Ada sebuah pertanyaan yang kadang muncul dalam perjalanan spiritual manusia: kalau jalan menuju Allah begitu banyak, mengapa hati kita masih saja tersesat?
Ini agak mirip orang masuk restoran Padang. Lauknya bukan
cuma banyak, tetapi jumlahnya bisa membuat seorang ahli matematika kehilangan
kepercayaan diri: rendang ada, gulai ada, ayam pop ada, dendeng balado ada,
tunjang ada, telur dadar ada. Belum lagi sambal yang tampaknya memiliki ambisi
geopolitik sendiri.
Kita berdiri di depan etalase sambil berpikir:
"Yang mana yang paling benar?"
Padahal pertanyaan yang lebih penting mungkin:
"Saya ini lapar atau cuma ingin memotret makanan
untuk Instagram?"
Begitulah perjalanan spiritual manusia. Kita sering sibuk
memilih jalan, padahal persoalan sebenarnya adalah siapa yang sedang
berjalan di jalan itu.
Dalam kajian tasawuf, termasuk refleksi atas Al-Hikam
Ibn 'Atha'illah, dikenal gagasan bahwa jalan menuju Allah terbuka melalui
begitu banyak keadaan dan pengalaman manusia. Bahkan sering diungkapkan secara
metaforis bahwa jalan menuju Allah sebanyak napas makhluk-Nya.
Artinya, Allah tidak kekurangan pintu.
Yang sering kekurangan justru manusia: kesabaran untuk
mengetuknya.
Kita Terlalu Sibuk Mencari Jalan yang Paling Enak
Ada kebiasaan aneh dalam diri manusia. Kita ingin jalan
menuju Allah, tetapi kalau bisa jalannya jangan menanjak.
Kita ingin dekat dengan Allah, tetapi jangan sampai terlalu
banyak mengorbankan kenyamanan.
Kita ingin zuhud, tetapi kalau bisa tetap dapat diskon.
Kita ingin ikhlas, tetapi diam-diam berharap orang lain tahu
bahwa kita sedang ikhlas.
Kita ingin tawadhu, tetapi kalau tidak ada yang memuji
ketawadhuan kita, rasanya seperti amalnya belum lunas.
Di sinilah nafsu bekerja dengan sangat profesional.
Nafsu tidak selalu berkata, "Ayo berbuat dosa!"
Kadang ia jauh lebih canggih:
"Mari berbuat baik, tetapi dengan cara yang
membuatmu merasa lebih baik daripada orang lain."
Ini jebakan yang luar biasa halus.
Kita mulai rajin salat malam, lalu diam-diam melihat
tetangga yang belum bangun tahajud dengan ekspresi seperti petugas audit
akhirat.
Kita rajin menghadiri majelis ilmu, lalu merasa semua orang
di luar majelis adalah orang yang belum tercerahkan.
Kita mulai belajar tasawuf, kemudian dengan penuh percaya
diri menjelaskan kepada orang lain bahwa mereka belum memahami tasawuf.
Ironisnya, kita mungkin sedang belajar tentang membunuh ego
sambil memelihara ego dengan pupuk organik.
Nafsu Bisa Memakai Jubah
Inilah yang membuat perjalanan spiritual menjadi rumit.
Nafsu tidak selalu memakai pakaian compang-camping sambil
membawa papan bertuliskan "Saya sedang menyesatkan Anda."
Tidak.
Kadang nafsu memakai jubah.
Kadang memakai peci.
Kadang membawa tasbih.
Kadang bahkan menjadi admin grup WhatsApp pengajian.
Dan semakin pintar seseorang berbicara tentang agama,
semakin pintar pula nafsu bersembunyi di balik kepintaran itu.
Karena itu penyakit hati sering jauh lebih berbahaya
daripada sekadar kesalahan lahiriah.
Orang yang melakukan dosa secara terang-terangan masih
mungkin berkata, "Saya salah."
Tetapi orang yang melakukan kesalahan sambil yakin bahwa
dirinya sedang menjalankan misi suci memiliki persoalan yang jauh lebih rumit.
Ia bukan hanya tersesat.
Ia membawa kompas sambil berjalan ke arah yang salah dan
memarahi orang lain karena tidak mengikuti kompasnya.
Ketika Ibadah Berubah Menjadi Sertifikat Kesucian
Ada satu penyakit spiritual yang sangat lucu kalau dilihat
dari jauh, tetapi sangat menyakitkan kalau ternyata ada di dalam diri sendiri: merasa
lebih suci daripada orang lain.
Kita melihat seseorang tidak rajin ke masjid.
Kita melihat seseorang belum berjilbab.
Kita melihat seseorang masih suka menonton hiburan.
Kita melihat seseorang melakukan kesalahan.
