Pohon Ma’rifat dan Manusia yang Sibuk Mengurus Daun Orang Lain

Ada manusia yang IQ-nya tinggi sekali. Ia bisa menghitung bunga deposito, menghitung peluang bisnis, menghitung jumlah pengikut di media sosial, bahkan menghitung berapa orang yang belum memberikan like pada unggahan terbarunya.

Tetapi ada satu hal yang sering tidak mampu ia hitung:

Sudah berapa lama ia tidak menghitung keadaan dirinya sendiri?

Ia tahu harga rumah tetangga, tahu mobil terbaru, tahu siapa yang naik jabatan, tahu siapa yang bercerai, tahu siapa yang menikah lagi, tahu siapa yang sedang viral. Pokoknya informasi tentang dunia lengkap.

Tentang dirinya?

“Wah, nanti dulu. Saya sedang sibuk.”

Inilah salah satu ironi terbesar manusia: kita hidup di zaman ketika informasi tentang segala sesuatu semakin mudah diperoleh, tetapi pengetahuan tentang diri sendiri justru sering semakin mahal.

Padahal dalam jalan tasawuf, perjalanan paling jauh bukanlah perjalanan dari Jakarta ke Makkah, bukan pula dari rumah ke kantor yang macetnya seperti ujian kesabaran berjamaah.

Perjalanan paling jauh adalah perjalanan dari kepala menuju hati.

Dan rupanya perjalanan ini tidak tersedia di Google Maps.


Ketika Orang Pintar Bisa Menjadi Dungu

Dalam salah satu hadis yang menjadi bahan renungan dalam pengajian “Kecerdasan Jiwa dan Kedunguan Menjelang Ma’rifat”, kecerdasan manusia tidak semata-mata diukur dari kepandaian mengurus kehidupan dunia.

Orang yang cerdas adalah orang yang mengenal dirinya dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Sedangkan orang yang lemah atau dungu adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian sibuk berangan-angan tentang Allah.

Ini menarik.

Sebab ukuran kecerdasan yang demikian bisa membuat banyak gelar akademik mendadak merasa gugup.

Kita terbiasa mengatakan:

“Dia pintar karena doktornya.”

“Dia cerdas karena bisa tiga bahasa.”

“Dia hebat karena bisnisnya sukses.”

“Dia luar biasa karena hartanya banyak.”

Tetapi tasawuf datang dengan pertanyaan yang agak mengganggu:

“Bagaimana dengan jiwanya?”

Waduh.

Pertanyaan ini agak tidak sopan bagi manusia modern.

Sebab kalau yang ditanyakan adalah gaji, jabatan, rumah, mobil, atau jumlah rekening, kita masih bisa menjawab.

Tetapi kalau ditanya:

“Siapa sebenarnya dirimu?”

Biasanya kita mulai membuka-buka foto profil.

Padahal mengenal diri bukan sekadar tahu nama lengkap, tanggal lahir, golongan darah, pekerjaan, dan ukuran sandal.

Mengenal diri adalah menyadari bahwa kita ini makhluk yang terbatas.

Kita bisa sakit.

Kita bisa tua.

Kita bisa kehilangan.

Kita bisa salah.

Dan pada akhirnya kita akan meninggalkan semua yang selama ini kita banggakan.

Rumah ditinggal.

Mobil ditinggal.

Jabatan ditinggal.

Ponsel ditinggal.

Bahkan akun media sosial pun suatu hari akan menjadi peninggalan digital yang mungkin diwarisi oleh anak cucu, atau paling tidak menjadi tempat orang menghapus foto-foto kita karena memori penuh.

Yang ikut bersama kita bukanlah saldo rekening, melainkan amal dan keadaan jiwa.


Hawa Nafsu: Manajer yang Tidak Pernah Mengajukan Cuti

Masalah manusia sebenarnya bukan karena tidak memiliki akal.

Masalahnya, akal sering kalah suara dengan hawa nafsu.

Hawa nafsu itu unik.

Ia sangat rajin.

Kalau kita ingin tidur, ia berkata:

“Tidurlah. Istirahat itu penting.”

Kalau sudah tidur terlalu lama, ia berkata:

“Bangun nanti saja. Dunia masih ada.”

Ketika hendak beribadah:

“Besok saja. Sekarang masih capek.”

Ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat:

“Kenapa dia? Kok bukan saya?”

Ketika mendapat pujian:

“Memang sudah seharusnya mereka mengakui kehebatan saya.”

