Ada satu kebiasaan manusia yang cukup menghibur: kalau rumah
bocor, kita menyalahkan hujan. Kalau tanaman mati, kita menyalahkan cuaca.
Kalau negara berantakan... kita sibuk mencari kambing hitam dari luar negeri.
Padahal, kata Ibnu Khaldun berabad-abad yang lalu, banyak
negara sebenarnya tidak roboh karena diseruduk musuh. Mereka lebih mirip rumah
yang ambruk karena rayap. Dari luar catnya masih kinclong, benderanya masih
berkibar, pidatonya masih penuh optimisme. Tapi balok-balok penyangganya sudah
lama dimakan dari dalam.
Ibnu Khaldun seperti dokter yang tidak tertarik membahas
warna pipi pasien. Ia lebih suka memeriksa organ dalam. Dan diagnosisnya
sederhana, tetapi menyakitkan: negara biasanya sakit karena ulah penghuninya
sendiri.
Lucunya, resep kehancuran itu ternyata sangat mudah dipraktikkan.
Penyebab pertama adalah mengangkat orang-orang bodoh ke
tempat yang tinggi.
Ini sebenarnya bukan hal baru. Di mana-mana selalu ada orang
yang merasa semakin sedikit tahu, semakin besar rasa percaya dirinya.
Orang bijak biasanya berkata, "Saya perlu belajar
dulu."
Orang bodoh berkata, "Tenang, saya sudah nonton video
tiga menit."
Yang lebih mengesankan lagi adalah kepercayaan dirinya.
Kalau ilmu itu seperti bensin, orang pintar sering khawatir tangkinya kurang
penuh. Orang bodoh justru melaju dengan tangki kosong sambil membunyikan
klakson sepanjang jalan.
Masalahnya bukan karena mereka tidak tahu.
Masalahnya adalah mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu.
Dan itu kombinasi yang jauh lebih berbahaya daripada lupa
membawa payung saat musim hujan.
Ketika orang-orang seperti ini mulai memenuhi ruang
pengambilan keputusan, rapat berubah menjadi lomba tepuk tangan. Ide terbaik
bukan lagi yang paling masuk akal, melainkan yang paling menyenangkan telinga
atasan.
Akhirnya negara berjalan seperti mobil yang GPS-nya rusak tetapi semua penumpangnya sepakat berkata, "Lurus terus, Pak. Kayaknya benar."
Kalau orang bodoh sudah masuk, biasanya orang pintar
pelan-pelan keluar.
Inilah penyebab kedua menurut Ibnu Khaldun.
Ilmuwan, cendekiawan, akademisi, dan orang yang gemar
berpikir sering dianggap merepotkan. Mereka punya kebiasaan buruk: bertanya.
"Data pendukungnya mana?"
"Apakah kebijakan ini sudah diuji?"
"Kalau gagal bagaimana?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat sebagian penguasa
merasa tidak nyaman. Sama seperti alarm yang terus berbunyi ketika kita sedang
ingin tidur.
Akhirnya alarmnya yang dimatikan.
Masalahnya, mematikan alarm tidak pernah menghentikan
kebakaran.
Negara tanpa ilmuwan ibarat kapal yang membuang kompas karena dianggap terlalu banyak protes soal arah angin. Kapalnya memang terasa lebih tenang. Hanya saja, ketenangan itu biasanya berakhir ketika semua sadar bahwa daratan sudah lama hilang dari pandangan.
Lalu datang penyakit ketiga.
Hukum mulai kalah oleh kekuatan.
Di titik ini, keadilan berubah menjadi barang mewah. Hukum
tidak lagi seperti timbangan yang menimbang semua orang dengan ukuran sama. Ia
berubah menjadi karet gelang: sangat lentur kepada yang kuat, tetapi keras
kepada yang lemah.
Orang mulai hafal satu rumus baru.
Yang benar belum tentu menang.
Yang kuat hampir selalu benar.
Masyarakat memang bisa diam.
Tetapi jangan salah paham.
Diam karena hormat sangat berbeda dengan diam karena takut.
Yang pertama seperti anak yang menghormati ayahnya.
Yang kedua seperti ayam yang melihat tukang sate lewat.
Kelihatannya sama-sama tenang.
Motivasinya sangat berbeda.
Penyakit keempat adalah menganggap harta negara seperti isi
kulkas kos bersama.
Semua merasa boleh mengambil.
Tidak ada yang merasa wajib mengisi.
Lama-lama kulkasnya kosong.
Yang tersisa hanya es batu dan bau sambal.
Ibnu Khaldun sudah mengingatkan bahwa ketika kekayaan publik
berubah menjadi hadiah pribadi, sesungguhnya negara sedang menjual masa
depannya sedikit demi sedikit.
Korupsi itu unik.
Ia tidak langsung membuat jembatan roboh.
Ia hanya mengurangi semen.
Mengurangi besi.
Mengurangi pengawasan.
Mengurangi kualitas.
Lalu beberapa tahun kemudian, jembatan ambruk, dan semua
orang sibuk bertanya, "Kok bisa?"
Korupsi memang tidak selalu terdengar seperti ledakan.
Kadang bunyinya hanya satu kata kecil:
"Disesuaikan."
Yang menarik, empat penyakit ini tidak pernah datang
sendirian.
Mereka seperti grup musik yang selalu manggung bersama.
Orang bodoh membutuhkan hukum yang lemah.
Hukum yang lemah melindungi keserakahan.
Keserakahan tidak suka ilmuwan.
Ilmuwan yang pergi membuat orang bodoh semakin percaya diri.
Begitulah lingkaran setan bekerja.
Tidak gaduh.
Tidak dramatis.
Tetapi sangat efektif.
Kalau dipikir-pikir, Ibnu Khaldun sebenarnya sedang
mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana.
Negara bukanlah bangunan beton.
Negara adalah kebiasaan.
Ia dibangun setiap hari oleh keputusan-keputusan kecil.
Siapa yang didengar.
Siapa yang diabaikan.
Siapa yang diberi amanah.
Siapa yang diberi panggung.
Dan siapa yang diberi akses ke kas negara.
Peradaban ternyata tidak runtuh dalam satu malam seperti
adegan film aksi.
Ia lebih mirip pohon besar yang setiap hari kehilangan
sedikit akar. Daunnya masih hijau. Burung-burung masih bersarang. Orang-orang
masih berteduh di bawahnya.
Sampai suatu hari datang angin yang sebenarnya biasa saja.
Lalu pohon itu tumbang.
Semua orang menyalahkan angin.
Padahal angin hanya kebetulan datang pada saat akar sudah lama membusuk.
Mungkin itulah sebabnya Muqaddimah masih terus dibaca
hingga hari ini.
Bukan karena Ibnu Khaldun bisa meramal masa depan.
Melainkan karena beliau sangat paham satu hal tentang
manusia.
Teknologi boleh berubah.
Pakaian boleh berubah.
Bentuk pemerintahan boleh berubah.
Tetapi kebodohan yang diberi jabatan, ilmu yang
disingkirkan, hukum yang dipermainkan, dan keserakahan yang dilegalkan selalu
memiliki hobi yang sama:
Menghancurkan rumah sambil mengaku sedang merenovasi.
Dan sejarah, dengan selera humornya yang agak gelap, hampir
selalu menutup pertunjukan dengan kalimat yang sama:
"Bukankah ini sudah pernah terjadi?"
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.