Jumat, 31 Juli 2026

Tua Itu Bukan Error 404

Ketika Kutipan Palsu Lebih Bijak daripada Grup WhatsApp Keluarga

Ada ironi yang selalu berhasil membuat saya tersenyum.

Di zaman ketika orang lebih rajin memeriksa "last seen" daripada daftar pustaka, sebuah kutipan palsu bisa hidup lebih panjang daripada karya asli penulisnya.

Begitulah nasib sebuah nasihat tentang cara menikmati usia tua yang bertahun-tahun berkeliling dunia memakai jas pinjaman milik Gabriel García Márquez. Setelah diselidiki, ternyata jas itu kebesaran. Pemilik aslinya diduga Johnny Welch, seorang komedian dan ventriloku asal Meksiko.

Lucunya, setelah identitasnya dibongkar, isi nasihat itu tidak ikut pensiun.

Ia tetap viral.

Artinya, kadang-kadang yang membuat kita tersentuh bukan siapa yang berbicara, melainkan karena isi ucapannya kebetulan sedang menyindir hidup kita.

Kalau saja kutipan itu diunggah atas nama "Pak RT Blok C", kemungkinan besar hanya mendapat tiga like dan satu komentar, "izin save ya Pak."

Begitu ditempeli nama García Márquez, mendadak semua orang mengangguk sambil berkata, "Dalam sekali..."

Padahal yang dalam mungkin bukan kutipannya.

Yang dalam adalah kolam tempat logika kita tenggelam.


Nasihat itu sebenarnya sederhana.

Kalau sudah tua, berhentilah menghitung saldo setiap lima menit.

Mulailah menghitung berapa kali matahari terbit yang masih bisa Anda nikmati.

Kalimat ini terdengar romantis.

Sampai tagihan listrik datang.

Lalu kita sadar bahwa hidup memang membutuhkan keseimbangan antara filsafat dan pembayaran bulanan.

Sebab kalau semua uang dihabiskan demi slogan "nikmati hidup", bisa jadi bulan depan kita benar-benar menikmati hidup...

...di rumah anak.


Bagian paling berani dari nasihat itu adalah ketika ia berkata bahwa cucu ada untuk ditertawakan, bukan dibesarkan.

Ini kalimat yang berpotensi membuat grup WhatsApp keluarga mendadak sunyi selama dua jam.

Karena di banyak keluarga Asia, pensiun bukan berarti berhenti bekerja.

Pensiun hanya berarti pindah divisi.

Dulu bekerja di kantor.

Sekarang bekerja sebagai sopir cucu.

Pagi mengantar sekolah.

Siang menjemput les.

Sore menjaga balita.

Malam diminta menjaga cucu lagi karena orang tuanya "healing".

Aneh memang.

Generasi yang paling sering mengatakan, "Self-care itu penting," justru paling sering menitipkan anak kepada orang yang lututnya sudah berbunyi seperti popcorn.


Ada pula nasihat agar orang tua berhenti menjadi ATM keluarga.

Ini nasihat yang sangat revolusioner.

Sebab banyak orang tua mengalami penyakit yang belum masuk daftar WHO.

Namanya...

Sindrom Dompet Terbuka.

Gejalanya khas.

Begitu anak berkata,

"Ayah... cuma pinjam sebentar..."

Dompet langsung mengalami refleks neurologis.

Padahal kata "sebentar" dalam kamus keluarga sering berarti sampai cicilan rumah lunas.

Ada orang tua yang tabungannya habis bukan karena inflasi.

Melainkan karena anaknya punya hobi mengganti ide bisnis lebih sering daripada mengganti password Wi-Fi.

Hari ini jual kopi.

Besok NFT.

Lusa crypto.

Minggu depan peternakan alpaka.

Bulan berikutnya kembali meminjam uang.

Kalau semangat saja bisa dijadikan agunan, mungkin bank sudah buka cabang di media sosial.


Nasihat berikutnya lebih menarik lagi.

Katanya, kalau sudah tua jangan terus membicarakan penyakit.

Bicaralah tentang lagu, perjalanan, dan kenangan indah.

Ini terdengar mulia.

Tetapi mari kita jujur.

Bertemu teman seusia enam puluh tahun tanpa membahas kolesterol hampir sama sulitnya seperti rapat RT tanpa membahas iuran.

Percakapan biasanya begini.

"Tekanan darahmu berapa?"

"Normal."

"Normal itu angka berapa?"

Lima belas menit kemudian semua orang saling memperlihatkan foto hasil laboratorium seperti mahasiswa memamerkan IPK.


Yang paling saya sukai justru kalimat terakhirnya.

"Kamu sudah menang. Kamu masih berdiri. Kamu punya sejarah dan gaya."

Kalimat ini diam-diam menyimpan filsafat yang indah.

Di zaman media sosial, semua orang berlomba terlihat muda.

Krim anti-aging laris.

