Ada sebuah penyakit modern yang gejalanya cukup mudah dikenali: seseorang memperoleh gelar sarjana, kemudian merasa memperoleh sertifikat otomatis sebagai manusia baik.
Begitu mendapat gelar master, ia naik level lagi: sekarang
bukan hanya pintar, tetapi juga merasa pendapatnya wajib didengar.
Setelah doktor, keadaan menjadi lebih serius. Ia mulai
berbicara dengan kalimat panjang, memakai istilah asing, dan kalau sedang marah
menyebut orang lain sebagai “kurang literasi”. Padahal persoalan yang sedang
diperdebatkan sebenarnya sederhana: siapa yang mengambil uang kas?
Di sinilah peringatan yang dikaitkan dengan Jean-Jacques
Rousseau terasa seperti tamparan yang datang terlambat beberapa abad: pengetahuan
tidak otomatis melahirkan moralitas.
Otak bisa sangat cerdas, sementara hati tetap bisa menjadi
pegawai honorer keburukan.
Gelar Tidak Termasuk Paket Akhlak
Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menyukai gelar.
Nama tanpa gelar terasa seperti nasi goreng tanpa kecap:
sebenarnya tetap bisa dimakan, tetapi dianggap kurang lengkap.
Maka nama seseorang pun sering dihiasi berbagai singkatan.
Dr., Prof., M.M., Ph.D., M.H., M.T., dan seterusnya. Semakin panjang gelarnya,
semakin besar pula harapan masyarakat bahwa orang tersebut pasti tahu apa yang
sedang ia lakukan.
Masalahnya, gelar akademik sebenarnya hanya menjelaskan apa
yang dipelajari seseorang, bukan apa yang akan dilakukan seseorang
dengan pengetahuannya.
Seorang ahli hukum bisa menggunakan hukum untuk menegakkan
keadilan.
Tetapi ia juga bisa menggunakan kecerdasannya untuk mencari
celah agar ketidakadilan tampak legal.
Seorang ekonom bisa membantu negara mengelola kekayaan.
Tetapi ia juga bisa menjadi sangat pintar menjelaskan
mengapa kekayaan negara tiba-tiba menguap ke rekening yang tidak pernah masuk
dalam kurikulum ekonomi.
Seorang ahli komunikasi dapat menggunakan kemampuannya untuk
menyampaikan kebenaran.
Atau ia dapat menggunakan kemampuan yang sama untuk membuat
kebohongan terdengar begitu elegan sehingga orang-orang malah mengira mereka
sedang mengikuti seminar.
Jadi, ilmu adalah alat.
Dan seperti semua alat, ia tergantung pada tangan yang
memegangnya.
Pisau di tangan koki menghasilkan rendang.
Pisau di tangan orang yang salah menghasilkan laporan
polisi.
Rousseau dan Kecurigaan kepada Kemajuan
Dalam Discours sur les sciences et les arts (1750),
Rousseau mengajukan pertanyaan yang sampai sekarang masih membuat manusia
modern gelisah: apakah kemajuan ilmu pengetahuan dan seni benar-benar membuat
manusia menjadi lebih baik?
Pertanyaan ini sangat tidak nyaman.
Sebab kita senang sekali menganggap bahwa semakin maju
teknologi, semakin maju pula manusia.
Kita punya kecerdasan buatan, tetapi masih kesulitan membuat
kecerdasan manusia berhenti menyebarkan hoaks.
Kita bisa mengirim manusia ke luar angkasa, tetapi masih
belum berhasil mengirim ego ke tempat sampah.
Kita mampu membuat mobil yang bisa berjalan tanpa sopir,
tetapi dalam rapat organisasi, hampir semua orang masih ingin menjadi sopir.
Rousseau bukan sekadar berkata, “Ilmu itu buruk.”
Persoalannya lebih subtil.
Kemajuan intelektual tidak identik dengan kemajuan moral.
Manusia dapat mengetahui semakin banyak hal tentang alam
semesta sambil semakin sedikit mengetahui cara memperlakukan tetangganya.
Kita bisa memahami struktur atom, tetapi tidak memahami
mengapa tetangga marah ketika kita memutar musik keras pukul dua pagi.
Kita bisa membahas demokrasi dengan sangat akademis, tetapi
tetap tersinggung ketika orang lain memilih calon yang berbeda.
Inilah ironi manusia modern: pengetahuan kita berkembang
secara eksponensial, sementara kedewasaan kita kadang masih menggunakan sistem
operasi tahun 1998.
Ketika Teknokrat Dianggap Malaikat
Masalah menjadi semakin menarik ketika masuk ke dunia
politik.
Ada anggapan bahwa seorang teknokrat pasti bersih.
Mengapa?
Karena ia lulusan universitas ternama.
Logikanya kurang lebih begini:
“Dia doktor.”
“Berarti pintar.”
“Dia pintar.”
“Berarti kompeten.”
“Dia kompeten.”
“Berarti jujur.”
Nah, di sinilah matematika sosial kita mulai mengalami
error.
Pintar tidak sama dengan jujur.
Bahkan, dalam beberapa keadaan, orang pintar yang tidak
jujur justru lebih berbahaya daripada orang bodoh yang tidak jujur.
Orang bodoh mungkin hanya bisa melakukan kesalahan.
Orang pintar bisa membuat kesalahan menjadi strategi.
Orang biasa mungkin mencuri.
Orang yang sangat terdidik dapat menyusun teori tentang
mengapa mengambil sesuatu yang bukan haknya sebenarnya merupakan “optimalisasi
sumber daya”.
Korupsi pun bisa naik kelas.
Dulu disebut mencuri.
Sekarang bisa disebut conflict of interest.
Dulu disebut nepotisme.
Sekarang mungkin disebut strategic networking.
