Ketika Tuhan Diajak Kampanye
Ada sebuah kutipan yang konon berasal dari Leo Tolstoy:
“Jangan pernah lupakan ini, anakku! Mereka yang menggunakan
agama untuk tujuan-tujuan duniawi adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak
beriman.”
Kalimat ini terdengar seperti nasihat seorang ayah kepada
anaknya. Tetapi kalau dibaca di zaman sekarang, rasanya seperti nasihat seorang
kakek kepada cucunya yang baru pulang dari media sosial dengan membawa 47
tangkapan layar, 13 video ceramah, dan satu keyakinan bahwa dirinya sudah
memahami seluruh persoalan dunia.
Tolstoy seolah berkata: “Nak, hati-hati. Tidak semua
orang yang membawa nama Tuhan sedang mencari Tuhan. Sebagian sedang mencari
jabatan.”
Dan ini memang masalah yang menarik.
Sebab manusia mempunyai bakat luar biasa untuk mengubah
sesuatu yang sakral menjadi alat untuk memperoleh sesuatu yang sangat profan.
Doa bisa menjadi slogan. Kesalehan bisa menjadi branding. Ayat bisa menjadi
baliho. Jubah bisa menjadi kostum kampanye. Bahkan Tuhan, dalam keadaan
tertentu, bisa mendapat pekerjaan tambahan sebagai konsultan politik.
Padahal, kalau Tuhan memang Mahakuasa, sepertinya Ia tidak
membutuhkan tim sukses.
Ketika Agama Mendadak Punya Target Elektoral
Agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk menundukkan
ego.
Politik, dalam bentuknya yang sehat, seharusnya mengajarkan
manusia mengelola kepentingan bersama.
Masalah muncul ketika ego masuk ke dalam agama, lalu
kepentingan politik masuk melalui pintu belakang.
Tiba-tiba semuanya menjadi menarik.
Orang yang kemarin tidak pernah menyapa tetangganya mendadak
sangat peduli pada “umat”.
Orang yang tidak pernah terlihat mengurus fakir miskin
mendadak berbicara panjang tentang moralitas.
Orang yang selama ini hidup nyaman di atas penderitaan orang
lain tiba-tiba menjelaskan bahwa semua yang terjadi adalah “ujian dari Tuhan”.
Yang lebih ajaib lagi: ketika pemilu tiba, orang-orang yang
biasanya mengingatkan bahwa dunia ini sementara mendadak sangat bersemangat
mempertahankan kursi duniawi.
Kursi memang unik.
Duduk di atasnya lima tahun bisa membuat seseorang lupa
bahwa pada akhirnya semua manusia akan berdiri di hadapan Tuhan—tanpa kursi,
tanpa podium, tanpa mikrofon.
Tolstoy dan Agama yang Tidak Mau Menjadi Alat Kekuasaan
Kritik Tolstoy terhadap agama institusional bukanlah sekadar
kritik terhadap ritual atau lembaga agama. Ia justru sedang mempertanyakan
sesuatu yang lebih mendasar:
Apa gunanya agama jika ia tidak membuat manusia menjadi
lebih manusiawi?
Tolstoy melihat agama sebagai persoalan moral. Iman harus
mengubah cara manusia hidup, bukan sekadar mengubah cara manusia berbicara.
Sebab seseorang bisa sangat fasih berbicara tentang Tuhan,
tetapi tetap tega menindas manusia.
Ia bisa hafal banyak ayat, tetapi tidak hafal nama
tetangganya yang sedang kesulitan.
Ia bisa menangis ketika berdoa, tetapi membuat orang lain
menangis ketika mengambil keputusan.
Ini paradoks yang cukup menggelikan.
Air mata bisa begitu religius ketika keluar dari mata
sendiri, tetapi penderitaan orang lain dianggap sebagai “konsekuensi”.
Barangkali inilah salah satu penyakit manusia: kita ingin
Tuhan menilai hati kita, tetapi kita ingin Tuhan menilai musuh kita berdasarkan
kesalahan mereka.
Kesalehan sebagai Kostum
Ada kesalehan yang tumbuh dari dalam.
