Ada satu kebiasaan manusia modern yang sangat mengagumkan: jika usahanya lancar, ia berkata, "Alhamdulillah, ini karena saya disiplin." Jika usahanya macet, ia berkata, "Mungkin algoritma sedang tidak berpihak."
Yang jarang terdengar adalah, "Jangan-jangan saya
sedang diuji ketika sukses."
Kita memang hidup pada zaman ketika grafik keuntungan lebih
sering diperiksa daripada grafik hati. Dashboard keuangan diperbarui setiap
pagi, tetapi dashboard nurani terakhir diperiksa entah kapan. Barangkali sejak
ponsel masih bisa dilepas baterainya.
Di tengah dunia yang sibuk mengukur segala sesuatu dengan
angka, Ibnu Athaillah As-Sakandari datang membawa sebuah pertanyaan yang sangat
mengganggu kenyamanan:
"Bagaimana jika keberhasilanmu bukan hadiah,
melainkan ujian yang dibungkus seperti hadiah?"
Pertanyaan itu seperti tamu yang datang tanpa diundang. Ia
tidak membawa parcel, tetapi membawa cermin.
Ketika Dompet Gemuk, Belum Tentu Jiwa Ikut Berolahraga
Salah satu hikmah paling tajam dalam Al-Hikam
berbicara tentang sebuah kebodohan yang sangat halus. Bukan kebodohan karena
tidak sekolah, melainkan kebodohan karena salah membaca isyarat Tuhan.
Ada orang yang rajin bermaksiat, tetapi bisnisnya
berkembang. Rumah bertambah besar. Kendaraan bertambah mewah. Pengikut media
sosial bertambah banyak. Bahkan komentarnya selalu dipenuhi kalimat,
"Masya Allah, berkah sekali."
Lalu ia mulai berpikir, "Kalau Allah murka, mengapa
hidupku makin enak?"
Persoalannya, manusia sering mengira hukuman harus selalu
berbentuk petir yang menyambar atau dompet yang mendadak kosong. Padahal dalam
tasawuf, hukuman yang paling mengerikan justru sangat sopan. Ia datang tanpa
suara. Ia tidak mengetuk pintu. Ia hanya membuat seseorang semakin jauh dari
Allah sambil tetap merasa dirinya baik-baik saja.
Itulah yang disebut istidraj.
Kalau diibaratkan, istidraj seperti eskalator di pusat
perbelanjaan. Orang yang berdiri di atasnya merasa sedang santai, padahal
diam-diam sedang dibawa ke lantai yang berbeda. Masalahnya, tidak semua
eskalator menuju tempat yang diinginkan.
Kisah Seorang Pengusaha yang Mengira Tuhan Sedang Menjadi
Fans-nya
Diceritakan seorang pemuda sukses
pada masa Nabi Musa AS.
Ia kaya.
Bisnisnya maju.
Hartanya bertambah.
Maksiatnya juga bertambah.
Dengan penuh percaya diri ia berkata, "Mana azab Tuhan
yang kalian ancamkan?"
Barangkali kalau kisah itu terjadi hari ini, ia akan membuat
video motivasi berdurasi satu menit berjudul "Lima Rahasia Sukses Meski
Banyak Haters."
Namun jawaban Allah kepada Nabi Musa sungguh mengejutkan.
Pemuda itu ternyata sudah lama dihukum.
Hukumannya bukan kemiskinan.
Bukan penyakit.
Bukan kebangkrutan.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan: ia dibiarkan
merasa cukup tanpa Allah.
Bayangkan sebuah kompas yang rusak. Jarumnya tetap bergerak,
tampak hidup, tetapi selalu menunjuk arah yang salah. Semakin cepat pemiliknya
berjalan, semakin jauh ia tersesat.
Begitulah hati yang kehilangan orientasi.
Adab: Teknologi yang Tidak Pernah Usang
Dalam tasawuf, semua jalan akhirnya bermuara pada satu kata
yang sederhana: adab.
Aneh memang. Manusia mampu membuat kecerdasan buatan yang
bisa menulis puisi, menerjemahkan puluhan bahasa, bahkan membantu membuat
keputusan bisnis, tetapi masih kesulitan mengucapkan, "Saya mungkin
salah."
Padahal adab dimulai dari kalimat sesederhana itu.
Adab bukan sekadar sopan santun.
Ia adalah kesadaran tentang posisi.
Air selalu mengalir ke tempat rendah karena ia memahami
hukumnya. Pohon yang sarat buah justru merunduk karena memahami berat
amanahnya. Matahari pun tidak pernah iri kepada bulan walaupun bulan sering
dipotret lebih romantis.
