Rabu, 19 Agustus 2026

Agama, Kekuasaan, dan Iman Sejati

Ketika Tuhan Diajak Kampanye

Ada sebuah kutipan yang konon berasal dari Leo Tolstoy:

“Jangan pernah lupakan ini, anakku! Mereka yang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan duniawi adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak beriman.”

Kalimat ini terdengar seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya. Tetapi kalau dibaca di zaman sekarang, rasanya seperti nasihat seorang kakek kepada cucunya yang baru pulang dari media sosial dengan membawa 47 tangkapan layar, 13 video ceramah, dan satu keyakinan bahwa dirinya sudah memahami seluruh persoalan dunia.

Tolstoy seolah berkata: “Nak, hati-hati. Tidak semua orang yang membawa nama Tuhan sedang mencari Tuhan. Sebagian sedang mencari jabatan.”

Dan ini memang masalah yang menarik.

Sebab manusia mempunyai bakat luar biasa untuk mengubah sesuatu yang sakral menjadi alat untuk memperoleh sesuatu yang sangat profan. Doa bisa menjadi slogan. Kesalehan bisa menjadi branding. Ayat bisa menjadi baliho. Jubah bisa menjadi kostum kampanye. Bahkan Tuhan, dalam keadaan tertentu, bisa mendapat pekerjaan tambahan sebagai konsultan politik.

Padahal, kalau Tuhan memang Mahakuasa, sepertinya Ia tidak membutuhkan tim sukses.


Ketika Agama Mendadak Punya Target Elektoral

Agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk menundukkan ego.

Politik, dalam bentuknya yang sehat, seharusnya mengajarkan manusia mengelola kepentingan bersama.

Masalah muncul ketika ego masuk ke dalam agama, lalu kepentingan politik masuk melalui pintu belakang.

Tiba-tiba semuanya menjadi menarik.

Orang yang kemarin tidak pernah menyapa tetangganya mendadak sangat peduli pada “umat”.

Orang yang tidak pernah terlihat mengurus fakir miskin mendadak berbicara panjang tentang moralitas.

Orang yang selama ini hidup nyaman di atas penderitaan orang lain tiba-tiba menjelaskan bahwa semua yang terjadi adalah “ujian dari Tuhan”.

Yang lebih ajaib lagi: ketika pemilu tiba, orang-orang yang biasanya mengingatkan bahwa dunia ini sementara mendadak sangat bersemangat mempertahankan kursi duniawi.

Kursi memang unik.

Duduk di atasnya lima tahun bisa membuat seseorang lupa bahwa pada akhirnya semua manusia akan berdiri di hadapan Tuhan—tanpa kursi, tanpa podium, tanpa mikrofon.


Tolstoy dan Agama yang Tidak Mau Menjadi Alat Kekuasaan

Kritik Tolstoy terhadap agama institusional bukanlah sekadar kritik terhadap ritual atau lembaga agama. Ia justru sedang mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar:

Apa gunanya agama jika ia tidak membuat manusia menjadi lebih manusiawi?

Tolstoy melihat agama sebagai persoalan moral. Iman harus mengubah cara manusia hidup, bukan sekadar mengubah cara manusia berbicara.

Sebab seseorang bisa sangat fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap tega menindas manusia.

Ia bisa hafal banyak ayat, tetapi tidak hafal nama tetangganya yang sedang kesulitan.

Ia bisa menangis ketika berdoa, tetapi membuat orang lain menangis ketika mengambil keputusan.

Ini paradoks yang cukup menggelikan.

Air mata bisa begitu religius ketika keluar dari mata sendiri, tetapi penderitaan orang lain dianggap sebagai “konsekuensi”.

Barangkali inilah salah satu penyakit manusia: kita ingin Tuhan menilai hati kita, tetapi kita ingin Tuhan menilai musuh kita berdasarkan kesalahan mereka.


Kesalehan sebagai Kostum

Ada kesalehan yang tumbuh dari dalam.

