Rabu, 01 Juli 2026

Ketika Semua Orang Menjadi Profesor dalam Tiga Menit: Membaca Kegelisahan Umberto Eco di Era Media Sosial

Ada satu keajaiban modern yang bahkan mungkin membuat para alkemis abad pertengahan iri. Dahulu orang membutuhkan puluhan tahun belajar untuk dianggap bijaksana. Sekarang, cukup membaca tiga unggahan, menonton dua video pendek, lalu menulis komentar dengan huruf kapital, seseorang sudah merasa layak mengoreksi ilmuwan, dokter, ekonom, ulama, bahkan ahli yang meneliti bidang itu selama hidupnya.

Jika Umberto Eco masih hidup, mungkin ia akan membuka media sosial setiap pagi seperti seorang petugas kebun binatang yang mendapati kandang monyet terbuka semalaman. Ia tidak akan terkejut melihat kekacauan itu. Ia sudah memperingatkan kita sejak lama.

Masalahnya, kita tidak mendengarkan.

Atau lebih tepatnya, kita terlalu sibuk mengetik untuk mendengarkan.

Media sosial hari ini ibarat pasar malam raksasa yang menjual segala hal: ilmu pengetahuan, teori konspirasi, resep rendang, ramalan kiamat, nasihat pernikahan, dan analisis geopolitik dari seseorang yang foto profilnya masih memakai gambar anime. Semuanya berdiri sejajar dalam etalase yang sama. Yang paling keras bukan selalu yang paling benar. Yang paling viral bukan selalu yang paling cerdas.

Di sinilah kegelisahan Eco menemukan rumahnya.

Ia melihat sesuatu yang aneh sedang terjadi pada peradaban. Teknologi yang awalnya dijanjikan sebagai mesin pencerahan justru sering berubah menjadi mesin penggilingan akal sehat. Informasi mengalir lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mencernanya. Akibatnya, banyak orang tidak lagi berpikir; mereka hanya bereaksi.

Kita hidup dalam zaman ketika kemarahan memiliki koneksi internet yang jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Bayangkan sebuah ruang tamu keluarga. Dulu, ketika seseorang mengucapkan sesuatu yang aneh, anggota keluarga lain akan bertanya, "Dari mana kamu dapat informasi itu?"

Sekarang jawabannya sering sederhana.

"Dari internet."

Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan yang sama seperti nabi menerima wahyu.

Padahal internet bukan kitab suci. Ia lebih mirip lautan raksasa tempat mutiara dan sandal jepit hanyut bersama-sama. Masalahnya, banyak orang menganggap semua yang mengapung adalah mutiara.

Eco sesungguhnya tidak hanya mengkritik media sosial. Ia sedang mengkritik kecenderungan manusia yang jauh lebih tua. Media sosial hanyalah mikrofon raksasa yang memperbesar sifat-sifat lama kita: suka merasa benar, malas memeriksa fakta, gemar mencari kelompok yang mengamini pendapat sendiri, dan alergi terhadap kalimat, "Mungkin saya salah."

Kalimat terakhir itu sekarang hampir termasuk spesies langka.

Padahal dalam sejarah peradaban, kemajuan sering lahir dari keraguan. Ilmu pengetahuan berkembang karena ada orang yang berani berkata, "Tunggu dulu, apakah kita yakin?" Filsafat tumbuh karena manusia mau bertanya. Agama pun mengajarkan pentingnya tafakkur dan perenungan.

Tetapi algoritma tidak terlalu menyukai perenungan.

Algoritma lebih menyukai kemarahan.

Jika kebijaksanaan adalah nasi yang dimasak perlahan di atas tungku, maka media sosial sering kali lebih menyukai mi instan emosi. Tiga menit selesai. Tinggal tambahkan bumbu kemarahan, taburkan prasangka secukupnya, lalu sajikan kepada jutaan orang.

Tidak heran jika perdebatan publik sering menyerupai pertandingan tinju di mana kedua petinju tidak membaca aturan pertandingan, tidak memahami topik yang diperdebatkan, tetapi tetap bersemangat saling memukul.

Yang menarik, Eco menyebut berpikir sebagai bentuk perlawanan heroik.

Sekilas terdengar berlebihan.

Namun semakin lama diperhatikan, semakin masuk akal.

Hari ini, membaca artikel sampai selesai sudah terasa seperti latihan spiritual. Memeriksa sumber sebelum membagikan berita hampir setara dengan olahraga ekstrem. Mengakui kesalahan pendapat kadang membutuhkan keberanian lebih besar daripada mendaki gunung.

Perlawanan heroik ternyata bukan mengangkat pedang.

Perlawanan heroik adalah menahan jempol.

Sebelum menekan tombol "bagikan."

Sebelum menulis komentar marah.

Sebelum ikut menghakimi seseorang yang bahkan belum kita pahami.

Tentu saja, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme bahwa masa lalu selalu lebih baik. Zaman dahulu juga penuh kebodohan. Bedanya, kebodohan dulu naik sepeda. Sekarang ia mengendarai jet pribadi dengan akses internet tanpa batas.

Media sosial juga membawa banyak manfaat. Ia memberi suara kepada mereka yang dulu tidak didengar. Ia membuka akses pengetahuan yang luar biasa. Ia memungkinkan seorang anak di desa mempelajari hal-hal yang dahulu hanya tersedia di perpustakaan universitas besar.

Masalahnya bukan pada teknologinya.

Palu bisa dipakai membangun rumah atau memecahkan kaca tetangga. Kesalahan bukan pada palu.

Begitu pula media sosial.

Yang menjadi soal adalah manusia yang memegangnya.

Pada akhirnya, kegelisahan Eco bukanlah ratapan seorang intelektual tua yang kesal terhadap teknologi baru. Ia adalah pengingat bahwa peradaban tidak runtuh karena kekurangan informasi. Peradaban runtuh ketika informasi melimpah tetapi kebijaksanaan mengering.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan banjir notifikasi. Kita tidak bisa mematikan seluruh mesin algoritma dunia. Kita juga tidak mungkin mengubah internet menjadi perpustakaan sunyi yang penuh aroma buku.

Tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu yang sederhana dan revolusioner.

Mendengar sebelum berbicara.

Memahami sebelum menghakimi.

Memeriksa sebelum menyebarkan.

Dan sesekali berani mengatakan, "Saya belum tahu."

Di zaman ketika semua orang berlomba menjadi pengeras suara, mungkin manusia yang paling bijaksana justru adalah mereka yang masih mau menjadi telinga.

Karena kadang-kadang, cara terbaik menyelamatkan akal bukanlah dengan berbicara lebih keras, melainkan dengan berpikir sedikit lebih lama.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.