Filter wajah bekerja lembur.

Bahkan ada aplikasi yang membuat usia enam puluh tampak dua puluh lima.

Masalahnya cuma satu.

Begitu kamera depan dimatikan...

lutut tetap mengeluarkan bunyi.


Mungkin memang kita hidup di zaman yang aneh.

Orang berumur dua puluh ingin cepat kaya.

Orang berumur empat puluh ingin cepat pensiun.

Orang berumur enam puluh ingin cepat sembuh.

Sementara anak kecil hanya ingin es krim.

Barangkali anak kecil itulah filsuf sejati.

Ia menikmati hidup sebelum mengenal cicilan.


Namun, nasihat viral itu juga bukan kitab suci.

Ia terlalu optimistis.

Seolah semua orang tua punya tabungan yang cukup untuk keliling Eropa sambil memesan kopi artisan.

Padahal sebagian orang tua lebih sibuk menghitung harga minyak goreng daripada harga tiket pesawat.

Tidak semua lansia tinggal bersama anak karena dimanfaatkan.

Ada yang memang saling menjaga.

Ada yang saling menguatkan.

Ada yang saling menyelamatkan ekonomi keluarga.

Hidup terlalu rumit untuk diringkas menjadi poster motivasi berwarna pastel.

Realitas selalu lebih kusut daripada caption Instagram.


Tetapi di balik segala keterbatasannya, ada satu pesan yang patut dipelihara.

Bahwa usia tua bukan hukuman.

Ia adalah bonus.

Tidak semua orang mendapat kesempatan mengeluh tentang rematik.

Sebab sebagian orang bahkan tidak sempat menjadi tua.

Maka jika rambut mulai memutih, jangan buru-buru mengecatnya.

Anggap saja itu notifikasi dari alam semesta bahwa Anda telah berhasil melewati begitu banyak bab kehidupan.

Kalau keriput mulai datang, jangan panik.

Itu bukan kerusakan sistem.

Itu arsip pengalaman.

Setiap garis di wajah adalah tanda bahwa hidup pernah mengajak Anda tertawa, menangis, jatuh, bangun, lalu mengulanginya lagi.


Akhirnya saya menyadari sesuatu.

Kutipan itu memang palsu.

Nama penulisnya keliru.

Tetapi keresahan yang disentuhnya benar.

Kadang kebohongan terbesar bukanlah ketika sebuah kutipan salah atribusi.

Melainkan ketika kita percaya bahwa hidup baru boleh dinikmati setelah semua urusan selesai.

Padahal urusan manusia tidak pernah selesai.

Yang selesai justru manusianya.

Karena itu, mungkin seni menua bukanlah tentang terlihat muda.

Melainkan tentang tetap mampu tertawa ketika membaca tulisan yang ternyata bukan karya García Márquez, lalu berkata,

"Ya sudahlah... penulisnya boleh salah. Yang penting jangan sampai hidup kita ikut salah kutip."

Dan kalau suatu hari cucu bertanya, "Kakek, apa rahasia umur panjang?"

Jawablah dengan tenang,

"Bukan makan sayur."

"Lalu?"

"Tidak ikut berdebat di kolom komentar Facebook."

Percayalah.

Tekanan darah langsung turun tiga poin.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Sekolah Penghafal, Universitas Pembenaran

Tentang Orang Pintar yang Tak Pernah Curiga

Ada sebuah makhluk yang cukup unik di dunia modern. Ia bukan dukun, bukan profesor, juga bukan cenayang. Ia adalah orang yang selalu berkata, "Saya tahu."

Kalimat itu terdengar meyakinkan sampai kita bertanya, "Tahu dari mana?"

Lalu ia menjawab, "Katanya..."

Kalau "katanya" itu berasal dari guru, dosen, tokoh terkenal, akun media sosial dengan jutaan pengikut, atau video berdurasi tiga puluh detik yang diiringi musik dramatis, maka selesai sudah. Pengetahuan berubah menjadi benda keramat. Tidak boleh disentuh. Tidak boleh dipertanyakan. Apalagi dibantah. Seolah-olah setiap informasi lahir lengkap dengan akta kelahiran dan surat keterangan bebas salah.

Di sinilah Edgar Morin datang seperti tamu yang merusak suasana pesta. Ketika semua orang sibuk mengoleksi sertifikat, ia justru bertanya, "Yakin semua yang kamu pelajari itu benar?"

Ruangan mendadak sunyi.

Seseorang pelan-pelan menutup map ijazahnya.

Yang lain buru-buru mematikan presentasi PowerPoint.

Karena ternyata pertanyaan itu jauh lebih menakutkan daripada soal ujian.

Pendidikan yang Terlalu Sopan

Sekolah kita kadang seperti restoran cepat saji.

Guru menyajikan jawaban.

Murid memakan jawaban.

Lalu pulang dengan nilai kenyang.

