Capek Itu Bernama Hati: Ketika Jiwa Mulia Tidak Punya Tombol "Skip Ad"
Ada dua jenis orang ketika melihat ketidakadilan.
Jenis pertama berkata, "Waduh, kasihan sekali,"
lalu lanjut makan bakso sambil menambah sambal.
Jenis kedua berkata, "Waduh, kasihan sekali," lalu
baksonya mendadak terasa hambar karena pikirannya masih tertinggal pada orang
yang dizalimi.
Kalau Anda termasuk golongan kedua, selamat. Menurut Ibn
Hazm, Anda memang sedang mengalami gejala yang agak merepotkan: masih punya
hati.
Di zaman sekarang, memiliki hati yang peka ternyata lebih
melelahkan daripada menjadi admin grup WhatsApp keluarga. Setiap membuka media
sosial, belum sempat melihat video kucing menari, sudah disambut berita
korupsi, penipuan, perang, perundungan, sampai komentar netizen yang lebih
tajam daripada pisau dapur baru diasah.
Belum lagi algoritma media sosial. Entah mengapa, ia seolah
berkata, "Kamu tadi sedih melihat satu berita? Bagus. Nih, saya kasih dua
puluh berita lagi."
Kalau hati kita masih normal, ya capek.
Ibn Hazm, ulama sekaligus sastrawan dari Andalusia, rupanya
sudah memahami fenomena ini hampir seribu tahun sebelum media sosial ditemukan.
Beliau menulis:
"Jiwa-jiwa yang mulia merasa lelah oleh kezaliman,
meskipun kezaliman itu tidak menimpanya."
Kalimat ini sederhana, tetapi isinya seperti tagihan listrik
bulan Agustus: pendek, tetapi bikin merenung.
Selama ini kita sering mengira orang baik adalah orang yang
tidak berbuat jahat. Padahal Ibn Hazm menaikkan standar. Orang baik bukan hanya
tidak menzalimi, tetapi juga tidak bisa santai ketika melihat orang lain
dizalimi.
Artinya, kalau ada orang diperlakukan tidak adil lalu kita berkata, "Untung bukan saya," Ibn Hazm mungkin akan mengelus dada. Bukan karena marah, tetapi karena melihat betapa hematnya kita menggunakan empati.
Lucunya, manusia modern sering menganggap kepekaan sebagai
gangguan.
Sedikit-sedikit muncul nasihat motivasi:
"Jangan terlalu dipikirkan."
"Fokus pada diri sendiri."
"Yang penting healing."
Kalimat-kalimat itu ada benarnya. Masalahnya, kalau semua
urusan diselesaikan dengan healing, nanti dunia ini isinya orang-orang yang
piknik sambil membiarkan ketidakadilan lewat begitu saja.
Bayangkan ada rumah tetangga kebakaran.
Kita melihat dari jauh sambil berkata, "Semoga mereka
kuat. Saya dulu ya, mau self-care."
Itu bukan kedamaian batin. Itu namanya kreativitas dalam menghindari tanggung jawab.
Yang menarik, Ibn Hazm tidak mengatakan jiwa mulia itu marah
sepanjang waktu.
Beliau memilih kata "lelah."
Ini pilihan kata yang sangat manusiawi.
Orang yang peduli memang sering lelah.
Guru lelah melihat murid yang kehilangan semangat belajar.
Orang tua lelah melihat anaknya tumbuh di tengah budaya yang
serba instan.
Dokter lelah melihat pasien yang terlambat berobat karena
lebih percaya video pendek daripada ilmu kedokteran.
Dan orang yang masih punya nurani akan lelah melihat
kebohongan dipoles menjadi hiburan.
Kelelahan seperti ini bukan penyakit.
Ini tanda bahwa hati masih bekerja lembur.
Masalahnya, di era digital kita mengalami fenomena baru:
kelelahan tanpa kepedulian.
Setiap hari kita menggulir layar dengan kecepatan yang
bahkan membuat ibu jari punya otot sendiri.
Hari ini melihat perang.
Lima detik kemudian melihat resep cireng.
Tiga detik berikutnya melihat anak panda bersin.
Lalu iklan diskon sandal.
Begitulah algoritma mendidik emosi kita. Tragedi dan hiburan
diletakkan dalam satu antrean. Akibatnya, hati bingung: ini harus menangis atau
tertawa?
Lama-kelamaan muncul kekebalan moral.
Bukan karena kita jahat.
Melainkan karena otak sudah seperti satpam mal menjelang Lebaran: terlalu banyak yang masuk, akhirnya semua dianggap biasa.
Namun Ibn Hazm mengingatkan bahwa hati yang sehat justru
tetap terganggu.
Ia tidak kehilangan kemampuan untuk berkata, "Ini
salah."
Bayangkan alarm kebakaran yang dimatikan karena dianggap
berisik.
Rumah memang terasa lebih tenang.
Sampai akhirnya benar-benar terbakar.
Begitu pula hati.
Kalau ia tidak lagi terusik oleh ketidakadilan, mungkin
bukan karena dunia sudah membaik.
Bisa jadi alarm moral kita yang sudah dicabut baterainya.
Tentu saja menjadi peduli bukan berarti harus berubah
menjadi komentator profesional yang mengomentari semua hal dari bangun tidur
sampai tidur lagi.
Ada juga tipe manusia yang setiap isu langsung membuat utas
dua puluh lima halaman, padahal belum selesai membaca judul beritanya.
Ibn Hazm tidak mengajarkan itu.
Beliau hanya mengingatkan bahwa hati jangan sampai
kehilangan refleks kemanusiaannya.
Kalau mampu bertindak, bertindaklah.
Kalau mampu bersuara, bersuaralah.
Kalau belum mampu keduanya, setidaknya jangan ikut tepuk
tangan ketika kezaliman sedang dipentaskan.
Kadang dunia tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan.
Dunia hanya membutuhkan lebih sedikit penonton yang pura-pura tidak melihat.
Pada akhirnya, mungkin ukuran kemuliaan seseorang bukan
seberapa sering ia mengutip kata-kata bijak di media sosial.
Melainkan seberapa sulit ia tidur setelah menyaksikan
ketidakadilan.
Sebab hati yang mulia memang tidak selalu nyaman.
Ia mudah capek.
Mudah gelisah.
Kadang terlalu banyak berpikir.
Tetapi justru karena itulah ia masih hidup.
Jadi, kalau akhir-akhir ini Anda merasa lelah melihat begitu
banyak ketidakadilan, jangan buru-buru menyalahkan usia, cuaca, atau sinyal
internet.
Bisa jadi itu bukan gejala stres.
Bisa jadi hati Anda masih menolak menjadi batu.
Dan di zaman ketika banyak orang bangga bersikap "tidak
peduli", mungkin itu justru kabar baik.
Karena dunia ini belum kekurangan orang pintar.
Yang mulai langka adalah orang yang masih bersedia ikut
capek demi kebenaran.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
8/02/2026 03:57:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.