Rabu, 08 Juli 2026

Bahasa Jangan Sampai Jadi Mi Instan

Tentang Christophe Clavé, Emoji, dan Manusia yang Semakin Lancar Mengetik "Wkwkwk" daripada Menjelaskan Perasaannya

Ada satu pertanyaan yang jarang muncul di tongkrongan.

"Boleh pinjam uang?"

Bukan.

Pertanyaannya adalah:

"Apakah kosakatamu bertambah tahun ini, atau malah berkurang?"

Biasanya orang akan diam.

Bukan karena sedang berpikir.

Melainkan karena tidak tahu kata lain selain "iya sih."

Padahal, menurut Christophe Clavé, kemiskinan bahasa bukan sekadar soal tata bahasa. Ia seperti rumah yang perlahan kehilangan kamar. Mula-mula gudangnya hilang. Lalu ruang tamu dibongkar. Lama-lama tinggal satu ruangan kosong berisi kasur lipat, colokan charger, dan Wi-Fi.

Penghuninya masih hidup.

Tetapi kalau mau berpikir agak panjang, kepalanya mulai mentok tembok.


Dulu orang menulis surat sepanjang empat halaman hanya untuk mengatakan,

"Aku merindukanmu."

Sekarang cukup mengirim satu emoji:

🥹

Lalu dianggap selesai.

Yang lucu, penerimanya masih harus menebak.

"Ini rindu... sedih... terharu... masuk angin... atau kuota habis?"

Bahasa perlahan berubah menjadi permainan tebak gambar.

Mungkin suatu hari nanti sidang pengadilan cukup berlangsung seperti ini.

Hakim:
"Saudara mengaku bersalah?"

Terdakwa:
😔🙏

Jaksa:
🤨

Hakim:
"Oke."

Clavé mengeluhkan hilangnya berbagai bentuk waktu dalam bahasa Prancis.

Sekilas terdengar seperti keluhan guru bahasa yang kehilangan murid.

Tetapi sebenarnya ia sedang membicarakan sesuatu yang lebih dalam.

Bahasa adalah mesin waktu.

Kalau kata-katamu hanya mengenal "sekarang", maka pikiranmu seperti sopir ojek yang motornya kehilangan gigi mundur sekaligus lampu jauh.

Ia tidak bisa menoleh ke sejarah.

Tidak bisa membayangkan masa depan.

Tidak bisa berkata,

"Seandainya dulu..."

atau

"Andai nanti..."

Yang tersisa hanyalah,

"Gas."

Padahal banyak tragedi manusia dimulai dari kata "gas" yang terlalu cepat.


Media sosial memang punya logika sendiri.

Kalimat panjang dianggap mengganggu.

Paragraf dicurigai.

Esai dianggap dosa.

Kalau bisa dijelaskan dalam tujuh detik, mengapa memakai tujuh menit?

Akibatnya, manusia mulai memperlakukan bahasa seperti mi instan.

Pokoknya cepat matang.

Soal gizinya belakangan.

Kita lebih sering membaca komentar:

"Fix."

"Valid."

"Auto."

"Respect."

Padahal empat kata itu sekarang dipakai untuk menjelaskan hampir seluruh kehidupan.

Ada bayi lahir.

"Valid."

Ada meteor jatuh.

"Auto."

Ada orang menemukan teori fisika baru.

"Respect."

Bahasa bekerja lembur sambil kekurangan pegawai.


Clavé juga mengatakan bahwa ketika kosakata mengecil, emosi ikut menyusut.

Ini menarik.

Dulu orang bisa membedakan kecewa, sedih, pilu, murung, resah, getir, galau, gusar, cemas, bimbang, dan sendu.

Sekarang semuanya diringkas menjadi satu kalimat sakti:

"Aku lagi overthinking."

Padahal overthinking itu seperti mengatakan semua makanan adalah "lauk."

Rendang?

Lauk.

Tempe?

Lauk.

Sambal?

Ya lauk juga.

Padahal rasa hidup jauh lebih rumit daripada menu warteg.

Semakin sedikit kata yang kita miliki, semakin sulit kita mengenali isi hati sendiri.