Sayangnya, tidak ada yang sempat bertanya dari mana bahan bakunya berasal.

Sejak kecil kita diajari bahwa jawaban benar selalu tersedia di bagian belakang buku atau di lembar kunci jawaban. Lama-kelamaan kita mengira kehidupan bekerja dengan cara yang sama.

Padahal hidup lebih mirip grup keluarga besar.

Tidak ada kunci jawaban.

Yang ada hanya perdebatan panjang, berita yang belum tentu benar, foto yang sudah diedit, dan paman yang merasa menjadi pakar segala bidang setelah menonton dua video di internet.

Ironisnya, sekolah sering melatih kita menjadi ahli mengingat, tetapi kurang melatih kita menjadi ahli meragukan.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kemajuan lahir bukan dari orang yang hafal semua jawaban, melainkan dari orang yang berani bertanya, "Jangan-jangan kita salah?"

Sindrom "Karena Guru Bilang"

Ada penyakit intelektual yang cukup populer.

Gejalanya sederhana.

Kalau mendengar sesuatu dari orang yang dianggap berwibawa, pasien langsung percaya.

Kalau mendengar data yang berbeda, pasien langsung alergi.

Kalau disuruh memeriksa sumber, pasien mendadak kehilangan sinyal.

Penyakit ini tidak mengenal usia.

Anak SD bisa mengalaminya.

Profesor juga bisa.

Bedanya hanya ukuran gelarnya.

Morin menyebut keadaan ini sebagai kebodohan yang terpelajar. Kedengarannya seperti penghinaan, padahal sebenarnya diagnosis.

Bayangkan seseorang memiliki perpustakaan pribadi berisi lima ribu buku, tetapi seluruh raknya hanya berisi buku yang setuju dengan pendapatnya.

Perpustakaan itu akhirnya bukan jendela dunia.

Ia berubah menjadi ruang gema.

Setiap buku hanya mengulang kalimat yang sama:

"Anda benar."

"Anda memang benar."

"Tetaplah benar."

Tidak heran pemiliknya semakin yakin sekaligus semakin sempit.

Media Sosial: Universitas Tanpa Rektor

Media sosial adalah tempat yang ajaib.

Di pagi hari seseorang mencari resep sambal.

Siang harinya ia menjadi pakar ekonomi.

Sore hari ia menjelaskan geopolitik.

Malamnya ia memberi kuliah tentang fisika kuantum.

Semua itu dilakukan tanpa rasa bersalah.

Internet memang demokratis.

Masalahnya, kebodohan juga mendapat hak pilih.

Algoritma tidak bertugas mencari kebenaran.

Ia hanya mencari apa yang membuat kita betah menggulir layar.

Kalau kita suka teori konspirasi, ia memberi lebih banyak teori konspirasi.

Kalau kita suka kemarahan, ia memberi lebih banyak alasan untuk marah.

Lama-lama kita hidup di lingkungan yang isinya hanya orang-orang yang sepakat dengan kita.

Mirip reuni.

Bedanya, tidak ada yang membawa makanan.

Orang Pintar yang Berbahaya

Kita sering mengira lawan terbesar pengetahuan adalah kebodohan.

Padahal belum tentu.

Kadang lawan terberat pengetahuan justru keyakinan bahwa kita sudah tahu.

Orang yang sadar dirinya tidak tahu biasanya masih mau belajar.

Sebaliknya, orang yang merasa tahu semuanya akan sibuk memberi ceramah.

Ia datang bukan membawa pertanyaan.

Ia datang membawa titik.

Padahal ilmu berkembang karena tanda tanya.

Bukan karena tanda seru.

Guru yang Hebat Bukan Gudang Jawaban

Guru terbaik bukan orang yang membuat murid berkata, "Saya hafal."

Guru terbaik adalah yang membuat murid berkata, "Saya penasaran."

Sebab rasa ingin tahu jauh lebih tahan lama daripada hafalan.

Hafalan bisa hilang setelah ujian.

Rasa ingin tahu bisa bertahan seumur hidup.

Kalau semua guru hanya mengajarkan jawaban, murid akan menjadi mesin fotokopi.

Tetapi kalau guru mengajarkan cara bertanya, murid akan menjadi penemu.

Peradaban tidak dibangun oleh orang yang menghafal peta.

Peradaban dibangun oleh orang yang berani menggambar peta baru.

Keraguan yang Menyehatkan

Sebagian orang takut pada keraguan.

Padahal keraguan itu seperti sabun.

Kalau dipakai secukupnya, ia membersihkan pikiran.

Kalau tidak pernah dipakai, pikiran mulai berbau dogma.

Sebaliknya, kalau sabun dipakai terus tanpa berhenti, kulit juga bisa rusak.

Begitu pula keraguan.

Morin tidak mengajak kita mencurigai semuanya sampai tidak percaya matahari terbit dari timur.

