Jumat, 24 Juli 2026

Menua Itu Enak, Asal Lutut Tidak Ikut Berkomentar

Ada masa ketika ulang tahun adalah pesta. Lilin bertambah, doa mengalir, hadiah berdatangan, dan kita masih sanggup meniup semua lilin tanpa perlu inhaler. Lalu datanglah usia yang membuat kita mulai menghitung ulang: bukan lagi berapa banyak lilin, melainkan berapa banyak obat yang diminum setelah makan.

Namun, di tengah dunia yang sibuk menjual serum anti-aging, krim penghapus keriput, dan aplikasi penyunting wajah yang mampu mengubah kakek menjadi mahasiswa semester tiga, muncul sebuah gagasan yang terasa menyegarkan: bagaimana kalau menjadi tua tidak perlu dilawan?

Gagasan itu sederhana, tetapi dampaknya seperti menemukan colokan listrik di bandara. Melegakan.

Barangkali selama ini kita salah paham terhadap penuaan. Kita mengira menjadi tua berarti kalah dari waktu. Padahal, bisa jadi yang kalah justru dompet kita karena terlalu sering membeli produk yang menjanjikan wajah bayi dengan harga cicilan motor.

Yang sesungguhnya berubah ketika usia bertambah bukanlah jumlah keriput. Yang berubah adalah daftar hal yang sudah tidak layak dipusingkan.

Saat muda, kita bisa menghabiskan dua jam hanya untuk memilih foto profil. Foto yang terlalu serius dianggap angkuh. Terlalu santai dianggap tidak punya masa depan. Terlalu tersenyum dibilang sedang jatuh cinta. Terlalu datar dikira habis dimarahi atasan.

Ketika usia mulai matang, persoalan itu selesai dalam tiga detik.

"Foto ini buram."

"Ya sudah."

Selesai.

Ada kebebasan luar biasa dalam kata "ya sudah."

Kebebasan itu mungkin merupakan hadiah paling mahal dari penuaan. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita akhirnya sadar bahwa tidak semua pertandingan wajib diikuti.

Dulu kita ingin semua orang menyukai kita. Kita belajar menjadi menyenangkan, ramah, fleksibel, bahkan rela tertawa pada lelucon yang sebenarnya lebih kering daripada kerupuk disimpan di dashboard mobil.

Semakin tua, kita mulai mengerti bahwa menjadi kesukaan semua orang adalah pekerjaan yang bahkan es teh manis pun gagal melakukannya.

Kalau teh saja masih ada yang bilang kemanisan, kita ini mau berharap apa?

Lalu ada penyakit yang hanya menyerang usia muda: FOMO—Fear of Missing Out. Takut ketinggalan apa saja. Diskon, konser, tren, gosip, drama, podcast, webinar, kelas daring, kelas luring, kelas yang bahkan tidak tahu mengajarkan apa.

Begitu usia bertambah, penyakit itu perlahan berubah menjadi JOMO—Joy of Missing Out.

Teman mengirim pesan, "Besok kumpul sampai tengah malam, ya!"

Jawabannya sederhana.

"Selamat menikmati."

Tidur pukul sembilan tiba-tiba terasa lebih revolusioner daripada menghadiri pesta.

Penuaan ternyata membuat kita menjadi ekonom ulung. Energi tidak lagi dihamburkan sembarangan. Setiap debat diperlakukan seperti belanja bulanan: kalau tidak penting, tidak masuk keranjang.

Dulu, komentar asing di media sosial bisa membuat hati panas seminggu. Sekarang?

"Semoga sehat selalu."

Lalu lanjut menyiram tanaman.

Sungguh, bunga lebih tahu cara berterima kasih daripada kolom komentar.

Yang menarik, menjadi tua juga mengajarkan bahwa produktivitas bukan agama. Dunia modern sering memperlakukan manusia seperti mesin fotokopi. Selama bisa mencetak hasil, dianggap berguna. Begitu mulai lambat, langsung dicari model terbaru.

Padahal manusia bukan printer.

Kalau dipaksa terus mencetak, yang keluar bukan lagi karya, melainkan bunyi "krek... krek..." dari pinggang.

Ada hari ketika kita menghasilkan banyak hal. Ada hari ketika pencapaian terbesar hanyalah berhasil minum air putih delapan gelas dan tidak lupa membawa kacamata yang ternyata sejak tadi sudah bertengger di kepala.

Anehnya, kedua hari itu sama-sama layak disyukuri.

Di situlah letak kebijaksanaan yang sering terlambat kita sadari. Hidup bukan perlombaan siapa paling sibuk. Sebab kesibukan kadang hanya cara elegan untuk menghindari percakapan dengan diri sendiri.

Semakin tua, kita mulai menikmati hal-hal yang dulu tampak remeh. Cahaya matahari yang menembus jendela. Aroma kopi pagi. Angin sore. Tawa cucu. Bahkan suara hujan yang dulu dianggap mengganggu jemuran kini terdengar seperti konser privat dari langit.

Kita mulai mengerti bahwa kebahagiaan bukanlah pesta kembang api.

Sering kali ia hanya secangkir teh hangat yang tidak sempat dingin karena langsung diminum.

Tentu saja, penuaan bukan berarti tanpa kehilangan. Ada teman yang lebih dulu berpamitan. Ada orang tua yang tinggal dalam kenangan. Ada impian yang ternyata memang bukan jatah kita.

Namun, usia mengajarkan sesuatu yang aneh: hati manusia ternyata seperti rumah tua.

Semakin banyak ruang yang ditinggalkan penghuninya, semakin banyak cahaya yang bisa masuk lewat jendela.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang yang tampak lebih damai ketika rambutnya mulai memutih. Mereka bukan tidak pernah sedih. Mereka hanya sudah lelah bertengkar dengan kenyataan.

Dan bukankah kenyataan memang selalu menang?

Pada akhirnya, menjadi tua bukan tentang bertambahnya angka di kartu identitas. Menjadi tua adalah saat kita berhenti membawa koper berisi harapan orang lain ke mana-mana.

Betapa berat hidup selama ini ternyata bukan karena usia, melainkan karena kita sibuk memikul ekspektasi yang bahkan bukan milik kita.

Kalau ada yang patut dirayakan dari penuaan, mungkin bukan karena kita semakin dekat dengan garis akhir, melainkan karena akhirnya kita tahu jalan mana yang tidak perlu lagi ditempuh.

Jadi, kalau suatu hari nanti ada yang bertanya, "Apa rasanya menjadi tua?"

Mungkin jawabannya sederhana.

"Rasanya seperti akhirnya menemukan tombol mute untuk semua kebisingan yang selama ini kita kira wajib didengarkan."

Dan itu, percayalah, jauh lebih ampuh daripada krim anti-keriput mana pun. Sebab wajah boleh saja berkerut, tetapi hati yang akhirnya damai selalu tampak jauh lebih muda daripada wajah yang dipoles mati-matian namun masih sibuk mengejar tepuk tangan.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.