Ada dua jenis manusia di dunia ini.
Yang pertama, menyapu jalan sambil menghafal puisi.
Yang kedua, menyapu harga diri orang lain sambil menghafal
jumlah pengikut Instagram.
Celakanya, yang kedua biasanya merasa dirinya lebih terhormat.
Konon, di sebuah jalan yang tidak pernah masuk Google Maps
sebagai destinasi wisata, seorang tukang sapu sedang bekerja. Tidak ada musik
Spotify. Tidak ada podcast motivasi berjudul "Bangun Jam 4 Pagi Agar
Jadi Miliarder". Yang menemani hanyalah desir angin dan bait syair
Hatim al-Tai:
"Muliakanlah jiwamu. Sebab bila engkau
menghinakannya, tak seorang pun akan memuliakannya."
Kalimat yang cukup berbahaya bagi orang-orang yang hobinya
mengukur manusia berdasarkan merek sepatu.
Lalu muncullah seorang tokoh antagonis. Tokoh seperti ini
selalu ada dalam setiap cerita. Kalau tidak ada naga, ya minimal ada orang yang
merasa dirinya direktur semesta.
Ia bertanya dengan nada yang sudah lulus S-3 dalam jurusan
meremehkan orang:
"Bagaimana mungkin engkau memuliakan jiwamu? Bukankah
engkau cuma tukang sapu?"
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi aromanya seperti
parfum kesombongan edisi premium.
Untunglah si tukang sapu bukan pelanggan tetap acara debat
kusir.
Ia menjawab dengan tenang,
"Aku memuliakan jiwaku dengan tidak menjawab
pertanyaan hina dari orang seperti dirimu."
Seketika jalanan menjadi lebih bersih. Bukan karena sapunya bekerja lebih cepat, tetapi karena ego si penanya baru saja disapu hingga masuk ke tempat sampah.
Yang lucu adalah keyakinan sebagian manusia bahwa harga diri
mempunyai slip gaji.
Seolah-olah martabat bisa dihitung dengan rumus:
Harga Diri = Jabatan × Mobil ÷ Jumlah AC di Kantor.
Kalau rumus itu benar, berarti bayi yang baru lahir tidak
punya kehormatan karena belum punya LinkedIn.
Padahal bayi justru satu-satunya makhluk yang menangis tanpa perlu membuat status, "Maaf kalau akhir-akhir ini aku berubah."
Masyarakat memang punya hobi aneh.
Kalau melihat seseorang memakai jas, langsung dianggap
bijaksana.
Kalau melihat seseorang memegang sapu, langsung dianggap
tidak punya filsafat.
Padahal Aristoteles tidak pernah berkata bahwa kebijaksanaan
hanya boleh dimiliki orang yang memakai dasi.
Ironisnya, dalam kehidupan nyata justru sering terjadi
kebalikannya.
Ada orang berdasi yang pidatonya sepanjang satu jam, tetapi
isinya hanya lima menit dan sisanya ucapan terima kasih.
Ada pula tukang sapu yang berbicara satu kalimat, tetapi
membuat orang berpikir seminggu.
Ternyata panjang pidato tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pikiran.
Media sosial memperparah keadaan.
Hari ini orang dinilai bukan dari akhlaknya, melainkan dari
kualitas kameranya.
Kalau fotonya estetik, dianggap inspiratif.
Kalau fotonya sambil naik gunung, dianggap sedang mencari
makna hidup.
Padahal bisa jadi ia cuma mencari sinyal.
Kita hidup di zaman ketika orang lebih sibuk mempercantik
profil daripada memperbaiki perilaku.
Filter wajah tersedia ratusan.
Filter kesombongan belum ada.
Mungkin karena aplikasinya terlalu berat.
Tukang sapu dalam kisah tadi sebenarnya sedang mengajarkan
ilmu manajemen konflik tingkat tinggi.
Ia tahu bahwa tidak semua pertanyaan pantas dijawab.
Ada pertanyaan yang fungsinya bukan mencari jawaban,
melainkan mencari keributan.
Menjawabnya hanya membuat kita ikut mandi lumpur.
Ini seperti membaca komentar di internet.
Ada komentar yang mengundang diskusi.
Ada komentar yang mengundang migrain.
Bedanya tipis.
Yang satu membuat kita berpikir.
Yang satu lagi membuat kita ingin mematikan Wi-Fi.
Hatim al-Tai sejak berabad-abad lalu sudah memberi resep
sederhana:
"Jagalah kehormatan jiwamu."
Resep itu ternyata tidak membutuhkan modal besar.
Tidak perlu membeli mobil mewah.
Tidak perlu mengganti ponsel setiap enam bulan.
Tidak perlu mengoleksi jam tangan yang harganya cukup untuk
membeli sawah.
Yang diperlukan hanyalah kemampuan berkata kepada diri
sendiri:
"Aku tidak akan merendahkan diriku hanya demi
memenangkan pertengkaran."
Sayangnya, resep ini kurang laris.
Orang lebih suka membeli kelas daring berjudul "Cara Menjadi Alpha Male dalam 7 Hari" daripada belajar menjadi manusia yang sopan.
Yang paling menarik justru ada pada simbol sapu.
Sapu tidak pernah memilih debu.
Ia membersihkan semuanya.
Andai manusia meniru sapu, mungkin yang pertama dibersihkan
bukan jalanan, melainkan prasangka.
Betapa banyak hubungan rusak bukan karena kebohongan,
melainkan karena asumsi.
Betapa banyak orang gagal melihat mutiara hanya karena
terlalu sibuk menilai cangkangnya.
Padahal kesombongan sering kali hanyalah debu yang menempel di kepala, tetapi pemiliknya mengira itu mahkota.
Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan satu hal yang sangat
penting.
Kalau suatu hari ada orang bertanya dengan nada merendahkan,
jangan buru-buru marah.
Bisa jadi ia sedang memperkenalkan isi kepalanya tanpa
sengaja.
Dan kalau Anda bertemu tukang sapu yang sedang melantunkan
syair, jangan heran.
Siapa tahu yang sedang berdiri di depan Anda bukan sekadar
penyapu jalan.
Bisa jadi ia sedang menyapu kesombongan dunia—sementara
dunia masih sibuk menyapu notifikasi ponselnya.
Sebab ternyata, sapu paling hebat bukan yang membersihkan
trotoar.
Melainkan yang mampu membersihkan hati manusia dari debu
merasa paling tinggi.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.