Ia hanya mengingatkan bahwa setiap pengetahuan layak diuji, diperiksa, dan dipahami konteksnya.

Bukan supaya kita menjadi pembangkang.

Melainkan supaya kita tidak mudah diperalat.

Nilai Terbaik Bernama "Mengapa?"

Bayangkan jika suatu hari rapor sekolah memiliki mata pelajaran baru.

Namanya bukan Matematika.

Bukan Bahasa.

Bukan IPA.

Melainkan "Mengapa?"

Nilainya bukan diukur dari seberapa cepat menjawab.

Tetapi dari seberapa dalam bertanya.

Mungkin banyak murid akan remedial.

Bahkan beberapa orang dewasa.

Edgar Morin tampaknya akan tersenyum melihat itu.

Karena pendidikan sejati bukanlah pabrik yang mencetak manusia seragam dengan jawaban yang sama.

Ia adalah bengkel tempat akal diasah, ego dipreteli, dan rasa ingin tahu dirawat agar tidak pensiun sebelum pemiliknya.

Maka, jika suatu hari Anda merasa sudah mengetahui segalanya, berhati-hatilah.

Bisa jadi Anda bukan sedang berada di puncak ilmu.

Bisa jadi Anda hanya sedang berdiri di atas tumpukan hafalan yang sangat tinggi, lalu mengira itulah gunung kebijaksanaan.

Dan seperti semua gunung dari tumpukan kertas, sekali terkena angin pertanyaan, ia bisa berhamburan ke mana-mana.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Kamis, 30 Juli 2026

Museum Bernama Masa Lalu: Ketika Kuburan Lebih Ramai daripada Ruang Tamu

"Jangan ganggu sejarah!" seru seseorang yang bahkan lupa tanggal ulang tahun istrinya.


Ada satu kebiasaan manusia yang sungguh ajaib. Kalau mengkritik keadaan sekarang, semua tampak berani.

"Jalan rusak!"

"Iya."

"Korupsi merajalela!"

"Betul."

"Pendidikan perlu diperbaiki!"

"Setuju."

Tetapi coba tambahkan satu kalimat lagi.

"Mungkin leluhur kita juga pernah salah."

Mendadak suasana berubah seperti grup WhatsApp keluarga yang disusupi sales asuransi.

"Kurang ajar!"

"Tidak menghormati sejarah!"

"Kamu agen asing!"

Lucunya, orang yang tadi begitu revolusioner mendadak berubah menjadi satpam museum.


Abdullah Al-Qasimi tampaknya sudah mengendus gejala ini hampir seabad yang lalu. Ia melihat sesuatu yang ironis: manusia sering lebih berani mengkritik tetangganya daripada mengkritik kakek buyutnya yang sudah wafat ratusan tahun.

Padahal, secara logika sederhana, tetangga masih bisa tersinggung.

Kakek buyut sudah tidak membaca kolom komentar.

Namun justru yang hidup paling emosional membela yang sudah lama tidak ikut rapat RT.


Barangkali masalahnya bukan sejarah.

Masalahnya adalah kita memperlakukan sejarah seperti porselen warisan nenek.

Tidak boleh disentuh.

Tidak boleh dipindahkan.

Tidak boleh dicuci.

Akhirnya berdebu.

Lalu kita bangga memiliki debu yang sangat bersejarah.

Padahal fungsi sejarah seharusnya bukan menjadi pajangan, melainkan menjadi buku petunjuk. Buku petunjuk yang baik tentu boleh diberi catatan, dikoreksi, bahkan diperbarui bila ditemukan kesalahan pembacaan.

Bayangkan kalau semua buku petunjuk diperlakukan sakral.

Kompor meledak, tetapi kita berkata,

"Yang penting manual edisi 1954 tetap murni."


Al-Qasimi kemudian mengeluarkan kalimat yang begitu pedas hingga mungkin membuat cabai merasa minder.

"Kita menghormati kematian lebih daripada menghormati kehidupan."

Kalimat ini seperti tamparan filosofis menggunakan bantal—tidak berdarah, tetapi membuat orang terdiam.

Lihat saja betapa rajinnya manusia merawat monumen.

Tetapi taman kota?

Ya... nanti saja kalau anggarannya turun.

Betapa khusyuknya kita mengenang pahlawan.

Tetapi guru honorer?

"Tunggu APBN berikutnya."

Betapa semangatnya membangun museum.

Tetapi perpustakaan?

"Nanti kalau viral."

Seolah-olah orang mati memiliki tim humas yang jauh lebih hebat daripada orang hidup.


Kalau dipikir-pikir, manusia memang unik.

Kuburan selalu sepi, tetapi pertengkaran tentang penghuni kuburan tidak pernah sepi.

Orang yang sudah wafat mungkin sedang tenang di alam sana.

Yang ribut justru cucu-cicitnya.

Kadang membela sesuatu yang bahkan belum tentu diperdebatkan oleh tokoh yang mereka bela.