Ada pula kesalehan yang tumbuh karena kamera menyala.
Perbedaannya kadang sangat tipis.
Ketika tidak ada kamera, orang yang tulus tetap berbuat
baik.
Ketika kamera menyala, orang yang mengejar citra mulai
mencari sudut terbaik.
Di zaman media sosial, kesalehan bahkan bisa memiliki
statistik.
Jumlah pengikut.
Jumlah komentar.
Jumlah tanda suka.
Jumlah orang yang mengatakan, “Masyaallah.”
Akhirnya manusia menghadapi persoalan baru: bukan lagi “Apakah
aku benar-benar baik?”, tetapi “Apakah orang mengira aku baik?”
Ini dua pertanyaan yang sangat berbeda.
Yang pertama menyangkut hati.
Yang kedua menyangkut algoritma.
Dan algoritma, sejauh yang kita tahu, tidak mempunyai
timbangan amal.
Tuhan Tidak Perlu Dipinjamkan untuk Kepentingan Kita
Ada sesuatu yang lucu sekaligus berbahaya dalam politik
identitas keagamaan: manusia sering berbicara seolah-olah mereka memiliki nomor
telepon langsung ke Tuhan.
“Ini kehendak Tuhan.”
“Ini pilihan Tuhan.”
“Tuhan pasti berada di pihak kami.”
Masalahnya, lawan mereka biasanya mengatakan hal yang sama.
Jadilah dua kelompok manusia saling berteriak:
“Tuhan bersama kami!”
Dan dari kejauhan, kita bisa membayangkan Tuhan berkata:
“Sebentar. Saya sedang membaca berkasnya dulu.”
Kesombongan religius muncul ketika manusia menganggap
kehendak Tuhan identik dengan kehendak kelompoknya sendiri.
Padahal iman mestinya membuat manusia lebih rendah hati.
Semakin dekat seseorang kepada Yang Mahatinggi, semestinya
semakin sadar bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.
Ironisnya, kadang justru sebaliknya.
Baru mendapat jabatan kecil, bicaranya sudah seperti
pemegang mandat langit.
Iman yang Tidak Berisik
Tolstoy mengingatkan kita pada sesuatu yang sebenarnya
sederhana: iman sejati tidak selalu berisik.
Ia tidak membutuhkan spanduk berukuran tiga kali lima.
Ia tidak selalu membutuhkan pengeras suara.
Ia tidak harus membuat orang lain merasa lebih rendah agar
dirinya tampak lebih tinggi.
Iman sejati mungkin justru terlihat dalam hal-hal kecil:
menolong tanpa diumumkan,
memaafkan tanpa konferensi pers,
jujur ketika tidak ada yang mengawasi,
berlaku adil ketika mempunyai kekuasaan,
dan tetap manusiawi kepada orang yang berbeda keyakinan.
Sebab sangat mudah mencintai orang yang sepakat dengan kita.
Yang sulit adalah tetap adil kepada orang yang tidak kita
sukai.
Di situlah agama berhenti menjadi identitas dan mulai
menjadi akhlak.
Indonesia dan Seni Membawa Tuhan ke TPS
Indonesia tentu tidak kebal dari persoalan ini.
Kita hidup dalam masyarakat yang religius sekaligus sangat
politis. Agama memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial, sehingga
simbol-simbol keagamaan mempunyai daya mobilisasi yang besar.
Dan manusia, sebagaimana kita tahu, sangat kreatif kalau
sudah menemukan sesuatu yang bisa dimobilisasi.
Maka simbol agama dapat masuk ke berbagai arena: pidato,
kampanye, media sosial, baliho, debat, bahkan komentar Facebook yang panjangnya
lebih panjang daripada skripsi.
Yang perlu kita waspadai bukan agamanya.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika agama dipakai sebagai
kendaraan untuk kepentingan yang tidak lagi berhubungan dengan nilai agama itu
sendiri.
Agama seharusnya menjadi kompas.
Bukan bensin untuk kendaraan politik.
