Rabu, 01 Juli 2026

Tidurnya Akal, Bangunnya Monster dan Grup WhatsApp Keluarga

Ada banyak hal yang berbahaya di dunia ini. Gunung meletus berbahaya. Dompet kosong menjelang tanggal tua juga berbahaya. Tetapi menurut pelukis Spanyol Francisco Goya, ada satu bahaya yang lebih senyap dan lebih licin: ketika akal tertidur.

Goya menuangkan gagasan itu dalam karya legendarisnya, El sueño de la razón produce monstruos—"Tidurnya akal melahirkan monster." Kalimat ini terdengar sangat filosofis, tetapi sebenarnya cukup mudah dipahami. Bayangkan seseorang yang biasanya rasional, lalu mendadak percaya bahwa bumi datar karena melihat video berdurasi tiga menit dengan musik dramatis. Itulah salah satu monster yang dimaksud Goya.

Dalam lukisannya, Goya menggambarkan seorang lelaki yang tertidur di meja kerja. Di belakangnya berkerumun kelelawar, burung hantu, dan makhluk-makhluk ganjil yang tampak seperti hasil rapat darurat antara mimpi buruk dan kurang tidur. Mereka bukan sekadar hewan. Mereka adalah simbol ketakutan, kebodohan, prasangka, fanatisme, dan segala sesuatu yang muncul ketika akal memutuskan untuk mengambil cuti tahunan.

Menariknya, Goya tidak sedang memusuhi imajinasi. Ia bukan tipe orang yang ingin mengubah dunia menjadi ruang kelas matematika raksasa yang hanya berisi rumus dan tabel. Justru sebaliknya. Menurutnya, imajinasi adalah kuda liar yang indah. Masalahnya muncul ketika kuda itu berlari tanpa penunggang.

Akal dan imajinasi, dalam pandangan Goya, ibarat sopir dan mesin mobil. Mesin yang hebat tanpa sopir akan masuk selokan. Sopir tanpa mesin hanya bisa berdiri di pinggir jalan sambil menjelaskan teori transportasi. Keduanya harus bekerja sama.

Itulah sebabnya pesan Goya terasa begitu segar meskipun usianya sudah lebih dari dua abad. Monster yang ia lukis ternyata tidak punah. Mereka hanya berganti kostum.

Dulu monster itu mungkin berupa takhayul, fanatisme, atau korupsi aristokrasi. Hari ini mereka menjelma menjadi hoaks, teori konspirasi, dan komentar media sosial yang ditulis dengan kecepatan lebih tinggi daripada kemampuan berpikir pemiliknya.

Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi mengalir deras seperti air bah, tetapi kebijaksanaan sering datang dengan kecepatan kura-kura yang sedang merenungkan makna hidup. Akibatnya, banyak orang merasa sudah mengetahui segalanya hanya karena membaca judul berita.

Seorang filsuf mungkin membutuhkan waktu dua puluh tahun untuk membangun sebuah argumen. Sementara itu, sebuah unggahan palsu bisa menghapusnya dalam dua puluh detik dengan tambahan tiga emoji marah dan satu kalimat berbunyi, "Sebarkan sebelum dihapus!"

Di sinilah Goya tampak seperti seorang peramal yang kebetulan membawa kuas.

Ia memahami bahwa monster paling berbahaya bukanlah yang bertaring atau bercakar. Monster paling berbahaya adalah gagasan yang masuk ke kepala manusia ketika penjaga gerbang bernama akal sedang tertidur.

Akal sebenarnya mirip satpam sebuah kompleks perumahan. Selama ia berjaga, tamu-tamu aneh akan diperiksa identitasnya. Tetapi begitu satpam tertidur, siapa saja bisa masuk. Kecurigaan berlebihan masuk. Kebencian masuk. Fanatisme masuk. Bahkan ide-ide absurd yang seharusnya ditolak sejak awal ikut masuk sambil membawa koper.

Yang menarik, monster tidak selalu datang dalam bentuk yang menakutkan. Kadang ia hadir dengan wajah yang sangat meyakinkan. Ia berbicara dengan penuh keyakinan. Ia menawarkan jawaban sederhana untuk persoalan rumit. Ia membuat dunia terlihat hitam-putih. Dan manusia sangat menyukai kesederhanaan semacam itu karena berpikir memang pekerjaan yang melelahkan.

Berpikir kritis itu seperti olahraga. Semua orang mengakui manfaatnya, tetapi tidak semua orang ingin melakukannya setiap hari.

Karena itu, pesan Goya sesungguhnya bukan sekadar kritik sosial. Ia adalah peringatan yang bersifat pribadi. Monster pertama yang harus diawasi bukanlah monster di luar sana, melainkan monster yang tinggal di dalam diri kita sendiri: kesombongan, kemalasan intelektual, prasangka, dan kecenderungan untuk lebih mencintai keyakinan daripada kebenaran.

Di sinilah letak kebijaksanaan besar karya tersebut. Goya tidak meminta manusia menjadi mesin logika tanpa perasaan. Ia juga tidak menyuruh kita membunuh imajinasi. Ia hanya mengingatkan bahwa akal harus tetap terjaga, seperti penjaga mercusuar yang terus menyalakan lampu di tengah badai.

Sebab ketika lampu itu padam, laut tidak otomatis menjadi lebih tenang. Justru karang-karang yang tersembunyi mulai mencari korban.

Lebih dari dua ratus tahun setelah Goya membuat ukiran itu, monster-monster masih berkeliaran. Mereka hidup di layar ponsel, di ruang politik, di pasar ide, bahkan di sudut-sudut hati manusia.

Kabar baiknya, senjata untuk menghadapi mereka tidak berubah sejak zaman Goya: keberanian untuk berpikir, kerendahan hati untuk meragukan diri sendiri, dan kesediaan untuk mencari kebenaran meskipun tidak selalu nyaman.

Karena pada akhirnya, peradaban bukanlah kemenangan permanen atas monster. Peradaban hanyalah usaha kolektif agar akal tidak tertidur terlalu lama.

Dan mungkin, jika Goya hidup hari ini, ia akan memperbarui judul karyanya menjadi sedikit lebih modern:

"Ketika akal tertidur, notifikasi tidak pernah tidur."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.