Belajar Skeptis Bersama Elizabeth Bennet di Zaman yang Semua Orang Terlihat Bahagia
Ada fase dalam hidup ketika kita mulai memahami maksud orang tua yang dulu sering berkata, "Nanti juga kamu tahu sendiri." Dulu kita mengira itu ancaman. Ternyata itu spoiler.
Jane Austen sudah membocorkan spoiler itu lebih dari dua abad lalu melalui Elizabeth Bennet. Sang tokoh dengan santun mengucapkan kalimat yang, jika diterjemahkan ke bahasa media sosial masa kini, kira-kira berbunyi, "Semakin lama aku scroll, semakin aku ingin logout dari umat manusia."
Elizabeth berkata bahwa hanya sedikit orang yang benar-benar ia cintai, lebih sedikit lagi yang ia hormati, dan semakin ia mengenal dunia, semakin ia tidak menyukainya. Kalimat ini terdengar pesimistis. Namun, kalau dipikir-pikir, siapa di antara kita yang belum pernah membuka kolom komentar lalu menyesal telah dilahirkan dengan kemampuan membaca?
Dunia memang lucu. Kita diajarkan agar tidak menilai buku dari sampulnya, tetapi hampir seluruh hidup modern justru dihabiskan untuk mempercantik sampul. Sampul Instagram. Sampul LinkedIn. Sampul foto profil. Bahkan kadang-kadang sampul hati.
Elizabeth Bennet tampaknya lahir terlalu cepat. Kalau ia hidup sekarang, mungkin ia akan menjadi orang yang paling malas membuat story. Ketika semua orang mengunggah foto kopi dengan caption "healing", Elizabeth mungkin hanya mengunggah secangkir teh dengan tulisan, "Saya cuma haus."
Kesederhanaan seperti itu kini terdengar revolusioner.
Ironisnya, kekecewaan Elizabeth bermula dari sesuatu yang sangat manusiawi: melihat sahabatnya menikah bukan karena cinta, melainkan karena kebutuhan ekonomi. Charlotte Lucas memilih keamanan finansial daripada romansa. Dalam bahasa modern, mungkin ia sedang menerapkan prinsip, "Cinta memang butuh pengorbanan, tetapi cicilan rumah lebih butuh pembayaran."
Sulit menyalahkan Charlotte. Harga properti selalu lebih konsisten daripada perasaan manusia.
Elizabeth kecewa, tetapi Jane Austen terlalu cerdas untuk menjadikan kisah ini sekadar drama percintaan. Yang dikritik bukan hanya keputusan Charlotte, melainkan masyarakat yang membuat pilihan seperti itu terasa masuk akal.
Austen seolah berkata bahwa kadang-kadang yang paling bermasalah bukan manusianya, melainkan sistem yang membuat manusia harus berpikir seperti kalkulator sebelum berani jatuh cinta.
Kalau dipikir-pikir, dunia memang penuh paradoks.
Orang yang paling rajin menulis tentang kejujuran kadang paling kreatif menyunting kenyataan.
Orang yang paling lantang bicara kesederhanaan sering datang dengan presentasi PowerPoint berisi lima puluh slide.
Orang yang berkhotbah tentang rendah hati terkadang membutuhkan panggung yang cukup tinggi agar kerendahan hatinya terlihat jelas.
Barangkali inilah yang dimaksud Elizabeth ketika ia mengatakan bahwa penampilan kebaikan dan kecerdasan tidak selalu bisa dipercaya.
Di era media sosial, penampilan bahkan memperoleh promosi jabatan. Ia bukan lagi sekadar penampilan, melainkan sebuah industri.
Kini ada orang yang lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter. Karakter memang tidak bisa diberi filter. Citra bisa.
Setiap hari kita disuguhi foto liburan yang tampak sempurna, hubungan yang tampak harmonis, meja kerja yang tampak produktif, hingga wajah yang tampak selalu siap difoto meski baru bangun tidur. Sementara kehidupan nyata tetap saja berisi cucian yang belum dilipat, pulsa yang hampir habis, dan pertanyaan klasik: "Uang bulan ini kok sudah merasa tua padahal tanggal masih muda?"
Media sosial sering membuat hidup orang lain terlihat seperti film, sedangkan hidup kita terasa seperti video tutorial yang iklannya tidak bisa dilewati.
Namun, di sinilah Jane Austen diam-diam menyelipkan harapan.
Elizabeth ternyata juga pernah salah menilai. Ia menganggap Darcy sombong tanpa mengetahui isi hatinya. Sebaliknya, ia sempat percaya kepada Wickham yang ternyata pandai menjual pesona seperti tenaga pemasaran paket liburan.
Pelajarannya sederhana sekaligus menyebalkan: bahkan orang yang skeptis pun bisa tertipu.
Artinya, menjadi kritis bukan berarti selalu benar. Menjadi cerdas bukan berarti kebal dari prasangka. Otak manusia memang luar biasa. Ia mampu menghafal teori berpikir rasional, lalu lima menit kemudian percaya judul berita yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Elizabeth akhirnya belajar bahwa mengenal dunia bukan berarti membenci semua orang. Mengenal dunia berarti memahami bahwa manusia adalah makhluk yang rumit.
Ada yang tampak galak tetapi berhati lembut.
Ada yang tampak ramah tetapi diam-diam menghitung untung-rugi setiap senyum.
Ada yang sering salah tetapi mau belajar.
Ada pula yang selalu merasa benar sehingga belajar dianggap penghinaan.
Maka semakin dewasa, daftar teman dekat kita biasanya semakin pendek. Bukan karena kita membenci manusia, melainkan karena akhirnya kita sadar bahwa kualitas pertemanan lebih penting daripada jumlah grup WhatsApp yang setiap pagi mengirim ucapan "Selamat beraktivitas" disertai gambar bunga berkilau.
Elizabeth tidak sedang mengajak kita menjadi sinis. Ia hanya mengingatkan bahwa kepercayaan adalah tanaman yang tumbuh pelan, bukan mi instan yang siap dalam tiga menit.
Mungkin itulah mengapa kutipan Jane Austen tetap hidup hingga hari ini. Dunia berubah dari kereta kuda menjadi kecerdasan buatan, dari surat cinta menjadi emoji hati, dari pesta dansa menjadi rapat Zoom. Namun satu hal tetap sama: manusia masih gemar memakai topeng yang paling menarik, berharap tidak ada yang bertanya siapa wajah di baliknya.
Pada akhirnya, semakin mengenal dunia seharusnya bukan membuat kita membenci kehidupan. Justru membuat kita lebih berhati-hati saat mengagumi, lebih pelan saat menghakimi, dan lebih murah hati kepada mereka yang berusaha menjadi baik tanpa perlu mengumumkannya setiap lima belas menit.
Sebab orang yang benar-benar bijaksana biasanya tidak sibuk terlihat bijaksana. Mereka terlalu sibuk mencuci gelas sendiri setelah selesai minum kopi.
Dan mungkin, di situlah letak optimisme kecil yang diam-diam diwariskan Jane Austen: dunia memang sering mengecewakan, tetapi selalu ada segelintir manusia yang membuat kita berpikir, "Untung masih ada mereka." Meski jumlahnya sedikit, mereka cukup untuk membuat kita menunda keinginan mematikan notifikasi kehidupan.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.