Ada orang yang merasa hidupnya belum lengkap kalau sehari saja tidak bertemu manusia. Pagi bertemu tetangga, siang bertemu rekan kerja, sore bertemu teman, malam masuk grup WhatsApp, lalu sebelum tidur masih sempat membaca komentar orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Arthur Schopenhauer mungkin akan melihat semua itu sambil
mengelus kumis dan berkata, “Kalian ini sebenarnya sedang mencari kebahagiaan
atau sedang mengumpulkan penderitaan?”
Sebab bagi Schopenhauer, hidup yang baik justru cenderung
sederhana, tenang, dan jauh dari terlalu banyak gangguan. Kalau seseorang
benar-benar memiliki kedalaman batin, kesendirian bukan lagi musuh. Ia malah
menjadi semacam rumah pribadi yang tidak perlu direnovasi setiap kali ada tamu
datang.
Dan di zaman sekarang, gagasan ini terdengar hampir seperti
pemberontakan.
Kita hidup dalam zaman ketika “sendirian” dianggap sebagai
masalah yang harus segera diperbaiki. Baru duduk sendirian lima menit, tangan
langsung meraba ponsel. Tidak ada pesan masuk, kita buka Instagram. Tidak ada
notifikasi, kita buka X. Tidak ada yang menarik, kita buka WhatsApp. Kalau
semuanya tetap sepi, kita mulai curiga: “Jangan-jangan saya sudah tidak
dianggap manusia?”
Schopenhauer mungkin akan tersenyum getir.
Kebahagiaan Menurut Schopenhauer: Jangan Terlalu Banyak
Minta
Schopenhauer terkenal sebagai filsuf yang agak kurang cocok
menjadi motivator seminar perusahaan.
Kalau motivator berkata, “Kejar impianmu!”
Schopenhauer mungkin menjawab, “Sebaiknya jangan terlalu
banyak kejar-kejaran. Nanti capek.”
Kalau motivator berkata, “Jangan pernah menyerah!”
Schopenhauer barangkali berkata, “Kadang menyerah pada
keinginan justru lebih sehat.”
Di balik sikap pesimistisnya terdapat gagasan yang cukup
masuk akal: manusia menderita karena selalu menginginkan sesuatu.
Kita ingin punya uang. Setelah punya uang, ingin lebih
banyak.
Kita ingin punya pasangan. Setelah punya pasangan, ingin
pasangan yang lebih memahami kita.
Kita ingin terkenal. Setelah terkenal, ingin lebih terkenal
lagi.
Kita ingin mendapatkan seribu pengikut. Setelah mendapat
seribu, kita melihat orang lain punya sepuluh ribu dan mendadak merasa hidup
kita gagal.
Begitulah manusia.
Kehendak kita seperti anak kecil di toko mainan: baru
mendapatkan satu, langsung menunjuk yang lain.
Maka kebahagiaan, menurut Schopenhauer, bukan selalu tentang
memperoleh lebih banyak. Kadang kebahagiaan justru muncul ketika kita
mengurangi keinginan.
Dengan kata lain, salah satu cara paling efektif untuk hidup
tenang adalah berhenti ikut lomba yang sebenarnya tidak pernah kita daftarkan.
Kesendirian: Bukan Hukuman, Melainkan Ruang Parkir Jiwa
Schopenhauer memberikan tempat khusus bagi kesendirian.
Menurutnya, semakin kaya kehidupan batin seseorang, semakin
ia mampu menikmati dirinya sendiri. Orang yang pikirannya penuh tidak
membutuhkan keramaian setiap saat untuk merasa hidup.
Ini cukup menarik.
Sebab di era media sosial, kita justru melihat fenomena
sebaliknya. Banyak orang takut sekali berada dalam kesunyian. Begitu suasana
sepi, ponsel dikeluarkan seperti alat bantu pernapasan.
Makan sendirian? Foto.
Minum kopi? Foto.
Jalan-jalan? Foto.
Sedih? Foto dengan caption filosofis.
Bahagia? Foto juga.
Bahkan ketika sedang menikmati kesendirian, kita merasa
perlu mengumumkannya kepada ribuan orang.