Lalu hati kita berkata:
"Untung saya tidak seperti dia."
Nah.
Di situlah alarm seharusnya berbunyi.
Karena bisa jadi dosa orang itu membuatnya menangis di malam
hari, sementara rasa bangga kita atas kesalehan justru membuat kita tidur
dengan perasaan sudah mendapatkan tiket VIP menuju surga.
Padahal siapa yang tahu?
Orang yang hari ini kita anggap jauh dari Allah mungkin
besok menjadi lebih dekat daripada kita.
Dan orang yang hari ini merasa paling dekat dengan Allah
mungkin justru sedang terjebak dalam kesombongan yang tidak ia sadari.
Tasawuf pada akhirnya bukan perlombaan siapa yang paling
banyak terlihat beribadah.
Ia adalah perjuangan siapa yang paling sungguh-sungguh
membersihkan hati.
Sebab Allah tidak membutuhkan pertunjukan.
Yang perlu berubah bukan sekadar jadwal ibadah kita, tetapi cara
hati kita memandang manusia lain.
Jangan Mengubah Allah Menjadi Merek Dagang
Ada fenomena lain yang juga menarik: agama kadang
diperlakukan seperti merek dagang.
Ada kelompok yang merasa punya hak eksklusif atas kebenaran.
Ada yang merasa mazhabnya paling murni.
Ada yang merasa gurunya paling benar.
Ada yang merasa tarekatnya paling tinggi.
Ada yang merasa metode dakwahnya paling sesuai zaman.
Sampai akhirnya manusia sibuk memasang papan nama di pintu
agama:
"Yang masuk lewat sini benar."
"Yang lewat sana perlu diperiksa."
"Yang tidak memakai warna ini harap mengambil nomor
antrean."
Padahal Allah tidak pernah meminta kita menjadi penjaga
gerbang yang sibuk mengusir semua orang.
Islam jauh lebih luas daripada selera pribadi kita.
Kebenaran tidak menjadi lebih benar hanya karena kita yang
mengucapkannya.
Dan orang lain tidak otomatis menjadi salah hanya karena
cara mereka berbeda dari kebiasaan kita.
Tentu ini bukan berarti semua pandangan otomatis benar.
Ilmu, dalil, adab, dan bimbingan ulama tetap penting.
Tetapi membedakan antara membela kebenaran dan membela
ego yang kebetulan memakai pakaian agama adalah pekerjaan yang jauh lebih
sulit.
Selera Adalah Hijab yang Sangat Nyaman
Masalah terbesar kita sering bukan tidak tahu jalan.
Kita tahu.
Kita hanya ingin jalan yang sesuai selera.
Kita ingin Allah menunjukkan jalan yang cocok dengan
kepribadian kita, nyaman bagi kebiasaan kita, mendukung pendapat kita,
dan—kalau memungkinkan—tidak mengganggu jadwal makan siang.
Padahal doa yang lebih dewasa bukan:
"Ya Allah, tunjukkan jalan yang paling saya
sukai."
Melainkan:
"Ya Allah, tunjukkan jalan yang paling bermanfaat
bagi dunia dan akhiratku, meskipun jalan itu tidak sesuai dengan
keinginanku."
Ini doa yang berbahaya bagi ego.
Sebab kalau kita benar-benar mengucapkannya dengan jujur,
kita harus siap menerima bahwa jawaban Allah mungkin berbeda dari daftar
keinginan kita.
Kita mungkin ingin dihormati, tetapi justru diberi
pengalaman yang merendahkan kesombongan.
Kita ingin hidup mudah, tetapi diberi ujian yang membuat
kita mengenal kelemahan diri.
Kita ingin dipuji, tetapi dipertemukan dengan orang yang
tidak menghargai kita.
Kita ingin menang dalam perdebatan, tetapi justru dipaksa
belajar diam.
Dan di situlah perjalanan spiritual benar-benar dimulai.
Sopirnya Lebih Penting daripada Kendaraannya
Bayangkan ada seratus kendaraan menuju satu tujuan.
Ada mobil mewah, motor tua, sepeda, bus, bahkan mungkin ada
orang yang berjalan kaki.
Tidak terlalu penting kendaraan mana yang paling mengilap.
Yang penting adalah arah dan pengemudinya.
Sebab Ferrari yang dikemudikan orang mabuk tetap bisa masuk
sawah.
Sedangkan sepeda tua yang dikayuh orang dengan arah benar
bisa sampai tujuan.
Begitu pula dalam perjalanan kepada Allah.
Jangan terlalu sibuk membanggakan kendaraan spiritual kita.
"Saya ikut majelis ini."
"Saya ikut tarekat itu."
"Saya belajar kitab ini."
"Saya mengikuti guru itu."
