Di zaman ketika hubungan kadang berumur lebih pendek daripada masa garansi blender, kisah tentang cinta yang bertahan puluhan tahun terdengar seperti legenda. Ia berada di wilayah yang sama dengan naga, unicorn, dan harga cabai yang stabil. Karena itulah kutipan tentang dua orang tua yang duduk berdampingan, memandangi perjalanan hidup mereka sambil berkata, “Begitulah kita sampai di sini,” terasa begitu menyentuh.
Bukan karena kisahnya luar biasa dramatis. Justru
sebaliknya. Keajaibannya terletak pada hal-hal yang tampak membosankan.
Kita hidup dalam budaya yang menganggap cinta harus selalu
spektakuler. Harus ada bunga mawar, makan malam romantis, foto estetik, dan
musik yang terdengar seperti soundtrack film. Padahal sebagian besar pernikahan
yang bertahan lama tidak diselamatkan oleh pemain biola yang muncul tiba-tiba
dari balik semak-semak. Mereka diselamatkan oleh kemampuan berkata, “Ya sudah,
kita bicarakan baik-baik,” pada pukul sepuluh malam saat listrik padam dan
emosi sedang naik turun seperti saham perusahaan teknologi.
Kutipan itu menggambarkan dua orang yang telah mencapai
garis akhir maraton cinta. Rambut mereka sudah memutih. Tangan mereka sudah
keriput. Lutut mereka mungkin mengeluarkan bunyi-bunyian misterius setiap kali
berdiri. Namun mereka masih duduk berdampingan.
Dan ketika seseorang bertanya bagaimana mereka bisa
bertahan, jawaban mereka bukanlah, “Karena kami selalu bahagia.”
Tidak.
Mereka berkata bahwa mereka memilih untuk mendengar.
Ini menarik. Sebab dalam banyak hubungan, mendengar sering
dianggap pekerjaan sampingan. Kita lebih sibuk menyiapkan argumen balasan
daripada memahami isi pembicaraan. Akibatnya, percakapan berubah menjadi
pertandingan tenis. Bola kata-kata dipukul ke sana kemari sampai salah satu
pihak menyerah karena kehabisan tenaga.
Pasangan tua dalam kutipan itu tampaknya menemukan rahasia
yang sederhana namun langka: mendengar bukan sekadar menunggu giliran bicara.
Mendengar adalah seni mengizinkan orang lain hidup sejenak di dalam kepala
kita.
Mereka juga mengatakan bahwa setiap hambatan dijadikan
jembatan.
Kalimat ini terdengar sangat puitis. Namun jika
diterjemahkan ke bahasa kehidupan sehari-hari, artinya kurang lebih begini:
“Kita pernah bertengkar soal uang, soal keluarga, soal cara
memeras pasta gigi, tetapi kita tidak menjadikan semua itu alasan untuk saling
menghilang.”
Karena sesungguhnya hubungan tidak hancur oleh masalah.
Hubungan hancur ketika masalah berubah menjadi identitas.
Badai tidak merusak kapal yang kuat. Yang merusak adalah
ketika air masuk ke dalam kapal dan dibiarkan menggenang.
Di sinilah letak kejeniusan cinta dewasa. Ia tidak
berpura-pura bahwa badai tidak ada. Ia hanya menolak menjadikan badai sebagai
alamat permanen.
Hal lain yang menarik adalah gagasan bahwa mereka selalu
mencari cahaya di tengah kegelapan.
Ini terdengar sangat filosofis sampai kita menyadari bahwa
kehidupan rumah tangga sering kali memang lebih mirip ruang penyimpanan
daripada taman bunga. Ada tagihan yang datang tanpa diundang. Ada anak yang
tiba-tiba demam pukul dua pagi. Ada pekerjaan yang hilang. Ada impian yang
tertunda.
Dalam situasi seperti itu, optimisme bukanlah sikap ceria
ala kartu ucapan. Optimisme adalah tindakan perlawanan.
Mencari cahaya di tengah gelap adalah seperti mencari sandal
jepit yang hilang saat listrik mati. Sulit, menjengkelkan, dan kadang membuat
kita menabrak meja. Namun kita tetap mencarinya karena alternatifnya lebih
buruk: berjalan tanpa arah sambil mengumpat.
Yang paling indah dari kutipan itu adalah kalimat bahwa
mereka selalu memilih cinta.
Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya cukup
mengganggu.
Karena banyak orang diam-diam menganggap cinta sebagai
perasaan. Sesuatu yang datang begitu saja seperti hujan.
Padahal perasaan sering memiliki disiplin kerja yang buruk.
Hari ini ia datang lebih awal. Besok ia terlambat. Lusa ia bahkan tidak masuk
kantor tanpa memberi kabar.
Jika cinta hanya perasaan, maka nasib hubungan akan
ditentukan oleh suasana hati.
Namun pasangan dalam kutipan itu menawarkan definisi yang
berbeda. Bagi mereka, cinta lebih mirip keputusan.
Ia seperti menanam pohon.
Kita tidak bisa berteriak kepada bibit mangga agar segera
berbuah. Kita harus menyiramnya, merawatnya, dan bersabar melihat
pertumbuhannya yang lambat. Bertahun-tahun kemudian, saat pohon itu memberi
teduh, kita baru menyadari bahwa keajaiban ternyata tersusun dari
pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Demikian pula cinta.
Ia bukan ledakan kembang api yang sesaat menerangi langit.
Ia lebih mirip lampu teras yang menyala setiap malam. Tidak spektakuler. Tidak
viral. Namun selalu ada ketika dibutuhkan.
Mungkin itulah sebabnya kutipan ini begitu menyentuh banyak
orang. Ia tidak menjual fantasi tentang hubungan tanpa luka. Ia justru mengakui
bahwa luka itu ada. Bahwa kadang kita tersesat. Kadang kecewa. Kadang lelah.
Tetapi cinta yang matang tidak bertanya, “Mengapa kita
mengalami semua ini?”
Ia bertanya, “Bagaimana kita melewati ini bersama?”
Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah kondisi ketika dua orang
tidak pernah bertengkar. Kebahagiaan adalah ketika setelah bertahun-tahun
bertengkar, berdamai, gagal, bangkit, tertawa, menangis, dan menua bersama,
mereka masih bisa duduk berdampingan sambil tersenyum.
Lalu berkata dengan nada santai yang menyimpan seluruh
sejarah kehidupan:
“Entahlah bagaimana persisnya. Mungkin karena kita terus
memilih satu sama lain.”
Dan begitulah mereka sampai di sana.
Bukan karena cinta mereka sempurna.
Melainkan karena mereka tidak berhenti memperbaikinya.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.