"Masalah terbesar manusia ternyata bukan dompet yang tipis, melainkan hati yang terlalu penuh oleh hal-hal yang salah."
Konon, kalau seseorang sedang jatuh cinta, gejalanya mudah
dikenali. Ia tersenyum sendiri, lupa makan, rela menempuh puluhan kilometer
hanya demi melihat seseorang lewat selama tiga detik, lalu pulang dengan wajah
berbinar seolah baru menerima wahyu.
Namun tasawuf datang membawa kabar yang agak mengganggu
kenyamanan: "Kalau cintamu hanya seperti itu, berarti latihanmu masih
kurang jauh."
Begitulah kira-kira kesan pertama ketika menyimak kajian
tentang Fatwa Cinta dalam tradisi Syadziliyah. Awalnya saya mengira akan
mendengar petuah romantis yang cocok dijadikan status WhatsApp. Rupanya yang
datang justru audit besar-besaran terhadap isi hati. Rasanya seperti datang ke
seminar motivasi, tetapi malah diminta membuka gudang batin yang selama ini
disembunyikan rapat-rapat.
Dan ternyata... gudangnya berantakan.
Cinta Ternyata Ada Silabusnya
Selama ini kita mengira cinta adalah perkara spontan.
Tiba-tiba suka. Tiba-tiba rindu. Tiba-tiba galau.
Al-Qur'an ternyata jauh lebih sistematis daripada drama
percintaan.
Allah tidak mengatakan mencintai semua orang tanpa syarat.
Ada daftar yang cukup jelas: orang yang gemar bertobat, yang terus menyucikan
diri, yang berbuat ihsan, berlaku adil, bertakwa, sabar, dan berjuang di
jalan-Nya.
Kalau dipikir-pikir, ini seperti proses rekrutmen
perusahaan.
Bedanya, perusahaan sering mencari pelamar yang pengalaman
kerjanya lima tahun pada usia dua puluh tahun.
Sedangkan Allah justru mencari orang yang mau terus
memperbaiki diri.
Perhatian terbesar bahkan diberikan kepada tawwabin,
bukan sekadar orang yang pernah bertobat, melainkan mereka yang berkali-kali
kembali kepada Allah.
Ini kabar baik.
Karena kalau syaratnya harus tidak pernah salah, mungkin
surga akan terasa lengang seperti perpustakaan saat musim liburan.
Hati yang Bersih Bukan Berarti Tidak Pernah Kotor
Kajian ini kemudian berbicara tentang kesucian.
Di sinilah banyak orang mungkin mulai salah paham.
Kita terbiasa menghubungkan suci dengan pakaian putih,
sajadah harum, atau air wudu yang belum sempat tersentuh debu.
Padahal tasawuf berkata dengan santai, "Semua itu
bagus. Tapi bagaimana kondisi hatimu?"
Rupanya hati juga perlu mandi.
Masalahnya, sabun untuk hati tidak dijual di minimarket.
Yang membersihkan hati justru tobat, zikir, keikhlasan, dan
keberanian mengurangi rasa cinta berlebihan kepada dunia.
Lucunya, manusia sangat rajin mencuci mobil.
Mobil dicuci seminggu sekali.
Motor dipoles setiap Sabtu.
Sepatu diberi semir.
Layar ponsel dibersihkan memakai tisu khusus.
Tetapi hati?
Sudah bertahun-tahun dipenuhi iri, gengsi, dengki, pamer,
dendam, dan ambisi yang menumpuk seperti folder "Download" di laptop
yang isinya belum pernah dibuka sejak 2019.
Dunia Tidak Bersalah
Bagian yang paling menyegarkan adalah ketika dijelaskan
bahwa dunia sebenarnya tidak bersalah.
Yang bermasalah bukan rumah.
Bukan uang.
Bukan jabatan.
Bukan bisnis.
Yang bermasalah adalah hubungan emosional kita terhadap
semuanya.
Ini seperti pisau dapur.
Pisau tidak jahat.
Kalau dipakai memasak, orang kenyang.
Kalau dipakai mengancam tetangga karena ayamnya masuk
pekarangan, yang bermasalah bukan pisaunya.
Begitu pula dunia.