Dulu disebut bagi-bagi jabatan.
Sekarang disebut talent placement.
Kejahatan ternyata tidak selalu hilang setelah seseorang
memperoleh pendidikan tinggi.
Kadang ia hanya memperoleh kosakata baru.
Otak Memerlukan Rem
Ilmu pengetahuan memberi manusia kemampuan.
Etika menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan.
Bayangkan sebuah mobil sport dengan mesin luar biasa.
Tenaganya besar. Kecepatannya tinggi. Teknologinya canggih.
Tetapi remnya tidak berfungsi.
Apakah mobil itu mengagumkan?
Tentu.
Apakah kita ingin menaikinya?
Silakan Anda duluan.
Begitu pula manusia.
Kecerdasan adalah mesin.
Moralitas adalah rem.
Empati adalah setir.
Dan kebijaksanaan adalah kemampuan mengetahui kapan
sebaiknya tidak menginjak gas.
Masalah pendidikan modern sering kali terlalu sibuk
memperbesar mesin.
Anak diajari bagaimana mendapatkan nilai tinggi, memenangkan
kompetisi, masuk universitas bergengsi, memperoleh pekerjaan bagus, mendapatkan
jabatan, lalu menghasilkan uang sebanyak mungkin.
Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting sering terlupakan:
“Setelah kamu menjadi hebat, kamu akan menjadi orang
seperti apa?”
Sebab menjadi pintar itu relatif mudah.
Menjadi baik jauh lebih rumit.
Untuk menjadi pintar kita membutuhkan buku.
Untuk menjadi baik kita membutuhkan latihan melawan diri
sendiri.
Dan latihan melawan diri sendiri ini sayangnya tidak
memiliki wisuda.
Tidak ada toga.
Tidak ada piagam.
Tidak ada foto yang bisa dipasang di LinkedIn.
Pendidikan yang Salah Arah
Pendidikan seharusnya bukan hanya proses memindahkan
informasi dari buku ke kepala.
Kalau begitu, komputer jauh lebih unggul daripada manusia.
Komputer tidak perlu kuliah empat tahun untuk mengingat
jutaan informasi.
Pendidikan seharusnya membuat manusia mampu bertanya:
“Apakah yang saya lakukan benar?”
“Apakah keputusan saya merugikan orang lain?”
“Apakah saya menggunakan kecerdasan saya untuk membantu atau
justru memanipulasi?”
“Apakah saya mengejar kebenaran atau hanya mencari
pembenaran?”
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Sebab manusia terpelajar memiliki kemampuan luar biasa untuk
membenarkan dirinya sendiri.
Orang yang tidak punya argumen biasanya berkata:
“Saya benar karena saya bilang begitu.”
Orang yang punya pendidikan lebih tinggi mungkin berkata:
“Berdasarkan perspektif epistemologis, hermeneutis, dan
multidimensional, posisi saya secara paradigmatik dapat dipertanggungjawabkan.”
Artinya tetap sama:
“Saya benar karena saya bilang begitu.”
Hanya saja sekarang lebih mahal biaya konsultasinya.
Jangan Takut kepada Orang Pintar
Karena itu, pesan Rousseau tidak seharusnya membuat kita
membenci ilmu.
Justru sebaliknya.
Kita perlu lebih banyak ilmu.
Tetapi ilmu itu harus ditemani karakter.
Kita membutuhkan dokter yang pintar sekaligus berbelas
kasih.
Hakim yang menguasai hukum sekaligus memiliki integritas.
Insinyur yang canggih sekaligus bertanggung jawab.
Politisi yang memahami ekonomi sekaligus tidak menganggap
uang publik sebagai oleh-oleh perjalanan dinas.
Guru yang menguasai ilmu sekaligus mampu memberi teladan.
Dan tentu saja, pengguna media sosial yang mampu membedakan
antara kutipan filsuf dan kutipan yang dibuat seseorang pada pukul dua pagi
sambil minum kopi.
Sebab masalah terbesar bukanlah ketika manusia tidak
mengetahui sesuatu.
Masalah yang lebih berbahaya adalah ketika manusia mengetahui
sesuatu tetapi tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya dengan benar.
Akhirnya, Gelar Hanya Menjelaskan Pendidikan
Pada akhirnya, gelar akademik adalah pencapaian yang layak
dihormati.
Ilmu pengetahuan adalah salah satu kekuatan terbesar yang
pernah dimiliki manusia.
Tetapi keduanya bukan sertifikat kesucian.
Seorang profesor tetap bisa sombong.
Seorang doktor tetap bisa berbohong.
Seorang teknokrat tetap bisa korup.
Seorang filsuf tetap bisa menyebalkan.
Dan seseorang yang tidak punya gelar akademik pun bisa
memiliki kebijaksanaan yang membuat para profesor terdiam.
Maka barangkali ukuran manusia bukanlah seberapa banyak yang
ia ketahui, melainkan apa yang ia lakukan dengan apa yang ia ketahui.
Sebab ilmu tanpa nurani bisa menjadi senjata.
Kecerdasan tanpa etika bisa menjadi alat manipulasi.
Pendidikan tanpa karakter hanya menghasilkan manusia yang
semakin mahir menjelaskan kesalahannya sendiri.
Dan mungkin itulah ironi terbesar peradaban:
kita telah berhasil membuat manusia semakin pintar,
tetapi tugas membuat manusia menjadi lebih baik ternyata masih dalam tahap
penelitian.
Sayangnya, penelitian itu belum punya jurnal peer-reviewed.
Ia hanya punya satu laboratorium tua bernama nurani.
Dan di laboratorium itu, gelar akademik tidak banyak
membantu.
Yang diuji bukan ijazah.
Yang diuji adalah hati.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.