Ketika melakukan kesalahan:

“Ya, tetapi kan orang lain juga begitu.”

Hawa nafsu ini seperti penasihat pribadi yang selalu mendukung kita—sayangnya, hampir selalu untuk kepentingan kita sendiri.

Ia tidak pernah mengatakan:

“Coba introspeksi.”

Ia lebih suka mengatakan:

“Kamu benar. Yang salah mereka.”

Karena itu, melawan hawa nafsu bukan pekerjaan kecil.

Kita bukan sedang melawan musuh yang berada di luar rumah.

Musuhnya ikut bangun ketika kita bangun.

Ia ikut makan ketika kita makan.

Ia ikut bekerja ketika kita bekerja.

Bahkan ketika kita sedang beribadah, ia kadang ikut masuk.

Yang lebih lucu lagi, hawa nafsu bisa membuat kita bangga karena merasa sedang melawan hawa nafsu.

“Alhamdulillah, saya sudah zuhud.”

Begitu selesai mengucapkannya, kita berharap ada orang lain yang mendengar.

Nah.

Hawa nafsu tepuk tangan.


Ma’rifat Bukan Sertifikat Kelulusan

Dalam perjalanan menuju ma’rifat, manusia sering keliru mengira bahwa semakin banyak mengetahui istilah agama berarti semakin dekat kepada Allah.

Kita hafal banyak istilah:

tazkiyah, mujahadah, riyadhah, mahabbah, qurbah, fana, baqa, ma’rifat.

Tetapi mengetahui nama-nama itu belum tentu berarti mengalami maknanya.

Seperti orang yang hafal menu restoran tetapi belum pernah makan.

Ia bisa menjelaskan:

“Ini rendang, ini gulai, ini sate.”

Tetapi ketika ditanya rasanya:

“Wah, saya belum tahu. Saya baru membaca menunya.”

Ma’rifat bukan sekadar pengetahuan yang bertambah.

Ia adalah perubahan dalam diri.

Hati menjadi lebih jernih.

Akhlak menjadi lebih lembut.

Kesombongan perlahan berkurang.

Ketergantungan kepada makhluk berkurang.

Kecintaan kepada Allah semakin dalam.

Dan manusia mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Ia masih bekerja.

Masih makan.

Masih tidur.

Masih membayar listrik.

Masih bisa macet di jalan.

Tetapi pusat kehidupannya telah berubah.

Dunia tidak lagi menjadi Tuhan kecil yang selalu dikejar.

Dunia hanya menjadi kendaraan.

Masalahnya, banyak dari kita justru mencuci dan memoles kendaraannya setiap hari sampai lupa ke mana kendaraan itu hendak dibawa.


Hati adalah Ladang

Di sinilah muncul gambaran yang sangat indah: hati sebagai ladang dan ma’rifat sebagai pohon yang tumbuh di dalamnya.

Tetapi ada persoalan.

Ladang hati manusia sering kali agak berantakan.

Ada rumput sombong.

Ada semak iri.

Ada tanaman pamer.

Ada gulma cinta dunia.

Ada pohon kecil bernama “ingin dipuji”.

Ada pula tanaman merambat bernama “saya harus selalu dianggap benar”.

Kalau semua dibiarkan tumbuh, bagaimana pohon ma’rifat mau berkembang?

Maka hati perlu dibersihkan.

Di sinilah mujahadah, riyadhah, taubat, zikir, dan tazkiyatun nafs bekerja.

Manusia membersihkan ladangnya.

Tetapi menariknya, manusia bukan pemilik mutlak hasil panennya.

Ma’rifat adalah anugerah Allah.

Kita menanam.

Kita menyiram.

Kita mencabut rumput liar.

Tetapi Allah yang menumbuhkan.

Ini mengajarkan satu hal penting:

Jangan terlalu bangga dengan kesalehan kita.

Sebab bahkan kemampuan kita untuk berbuat baik pun pada hakikatnya adalah karunia.

Kalau hari ini kita bisa berzikir, bersyukur, menangis dalam doa, atau merasa dekat dengan Allah, jangan buru-buru berkata:

“Ini karena saya memang sudah hebat.”

Bisa jadi justru saat itulah ego sedang menanam pohon baru.

Namanya:

Pohon Kesombongan Spiritual.

Pohon ini sangat berbahaya karena buahnya bernama “merasa lebih suci daripada orang lain”.


Hujan Cobaan dan Petani Agung

Dalam gambaran spiritual tersebut, Allah adalah Petani Agung.

