapuh secara spiritual. Jempolnya lincah, tetapi jiwanya pincang.
Pada akhirnya, kajian ini bukan sekadar ceramah agama. Ia
seperti cermin besar yang diletakkan di depan jiwa. Kita diajak bertanya dengan
jujur:
“Selama ini aku sibuk membangun apa? Rumah dunia atau rumah
batin?”
Sebab bisa jadi kita telah sukses di mata LinkedIn, tetapi
bangkrut di hadapan hati sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.