Kamis, 02 Juli 2026

Adab: Barang yang Sering Hilang Padahal Tidak Pernah Dijual di Marketplace

Ada satu kebiasaan manusia modern yang sangat mengagumkan: jika usahanya lancar, ia berkata, "Alhamdulillah, ini karena saya disiplin." Jika usahanya macet, ia berkata, "Mungkin algoritma sedang tidak berpihak."

Yang jarang terdengar adalah, "Jangan-jangan saya sedang diuji ketika sukses."

Kita memang hidup pada zaman ketika grafik keuntungan lebih sering diperiksa daripada grafik hati. Dashboard keuangan diperbarui setiap pagi, tetapi dashboard nurani terakhir diperiksa entah kapan. Barangkali sejak ponsel masih bisa dilepas baterainya.

Di tengah dunia yang sibuk mengukur segala sesuatu dengan angka, Ibnu Athaillah As-Sakandari datang membawa sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu kenyamanan:

"Bagaimana jika keberhasilanmu bukan hadiah, melainkan ujian yang dibungkus seperti hadiah?"

Pertanyaan itu seperti tamu yang datang tanpa diundang. Ia tidak membawa parcel, tetapi membawa cermin.

Ketika Dompet Gemuk, Belum Tentu Jiwa Ikut Berolahraga

Salah satu hikmah paling tajam dalam Al-Hikam berbicara tentang sebuah kebodohan yang sangat halus. Bukan kebodohan karena tidak sekolah, melainkan kebodohan karena salah membaca isyarat Tuhan.

Ada orang yang rajin bermaksiat, tetapi bisnisnya berkembang. Rumah bertambah besar. Kendaraan bertambah mewah. Pengikut media sosial bertambah banyak. Bahkan komentarnya selalu dipenuhi kalimat, "Masya Allah, berkah sekali."

Lalu ia mulai berpikir, "Kalau Allah murka, mengapa hidupku makin enak?"

Persoalannya, manusia sering mengira hukuman harus selalu berbentuk petir yang menyambar atau dompet yang mendadak kosong. Padahal dalam tasawuf, hukuman yang paling mengerikan justru sangat sopan. Ia datang tanpa suara. Ia tidak mengetuk pintu. Ia hanya membuat seseorang semakin jauh dari Allah sambil tetap merasa dirinya baik-baik saja.

Itulah yang disebut istidraj.

Kalau diibaratkan, istidraj seperti eskalator di pusat perbelanjaan. Orang yang berdiri di atasnya merasa sedang santai, padahal diam-diam sedang dibawa ke lantai yang berbeda. Masalahnya, tidak semua eskalator menuju tempat yang diinginkan.

Kisah Seorang Pengusaha yang Mengira Tuhan Sedang Menjadi Fans-nya

Diceritakan seorang pemuda sukses pada masa Nabi Musa AS.

Ia kaya.

Bisnisnya maju.

Hartanya bertambah.

Maksiatnya juga bertambah.

Dengan penuh percaya diri ia berkata, "Mana azab Tuhan yang kalian ancamkan?"

Barangkali kalau kisah itu terjadi hari ini, ia akan membuat video motivasi berdurasi satu menit berjudul "Lima Rahasia Sukses Meski Banyak Haters."

Namun jawaban Allah kepada Nabi Musa sungguh mengejutkan.

Pemuda itu ternyata sudah lama dihukum.

Hukumannya bukan kemiskinan.

Bukan penyakit.

Bukan kebangkrutan.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan: ia dibiarkan merasa cukup tanpa Allah.

Bayangkan sebuah kompas yang rusak. Jarumnya tetap bergerak, tampak hidup, tetapi selalu menunjuk arah yang salah. Semakin cepat pemiliknya berjalan, semakin jauh ia tersesat.

Begitulah hati yang kehilangan orientasi.

Adab: Teknologi yang Tidak Pernah Usang

Dalam tasawuf, semua jalan akhirnya bermuara pada satu kata yang sederhana: adab.

Aneh memang. Manusia mampu membuat kecerdasan buatan yang bisa menulis puisi, menerjemahkan puluhan bahasa, bahkan membantu membuat keputusan bisnis, tetapi masih kesulitan mengucapkan, "Saya mungkin salah."

Padahal adab dimulai dari kalimat sesederhana itu.

Adab bukan sekadar sopan santun.

Ia adalah kesadaran tentang posisi.

Air selalu mengalir ke tempat rendah karena ia memahami hukumnya. Pohon yang sarat buah justru merunduk karena memahami berat amanahnya. Matahari pun tidak pernah iri kepada bulan walaupun bulan sering dipotret lebih romantis.