Dia menanam, menyiram, memupuk, dan menumbuhkan.

Kadang-kadang hujan rahmat datang dalam bentuk kenikmatan.

Tetapi kadang hujan itu datang dalam bentuk ujian.

Ini bagian yang sulit diterima manusia.

Kalau mendapatkan rezeki:

“Allah sayang kepada saya.”

Kalau mendapatkan musibah:

“Ya Allah, kenapa saya?”

Padahal bagi seorang yang sedang menumbuhkan pohon ma’rifat, hujan tetaplah hujan.

Yang berbeda adalah bagaimana hati menerima turunnya.

Kesulitan bisa menjadi pupuk.

Kehilangan bisa menjadi pelajaran.

Kegagalan bisa menjadi cara Allah membongkar kesombongan.

Kesendirian bisa menjadi kesempatan untuk mengenal diri.

Dan terkadang sesuatu yang kita anggap sebagai kehancuran ternyata hanya proses pemangkasan.

Pohon dipangkas bukan karena dibenci.

Ia dipangkas supaya tumbuh lebih sehat.

Sayangnya, manusia sering tidak suka dipangkas.

Baru sedikit kehilangan kenyamanan sudah berkata:

“Allah tidak adil.”

Padahal mungkin Allah sedang berkata:

“Bagian itu sudah waktunya dibuang.”


Zikir: Makanan yang Tidak Bisa Dibeli di Minimarket

Para arifin menggambarkan zikir sebagai makanan jiwa.

Ini menarik, sebab manusia modern sangat memperhatikan makanan tubuh.

Kita menghitung kalori.

Menghindari gula.

Mengurangi garam.

Mencari makanan organik.

Membaca kandungan nutrisi.

Tetapi ketika ditanya:

“Jiwamu makan apa?”

Kita sering menjawab:

“Belum sempat.”

Padahal tubuh diberi makan tiga kali sehari, bahkan kadang lima kali kalau ada acara.

Jiwa?

Kadang seminggu sekali baru diajak mengingat Allah dengan sungguh-sungguh.

Tidak mengherankan kalau tubuh gemuk sementara jiwa kurus.

Tubuh kenyang.

Hati lapar.

Tubuh tidur di kasur empuk.

Hati gelisah.

Tubuh punya hiburan.

Hati tetap mencari sesuatu yang tidak bisa dibeli.

Zikir bukan sekadar pengulangan kata.

Dalam kedalaman tasawuf, zikir adalah upaya menghadirkan Allah dalam kesadaran.

Dan ketika hati mulai mengenal manisnya zikir, kenikmatan dunia tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan.

Bukan berarti orang yang berzikir tidak boleh menikmati kopi.

Boleh.

Tidak berarti ia harus membuang ponsel.

Tidak harus.

Bukan pula berarti ia harus menjual rumah dan tinggal di gua.

Tidak demikian.

Yang berubah adalah siapa yang menjadi pusat hati.

Kopi tetap kopi.

Rumah tetap rumah.

Uang tetap uang.

Tetapi semuanya tidak lagi menjadi sesembahan diam-diam.


Kita Sering Sibuk Menanam Pohon di Halaman Orang

Ada ironi lain yang sangat manusiawi.

Kita ingin hati kita subur, tetapi lebih sering memperhatikan halaman orang lain.

Kita tahu siapa yang kurang ikhlas.

Siapa yang riya.

Siapa yang sombong.

Siapa yang salah.

Siapa yang amalnya kurang.

Siapa yang belum cukup saleh.

Pokoknya kita menjadi pengawas moral sedunia.

Padahal halaman sendiri mungkin penuh ilalang.

Kita rajin memeriksa hati orang lain, tetapi lupa membawa cermin ke dalam hati sendiri.

Tasawuf justru mengajarkan perjalanan ke dalam.

Bukan untuk merasa lebih suci, melainkan untuk menyadari betapa banyak yang masih harus dibersihkan.

Semakin seseorang mengenal dirinya, semestinya semakin rendah hati.

Sebab semakin dalam ia melihat dirinya, semakin banyak kelemahan yang ia temukan.

Orang yang benar-benar sadar akan kebesaran Allah biasanya tidak punya banyak waktu untuk merasa dirinya paling hebat.

Ia sibuk memperbaiki dirinya.

Ia tidak terlalu tertarik memenangkan semua perdebatan.

Ia tidak harus selalu mendapatkan tepuk tangan.

Ia tidak membutuhkan dunia untuk terus mengatakan:

“Kamu hebat.”

