Tentang Dostoevsky, Kebohongan Diri, dan Profesi Manusia sebagai Juru Bicara Egonya Sendiri
Ada dua jenis pembohong di dunia. Yang pertama berbohong
kepada orang lain. Yang kedua lebih canggih: berbohong kepada diri sendiri,
lalu memberikan tepuk tangan untuk pidatonya sendiri.
Jenis kedua inilah yang membuat Fyodor Dostoevsky gelisah.
Dalam Les Frères Karamazov, ia seolah berkata, "Hati-hati. Begitu
Anda berhasil menipu diri sendiri, karier Anda sebagai manusia mulai memasuki
masa pensiun."
Ironisnya, manusia justru paling kreatif ketika sedang
membela kesalahannya. Kita bisa mengubah dosa menjadi "proses
pendewasaan", kemalasan menjadi "healing", keras kepala menjadi
"prinsip", dan gengsi menjadi "menjaga harga diri". Kalau
diperlukan, kita bahkan sanggup menyewa seribu alasan hanya agar tidak perlu
mengakui satu kesalahan.
Rupanya otak manusia memiliki divisi Humas yang sangat
rajin.
Begitu hati mengajukan laporan, bagian Humas segera
mengadakan konferensi pers.
"Benarkah Anda salah?"
"Bukan salah. Itu hanya miskomunikasi semesta."
"Benarkah Anda malas?"
"Tidak. Saya sedang menghemat energi untuk masa
depan."
Kalau diteruskan, mungkin suatu hari kita akan berkata, "Saya tidak berbohong kepada diri sendiri. Saya hanya sedang memberikan versi premium dari kenyataan."
Dostoevsky memahami sesuatu yang sering lolos dari perhatian
kita. Kebohongan paling berbahaya bukanlah yang membuat orang lain tertipu,
melainkan yang membuat kita sendiri percaya.
Di sinilah tragedinya.
Bohong kepada orang lain masih membutuhkan usaha. Bohong
kepada diri sendiri jauh lebih hemat biaya. Tidak perlu saksi, tidak perlu
bukti, tidak perlu notaris. Cukup ulangi kalimat yang sama setiap hari.
Padahal belum tentu.
Prinsip ini sebenarnya sudah dipraktikkan oleh banyak orang
ketika bercermin.
"Besok saya mulai olahraga."
Kalimat itu begitu sering diucapkan hingga dumbbell di sudut
kamar mulai merasa menjadi pajangan museum.
Ada juga yang berkata,
"Saya tidak kecanduan media sosial."
Kalimat itu ditulis pukul dua dini hari sambil menggulir
layar selama empat jam.
Ironinya, kebohongan selalu datang dengan pakaian yang sangat sopan. Ia tidak masuk membawa papan bertuliskan "Saya Bohong". Ia datang memakai jas bernama "Rasionalisasi".
Menurut Dostoevsky, setelah orang kehilangan kejujuran
terhadap dirinya sendiri, tahap berikutnya adalah kehilangan rasa hormat.
Ini masuk akal.
Bagaimana mungkin seseorang menghormati dirinya jika ia
sendiri sudah tidak percaya pada isi pidatonya?
Lama-kelamaan hidup menjadi seperti rapat yang dipenuhi
presentasi indah tanpa satu pun laporan yang benar.
Semua tampak sukses.
Semua tampak bahagia.
Semua tampak baik-baik saja.
Padahal hati sedang mengangkat tangan dari pojok ruangan
sambil berkata,
"Maaf, saya punya sedikit keberatan..."
Tetapi mikrofon sudah dimatikan.
Setelah rasa hormat menghilang, kata Dostoevsky, cinta ikut
pamit.
Ini mungkin terdengar dramatis.
Namun coba pikirkan.
Sulit mencintai orang lain jika kita sibuk mempertahankan
citra diri yang palsu.
Hubungan akhirnya berubah seperti layanan pelanggan.
Yang penting penampilan.
Yang penting rating.
Yang penting terlihat harmonis.
Sementara percakapannya semakin pendek.
"Apa kabar?"
"Baik."
Padahal yang menjawab bukan hati, melainkan bagian Humas tadi.
Lalu tibalah bab favorit dunia modern: hiburan.
Begitu kehilangan makna, manusia akan mencari distraksi.
Sedikit bosan, buka gawai.
Sedikit sedih, belanja.
Sedikit kecewa, unggah kutipan motivasi.
Sedikit kesepian, beli kopi ukuran satu liter.
Kita mengobati kekosongan dengan notifikasi.
Masalahnya, notifikasi memang bisa membuat ponsel berbunyi,
tetapi tidak otomatis membuat hati bernyanyi.
Di sinilah Dostoevsky tampak seperti psikolog yang lahir
seratus tahun terlalu cepat.
Ia tahu bahwa manusia bisa sangat sibuk tanpa pernah benar-benar bertemu dirinya sendiri.
Yang paling lucu sebenarnya bukan kebohongan itu sendiri.
Yang lucu adalah betapa seriusnya kita mempertahankannya.
Kita bisa berdebat berjam-jam hanya untuk membuktikan bahwa
kita benar, padahal jauh di dalam hati ada suara kecil yang berbisik,
"Sepertinya kamu memang salah."
Suara kecil itu biasanya kalah oleh suara ego yang memakai
pengeras suara.
Ego memang luar biasa.
Kalau hati hanya berbicara pelan, ego sudah membawa panggung konser.
Namun Dostoevsky bukan sedang mengajak manusia menjadi
makhluk yang selalu murung dan sibuk menghakimi diri.
Ia hanya mengingatkan bahwa keberanian terbesar bukan
mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan ilusi tentang diri sendiri.
Mengaku salah memang tidak membuat kita langsung menjadi
suci.
Tetapi setidaknya kita berhenti menjadi juru bicara resmi
kebohongan kita sendiri.
Dan itu sudah merupakan kemajuan besar.
Barangkali itulah sebabnya cermin tidak pernah tertawa.
Ia hanya memantulkan.
Yang tertawa justru kita, ketika sibuk memperbaiki rambut
sementara karakter masih kusut.
Mungkin suatu hari nanti teknologi akan menciptakan cermin
yang bukan hanya memantulkan wajah, tetapi juga alasan-alasan yang kita pakai
untuk membela diri.
Kalau hari itu tiba, kemungkinan besar banyak orang akan
buru-buru menutup cermin dengan handuk.
Bukan karena wajahnya jelek.
Melainkan karena akhirnya ada benda yang tidak bisa
dibohongi.
Dan mungkin, di sudut langit sastra Rusia, Dostoevsky hanya
akan tersenyum tipis sambil berkata,
"Selamat. Akhirnya Anda bertemu orang yang paling sulit
diajak jujur: diri sendiri."
Begitulah. Ternyata perjalanan menuju kebinatangan tidak
selalu dimulai dengan taring dan cakar. Kadang ia berawal dari kalimat yang
terdengar sangat sederhana:
"Saya baik-baik saja."
Padahal yang mengucapkannya hanyalah ego yang sedang bekerja
lembur.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.