Dunia hanyalah alat.
Sayangnya manusia sering memperlakukan alat seperti tujuan
hidup.
Kita membeli jam agar tahu waktu.
Lama-lama kita justru kehilangan waktu demi membeli jam yang
lebih mahal.
Ironi semacam ini rupanya sudah dibahas para sufi jauh
sebelum media sosial menemukan tombol "checkout".
Mabuk yang Tidak Perlu Ditilang Polisi
Lalu muncullah istilah yang membuat alis sebagian orang naik
sebelah: mabuk cinta kepada Allah.
Tenang.
Ini bukan mabuk yang membuat seseorang bernyanyi keras pukul
dua pagi sambil memeluk tiang listrik.
Ini mabuk yang membuat ego kehilangan dominasinya.
Dalam tasawuf ada fase sukr, mabuk oleh cinta Ilahi.
Namun ada pula sahwi, kembali sadar.
Artinya, pengalaman spiritual tidak boleh membuat orang lupa
salat, lupa keluarga, lupa bekerja, apalagi lupa membayar utang.
Kalau selesai berzikir seseorang justru makin malas mencari
nafkah, kemungkinan besar yang mabuk bukan karena cinta Ilahi.
Mungkin yang diminum memang es teh terlalu manis.
Tasawuf sejati justru membuat seseorang semakin waras.
Semakin dekat kepada Allah, semakin baik kepada manusia.
Semakin tinggi pengalaman batinnya, semakin ringan tangannya
membantu tetangga.
Dunia Kerja yang Salah Motivasi
Ada kritik yang menarik.
Banyak orang bekerja karena takut dimarahi bos.
Kalau bos libur, semangat ikut libur.
Kalau bos mengawasi, produktivitas mendadak naik 300 persen.
Padahal tasawuf menawarkan sudut pandang yang jauh lebih
elegan.
Bekerjalah karena Allah.
Bos hanya kebetulan memegang absensi.
Kalau motivasi ini benar-benar hidup, maka integritas tidak
lagi bergantung pada CCTV.
Sebab kamera terbaik memang berada di dalam hati.
Sayangnya kamera itu sering dimatikan ketika peluang korupsi
sedang bagus.
Cinta yang Membuat Orang Semakin Normal
Ironisnya, dunia modern sering menganggap orang religius
akan semakin aneh.
Padahal pesan Syadziliyah justru sebaliknya.
Semakin seseorang tenggelam dalam cinta kepada Allah, ia
justru semakin stabil.
Semakin rendah hati.
Semakin adil.
Semakin penyabar.
Semakin bisa dipercaya.
Kalau ada orang mengaku sudah mencapai puncak makrifat
tetapi masih gemar menghina orang lain di kolom komentar, mungkin yang dicapai
bukan makrifat.
Mungkin hanya paket internet tanpa batas.
Mungkin yang Perlu Di-upgrade Bukan Ponsel
Setiap tahun kita tergoda mengganti gawai.
Kamera bertambah satu.
Memori bertambah besar.
Prosesor makin cepat.
Namun hati sering tetap memakai sistem operasi versi lama:
mudah iri, cepat marah, haus pujian, dan sulit ikhlas.
Tasawuf Syadziliyah mengingatkan bahwa pembaruan paling
penting bukan terjadi pada teknologi, melainkan pada orientasi hidup.
Karena pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari seberapa
mahal rumahnya, seberapa panjang daftar pengikut media sosialnya, atau seberapa
sering fotonya muncul di linimasa.
Yang dinilai justru sesuatu yang tidak pernah bisa difoto.
Yaitu hati.
Dan mungkin di situlah letak humor terbesar kehidupan.
Kita rela menghabiskan berjam-jam memilih filter agar wajah
tampak lebih bercahaya.
Padahal Allah sejak awal hanya meminta satu hal yang jauh
lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit:
"Cobalah sesekali memberi filter pada hati."
Kalau itu berhasil, mungkin kita tidak akan viral.
Tetapi mudah-mudahan menjadi orang yang dicintai-Nya.
Dan dibanding sejuta tanda suka di media sosial, rasanya itu
pencapaian yang jauh lebih layak dirayakan.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.