Kalau para leluhur bisa membuka grup WhatsApp dari alam sana, mungkin pesannya sederhana.

"Tolong berhenti bertengkar memakai nama kami. Coba kalian perbaiki jalan depan rumah dulu."


Al-Qasimi juga mengatakan bahwa impian kita sering berada di belakang.

Ini kalimat yang terdengar puitis, tetapi kalau dibayangkan secara harfiah sangat lucu.

Bayangkan seorang pelari maraton yang terus berlari sambil menghadap ke belakang.

Ia yakin garis finis ada di masa lalu.

Hasilnya?

Bukan menjadi juara.

Melainkan masuk IGD.

Begitulah masyarakat yang terlalu sibuk bernostalgia.

Setiap solusi dimulai dengan kalimat,

"Dulu..."

"Dulu ekonomi lebih baik."

"Dulu moral lebih baik."

"Dulu cuaca lebih sejuk."

"Dulu gorengan lima ratus."

Akhirnya masa depan hanya menjadi ruang tunggu yang tidak pernah dipanggil.


Fenomena ini ternyata lintas budaya.

Di hampir setiap negara selalu ada masa yang disebut "zaman emas".

Anehya, zaman emas itu selalu berada sekitar dua atau tiga generasi sebelumnya.

Tidak pernah sekarang.

Mungkin seratus tahun lagi cucu-cucu kita juga akan berkata,

"Ah... tahun 2026 itu masa keemasan."

Padahal kita yang hidup di tahun 2026 masih sibuk mencari sinyal Wi-Fi dan diskon belanja daring.

Memang begitulah romantisme bekerja.

Ia memiliki filter yang lebih canggih daripada aplikasi edit foto.

Jerawat sejarah dihapus.

Keriput peradaban disamarkan.

Yang tersisa hanya pipi mulus bernama nostalgia.


Di Indonesia gejalanya juga tidak asing.

Kita sangat pandai membuat slogan "Jas Merah"—jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Masalahnya, sebagian orang mengartikannya menjadi,

"Jangan sekali-kali mempelajari sejarah secara kritis."

Padahal Bung Karno sendiri gemar membaca, berdiskusi, dan berdebat.

Beliau tampaknya lebih suka sejarah dipikirkan daripada dipajang.

Karena sejarah yang tidak boleh dipertanyakan bukan lagi ilmu.

Ia sudah berubah menjadi lemari antik.

Indah dipandang.

Sulit dipakai.


Yang menarik, Al-Qasimi tidak pernah mengajak kita membuang sejarah.

Ia hanya meminta agar sejarah turun sedikit dari singgasananya.

Biarkan ia duduk bersama kita di ruang tamu.

Diajak ngobrol.

Diajak berdiskusi.

Kadang dipuji.

Kadang dikritik.

Karena hanya teman yang bisa diajak berdialog.

Patung hanya bisa dipandangi.


Mungkin ukuran masyarakat yang dewasa bukanlah seberapa keras mereka berteriak membela masa lalu.

Melainkan seberapa tenang mereka mampu mendengarkan pertanyaan tentang masa lalu.

Sebab sejarah yang benar tidak takut diperiksa.

Hanya mitos yang alergi terhadap senter.


Pada akhirnya, Al-Qasimi sedang mengingatkan sesuatu yang sederhana.

Kuburan memang layak dihormati.

Tetapi jangan sampai ruang tamu ikut berubah menjadi kuburan.

Sebab rumah yang sehat bukan rumah yang dipenuhi foto leluhur.

Melainkan rumah yang masih terdengar suara anak-anak tertawa, orang-orang berdiskusi, dan penghuninya berani membangun masa depan.

Karena sejarah terbaik bukanlah sejarah yang terus dipuja.

Melainkan sejarah yang membuat generasi berikutnya mampu menulis bab yang lebih baik.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

"Ayah, Filmnya Bagus Kok… Tapi Sinopsisnya Mahal"

Ada satu makhluk yang paling sering disalahpahami oleh anak-anak zaman sekarang. Bukan dosen pembimbing. Bukan petugas pajak. Apalagi algoritma media sosial yang tiba-tiba memunculkan iklan kasur setelah kita mengeluh pegal.

Makhluk itu bernama: ayah yang bertanya, "Filmnya tentang apa?"

Bagi seorang remaja atau pemuda, pertanyaan itu terdengar seperti awal interogasi di kantor polisi.

"Kamu dari mana?"

"Nonton."

"Sama siapa?"

"Teman."

"Film apa?"

"Film."

"Ceritanya bagaimana?"

"..."

Padahal yang ditanya cuma sinopsis. Reaksinya sudah seperti diminta membacakan seluruh trilogi The Lord of the Rings lengkap dengan lampiran analisis simbolisme cincin.

