Ada satu keajaiban modern yang bahkan mungkin membuat para alkemis abad pertengahan iri. Dahulu orang membutuhkan puluhan tahun belajar untuk dianggap bijaksana. Sekarang, cukup membaca tiga unggahan, menonton dua video pendek, lalu menulis komentar dengan huruf kapital, seseorang sudah merasa layak mengoreksi ilmuwan, dokter, ekonom, ulama, bahkan ahli yang meneliti bidang itu selama hidupnya.
Jika Umberto Eco masih hidup, mungkin ia akan membuka media
sosial setiap pagi seperti seorang petugas kebun binatang yang mendapati
kandang monyet terbuka semalaman. Ia tidak akan terkejut melihat kekacauan itu.
Ia sudah memperingatkan kita sejak lama.
Masalahnya, kita tidak mendengarkan.
Atau lebih tepatnya, kita terlalu sibuk mengetik untuk
mendengarkan.
Media sosial hari ini ibarat pasar malam raksasa yang
menjual segala hal: ilmu pengetahuan, teori konspirasi, resep rendang, ramalan
kiamat, nasihat pernikahan, dan analisis geopolitik dari seseorang yang foto
profilnya masih memakai gambar anime. Semuanya berdiri sejajar dalam etalase
yang sama. Yang paling keras bukan selalu yang paling benar. Yang paling viral
bukan selalu yang paling cerdas.
Di sinilah kegelisahan Eco menemukan rumahnya.
Ia melihat sesuatu yang aneh sedang terjadi pada peradaban.
Teknologi yang awalnya dijanjikan sebagai mesin pencerahan justru sering
berubah menjadi mesin penggilingan akal sehat. Informasi mengalir lebih cepat
daripada kemampuan manusia untuk mencernanya. Akibatnya, banyak orang tidak
lagi berpikir; mereka hanya bereaksi.
Kita hidup dalam zaman ketika kemarahan memiliki koneksi
internet yang jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan.
Bayangkan sebuah ruang tamu keluarga. Dulu, ketika seseorang
mengucapkan sesuatu yang aneh, anggota keluarga lain akan bertanya, "Dari
mana kamu dapat informasi itu?"
Sekarang jawabannya sering sederhana.
"Dari internet."
Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan yang sama seperti
nabi menerima wahyu.
Padahal internet bukan kitab suci. Ia lebih mirip lautan
raksasa tempat mutiara dan sandal jepit hanyut bersama-sama. Masalahnya, banyak
orang menganggap semua yang mengapung adalah mutiara.
Eco sesungguhnya tidak hanya mengkritik media sosial. Ia
sedang mengkritik kecenderungan manusia yang jauh lebih tua. Media sosial
hanyalah mikrofon raksasa yang memperbesar sifat-sifat lama kita: suka merasa
benar, malas memeriksa fakta, gemar mencari kelompok yang mengamini pendapat
sendiri, dan alergi terhadap kalimat, "Mungkin saya salah."
Kalimat terakhir itu sekarang hampir termasuk spesies
langka.
Padahal dalam sejarah peradaban, kemajuan sering lahir dari
keraguan. Ilmu pengetahuan berkembang karena ada orang yang berani berkata,
"Tunggu dulu, apakah kita yakin?" Filsafat tumbuh karena manusia mau
bertanya. Agama pun mengajarkan pentingnya tafakkur dan perenungan.
Tetapi algoritma tidak terlalu menyukai perenungan.
Algoritma lebih menyukai kemarahan.
Jika kebijaksanaan adalah nasi yang dimasak perlahan di atas
tungku, maka media sosial sering kali lebih menyukai mi instan emosi. Tiga
menit selesai. Tinggal tambahkan bumbu kemarahan, taburkan prasangka
secukupnya, lalu sajikan kepada jutaan orang.
Tidak heran jika perdebatan publik sering menyerupai
pertandingan tinju di mana kedua petinju tidak membaca aturan pertandingan,
tidak memahami topik yang diperdebatkan, tetapi tetap bersemangat saling
memukul.
Yang menarik, Eco menyebut berpikir sebagai bentuk
perlawanan heroik.
Sekilas terdengar berlebihan.
Namun semakin lama diperhatikan, semakin masuk akal.
Hari ini, membaca artikel sampai selesai sudah terasa
seperti latihan spiritual. Memeriksa sumber sebelum membagikan berita hampir
setara dengan olahraga ekstrem. Mengakui kesalahan pendapat kadang membutuhkan
keberanian lebih besar daripada mendaki gunung.
Perlawanan heroik ternyata bukan mengangkat pedang.
Perlawanan heroik adalah menahan jempol.
Sebelum menekan tombol "bagikan."
Sebelum menulis komentar marah.
Sebelum ikut menghakimi seseorang yang bahkan belum kita
pahami.
Tentu saja, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme bahwa
masa lalu selalu lebih baik. Zaman dahulu juga penuh kebodohan. Bedanya,
kebodohan dulu naik sepeda. Sekarang ia mengendarai jet pribadi dengan akses
internet tanpa batas.
Media sosial juga membawa banyak manfaat. Ia memberi suara
kepada mereka yang dulu tidak didengar. Ia membuka akses pengetahuan yang luar
biasa. Ia memungkinkan seorang anak di desa mempelajari hal-hal yang dahulu
hanya tersedia di perpustakaan universitas besar.
Masalahnya bukan pada teknologinya.
Palu bisa dipakai membangun rumah atau memecahkan kaca
tetangga. Kesalahan bukan pada palu.
Begitu pula media sosial.
Yang menjadi soal adalah manusia yang memegangnya.
Pada akhirnya, kegelisahan Eco bukanlah ratapan seorang
intelektual tua yang kesal terhadap teknologi baru. Ia adalah pengingat bahwa
peradaban tidak runtuh karena kekurangan informasi. Peradaban runtuh ketika
informasi melimpah tetapi kebijaksanaan mengering.
Kita mungkin tidak bisa menghentikan banjir notifikasi. Kita
tidak bisa mematikan seluruh mesin algoritma dunia. Kita juga tidak mungkin
mengubah internet menjadi perpustakaan sunyi yang penuh aroma buku.
Tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu yang sederhana dan
revolusioner.
Mendengar sebelum berbicara.
Memahami sebelum menghakimi.
Memeriksa sebelum menyebarkan.
Dan sesekali berani mengatakan, "Saya belum tahu."
Di zaman ketika semua orang berlomba menjadi pengeras suara,
mungkin manusia yang paling bijaksana justru adalah mereka yang masih mau
menjadi telinga.
Karena kadang-kadang, cara terbaik menyelamatkan akal
bukanlah dengan berbicara lebih keras, melainkan dengan berpikir sedikit lebih
lama.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026


