Konon, manusia modern memiliki dua musuh besar: tagihan yang datang lebih cepat daripada gajian, dan notifikasi ponsel yang berbunyi seolah-olah dunia akan kiamat jika tidak segera dibuka. Di tengah suasana seperti itu, membaca tulisan tentang Stoisisme rasanya seperti menemukan warung kopi yang masih menjual teh hangat seharga seribu lima ratus rupiah—langka, menenangkan, dan membuat kita bertanya, "Kok masih ada?"
Begitulah kesan yang muncul ketika membaca cuitan
@vanmutoka1 tentang filsafat Stoisisme. Di saat media sosial dipenuhi lomba
menjadi orang paling benar, paling tersakiti, atau paling sibuk, tiba-tiba
muncul seseorang yang berkata dengan tenang, "Anginnya memang kencang,
tapi mungkin yang perlu diperiksa bukan anginnya, melainkan layar
kapalmu."
Kalimat itu terdengar sederhana. Padahal kalau
dipikir-pikir, hidup kita memang sering lebih sibuk memarahi angin daripada
membetulkan layar. Hujan disalahkan, cuaca disalahkan, pemerintah disalahkan,
tetangga disalahkan, algoritma media sosial disalahkan, bahkan sinyal Wi-Fi
yang putus tiga detik pun diperlakukan seperti pengkhianatan terhadap
kemanusiaan.
Para filsuf Stoa tampaknya sudah menduga kebiasaan ini sejak
ribuan tahun lalu. Mereka hidup bukan di zaman diskon tanggal kembar, melainkan
di masa perang, wabah, kelaparan, dan kaisar yang kadang lebih mudah marah
daripada wajan yang lupa diberi minyak. Anehnya, mereka tidak membuat seminar
berjudul Cara Mengubah Dunia dalam Tujuh Langkah Mudah. Mereka justru
mengusulkan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: ubahlah
dirimu sendiri.
Nasihat itu memang terdengar mengecewakan bagi orang yang
berharap ada tombol "Perbaiki Semesta". Namun Stoisisme mengingatkan
bahwa manusia hanyalah nakhoda, bukan pengatur cuaca. Kita boleh membawa kapal
secanggih apa pun, tetapi belum ada galangan kapal yang menjual paket
"bebas badai seumur hidup".
Di sinilah letak kelucuannya. Kita sering bertingkah seperti
pelanggan restoran yang marah karena matahari terlalu panas. Padahal matahari
tidak pernah membaca ulasan bintang satu di internet.
Yang menarik dari cuitan tersebut adalah upayanya meluruskan
kesalahpahaman tentang Stoisisme. Banyak orang mengira menjadi Stoa berarti
wajah harus selalu datar seperti foto di kartu identitas. Seolah-olah kalau
kehilangan dompet, respons idealnya adalah mengangguk pelan sambil berkata,
"Menarik."
Padahal bukan begitu.
Stoisisme bukan kursus menjadi batu. Ia hanya mengingatkan
agar emosi menjadi tamu, bukan pemilik rumah. Silakan marah, sedih, kecewa,
atau takut. Yang tidak dianjurkan adalah memberikan sertifikat hak milik kepada
semua emosi itu sehingga mereka bebas mengganti gorden, mengecat tembok, lalu
mengusir akal sehat dari ruang tamu.
Metafora "api yang tenang" yang digunakan dalam
tulisan tersebut sangat indah. Api memang tetap api. Ia memberi kehangatan,
cahaya, bahkan tenaga untuk memasak. Tetapi api yang keluar dari kompor jauh
lebih berguna daripada api yang memilih membakar dapur. Demikian pula emosi. Ia
berguna selama berada di tempat yang semestinya.
Namun, sebagus apa pun Stoisisme, kita juga perlu sedikit
bercanda dengannya. Sebab jika dipahami secara berlebihan, nanti semua masalah
dijawab dengan kalimat, "Terima saja." Atap rumah bocor? Terima saja.
Ban kendaraan hilang? Terima saja. Dompet dicopet? Terima saja. Kalau semua
diterima begitu saja, tukang bangunan, polisi, dan montir bisa kehilangan
pelanggan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara menerima kenyataan
dan menyerah kepada kenyataan. Stoisisme tidak pernah menyuruh orang berhenti
memperbaiki dunia. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak kehilangan kewarasan
selama proses memperbaikinya.
Marcus Aurelius tetap memimpin kekaisaran. Seneca tetap
terlibat dalam urusan negara. Epictetus tetap mengajar murid-muridnya. Tidak
ada yang menghabiskan hari dengan duduk memandangi awan sambil berkata,
"Semuanya ilusi."
Jadi, Stoisisme bukan izin untuk menjadi malas. Ia lebih
mirip sabuk pengaman. Sabuk pengaman tidak membuat perjalanan bebas kecelakaan,
tetapi membuat kepala kita tidak langsung mencium kaca depan setiap kali jalan
berlubang.
Barangkali itulah sebabnya cuitan @vanmutoka1 terasa
menyegarkan. Ia mengingatkan bahwa benteng terakhir manusia bukan rekening
bank, jabatan, jumlah pengikut media sosial, atau koleksi stiker WhatsApp.
Benteng terakhir adalah cara kita memaknai semuanya.
Karena pada akhirnya hidup memang mirip naik perahu di musim
angin. Kita tidak bisa mengirim surat protes kepada badai. Badai bahkan tidak
punya alamat email. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar mengikat tali layar
lebih kuat, memegang kemudi lebih mantap, dan sesekali tertawa ketika ombak
membuat kita terlihat seperti sedang ikut lomba senam aerobik.
Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang paling membumi.
Dunia tidak akan berhenti membuat kejutan. Akan selalu ada hujan di hari cucian
dijemur, rapat yang seharusnya cukup lima belas menit tetapi berubah menjadi
dua jam, serta orang yang membalas pesan "oke" dengan enam belas
stiker berturut-turut.
Semua itu di luar kendali kita.
Tetapi apakah kita ikut hanyut, atau justru belajar berenang
sambil bersiul kecil, nah... di situlah Stoisisme diam-diam tersenyum.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.