“Sedang menikmati kesendirian.”
Lalu unggah foto.
Tentu saja, setelah itu menunggu komentar.
Kesendirian macam apa ini?
Itu seperti pergi ke gunung untuk mencari ketenangan, lalu
membawa pengeras suara agar seluruh lembah tahu kita sedang bermeditasi.
Schopenhauer mungkin akan menyebutnya kegagalan spiritual
yang sangat modern.
Tetapi Jangan Salah Paham: Schopenhauer Bukan Nabi
Anti-Manusia
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Kutipan semacam ini sangat mudah disalahgunakan untuk
membenarkan sikap antisosial.
“Lihat! Schopenhauer bilang orang pintar memilih sendiri.
Berarti saya pintar karena tidak suka bertemu siapa-siapa.”
Belum tentu.
Bisa saja Anda bukan jiwa superior.
Bisa saja Anda hanya malas menghadiri reuni.
Itu dua hal yang berbeda.
Kesendirian tidak otomatis menunjukkan kecerdasan. Ada orang
yang menyendiri karena suka membaca, berpikir, berkarya, dan menikmati
kedalaman hidup. Tetapi ada juga yang menyendiri karena kecewa, takut, terluka,
atau memang tidak tahu bagaimana berhubungan dengan orang lain.
Begitu pula keramaian tidak otomatis menunjukkan kebodohan.
Ada orang yang gemar berkumpul karena memang mencintai
manusia. Ia mendapatkan energi dari percakapan, persahabatan, keluarga, dan
kerja bersama.
Maka persoalannya bukan “sendiri atau ramai”.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah kita memilihnya dengan sadar?
Atau kita sekadar mengikuti kebiasaan?
Manusia Modern dan Penyakit Bernama “Harus Terhubung”
Schopenhauer terasa semakin relevan karena zaman kita
mengalami sebuah paradoks besar: kita semakin mudah terhubung, tetapi semakin
sulit merasa tenang.
Dahulu kalau ingin mengetahui kabar seseorang, kita harus
menunggu surat.
Sekarang pesan bisa sampai dalam hitungan detik.
Masalahnya, pesan juga bisa datang dalam hitungan detik.
Dan bukan hanya pesan penting.
“Bro, udah makan?”
“Bro.”
“Bro?”
“Brooo?”
Lalu kita membuka ponsel dan menemukan 137 notifikasi.
Kita belum sempat memahami hidup sendiri, sudah harus
memahami hidup orang lain.
Ada yang menikah.
Ada yang cerai.
Ada yang kaya.
Ada yang pindah rumah.
Ada yang membeli mobil.
Ada yang sedang healing di Bali.
Ada yang sedang healing di Eropa.
Ada yang healing sambil membawa koper.
Kita akhirnya bertanya:
“Kenapa hidup saya begini-begini saja?”
Padahal lima menit sebelumnya kita baik-baik saja.
Media sosial telah membuat kita membandingkan kehidupan
nyata kita dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain.
Schopenhauer tentu tidak pernah mengenal algoritma TikTok
atau Instagram. Tetapi gagasan tentang keinginan manusia yang tak pernah puas
terasa sangat cocok untuk menjelaskan keadaan tersebut.
Kesendirian sebagai Bentuk Kemerdekaan
Ada sesuatu yang sangat berharga dalam kemampuan untuk
sendirian.
Ketika kita mampu duduk tanpa hiburan, membaca tanpa harus
mengunggah kutipan, berjalan tanpa memotret setiap pohon, dan berpikir tanpa
perlu mengetahui pendapat netizen, kita mulai mendapatkan kembali sesuatu yang
hilang: perhatian kita sendiri.
Kesendirian memberi kesempatan untuk bertanya:
Apa yang sebenarnya saya inginkan?
Apa yang benar-benar penting?
Apakah saya melakukan ini karena saya menginginkannya, atau
karena semua orang melakukannya?
Apakah saya bahagia, atau hanya terlihat bahagia?
Pertanyaan terakhir mungkin yang paling berbahaya.