Ada pula kesalehan yang tumbuh karena kamera menyala.

Perbedaannya kadang sangat tipis.

Ketika tidak ada kamera, orang yang tulus tetap berbuat baik.

Ketika kamera menyala, orang yang mengejar citra mulai mencari sudut terbaik.

Di zaman media sosial, kesalehan bahkan bisa memiliki statistik.

Jumlah pengikut.

Jumlah komentar.

Jumlah tanda suka.

Jumlah orang yang mengatakan, “Masyaallah.”

Akhirnya manusia menghadapi persoalan baru: bukan lagi “Apakah aku benar-benar baik?”, tetapi “Apakah orang mengira aku baik?”

Ini dua pertanyaan yang sangat berbeda.

Yang pertama menyangkut hati.

Yang kedua menyangkut algoritma.

Dan algoritma, sejauh yang kita tahu, tidak mempunyai timbangan amal.


Tuhan Tidak Perlu Dipinjamkan untuk Kepentingan Kita

Ada sesuatu yang lucu sekaligus berbahaya dalam politik identitas keagamaan: manusia sering berbicara seolah-olah mereka memiliki nomor telepon langsung ke Tuhan.

“Ini kehendak Tuhan.”

“Ini pilihan Tuhan.”

“Tuhan pasti berada di pihak kami.”

Masalahnya, lawan mereka biasanya mengatakan hal yang sama.

Jadilah dua kelompok manusia saling berteriak:

“Tuhan bersama kami!”

Dan dari kejauhan, kita bisa membayangkan Tuhan berkata:

“Sebentar. Saya sedang membaca berkasnya dulu.”

Kesombongan religius muncul ketika manusia menganggap kehendak Tuhan identik dengan kehendak kelompoknya sendiri.

Padahal iman mestinya membuat manusia lebih rendah hati.

Semakin dekat seseorang kepada Yang Mahatinggi, semestinya semakin sadar bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.

Ironisnya, kadang justru sebaliknya.

Baru mendapat jabatan kecil, bicaranya sudah seperti pemegang mandat langit.


Iman yang Tidak Berisik

Tolstoy mengingatkan kita pada sesuatu yang sebenarnya sederhana: iman sejati tidak selalu berisik.

Ia tidak membutuhkan spanduk berukuran tiga kali lima.

Ia tidak selalu membutuhkan pengeras suara.

Ia tidak harus membuat orang lain merasa lebih rendah agar dirinya tampak lebih tinggi.

Iman sejati mungkin justru terlihat dalam hal-hal kecil:

menolong tanpa diumumkan,

memaafkan tanpa konferensi pers,

jujur ketika tidak ada yang mengawasi,

berlaku adil ketika mempunyai kekuasaan,

dan tetap manusiawi kepada orang yang berbeda keyakinan.

Sebab sangat mudah mencintai orang yang sepakat dengan kita.

Yang sulit adalah tetap adil kepada orang yang tidak kita sukai.

Di situlah agama berhenti menjadi identitas dan mulai menjadi akhlak.


Indonesia dan Seni Membawa Tuhan ke TPS

Indonesia tentu tidak kebal dari persoalan ini.

Kita hidup dalam masyarakat yang religius sekaligus sangat politis. Agama memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial, sehingga simbol-simbol keagamaan mempunyai daya mobilisasi yang besar.

Dan manusia, sebagaimana kita tahu, sangat kreatif kalau sudah menemukan sesuatu yang bisa dimobilisasi.

Maka simbol agama dapat masuk ke berbagai arena: pidato, kampanye, media sosial, baliho, debat, bahkan komentar Facebook yang panjangnya lebih panjang daripada skripsi.

Yang perlu kita waspadai bukan agamanya.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika agama dipakai sebagai kendaraan untuk kepentingan yang tidak lagi berhubungan dengan nilai agama itu sendiri.

Agama seharusnya menjadi kompas.

Bukan bensin untuk kendaraan politik.

