Rabu, 05 Agustus 2026

Sapu, Syair, dan Orang yang Merasa Lulus Cum Laude dari Universitas Kesombongan

Ada dua jenis manusia di dunia ini.

Yang pertama, menyapu jalan sambil menghafal puisi.

Yang kedua, menyapu harga diri orang lain sambil menghafal jumlah pengikut Instagram.

Celakanya, yang kedua biasanya merasa dirinya lebih terhormat.


Konon, di sebuah jalan yang tidak pernah masuk Google Maps sebagai destinasi wisata, seorang tukang sapu sedang bekerja. Tidak ada musik Spotify. Tidak ada podcast motivasi berjudul "Bangun Jam 4 Pagi Agar Jadi Miliarder". Yang menemani hanyalah desir angin dan bait syair Hatim al-Tai:

"Muliakanlah jiwamu. Sebab bila engkau menghinakannya, tak seorang pun akan memuliakannya."

Kalimat yang cukup berbahaya bagi orang-orang yang hobinya mengukur manusia berdasarkan merek sepatu.

Lalu muncullah seorang tokoh antagonis. Tokoh seperti ini selalu ada dalam setiap cerita. Kalau tidak ada naga, ya minimal ada orang yang merasa dirinya direktur semesta.

Ia bertanya dengan nada yang sudah lulus S-3 dalam jurusan meremehkan orang:

"Bagaimana mungkin engkau memuliakan jiwamu? Bukankah engkau cuma tukang sapu?"

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi aromanya seperti parfum kesombongan edisi premium.

Untunglah si tukang sapu bukan pelanggan tetap acara debat kusir.

Ia menjawab dengan tenang,

"Aku memuliakan jiwaku dengan tidak menjawab pertanyaan hina dari orang seperti dirimu."

Seketika jalanan menjadi lebih bersih. Bukan karena sapunya bekerja lebih cepat, tetapi karena ego si penanya baru saja disapu hingga masuk ke tempat sampah.


Yang lucu adalah keyakinan sebagian manusia bahwa harga diri mempunyai slip gaji.

Seolah-olah martabat bisa dihitung dengan rumus:

Harga Diri = Jabatan × Mobil ÷ Jumlah AC di Kantor.

Kalau rumus itu benar, berarti bayi yang baru lahir tidak punya kehormatan karena belum punya LinkedIn.

Padahal bayi justru satu-satunya makhluk yang menangis tanpa perlu membuat status, "Maaf kalau akhir-akhir ini aku berubah."


Masyarakat memang punya hobi aneh.

Kalau melihat seseorang memakai jas, langsung dianggap bijaksana.

Kalau melihat seseorang memegang sapu, langsung dianggap tidak punya filsafat.

Padahal Aristoteles tidak pernah berkata bahwa kebijaksanaan hanya boleh dimiliki orang yang memakai dasi.

Ironisnya, dalam kehidupan nyata justru sering terjadi kebalikannya.

Ada orang berdasi yang pidatonya sepanjang satu jam, tetapi isinya hanya lima menit dan sisanya ucapan terima kasih.

Ada pula tukang sapu yang berbicara satu kalimat, tetapi membuat orang berpikir seminggu.

Ternyata panjang pidato tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pikiran.


Media sosial memperparah keadaan.

Hari ini orang dinilai bukan dari akhlaknya, melainkan dari kualitas kameranya.

Kalau fotonya estetik, dianggap inspiratif.

Kalau fotonya sambil naik gunung, dianggap sedang mencari makna hidup.

Padahal bisa jadi ia cuma mencari sinyal.

Kita hidup di zaman ketika orang lebih sibuk mempercantik profil daripada memperbaiki perilaku.

Filter wajah tersedia ratusan.

Filter kesombongan belum ada.

Mungkin karena aplikasinya terlalu berat.


Tukang sapu dalam kisah tadi sebenarnya sedang mengajarkan ilmu manajemen konflik tingkat tinggi.

Ia tahu bahwa tidak semua pertanyaan pantas dijawab.

Ada pertanyaan yang fungsinya bukan mencari jawaban, melainkan mencari keributan.

Menjawabnya hanya membuat kita ikut mandi lumpur.

Ini seperti membaca komentar di internet.

Ada komentar yang mengundang diskusi.

Ada komentar yang mengundang migrain.

Bedanya tipis.

Yang satu membuat kita berpikir.

Yang satu lagi membuat kita ingin mematikan Wi-Fi.


Hatim al-Tai sejak berabad-abad lalu sudah memberi resep sederhana:

"Jagalah kehormatan jiwamu."

Resep itu ternyata tidak membutuhkan modal besar.

Tidak perlu membeli mobil mewah.

Tidak perlu mengganti ponsel setiap enam bulan.

Tidak perlu mengoleksi jam tangan yang harganya cukup untuk membeli sawah.

Yang diperlukan hanyalah kemampuan berkata kepada diri sendiri:

"Aku tidak akan merendahkan diriku hanya demi memenangkan pertengkaran."

Sayangnya, resep ini kurang laris.

Orang lebih suka membeli kelas daring berjudul "Cara Menjadi Alpha Male dalam 7 Hari" daripada belajar menjadi manusia yang sopan.


Yang paling menarik justru ada pada simbol sapu.

Sapu tidak pernah memilih debu.

Ia membersihkan semuanya.

Andai manusia meniru sapu, mungkin yang pertama dibersihkan bukan jalanan, melainkan prasangka.

Betapa banyak hubungan rusak bukan karena kebohongan, melainkan karena asumsi.

Betapa banyak orang gagal melihat mutiara hanya karena terlalu sibuk menilai cangkangnya.

Padahal kesombongan sering kali hanyalah debu yang menempel di kepala, tetapi pemiliknya mengira itu mahkota.


Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan satu hal yang sangat penting.

Kalau suatu hari ada orang bertanya dengan nada merendahkan, jangan buru-buru marah.

Bisa jadi ia sedang memperkenalkan isi kepalanya tanpa sengaja.

Dan kalau Anda bertemu tukang sapu yang sedang melantunkan syair, jangan heran.

Siapa tahu yang sedang berdiri di depan Anda bukan sekadar penyapu jalan.

Bisa jadi ia sedang menyapu kesombongan dunia—sementara dunia masih sibuk menyapu notifikasi ponselnya.

Sebab ternyata, sapu paling hebat bukan yang membersihkan trotoar.

Melainkan yang mampu membersihkan hati manusia dari debu merasa paling tinggi.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.