Sebab zaman modern sangat pandai membuat manusia sibuk
memperbaiki tampilan kehidupannya, sementara kehidupan sebenarnya dibiarkan
berantakan di belakang layar.
Kita bisa memiliki profil yang sangat menarik dan batin yang
sedang melakukan mogok kerja.
Namun, Jangan Sampai Kesendirian Berubah Menjadi
Kesombongan
Ada satu jebakan lain.
Setelah membaca Schopenhauer, seseorang bisa pulang ke rumah
dengan keyakinan baru:
“Saya tidak membutuhkan siapa pun. Saya jiwa superior.”
Lalu ia menutup pintu, mematikan ponsel, dan merasa telah
mencapai puncak kebijaksanaan.
Padahal mungkin yang tercapai baru puncak kesombongan.
Kebijaksanaan sejati tidak membuat seseorang membenci
manusia. Ia membuat seseorang lebih mampu berhubungan dengan manusia tanpa
kehilangan dirinya.
Kita tetap membutuhkan keluarga, sahabat, tetangga, guru,
murid, pasangan, bahkan orang yang sesekali membuat kita kesal.
Karena manusia bukan pulau.
Meskipun kadang-kadang kita memang berharap beberapa orang
menjadi pulau yang letaknya sangat jauh.
Kesendirian yang sehat bukanlah melarikan diri dari semua
hubungan. Ia adalah kemampuan untuk memiliki ruang batin sendiri sehingga kita
tidak menggantungkan seluruh harga diri kepada respons orang lain.
Barangkali yang Kita Butuhkan Bukan Lebih Banyak Teman,
Melainkan Lebih Banyak Ruang
Kutipan Schopenhauer menjadi menarik ketika dibaca bukan
sebagai ajakan untuk membenci dunia, tetapi sebagai undangan untuk mengambil
jarak darinya.
Tidak semua percakapan perlu diikuti.
Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.
Tidak semua komentar perlu dibalas.
Tidak semua tren perlu dicoba.
Tidak semua undangan harus diterima.
Dan, ini yang paling sulit:
Tidak semua orang harus menyukai kita.
Betapa banyak energi manusia habis hanya untuk mengelola
opini orang lain.
Kita ingin disukai.
Kita ingin dipuji.
Kita ingin dianggap pintar.
Kita ingin dianggap sukses.
Kita ingin terlihat bahagia.
Padahal semakin kita sibuk mengatur persepsi orang lain,
semakin sedikit waktu yang tersisa untuk membangun kehidupan kita sendiri.
Schopenhauer mengingatkan bahwa kedamaian kadang datang
bukan karena dunia akhirnya sesuai dengan keinginan kita, melainkan karena kita
berhenti memaksa dunia memenuhi semua keinginan itu.
Pada Akhirnya, Kesendirian Bukan Soal Jumlah Orang di
Sekitar Kita
Ironisnya, seseorang bisa berada di tengah pesta dan merasa
sangat sendirian.
Sebaliknya, seseorang bisa duduk seorang diri di kamar dan
merasa sangat utuh.
Jadi kesendirian bukan sekadar keadaan fisik.
Ia adalah keadaan batin.
Yang paling penting bukan berapa banyak orang yang
mengelilingi kita, melainkan apakah kita mampu tinggal bersama diri sendiri
tanpa merasa harus segera melarikan diri.
Mungkin inilah bagian paling menarik dari Schopenhauer.
Ia tidak menawarkan kebahagiaan dalam bentuk pesta,
popularitas, kekayaan, atau tepuk tangan.
Ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: kemampuan
untuk tidak terus-menerus membutuhkan sesuatu dari dunia.
Dan di zaman ketika semua orang berlomba menjadi terlihat,
mungkin kemampuan untuk tidak terlihat selama beberapa saat justru merupakan
bentuk kemewahan.
Matikan ponsel.
Tutup media sosial.
Duduklah sebentar.
Dengarkan kesunyian.
Kalau lima menit kemudian Anda merasa ingin memeriksa
notifikasi, jangan panik.
Itu bukan berarti Anda bodoh.
Itu hanya berarti Schopenhauer ternyata punya satu musuh
yang belum pernah ia kenal:
Wi-Fi.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.