Kamis, 16 Juli 2026

Stoisisme: Seni Tetap Waras Ketika Grup WhatsApp Sedang Ribut

Konon, manusia modern memiliki dua musuh besar: tagihan yang datang lebih cepat daripada gajian, dan notifikasi ponsel yang berbunyi seolah-olah dunia akan kiamat jika tidak segera dibuka. Di tengah suasana seperti itu, membaca tulisan tentang Stoisisme rasanya seperti menemukan warung kopi yang masih menjual teh hangat seharga seribu lima ratus rupiah—langka, menenangkan, dan membuat kita bertanya, "Kok masih ada?"

Begitulah kesan yang muncul ketika membaca cuitan @vanmutoka1 tentang filsafat Stoisisme. Di saat media sosial dipenuhi lomba menjadi orang paling benar, paling tersakiti, atau paling sibuk, tiba-tiba muncul seseorang yang berkata dengan tenang, "Anginnya memang kencang, tapi mungkin yang perlu diperiksa bukan anginnya, melainkan layar kapalmu."

Kalimat itu terdengar sederhana. Padahal kalau dipikir-pikir, hidup kita memang sering lebih sibuk memarahi angin daripada membetulkan layar. Hujan disalahkan, cuaca disalahkan, pemerintah disalahkan, tetangga disalahkan, algoritma media sosial disalahkan, bahkan sinyal Wi-Fi yang putus tiga detik pun diperlakukan seperti pengkhianatan terhadap kemanusiaan.

Para filsuf Stoa tampaknya sudah menduga kebiasaan ini sejak ribuan tahun lalu. Mereka hidup bukan di zaman diskon tanggal kembar, melainkan di masa perang, wabah, kelaparan, dan kaisar yang kadang lebih mudah marah daripada wajan yang lupa diberi minyak. Anehnya, mereka tidak membuat seminar berjudul Cara Mengubah Dunia dalam Tujuh Langkah Mudah. Mereka justru mengusulkan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: ubahlah dirimu sendiri.

Nasihat itu memang terdengar mengecewakan bagi orang yang berharap ada tombol "Perbaiki Semesta". Namun Stoisisme mengingatkan bahwa manusia hanyalah nakhoda, bukan pengatur cuaca. Kita boleh membawa kapal secanggih apa pun, tetapi belum ada galangan kapal yang menjual paket "bebas badai seumur hidup".

Di sinilah letak kelucuannya. Kita sering bertingkah seperti pelanggan restoran yang marah karena matahari terlalu panas. Padahal matahari tidak pernah membaca ulasan bintang satu di internet.

Yang menarik dari cuitan tersebut adalah upayanya meluruskan kesalahpahaman tentang Stoisisme. Banyak orang mengira menjadi Stoa berarti wajah harus selalu datar seperti foto di kartu identitas. Seolah-olah kalau kehilangan dompet, respons idealnya adalah mengangguk pelan sambil berkata, "Menarik."

Padahal bukan begitu.

Stoisisme bukan kursus menjadi batu. Ia hanya mengingatkan agar emosi menjadi tamu, bukan pemilik rumah. Silakan marah, sedih, kecewa, atau takut. Yang tidak dianjurkan adalah memberikan sertifikat hak milik kepada semua emosi itu sehingga mereka bebas mengganti gorden, mengecat tembok, lalu mengusir akal sehat dari ruang tamu.

Metafora "api yang tenang" yang digunakan dalam tulisan tersebut sangat indah. Api memang tetap api. Ia memberi kehangatan, cahaya, bahkan tenaga untuk memasak. Tetapi api yang keluar dari kompor jauh lebih berguna daripada api yang memilih membakar dapur. Demikian pula emosi. Ia berguna selama berada di tempat yang semestinya.

Namun, sebagus apa pun Stoisisme, kita juga perlu sedikit bercanda dengannya. Sebab jika dipahami secara berlebihan, nanti semua masalah dijawab dengan kalimat, "Terima saja." Atap rumah bocor? Terima saja. Ban kendaraan hilang? Terima saja. Dompet dicopet? Terima saja. Kalau semua diterima begitu saja, tukang bangunan, polisi, dan montir bisa kehilangan pelanggan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara menerima kenyataan dan menyerah kepada kenyataan. Stoisisme tidak pernah menyuruh orang berhenti memperbaiki dunia. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak kehilangan kewarasan selama proses memperbaikinya.

Marcus Aurelius tetap memimpin kekaisaran. Seneca tetap terlibat dalam urusan negara. Epictetus tetap mengajar murid-muridnya. Tidak ada yang menghabiskan hari dengan duduk memandangi awan sambil berkata, "Semuanya ilusi."

Jadi, Stoisisme bukan izin untuk menjadi malas. Ia lebih mirip sabuk pengaman. Sabuk pengaman tidak membuat perjalanan bebas kecelakaan, tetapi membuat kepala kita tidak langsung mencium kaca depan setiap kali jalan berlubang.

Barangkali itulah sebabnya cuitan @vanmutoka1 terasa menyegarkan. Ia mengingatkan bahwa benteng terakhir manusia bukan rekening bank, jabatan, jumlah pengikut media sosial, atau koleksi stiker WhatsApp. Benteng terakhir adalah cara kita memaknai semuanya.

Karena pada akhirnya hidup memang mirip naik perahu di musim angin. Kita tidak bisa mengirim surat protes kepada badai. Badai bahkan tidak punya alamat email. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar mengikat tali layar lebih kuat, memegang kemudi lebih mantap, dan sesekali tertawa ketika ombak membuat kita terlihat seperti sedang ikut lomba senam aerobik.

Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang paling membumi. Dunia tidak akan berhenti membuat kejutan. Akan selalu ada hujan di hari cucian dijemur, rapat yang seharusnya cukup lima belas menit tetapi berubah menjadi dua jam, serta orang yang membalas pesan "oke" dengan enam belas stiker berturut-turut.

Semua itu di luar kendali kita.

Tetapi apakah kita ikut hanyut, atau justru belajar berenang sambil bersiul kecil, nah... di situlah Stoisisme diam-diam tersenyum.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.