Seluruh alam tampaknya memahami adab.
Yang sering lupa justru manusia.
Adab adalah kemampuan hati mengetahui siapa dirinya di
hadapan Allah. Ketika adab hadir, ibadah tidak lagi menjadi ajang pamer
prestasi. Sedekah tidak berubah menjadi konten. Ilmu tidak berubah menjadi alat
meninggikan diri.
Tanpa adab, amal bisa berubah seperti gelas kristal yang
kosong: berkilau dari luar, tetapi tidak menghilangkan dahaga siapa pun.
Kapitalisme Rohani: Ketika Surga Diukur dengan Slip Gaji
Masyarakat modern memiliki kebiasaan yang lucu sekaligus
berbahaya.
Kita sering menganggap orang kaya pasti lebih diberkahi.
Rumah besar dianggap bukti kedekatan kepada Tuhan.
Mobil mewah dianggap sertifikat langit.
Padahal bisa jadi semua itu hanyalah fasilitas perjalanan,
bukan tujuan perjalanan.
Tasawuf mengingatkan bahwa Allah tidak sedang membuka
kompetisi "Siapa Paling Kaya Akan Masuk Surga Lebih Dulu."
Jika demikian, para miliarder tentu sudah mendapatkan nomor
antrean VIP.
Yang dinilai bukan banyaknya yang dimiliki, tetapi ke mana
hati tertambat.
Kekayaan hanyalah pisau. Di tangan koki ia menghasilkan
hidangan. Di tangan pencopet ia menghasilkan perkara pidana. Pisau tidak
menentukan arah; tangan dan hati pemegangnyalah yang menentukan.
Begitu pula harta.
Mengapa Allah Kadang Memangkas?
Salah satu analogi paling indah dalam kajian ini adalah
tentang petani.
Orang awam melihat petani memotong ranting lalu berkata,
"Kasihan sekali pohonnya."
Petani justru tersenyum.
Ia tahu, ranting itu dipotong agar bunga berikutnya tumbuh
lebih lebat.
Begitulah Allah memperlakukan hamba yang dicintai-Nya.
Kadang ego dipangkas.
Kadang jabatan dipangkas.
Kadang rencana dipangkas.
Kadang kenyamanan dipangkas.
Dari sudut pandang manusia, itu tampak seperti kerugian.
Dari sudut pandang Tuhan, itu adalah proses berkebun.
Tidak semua kehilangan adalah hukuman.
Sebagian adalah proses pemangkasan agar buah kehidupan
tumbuh lebih manis.
Ujian Terbesar Justru Ketika Semua Berjalan Lancar
Anehnya, manusia jauh lebih mudah mengingat Allah ketika ban
bocor daripada ketika rekening bertambah.
Saat sakit, doa menjadi panjang.
Saat sehat, doa kadang dipersingkat karena ada rapat.
Padahal justru ketika hidup terasa mulus, kewaspadaan harus
ditingkatkan.
Jalan yang licin membuat orang berhati-hati.
Jalan yang mulus sering membuat orang lupa bahwa rem juga
perlu diperiksa.
Kesuksesan bukan tanda selesai ujian.
Sering kali ia justru soal ulangan berikutnya.
Kembali kepada Adab
Pada akhirnya, seluruh perjalanan spiritual ternyata tidak
berakhir pada banyaknya hafalan, panjangnya wirid, atau tingginya kedudukan.
Ia berakhir pada adab.
Adab kepada Allah.
Adab kepada Rasulullah.
Adab kepada guru.
Adab kepada sesama manusia.
Bahkan adab kepada alam yang diam-diam ikut bertasbih.
Sebab orang yang kehilangan adab ibarat kapal yang mesinnya
sangat kuat tetapi kehilangan kemudi. Ia mungkin melaju lebih cepat daripada
kapal lain, tetapi kecepatan hanya mempercepat tibanya di tempat yang salah.
Mungkin itulah sebabnya Ibnu Athaillah tidak terlalu sibuk
mengajari manusia bagaimana menjadi luar biasa. Beliau lebih sibuk mengajari
bagaimana tetap menjadi hamba.
Karena menjadi hamba jauh lebih sulit daripada menjadi
terkenal.
Dan dalam dunia yang semakin gaduh memamerkan pencapaian,
barangkali revolusi paling sunyi adalah menjaga adab.
Sebab di hadapan Allah, yang paling berat bukanlah timbangan
kekayaan, melainkan timbangan hati yang tetap tunduk ketika dunia bertepuk
tangan.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.