Ada satu kebiasaan manusia modern yang cukup menghibur. Setiap kali ingin memenangkan perdebatan, volume suara dinaikkan seolah-olah kebenaran memiliki hubungan darah dengan desibel. Di media sosial, fenomena ini lebih sederhana lagi. Huruf kapital dinyalakan, tanda seru diperbanyak, lalu kita berharap lawan diskusi bertobat sebelum baterai ponselnya habis.
Padahal, kalau Nabi Muhammad SAW hidup di era komentar media
sosial, barangkali beliau akan membuat banyak orang kebingungan. Beliau tidak
mengandalkan kata-kata yang meledak-ledak. Tidak ada kalimat pembuka,
"Saudaraku sekalian, kalian semua salah total!" Tidak pula ada
ancaman khas warganet: "Silakan unfollow kalau tidak setuju."
Justru mukjizat beliau salah satunya terletak pada sesuatu
yang hari ini mulai langka: kemampuan berbicara dengan tepat.
Bahasa Nabi ibarat secangkir teh hangat. Tidak berteriak minta diminum, tetapi begitu menyentuh tenggorokan, orang tahu manfaatnya. Ia tidak memukul kepala pendengarnya, melainkan mengetuk pintu hati mereka.
Bangsa Arab zaman itu bukan bangsa sembarangan. Mereka
adalah pecinta bahasa. Penyair diperlakukan seperti selebritas, hanya saja
tanpa endorse skincare.
Di pasar-pasar sastra seperti Ukaz, orang berlomba menyusun
syair yang membuat pendengar merinding. Kata-kata diperlakukan layaknya karya
seni. Dalam dunia seperti itulah Nabi Muhammad hadir dengan bahasa yang membuat
para ahli sastra terdiam.
Yang menarik, beliau tidak berbicara rumit demi terlihat
pintar. Sebaliknya, semakin dalam maknanya, semakin sederhana kalimatnya.
Hari ini justru sering terjadi kebalikannya.
Kalau seseorang berkata, "Mari kita makan," semua
orang mengerti.
Tetapi jika diubah menjadi, "Mari kita melakukan
aktivitas konsumsi nutrisi secara kolaboratif dalam kerangka peningkatan relasi
interpersonal," biasanya yang hadir bukan rasa lapar, melainkan rasa ingin
pulang.
Nabi mengajarkan bahwa kecerdasan bukanlah kemampuan membuat
orang bingung. Kecerdasan adalah membuat sesuatu yang rumit menjadi mudah
dipahami.
Barangkali itulah sebabnya sabda beliau mampu hidup lebih dari empat belas abad. Kalimat yang pendek, tetapi isinya seperti koper emak-emak: ukurannya biasa saja, tetapi entah bagaimana semua barang bisa masuk.
Hal lain yang mengagumkan adalah kemampuan beliau
menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara.
Ketika berbicara kepada masyarakat penggembala, beliau
memakai contoh tentang unta, kambing, susu, dan padang rumput.
Coba bayangkan jika beliau datang kepada para penggembala
lalu berkata, "Saudara-saudara, mari kita bahas algoritma kecerdasan
buatan."
Bisa jadi yang menjawab justru untanya.
Beliau memahami bahwa manusia belajar melalui dunia yang
mereka kenal.
Kalau berbicara kepada petani, jangan memulai dengan analogi
tentang saham kripto.
Kalau berbicara kepada nelayan, jangan menjelaskan kehidupan
memakai metafora lift apartemen.
Kalau berbicara kepada mahasiswa yang sedang mengerjakan
skripsi, jangan berkata, "Nikmati saja prosesnya."
Kalimat terakhir itu bahkan bisa dianggap sebagai bentuk
kekerasan psikologis.
Nabi mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sering kita lupakan: sebelum menyampaikan pesan, kenalilah telinga yang akan mendengarnya.
Prinsip inilah yang kelak dipraktikkan para penyebar Islam
di Nusantara.
Mereka tidak datang membawa palu godam untuk menghancurkan
budaya. Mereka datang membawa jarum. Sedikit demi sedikit menjahit nilai Islam
ke dalam kain kebudayaan yang sudah ada.
Wayang tetap wayang.
Gamelan tetap gamelan.
Tradisi tetap tradisi.
Yang berubah adalah arah jiwanya.
Cara ini mirip seseorang yang memasukkan vitamin ke dalam
semangkuk bakso. Orang datang karena baksonya, lalu tanpa sadar mendapatkan
gizinya.
Sebaliknya, ada juga model dakwah yang datang seperti tukang
renovasi yang baru membeli palu besar.
Melihat apa pun langsung ingin dibongkar.
Pohon salah.
Musik salah.
Pakaian salah.
Senyum terlalu lebar juga salah.
Lama-lama yang benar tinggal tukang menyalahkan.
Padahal Nabi menunjukkan bahwa yang harus diubah pertama kali bukan warna tembok kebudayaan, melainkan fondasi akhlaknya.
Yang paling menarik dari kisah ini adalah kenyataan bahwa
Nabi bukan hanya memahami agama.
Beliau memahami manusia.
Beliau tahu bahwa orang lapar lebih mudah memahami roti
daripada teori.
Beliau tahu bahwa masyarakat memiliki kebiasaan, simbol,
bahasa, dan cara berpikir yang berbeda-beda.
Artinya, menjadi pendakwah bukan berarti cukup menghafal
dalil.
Ia juga harus mengerti psikologi.
Mengerti ekonomi.
Mengerti budaya.
Mengerti politik.
Mengerti sastra.
Dan, yang paling sulit, mengerti kapan harus berhenti
berbicara.
Sebab tidak semua pertanyaan membutuhkan ceramah satu jam.
Kadang seseorang hanya bertanya, "Masjidnya di
mana?"
Lalu dijawab dengan sejarah peradaban Islam sejak abad
ketujuh.
Orang itu akhirnya tidak jadi salat karena waktu Asar sudah habis.
Di zaman media sosial, pelajaran ini terasa semakin penting.
Algoritma lebih menyukai kemarahan daripada kebijaksanaan.
Video berdurasi tiga puluh detik yang penuh amarah sering
memperoleh jutaan penonton, sementara penjelasan yang tenang hanya mendapat
komentar, "Kepanjangan, Bang."
Akhirnya banyak orang tergoda mengira dakwah yang efektif
adalah dakwah yang paling keras.
Padahal suara petir memang keras, tetapi justru hujanlah
yang membuat sawah tumbuh.
Orang tidak hidup karena mendengar gelegar.
Orang hidup karena mendapatkan air.
Begitulah kira-kira bahasa Nabi bekerja.
Ia tidak selalu menggelegar, tetapi selalu menyuburkan.
Mungkin itulah makna terdalam dari jawami' al-kalim.
Bukan sekadar kemampuan berbicara singkat, melainkan
kemampuan membuat kata-kata menjadi rumah yang nyaman bagi makna.
Di zaman ketika semua orang ingin viral, Nabi justru
mengajarkan sesuatu yang lebih sulit: menjadi bermanfaat.
Sebab tujuan dakwah bukan memenangkan perdebatan, melainkan
memenangkan hati.
Bukan membuat orang kalah argumen, melainkan membuat mereka
pulang membawa harapan.
Dan barangkali, jika hari ini kita ingin belajar berdakwah
kepada Nabi, pelajaran pertamanya bukanlah bagaimana berbicara lebih keras.
Melainkan bagaimana berbicara sehingga orang merasa
dihargai.
Karena lidah yang tajam memang bisa membelah pendapat,
tetapi hanya lidah yang bijaksana yang mampu menjahit kembali hati yang
tercerai-berai.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.