Konon, manusia adalah makhluk sosial. Tetapi setelah hadirnya ponsel pintar, definisinya berubah sedikit: manusia adalah makhluk yang merasa berdosa kalau pesan WhatsApp belum dibalas dalam tiga menit. Kalau lima menit, mulai muncul, "Maaf ganggu ya..." Padahal yang diganggu sedang mandi. Atau sedang mengupas mangga. Atau sedang pura-pura tidak melihat pesan karena tahu ujung-ujungnya diminta mengisi Google Form.
Di zaman ini, menjadi manusia ternyata lebih sulit daripada
menjadi server. Server masih boleh mengalami maintenance. Kita? Sedikit
saja tidak aktif, langsung ditanya, "Kok hilang?" Seolah-olah hidup
kita adalah serial televisi yang wajib tayang setiap hari.
Di sinilah filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, datang
membawa kabar yang terdengar seperti ajakan berbuat kriminal ringan: beranilah
menjadi tidak tersedia.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di era sekarang efeknya hampir seperti berkata, "Saya mau diet di depan meja prasmanan."
Kita hidup dalam zaman yang menganggap notifikasi lebih
penting daripada intuisi. Bunyi "ting!" memiliki kekuatan spiritual
yang bahkan mampu mengalahkan suara hati. Sedang khusyuk membaca buku? Ting!
Sedang menikmati matahari sore? Ting! Sedang menatap wajah pasangan? Ting!
Lucunya, kita sering lebih cepat menjawab orang yang
mengirim emoji jempol daripada menjawab pertanyaan hidup yang sudah
bertahun-tahun mengendap di kepala.
Ponsel, yang dahulu diciptakan agar manusia mudah berkomunikasi, kini sukses membuat manusia sulit berkonsentrasi. Ia seperti tamu yang awalnya hanya numpang minum, lalu pindah alamat dan mulai mengatur tata letak ruang tamu.
Byung-Chul Han menyebut perlunya ascèse numérique,
semacam pertapaan digital. Jangan bayangkan kita harus tinggal di gua sambil
memakan umbi-umbian dan mengirim sinyal asap kepada keluarga.
Tidak.
Pertapaan digital versi Han jauh lebih sederhana sekaligus
lebih berat: menaruh ponsel sebentar.
Ya, hanya itu.
Masalahnya, bagi sebagian orang, menaruh ponsel selama
sepuluh menit rasanya setara dengan melepas tabung oksigen di puncak gunung.
Ada yang mulai gelisah.
"Tadi ada yang chat nggak ya?"
"Jangan-jangan ada promo."
"Kalau dunia kiamat, saya tahunya belakangan."
Padahal kemungkinan terbesar hanyalah grup keluarga sedang berdebat apakah tomat termasuk buah atau sayur.
Han mengatakan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan
menikmati hal-hal sederhana.
Coba saja duduk di bawah pohon.
Idealnya kita mengagumi batangnya yang kokoh, daunnya yang
bergoyang pelan, cahaya matahari yang menyelinap di sela ranting, dan suara
burung yang saling bersahutan.
Realitasnya?
Belum lima belas detik, kita sudah membuka kamera.
Lalu mencari sudut terbaik.
Lalu mengedit.
Lalu memberi caption, Healing.
Lalu lima menit berikutnya sibuk mengecek siapa yang
menyukai unggahan itu.
Akhirnya yang benar-benar menikmati pohon hanyalah tupai.
Begitu pula dengan membaca buku.
Dahulu orang membaca novel empat ratus halaman dengan sabar.
Sekarang membaca dua paragraf saja sudah muncul keinginan menggulir layar,
seolah-olah Dostoevsky seharusnya menyediakan versi short video
berdurasi tiga puluh detik.
Kita ingin filsafat dalam bentuk infografik.
Kita ingin sejarah dalam bentuk meme.
Kita ingin kebijaksanaan dalam bentuk kutipan yang bisa
dibagikan tanpa perlu dipahami.
Ironisnya, semakin banyak informasi yang kita telan, semakin sedikit yang benar-benar kita cerna. Kepala kita berubah seperti laci dapur: penuh barang, tetapi setiap mencari sesuatu selalu berkata, "Tadi saya taruh di mana, ya?"
Menurut Han, kebebasan sejati bukanlah mampu melakukan
semuanya.
Justru kebebasan adalah kemampuan berkata, "Tidak
sekarang."
Kalimat itu tampaknya sepele, tetapi sangat revolusioner.
Sebab sistem modern tidak ingin kita diam.
Ia ingin kita selalu aktif.
Selalu responsif.
Selalu produktif.
Selalu online.
Kalau bisa, bahkan ketika tidur tetap terlihat sedang
"last seen recently."
Di mata sistem, manusia ideal adalah manusia yang selalu
siap.
Di mata jiwa, manusia ideal justru kadang-kadang menghilang.
Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, melainkan untuk kembali bertemu dirinya sendiri.
Tentu saja, kritik terhadap Han juga masuk akal.
Tidak semua orang punya kemewahan untuk mematikan ponsel.
Ada dokter yang harus siaga. Ada pengemudi ojek daring yang menggantungkan
penghasilan pada notifikasi. Ada ibu yang harus siap menerima kabar anaknya.
Pertapaan digital memang lebih mudah dilakukan oleh orang
yang jadwalnya longgar daripada mereka yang hidupnya bergantung pada bunyi
"ting."
Namun, pesan Han bukan soal membenci teknologi.
Ia hanya mengingatkan agar manusialah yang memegang kendali
atas ponsel, bukan sebaliknya.
Karena kalau sampai ponsel lebih sering menentukan kapan kita bahagia, kapan kita panik, kapan kita marah, dan kapan kita merasa berharga, mungkin yang benar-benar pintar bukan lagi smartphone-nya, melainkan ia sudah berhasil membuat kita sedikit kurang pintar.
Mungkin kita memang tidak bisa sepenuhnya keluar dari dunia
digital.
Lagipula, memesan makanan dengan merpati pos juga bukan
solusi.
Tetapi kita masih bisa mencuri sedikit ruang sunyi.
Mematikan notifikasi sejam.
Membaca buku tanpa sesekali membuka media sosial.
Berjalan sore tanpa memotret setiap daun.
Duduk di teras tanpa merasa wajib mengunggah bukti bahwa
kita sedang duduk di teras.
Sesederhana itu.
Karena ternyata hidup tidak selalu membutuhkan tombol "refresh."
Kadang yang perlu diperbarui bukan layar, melainkan
perhatian kita.
Dan siapa tahu, ketika kita akhirnya berani menjadi
"tidak tersedia" selama beberapa saat, kita justru menjadi lebih
hadir—bukan di dunia maya, melainkan di dunia yang selama ini diam-diam
menunggu kita mengangkat kepala.
Sebab, boleh jadi, kebebasan bukanlah sinyal dengan lima
batang penuh.
Kebebasan adalah ketika lima batang itu ada, tetapi kita
merasa tidak wajib memakainya setiap saat. Bahkan, sesekali, kita cukup berkata
kepada ponsel, "Maaf, hari ini giliran aku yang offline. Kamu saja
yang bekerja lembur."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.