Tidak heran kadang seseorang marah bukan karena marah.

Ia hanya tidak menemukan kata yang tepat.

Maka yang keluar bukan kalimat.

Melainkan bantingan pintu.

Psikolog menyebutnya kesulitan memberi nama pada emosi.

Tetangga menyebutnya temperamental.


Di sinilah Orwell tampak tersenyum pahit dari balik halaman 1984.

Dalam novel itu, pemerintah mengurangi jumlah kata supaya rakyat tidak sempat berpikir aneh-aneh.

Lucunya, sekarang tidak perlu pemerintah.

Algoritma sudah bekerja sukarela.

Kalimat yang panjang kalah oleh video lima belas detik.

Argumen kalah oleh potongan suara.

Data kalah oleh caption.

Logika kalah oleh musik latar yang dramatis.

Peradaban ternyata tidak selalu dihancurkan oleh sensor.

Kadang cukup oleh tombol "skip."


Namun, kita juga tidak boleh menjadi polisi bahasa yang tiap lima menit meniup peluit.

Bahasa memang berubah.

Kalau tidak berubah, mungkin sampai hari ini kita masih berkirim kabar memakai prasasti batu.

Bahasa gaul bukan musuh.

Emoji juga bukan musuh.

Masalahnya muncul ketika semuanya menggantikan kemampuan berpikir, bukan sekadar melengkapinya.

Payung itu berguna.

Tetapi akan aneh kalau seluruh rumah diganti menjadi payung.


Di Indonesia gejalanya terasa akrab.

Orang bisa menulis tiga puluh status dalam sehari.

Tetapi kesulitan menulis satu surat lamaran kerja.

Bisa membuat seratus komentar.

Tetapi bingung menyusun tiga paragraf yang runtut.

Bisa hafal ribuan meme.

Tetapi lupa cara menyampaikan kritik tanpa memaki.

Kita menjadi generasi yang jarinya sangat lincah, tetapi kosakatanya mulai megap-megap mengejar kecepatan ibu jari.


Yang lebih menyedihkan adalah bahasa daerah yang perlahan menghilang.

Padahal setiap bahasa itu seperti kacamata.

Bahasa Jawa melihat dunia dengan cara tertentu.

Bahasa Sunda punya cara lain.

Bahasa Minangkabau, Bugis, Madura, Batak, Dayak, Aceh, dan ratusan bahasa Nusantara masing-masing membawa lensa yang berbeda.

Ketika satu bahasa mati, bukan sekadar kamus yang ditutup.

Satu cara memandang dunia ikut dimakamkan.

Seolah perpustakaan raksasa dibakar, tetapi orang-orang sibuk merekam apinya untuk dijadikan konten.


Mungkin solusi Clavé sebenarnya sederhana.

Membaca.

Menulis.

Berbicara.

Bukan demi nilai rapor.

Melainkan supaya isi kepala memiliki lebih banyak furnitur.

Sebab pikiran tanpa kosakata ibarat dapur yang hanya memiliki satu sendok.

Apa pun menunya, alatnya tetap itu.

Sulit memasak ide besar kalau peralatan berpikir tinggal dua atau tiga kata.


Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi.

Ia adalah rumah tempat pikiran pulang.

Kalau rumah itu terus kita bongkar karena dianggap terlalu besar, jangan heran bila suatu hari gagasan kita tidur berdesakan di ruang sempit bernama "caption."

Barangkali itulah sebabnya membaca buku masih terasa seperti renovasi.

Setiap halaman menambah jendela.

Setiap kata menambah pintu.

Setiap kalimat memperluas langit-langit kepala.

Dan mungkin, di zaman ketika manusia semakin fasih berbicara kepada layar daripada kepada dirinya sendiri, memperkaya bahasa adalah bentuk perlawanan paling sunyi.

Karena orang yang memiliki banyak kata biasanya juga memiliki banyak cara untuk memahami dunia.

Sedangkan orang yang hanya punya satu kata...

biasanya akan menggunakannya untuk semua hal.

Termasuk ketika diminta menjelaskan hidup.

"Ya... pokoknya gitu."

abah-arul.blogspot.com.,Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.