Karena kalau agama dijadikan bensin, yang terbakar bukan
hanya kendaraan.
Masyarakat juga bisa ikut terbakar.
Jangan Mudah Terkesan oleh Orang yang Membawa Nama Tuhan
Kita perlu belajar membedakan antara orang yang berbicara
atas nama Tuhan dan orang yang hidup berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya
berasal dari Tuhan.
Keduanya tidak selalu sama.
Orang pertama mungkin sangat pandai berbicara.
Orang kedua mungkin tidak banyak bicara tetapi hidupnya
membuat orang lain merasa aman.
Orang pertama mengajak kita membenci musuh.
Orang kedua mengajarkan keadilan.
Orang pertama meminta kita membela kelompok.
Orang kedua meminta kita membela kebenaran, bahkan ketika
kebenaran itu merugikan kelompok sendiri.
Dan mungkin di situlah ujian iman yang sebenarnya.
Sebab membela kelompok sendiri itu mudah.
Membela kebenaran ketika kelompok sendiri salah—nah, ini
sudah masuk kelas lanjutan.
Nasihat untuk “Anakku”
Mungkin itulah makna paling menarik dari frasa “mon
fils”—anakku.
Seolah-olah Tolstoy tidak sedang berpidato di depan massa.
Ia sedang berbicara kepada satu manusia.
Kepada seseorang yang kelak harus menentukan sendiri apa
yang akan dilakukan dengan imannya.
Nasihatnya kira-kira begini:
Jangan tertipu oleh orang yang terlalu sering menggunakan
Tuhan untuk memenangkan kepentingannya sendiri.
Lihat buahnya.
Apakah kehadirannya membuat orang lebih adil?
Lebih penyayang?
Lebih jujur?
Lebih rendah hati?
Lebih peduli kepada yang lemah?
Ataukah justru membuat manusia saling membenci, saling
mencurigai, dan saling merasa paling suci?
Sebab kalau hasil akhirnya adalah kebencian, kesombongan,
kekerasan, dan perebutan kekuasaan, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan
bertanya:
Jangan-jangan yang sedang dibela bukan Tuhan, melainkan
ego kita sendiri yang kebetulan memakai pakaian agama.
Penutup: Ketika Tuhan Tidak Perlu Dibela oleh Kesombongan
Kita
Pada akhirnya, agama tidak membutuhkan manusia untuk
membuatnya terlihat besar.
Yang membutuhkan pembenaran terus-menerus justru ego
manusia.
Iman sejati mungkin tidak spektakuler.
Ia tidak selalu viral.
Ia tidak selalu punya pengikut.
Ia bahkan mungkin tidak memiliki akun media sosial.
Tetapi ia hadir ketika seseorang memilih jujur meskipun bisa
berbohong.
Memilih adil meskipun bisa mengambil keuntungan.
Memilih memaafkan meskipun punya kesempatan membalas.
Dan memilih menolong meskipun tidak ada kamera.
Itulah sebabnya pesan Tolstoy terasa begitu mengganggu
sekaligus menyegarkan.
Ia mengajak kita melakukan pemeriksaan sederhana terhadap
diri sendiri:
Ketika aku menyebut nama Tuhan, apakah aku sedang mencari
Tuhan—atau sedang mencari keuntungan dengan membawa nama-Nya?
Pertanyaan ini jauh lebih berat daripada sekadar mengetahui
siapa yang paling saleh.
Karena ternyata persoalan terbesar dalam beragama bukan
hanya membedakan antara iman dan kekafiran, tetapi juga membedakan
antara iman dan ego yang sedang menyamar sebagai iman.
Dan ego adalah aktor yang luar biasa.
Ia bahkan bisa memakai peci, jubah, sorban, jas, dasi, atau
ayat sebagai kostum.
Yang sulit adalah membuatnya benar-benar turun dari
panggung.
Mungkin itulah pekerjaan agama yang paling sunyi sekaligus
paling berat:
bukan memenangkan Tuhan untuk pihak kita, melainkan
memenangkan diri kita sendiri dari kesombongan ketika merasa sudah berada di
pihak Tuhan.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.