Lucunya, kepada teman tongkrongan kita sanggup bercerita selama dua jam. Bahkan adegan yang hanya muncul tiga detik bisa diperdebatkan sampai warung kopi tutup.

"Tahu nggak, waktu tokohnya melirik ke kanan itu sebenarnya foreshadowing."

"Wah, gila! Dalam banget."

Tetapi ketika ayah bertanya, "Filmnya bagus?"

Jawabannya berubah menjadi format SMS tahun 2004.

"Bagus."

"Kenapa bagus?"

"Ya... bagus."

Selesai.


Demokrasi yang Berhenti di Ruang Tamu

Anak muda sering menganggap rumah adalah tempat transit. Mandi, makan, mengisi daya ponsel, lalu menghilang lagi.

Orang tua menganggap rumah adalah tempat berkumpul.

Anak menganggap rumah adalah stasiun pengisian ulang.

Perbedaan persepsi ini melahirkan salah satu dialog paling klasik sepanjang sejarah keluarga.

"Sudah pulang?"

"Iya."

"Mau ke mana lagi?"

"Keluar."

"Lho, baru pulang."

"Iya."

Percakapan selesai. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah. Yang ada hanya ibu yang menghela napas sambil memanaskan lauk untuk ketiga kalinya.


Bahasa Cinta Generasi Lama

Generasi sekarang punya banyak cara mengungkapkan kasih sayang.

Mengirim emoji hati.

Memberi stiker lucu.

Mengirim GIF.

Mengunggah foto dengan caption sepanjang tesis.

Generasi orang tua jauh lebih sederhana.

"Sudah makan?"

"Jangan lupa bawa payung."

"Motornya bensinnya cukup?"

"Kok kurusan?"

Kalimat-kalimat itu sering dianggap mengganggu.

Padahal bagi orang tua, bertanya adalah bentuk pelukan yang diterjemahkan ke dalam bahasa praktis.

Ayah mungkin tidak pernah berkata, "Nak, keberadaanmu membuat hidupku bermakna."

Beliau lebih mungkin berkata,

"Ban belakangmu anginnya kurang."

Terjemahan emosionalnya sebenarnya sama.


Kesepian Itu Tidak Berisik

Jalal Amin menceritakan ayahnya duduk sendirian di ruang tamu dengan lampu redup.

Adegan itu menyedihkan.

Tetapi coba bayangkan kalau ayah zaman sekarang.

Beliau duduk di ruang tamu.

Televisi menyala.

Tidak ditonton.

YouTube terbuka.

Video berhenti di menit ketiga.

WhatsApp dibuka berkali-kali.

Tidak ada pesan dari anak.

Lalu beliau melihat status kita.

"Ngopi lagi."

Beliau tersenyum.

Bukan karena kopi.

Tetapi karena setidaknya tahu anaknya masih hidup.

Kadang status media sosial telah menggantikan fungsi surat keluarga.

Sayangnya, yang mengetahui aktivitas kita justru seribu pengikut, sementara orang tua baru tahu kita sedang ke Bali setelah melihat foto dari tetangga.


Ironi Zaman Digital

Teknologi diciptakan untuk mendekatkan yang jauh.

Hebatnya, kita berhasil menggunakannya untuk menjauhkan yang dekat.

Kita bisa video call dengan teman di Kanada.

Tetapi sulit duduk lima belas menit bersama ayah di ruang tamu.

Kita hafal jadwal influencer.

Kita lupa jadwal kontrol kesehatan ibu.

Kita tahu drama percintaan artis Korea.

Tetapi tidak tahu obat darah tinggi ayah sudah habis.

Manusia memang spesies yang luar biasa.

Bisa mengingat password Wi-Fi tetangga.

Tetapi lupa menelepon orang yang setiap malam mendoakannya.


Siklus yang Selalu Berulang

Yang paling lucu sekaligus tragis dari cerita Jalal Amin adalah hukum alam yang tidak pernah gagal.

Anak berkata,

"Ayah cerewet."

Dua puluh lima tahun kemudian...

Ia sendiri menjadi ayah.

Lalu bertanya kepada anaknya,

"Dari mana?"

Anaknya menjawab,

"Keluar."

"Sama siapa?"

"Teman."

"Film apa?"

"Film."

Saat itulah semesta tertawa kecil.

Alam semesta rupanya memiliki selera humor yang sangat klasik.

Ia tidak membalas kita dengan hukuman.

Ia membalas kita dengan pengalaman.

Karma ternyata bukan petir dari langit.

Karma adalah ketika kita tiba-tiba mengucapkan kalimat yang dulu paling kita benci dari mulut orang tua sendiri.


Orang Tua Tidak Membutuhkan Hadiah Mahal

Ada anggapan bahwa membahagiakan orang tua harus dengan mobil baru.

Rumah baru.

Umrah.

Liburan ke Eropa.

Padahal sering kali mereka jauh lebih bahagia jika anak berkata,

"Yah, tadi aku nonton film. Ceritanya begini..."