Semua itu bisa menjadi sarana yang sangat baik.
Tetapi jangan sampai sarana berubah menjadi identitas ego.
Karena tujuan perjalanan spiritual bukan supaya kita bisa
berkata:
"Saya berada di kendaraan yang paling benar."
Melainkan supaya kita benar-benar sampai kepada Allah
dengan hati yang lebih bersih.
Jangan Mengejar Kesalehan yang Bisa Dipamerkan
Zaman sekarang punya satu masalah tambahan: hampir semua hal
bisa didokumentasikan.
Dulu orang menangis dalam doa.
Sekarang mungkin ada kemungkinan untuk mengambil foto
terlebih dahulu.
Dulu orang bersedekah diam-diam.
Sekarang kadang kamera datang lebih cepat daripada penerima
bantuan.
Dulu orang belajar ilmu untuk memperbaiki diri.
Sekarang ilmu bisa berubah menjadi bahan konten dan perang
komentar.
Tentu teknologi bukan musuh.
Masalahnya adalah ketika ibadah mulai membutuhkan penonton
agar terasa sah.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
"Kalau tidak ada seorang pun yang tahu, apakah saya
masih mau melakukannya?"
Pertanyaan ini sederhana, tetapi bisa membuat ego
berkeringat.
Karena di situlah keikhlasan diuji.
Jalan Pulang Itu Sebenarnya Dekat
Pada akhirnya, mungkin persoalan kita bukan karena Allah
terlalu jauh.
Bisa jadi kita sendiri yang terlalu ramai.
Hati kita penuh suara:
"Saya harus terlihat berhasil."
"Saya harus dianggap benar."
"Saya harus menang."
"Saya harus dihormati."
"Saya harus lebih baik daripada dia."
Sementara suara yang paling penting justru sangat lembut:
"Kembalilah."
Tasawuf mengajarkan kita untuk mengolah tanah hati sebelum
sibuk menghitung banyaknya amal.
Sebab hati yang penuh iri bisa membuat ilmu menjadi racun.
Hati yang penuh sombong bisa menjadikan ibadah sebagai
senjata.
Hati yang penuh cinta kepada dunia bisa menjadikan agama
sebagai alat mencari kedudukan.
Sebaliknya, hati yang jujur bisa membuat tindakan kecil
menjadi besar nilainya.
Senyum bisa menjadi ibadah.
Memaafkan bisa menjadi ibadah.
Menahan diri dari menyakiti orang lain bisa menjadi ibadah.
Bahkan diam, ketika bicara hanya akan memperbesar kerusakan,
bisa menjadi jalan mendekat kepada Allah.
Penutup: Jangan Sibuk Memilih Jalan Sampai Lupa Berjalan
Mungkin kita tidak perlu terlalu panik memikirkan apakah
jalan kita sudah paling tinggi, paling cepat, paling populer, atau paling
eksklusif.
Yang perlu kita tanyakan setiap hari justru jauh lebih
sederhana:
Apakah hati saya hari ini lebih lembut daripada kemarin?
Apakah saya lebih mudah memaafkan?
Apakah saya lebih sedikit menghakimi?
Apakah saya lebih mampu mengakui kesalahan?
Apakah saya lebih ikhlas ketika tidak dipuji?
Apakah saya lebih takut menyakiti manusia?
Apakah saya lebih membutuhkan Allah daripada membutuhkan
pengakuan manusia?
Kalau jawabannya perlahan-lahan "ya", mungkin kita
sedang berjalan.
Tidak perlu terlalu sibuk menghitung berapa banyak jalan
menuju Allah.
Jalan itu banyak.
Yang penting jangan sampai kita berdiri di persimpangan
selama dua puluh tahun hanya karena sibuk bertengkar dengan orang lain tentang
jalan mana yang paling benar.
Dan jangan pula memilih jalan hanya karena jalannya paling
nyaman.
Sebab perjalanan menuju Allah bukan wisata kuliner.
Kita tidak sedang mencari jalan yang paling enak.
Kita sedang mencari jalan yang paling menyembuhkan hati.
Dan kalau suatu hari kita merasa sudah sangat saleh, sangat
alim, sangat dekat dengan Allah, sangat memahami segala sesuatu tentang
agama—mungkin justru saat itulah kita perlu berhenti sebentar, menarik napas
panjang, lalu berkata:
"Ya Allah, jangan-jangan yang baru saja merasa hebat
itu bukan ruh saya, tetapi nafsu saya yang sedang memakai peci."
Lalu tersenyumlah.
Bertobatlah.
Berjalan lagi.
Dan kalau setelah itu hati masih remuk, jangan buru-buru
menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita.
Bisa jadi hati itu sedang dibongkar agar rumahnya
direnovasi.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.