Konon, Anton Chekhov pernah berkata, "Kalau ingin memahami kehidupan, jangan mencarinya di buku. Jalanilah hidup."
Masalahnya, setelah ditelusuri, Chekhov sendiri tampaknya
tidak pernah benar-benar mengatakan itu.
Ironis sekali. Kita baru mulai belajar tentang pentingnya
pengalaman hidup... justru setelah sibuk mencari sumber kutipan di buku.
Begitulah manusia modern. Bahkan untuk percaya bahwa kita tidak perlu terlalu banyak membaca, kita tetap meminta daftar pustaka.
Media sosial memang gudangnya kebijaksanaan instan. Setiap
pagi kita disuguhi kutipan Einstein yang ternyata ditulis oleh admin Facebook.
Siang hari muncul Rumi yang ternyata hasil edit Canva. Sore harinya Lao Tzu
menyampaikan motivasi bisnis. Malamnya Chekhov mengajari kita berhenti
membaca... lewat sebuah unggahan yang dibaca jutaan orang.
Kalau begini terus, jangan-jangan besok Shakespeare
mengunggah tutorial investasi kripto.
Yang menarik justru bukan apakah kutipan itu asli.
Yang menarik adalah betapa cepat kita menyukainya.
Mengapa?
Karena kita semua diam-diam lelah.
Lelah membaca.
Lelah mengikuti webinar.
Lelah mengikuti kelas daring berjudul "Cara Hidup Bahagia dalam 21 Langkah", tetapi baru menyelesaikan langkah pertama: membayar biaya pendaftaran.
Zaman sekarang, membaca telah berubah menjadi olahraga
ekstrem.
Bukan karena bukunya berat.
Melainkan karena gangguannya lebih berat.
Kita membuka satu buku elektronik.
Lima menit kemudian muncul notifikasi.
Sepuluh menit kemudian kita sedang membaca komentar orang
yang belum membaca bukunya tetapi sudah memberi ulasan satu bintang.
Lima belas menit kemudian kita menemukan video berjudul "Ringkasan
Buku dalam 60 Detik."
Selesai menonton, kita merasa lebih pintar daripada
penulisnya.
Padahal yang kita pahami baru daftar isi.
Ada pula golongan manusia yang mencintai buku dengan sangat
tulus.
Sangat tulus...
...untuk dibeli.
Rak bukunya penuh.
Aromanya wangi.
Susunannya estetik.
Kalau difoto dari sudut tertentu bahkan terlihat seperti
perpustakaan Universitas Oxford.
Sayangnya, halaman yang paling sering dibuka adalah halaman
harga.
Buku-buku itu hidup bahagia sebagai dekorasi ruang tamu.
Mereka pensiun dini tanpa pernah dibaca.
Sebaliknya, ada kelompok anti-buku.
Mereka berkata,
"Hidup itu harus dialami, bukan dibaca."
Kalimat ini biasanya diucapkan setelah menonton video
motivasi berdurasi tiga puluh detik.
Lucunya, mereka tetap belajar dari... konten.
Hanya medianya yang berubah.
Dulu membaca lima ratus halaman dianggap melelahkan.
Sekarang menonton lima ratus video pendek dianggap belajar.
Otak kita berubah seperti popcorn.
Mekar cepat.
Lalu gosong.
Padahal Chekhov sendiri adalah seorang penulis.
Bayangkan ironi ini.
Kalau benar ia berkata jangan mencari makna hidup di buku,
berarti beliau menghabiskan hidup menulis sesuatu yang katanya jangan terlalu
dipercaya.
Itu seperti koki berkata,
"Jangan terlalu sering makan."
Atau montir berkata,
"Mobil itu sebenarnya merepotkan. Jalan kaki
saja."
Atau penjual payung berkata,
"Hujan itu sehat."
Ada paradoks yang indah di situ.
Sesungguhnya masalahnya bukan buku.
Masalahnya adalah kita berharap buku melakukan pekerjaan
yang seharusnya kita lakukan sendiri.
Kita membaca buku tentang olahraga.
Lalu merasa lebih sehat.
Membaca buku diet.
Lalu menghadiahi diri sendiri ayam goreng karena sudah
belajar.
Membaca buku komunikasi.
Tetapi tetap menjawab pesan ibu dengan,
"Nanti ya."
Membaca buku parenting.
Padahal belum menikah.
Tidak ada yang salah.
Hanya saja bayi khayalan kita mungkin sudah sangat terdidik.
Di era digital, pengalaman hidup sering kalah oleh
dokumentasi pengalaman hidup.
Orang naik gunung.
Bukan menikmati matahari terbit.
Melainkan mencari sinyal.
Begitu sampai puncak, kalimat pertama bukan,
"Masya Allah, indah sekali."
Tetapi,
"Wi-Fi ada nggak?"
Kalau tidak ada sinyal, pendaki itu mendadak mengalami
krisis eksistensial.
Bagaimana mungkin matahari terbit kalau tidak bisa diunggah ke Instagram?
Mungkin itulah sebabnya kutipan semacam ini begitu laris.
Ia menawarkan obat sederhana untuk penyakit zaman.
"Keluarlah."
"Hiduplah."
"Rasakan."
Kalimat yang terdengar revolusioner, padahal dulu nenek kita
menyebutnya,
"Main di luar."
Tanpa seminar.
Tanpa podcast.
Tanpa sertifikat elektronik.
Namun, jangan buru-buru membuang buku.
Sebab pengalaman tanpa refleksi sering hanya menjadi
kumpulan kejadian.
Sebaliknya, membaca tanpa pengalaman hanya menghasilkan
koleksi kutipan.
Yang satu membuat kita sering tersandung.
Yang lain membuat kita pandai mengutip orang yang
tersandung.
Keduanya sama-sama lucu.
Barangkali kehidupan memang seperti membuat teh.
Air adalah pengalaman.
Daun teh adalah bacaan.
Kalau hanya air, hambar.
Kalau hanya daun teh, pahit.
Kalau dicampur dengan tepat, barulah muncul sesuatu yang
layak dinikmati.
Begitu pula manusia.
Kita membaca agar tidak mengulang semua kesalahan orang
lain.
Kita mengalami hidup agar tahu mengapa orang-orang menulis buku tentang kesalahan itu.
Jadi, apakah Chekhov benar-benar mengucapkan kutipan viral
tersebut?
Mungkin tidak.
Tetapi ada pelajaran yang jauh lebih penting.
Sebelum membagikan kutipan bijak, pastikan dulu sumbernya.
Dan setelah selesai memeriksa sumbernya...
...matikan sebentar ponselmu.
Keluar rumah.
Ngobrol dengan tetangga.
Main bersama anak.
Peluk orang tua.
Minum kopi tanpa memotretnya.
Lalu pulang dan baca buku lagi.
Karena ternyata hidup dan buku bukan musuh.
Yang sering bermusuhan hanyalah kita dengan deadline membaca
yang sudah diperpanjang sejak tahun lalu.
abah-arul.blogspot.com. Agustus 2026