Lalu mereka mendengarkan.

Mungkin tidak paham siapa tokoh utamanya.

Mungkin lupa nama filmnya lima menit kemudian.

Tetapi itu tidak penting.

Yang mereka simpan bukan judul filmnya.

Melainkan kenyataan bahwa malam itu anaknya memilih berbagi cerita.

Kadang-kadang, sinopsis lima menit jauh lebih berharga daripada oleh-oleh lima juta.


Jangan Sampai Ruang Tamu Menjadi Museum Penyesalan

Ada sebuah benda yang hampir punah di rumah modern.

Bukan radio transistor.

Bukan telepon kabel.

Melainkan obrolan tanpa terburu-buru.

Ruang tamu kini lebih sering menjadi tempat meletakkan paket belanja daring daripada tempat berbagi cerita.

Padahal mungkin di sanalah kenangan paling berharga bisa lahir.

Mungkin malam ini ayah hanya ingin tahu isi film.

Mungkin ibu hanya ingin mendengar bagaimana perjalananmu pulang.

Bukan karena mereka kekurangan informasi.

Melainkan karena mereka sedang mengumpulkan kenangan.

Sebab pada usia tertentu, orang tua tidak lagi menghitung berapa banyak uang yang mereka miliki.

Mereka menghitung berapa banyak malam ketika anak-anak masih mau duduk bersama mereka.

Jadi, kalau malam ini ayah bertanya, "Filmnya tentang apa?"

Jangan jawab, "Bagus."

Duduklah sebentar.

Ceritakan tokohnya.

Ceritakan ending-nya.

Kalau perlu, tambahkan spoiler sekalian.

Toh yang benar-benar mereka tunggu bukan akhir ceritanya.

Melainkan kenyataan bahwa, untuk beberapa menit, mereka kembali menjadi bagian dari cerita hidupmu.

abah-arul.blogspot.com. Juli 2026

Museum FC vs Laboratorium United

Ketika Sejarah Ingin Jadi Striker, tetapi Ekonomi yang Selalu Cetak Gol

Ada dua jenis warga negara di dunia.

Golongan pertama bangun pagi lalu bertanya, "Hari ini inovasi apa yang bisa saya ciptakan?"

Golongan kedua bangun pagi lalu bertanya, "Tahukah kalian bahwa nenek moyang kami sudah menemukan semuanya sejak lima ribu tahun yang lalu?"

Yang lucu, golongan kedua biasanya menyampaikan kebesaran leluhurnya menggunakan ponsel buatan negara lain, di media sosial buatan negara lain, melalui internet yang infrastrukturnya juga hasil riset negara lain. Kalau paradoks diberi KTP, mungkin beginilah wajahnya.

Belakangan media sosial kembali ramai oleh kutipan yang konon berasal dari Henry Kissinger.

"Amerika tidak ada hubungannya dengan sejarah. Barang siapa ingin membangun negara kuat, andalkan ilmu pengetahuan dan ekonomi..."

Kalimat ini beredar dengan kecepatan yang membuat Einstein mungkin ingin mengoreksi rumus relativitasnya. Dalam beberapa jam, ia sudah muncul di Facebook, X, WhatsApp keluarga, bahkan mungkin sudah dibacakan dengan musik instrumental yang mengharukan di TikTok.

Masalahnya cuma satu.

Belum tentu Kissinger pernah mengucapkannya.

Tetapi memang ada satu hukum alam yang lebih konsisten daripada gravitasi.

Semakin tidak jelas sumber sebuah kutipan, semakin besar kemungkinan foto di bawahnya memakai wajah tokoh terkenal yang sedang memandang ke kejauhan.


Kalaupun Kissinger benar-benar tidak pernah berkata demikian, gagasan di balik kutipan itu tetap menarik.

Ia seolah berkata, "Kalau ingin menjadi negara kuat, berhentilah terlalu sering bernostalgia."

Ini nasihat yang terdengar sederhana.

Namun ternyata sangat menyakitkan bagi bangsa yang hobi mengadakan seminar bertema "Mengembalikan Kejayaan Masa Lalu."

Aneh juga.

Kalau kejayaan masa lalu memang bisa kembali hanya dengan seminar, mungkin Romawi sudah bangkit setiap hari Selasa.


Ada fenomena unik yang hanya dimiliki banyak negara berkembang.

Mereka memiliki sejarah yang sangat panjang.

Tetapi daftar paten ilmiahnya sangat pendek.

Museum penuh.

Laboratorium sepi.

Arsip sejarah bertingkat-tingkat.

Jurnal internasional cuma beberapa lembar.

Seolah-olah kita menganggap leluhur bekerja sangat keras supaya cucunya cukup bekerja sebagai pemandu wisata sejarah.

Padahal para leluhur itu sendiri dulu adalah inovator.