Karena hatinya sudah menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada tepuk tangan manusia.


Pesta Cinta di Malam Hari

Para arifin menggambarkan malam sebagai waktu yang indah, bahkan seperti pesta cinta.

Bagi manusia biasa, malam sering menjadi waktu untuk membuka ponsel.

Satu video.

Kemudian video berikutnya.

Lalu satu berita.

Lalu komentar.

Lalu video lagi.

Tiba-tiba sudah pukul dua pagi.

Kemudian berkata:

“Kenapa saya tidak bisa tidur?”

Padahal bukan insomnia.

Itu namanya algoritma.

Para pecinta Allah memiliki cara berbeda dalam menggunakan malam.

Ketika dunia mulai sunyi, hati justru menjadi ramai oleh zikir.

Tidak ada panggung.

Tidak ada kamera.

Tidak ada penonton.

Tidak ada kebutuhan untuk terlihat saleh.

Hanya seorang hamba dengan Tuhannya.

Di situlah mungkin letak keindahan ibadah yang paling dalam:

ketika seseorang tidak lagi membutuhkan penonton.

Ia berbuat baik bukan karena ingin dipuji.

Ia berzikir bukan karena ingin disebut ahli ibadah.

Ia menangis bukan karena ingin dianggap khusyuk.

Ia mendekat kepada Allah karena hatinya memang membutuhkan-Nya.


Lalu, Seberapa Cerdas Kita?

Pertanyaan ini akhirnya kembali kepada kita.

Kita boleh memiliki gelar tinggi.

Boleh menjadi pengusaha.

Boleh kaya.

Boleh memiliki jabatan.

Boleh memiliki rumah bagus.

Boleh menggunakan teknologi terbaru.

Boleh menikmati dunia.

Islam tidak meminta manusia menjadi bodoh terhadap dunia.

Tetapi jangan sampai kita cerdas mengurus dunia dan bodoh mengurus jiwa.

Jangan sampai kita tahu cara meningkatkan kekayaan tetapi tidak tahu cara mengurangi keserakahan.

Tahu cara memperluas jaringan tetapi tidak tahu cara memperluas hati.

Tahu cara membangun citra tetapi tidak tahu cara membangun keikhlasan.

Tahu cara mendapatkan pengikut tetapi tidak tahu siapa yang sebenarnya kita ikuti.

Sebab boleh jadi persoalan terbesar manusia bukan kurangnya kecerdasan.

Melainkan kecerdasan yang tidak diarahkan kepada tujuan yang benar.


Penutup: Menunggu Pohon Itu Tumbuh

Pada akhirnya, perjalanan menuju ma’rifat bukan perlombaan.

Tidak ada papan peringkat.

Tidak ada medali emas untuk “Manusia Paling Dekat dengan Allah Tahun Ini”.

Dan barangkali justru orang yang merasa sudah sampai adalah orang yang perlu bertanya lagi:

“Benarkah aku sudah berjalan?”

Tugas kita adalah menyiapkan ladang.

Membersihkan hati.

Mengurangi kesombongan.

Melawan hawa nafsu.

Memperbanyak taubat.

Menghidupkan zikir.

Berbuat baik.

Memperbaiki akhlak.

Dan terus berharap kepada rahmat Allah.

Sebab kita hanya petani kecil.

Benihnya dari Dia.

Airnya dari Dia.

Tanahnya pun milik Dia.

Bahkan kemampuan kita untuk menanam pun berasal dari Dia.

Kalau suatu hari pohon ma’rifat tumbuh di dalam hati, jangan buru-buru memamerkan buahnya.

Nikmati dalam diam.

Biarkan akarnya semakin dalam.

Biarkan batangnya semakin kokoh.

Biarkan buahnya terasa dalam akhlak.

Sebab pohon ma’rifat yang benar tidak membuat seseorang semakin tinggi hati.

Ia justru membuat seseorang semakin dalam hati.

Dan mungkin itulah kecerdasan jiwa yang sesungguhnya:

bukan sekadar mengetahui banyak hal tentang Allah,

melainkan menjadi manusia yang, setelah mengenal kebesaran-Nya, tidak lagi merasa dirinya besar.

Wallahu a’lam bish-shawab.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Pohon Ma’rifat dan Manusia yang Sibuk Mengurus Daun Orang Lain Pohon Ma’rifat dan Manusia yang Sibuk Mengurus Daun Orang Lain Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/27/2026 02:34:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list