Seluruh alam tampaknya memahami adab.

Yang sering lupa justru manusia.

Adab adalah kemampuan hati mengetahui siapa dirinya di hadapan Allah. Ketika adab hadir, ibadah tidak lagi menjadi ajang pamer prestasi. Sedekah tidak berubah menjadi konten. Ilmu tidak berubah menjadi alat meninggikan diri.

Tanpa adab, amal bisa berubah seperti gelas kristal yang kosong: berkilau dari luar, tetapi tidak menghilangkan dahaga siapa pun.

Kapitalisme Rohani: Ketika Surga Diukur dengan Slip Gaji

Masyarakat modern memiliki kebiasaan yang lucu sekaligus berbahaya.

Kita sering menganggap orang kaya pasti lebih diberkahi.

Rumah besar dianggap bukti kedekatan kepada Tuhan.

Mobil mewah dianggap sertifikat langit.

Padahal bisa jadi semua itu hanyalah fasilitas perjalanan, bukan tujuan perjalanan.

Tasawuf mengingatkan bahwa Allah tidak sedang membuka kompetisi "Siapa Paling Kaya Akan Masuk Surga Lebih Dulu."

Jika demikian, para miliarder tentu sudah mendapatkan nomor antrean VIP.

Yang dinilai bukan banyaknya yang dimiliki, tetapi ke mana hati tertambat.

Kekayaan hanyalah pisau. Di tangan koki ia menghasilkan hidangan. Di tangan pencopet ia menghasilkan perkara pidana. Pisau tidak menentukan arah; tangan dan hati pemegangnyalah yang menentukan.

Begitu pula harta.

Mengapa Allah Kadang Memangkas?

Salah satu analogi paling indah dalam kajian ini adalah tentang petani.

Orang awam melihat petani memotong ranting lalu berkata, "Kasihan sekali pohonnya."

Petani justru tersenyum.

Ia tahu, ranting itu dipotong agar bunga berikutnya tumbuh lebih lebat.

Begitulah Allah memperlakukan hamba yang dicintai-Nya.

Kadang ego dipangkas.

Kadang jabatan dipangkas.

Kadang rencana dipangkas.

Kadang kenyamanan dipangkas.

Dari sudut pandang manusia, itu tampak seperti kerugian.

Dari sudut pandang Tuhan, itu adalah proses berkebun.

Tidak semua kehilangan adalah hukuman.

Sebagian adalah proses pemangkasan agar buah kehidupan tumbuh lebih manis.

Ujian Terbesar Justru Ketika Semua Berjalan Lancar

Anehnya, manusia jauh lebih mudah mengingat Allah ketika ban bocor daripada ketika rekening bertambah.

Saat sakit, doa menjadi panjang.

Saat sehat, doa kadang dipersingkat karena ada rapat.

Padahal justru ketika hidup terasa mulus, kewaspadaan harus ditingkatkan.

Jalan yang licin membuat orang berhati-hati.

Jalan yang mulus sering membuat orang lupa bahwa rem juga perlu diperiksa.

Kesuksesan bukan tanda selesai ujian.

Sering kali ia justru soal ulangan berikutnya.

Kembali kepada Adab

Pada akhirnya, seluruh perjalanan spiritual ternyata tidak berakhir pada banyaknya hafalan, panjangnya wirid, atau tingginya kedudukan.

Ia berakhir pada adab.

Adab kepada Allah.

Adab kepada Rasulullah.

Adab kepada guru.

Adab kepada sesama manusia.

Bahkan adab kepada alam yang diam-diam ikut bertasbih.

Sebab orang yang kehilangan adab ibarat kapal yang mesinnya sangat kuat tetapi kehilangan kemudi. Ia mungkin melaju lebih cepat daripada kapal lain, tetapi kecepatan hanya mempercepat tibanya di tempat yang salah.

Mungkin itulah sebabnya Ibnu Athaillah tidak terlalu sibuk mengajari manusia bagaimana menjadi luar biasa. Beliau lebih sibuk mengajari bagaimana tetap menjadi hamba.

Karena menjadi hamba jauh lebih sulit daripada menjadi terkenal.

Dan dalam dunia yang semakin gaduh memamerkan pencapaian, barangkali revolusi paling sunyi adalah menjaga adab.

Sebab di hadapan Allah, yang paling berat bukanlah timbangan kekayaan, melainkan timbangan hati yang tetap tunduk ketika dunia bertepuk tangan.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.