Mereka tidak menghabiskan hidup dengan mengenang leluhur yang lebih tua lagi.

Bayangkan kalau para pembangun Borobudur dahulu berkata,

"Kita jangan membangun apa-apa dulu. Mari kita adakan diskusi tentang betapa hebatnya bangunan generasi sebelumnya."

Mungkin sampai sekarang kita hanya memiliki notulen rapat.


Namun kutipan pseudo-Kissinger ini juga punya masalah.

Ia terlalu percaya bahwa sejarah hanyalah gudang barang bekas.

Padahal sejarah itu seperti ibu.

Kadang cerewet.

Sering mengulang cerita yang sama.

Tetapi biasanya benar.

Bangsa yang benar-benar maju justru sangat menghargai sejarah.

Jepang tetap punya upacara minum teh.

Tetapi juga membuat robot.

Jerman masih merawat kastel abad pertengahan.

Sekaligus membuat mesin industri kelas dunia.

Korea Selatan masih bangga memakai hanbok.

Sambil menjual semikonduktor ke seluruh planet.

Mereka tidak memilih antara museum dan laboratorium.

Mereka membangun laboratorium di samping museum.

Kalau perlu, Wi-Fi museum-nya lebih cepat daripada Wi-Fi kantor pemerintahan.


Amerika sendiri sebenarnya juga lucu.

Katanya negara tanpa sejarah.

Tetapi coba sentuh Konstitusinya sedikit saja.

Reaksinya bisa seperti seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa resep rendang keluarganya ternyata kurang santan.

Negara yang konon "tidak punya sejarah" justru memiliki narasi sejarah yang sangat kuat.

American Dream.

Declaration of Independence.

Founding Fathers.

Gettysburg.

Semuanya diperlakukan hampir seperti kitab keluarga nasional.

Jadi mengatakan Amerika tidak membutuhkan sejarah sama saja seperti mengatakan seseorang tidak membutuhkan tulang karena yang terlihat hanya ototnya.


Di Indonesia, perdebatan ini terasa semakin akrab.

Kita adalah bangsa yang sangat rajin mengenang masa lalu.

Kadang bahkan terlalu rajin.

Setiap ada masalah ekonomi, muncul kalimat,

"Dulu Nusantara menguasai jalur perdagangan dunia."

Benar.

Tetapi tagihan listrik bulan ini sayangnya tidak bisa dibayar memakai kejayaan Majapahit.

Bank belum menerima pembayaran dalam bentuk nostalgia.

Yang diterima tetap rupiah.

Sayangnya.


Ironisnya, sejarah terbesar Islam justru dibangun oleh orang-orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan.

Mereka tidak puas hanya menceritakan kejayaan Nabi dan para sahabat.

Mereka mendirikan observatorium.

Rumah sakit.

Perpustakaan.

Universitas.

Menerjemahkan ribuan buku.

Mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, optika, hingga filsafat.

Mereka menghormati masa lalu justru dengan menciptakan masa depan.

Hari ini kadang kita membalas jasa mereka dengan mengadakan seminar tentang betapa hebatnya mereka dahulu.

Barangkali kalau Ibnu Sina hadir kembali, beliau akan bertanya,

"Baik... setelah seminar selesai, laboratoriumnya di sebelah mana?"

Lalu ruangan mendadak sunyi.


Mungkin pelajaran terbesar dari kutipan yang belum tentu diucapkan Kissinger ini justru bukan tentang Amerika.

Melainkan tentang kebiasaan manusia.

Kita sering mengira sejarah bisa menggantikan pekerjaan.

Padahal sejarah hanyalah GPS.

Ia menunjukkan jalan.

Tetapi tidak menyetir kendaraan.

Mobil tetap harus berjalan.

Kalau hanya memandangi peta sambil berkata, "Lihat, jalannya bagus sekali," kita tetap tidak akan sampai tujuan.


Akhirnya saya membayangkan sebuah pertandingan sepak bola.

Di satu sisi ada Museum FC.

Pemain-pemainnya membawa foto leluhur.

Seragamnya klasik.

Yel-yelnya megah.

Tetapi tidak pernah latihan.

Di sisi lain ada Laboratorium United.

Mereka setiap hari bereksperimen.

Salah berkali-kali.

Bangkit lagi.

Berlatih lagi.

Ketika peluit panjang berbunyi, papan skor tidak pernah bertanya siapa yang memiliki sejarah paling panjang.

Papan skor hanya menghitung siapa yang berhasil mencetak gol.

Untungnya, dalam kehidupan nyata kita tidak harus memilih salah satunya.

Bangsa yang bijak tidak membakar museum demi membangun laboratorium.

Ia membangun laboratorium agar suatu hari nanti hasil penelitiannya pantas dipajang di museum.

Karena sejarah yang paling membanggakan bukanlah sejarah yang terus dikenang.

Melainkan sejarah baru yang sedang kita tulis hari ini.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026