Karena kalau agama dijadikan bensin, yang terbakar bukan hanya kendaraan.

Masyarakat juga bisa ikut terbakar.


Jangan Mudah Terkesan oleh Orang yang Membawa Nama Tuhan

Kita perlu belajar membedakan antara orang yang berbicara atas nama Tuhan dan orang yang hidup berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya berasal dari Tuhan.

Keduanya tidak selalu sama.

Orang pertama mungkin sangat pandai berbicara.

Orang kedua mungkin tidak banyak bicara tetapi hidupnya membuat orang lain merasa aman.

Orang pertama mengajak kita membenci musuh.

Orang kedua mengajarkan keadilan.

Orang pertama meminta kita membela kelompok.

Orang kedua meminta kita membela kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu merugikan kelompok sendiri.

Dan mungkin di situlah ujian iman yang sebenarnya.

Sebab membela kelompok sendiri itu mudah.

Membela kebenaran ketika kelompok sendiri salah—nah, ini sudah masuk kelas lanjutan.


Nasihat untuk “Anakku”

Mungkin itulah makna paling menarik dari frasa “mon fils”—anakku.

Seolah-olah Tolstoy tidak sedang berpidato di depan massa.

Ia sedang berbicara kepada satu manusia.

Kepada seseorang yang kelak harus menentukan sendiri apa yang akan dilakukan dengan imannya.

Nasihatnya kira-kira begini:

Jangan tertipu oleh orang yang terlalu sering menggunakan Tuhan untuk memenangkan kepentingannya sendiri.

Lihat buahnya.

Apakah kehadirannya membuat orang lebih adil?

Lebih penyayang?

Lebih jujur?

Lebih rendah hati?

Lebih peduli kepada yang lemah?

Ataukah justru membuat manusia saling membenci, saling mencurigai, dan saling merasa paling suci?

Sebab kalau hasil akhirnya adalah kebencian, kesombongan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Jangan-jangan yang sedang dibela bukan Tuhan, melainkan ego kita sendiri yang kebetulan memakai pakaian agama.


Penutup: Ketika Tuhan Tidak Perlu Dibela oleh Kesombongan Kita

Pada akhirnya, agama tidak membutuhkan manusia untuk membuatnya terlihat besar.

Yang membutuhkan pembenaran terus-menerus justru ego manusia.

Iman sejati mungkin tidak spektakuler.

Ia tidak selalu viral.

Ia tidak selalu punya pengikut.

Ia bahkan mungkin tidak memiliki akun media sosial.

Tetapi ia hadir ketika seseorang memilih jujur meskipun bisa berbohong.

Memilih adil meskipun bisa mengambil keuntungan.

Memilih memaafkan meskipun punya kesempatan membalas.

Dan memilih menolong meskipun tidak ada kamera.

Itulah sebabnya pesan Tolstoy terasa begitu mengganggu sekaligus menyegarkan.

Ia mengajak kita melakukan pemeriksaan sederhana terhadap diri sendiri:

Ketika aku menyebut nama Tuhan, apakah aku sedang mencari Tuhan—atau sedang mencari keuntungan dengan membawa nama-Nya?

Pertanyaan ini jauh lebih berat daripada sekadar mengetahui siapa yang paling saleh.

Karena ternyata persoalan terbesar dalam beragama bukan hanya membedakan antara iman dan kekafiran, tetapi juga membedakan antara iman dan ego yang sedang menyamar sebagai iman.

Dan ego adalah aktor yang luar biasa.

Ia bahkan bisa memakai peci, jubah, sorban, jas, dasi, atau ayat sebagai kostum.

Yang sulit adalah membuatnya benar-benar turun dari panggung.

Mungkin itulah pekerjaan agama yang paling sunyi sekaligus paling berat:

bukan memenangkan Tuhan untuk pihak kita, melainkan memenangkan diri kita sendiri dari kesombongan ketika merasa sudah berada di pihak Tuhan.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.