Di internet, ada satu hukum alam yang tampaknya lebih kuat daripada gravitasi: semakin indah sebuah kalimat, semakin besar kemungkinan kalimat itu ditempelkan kepada orang terkenal yang tidak pernah mengucapkannya.
Maka lahirlah kutipan-kutipan ajaib.
Ada kalimat tentang kesabaran, nama Ibnu Qayyim muncul. Ada
kalimat tentang cinta, tiba-tiba Rumi dituduh sebagai pelakunya. Ada nasihat
tentang bangkit dari kesedihan, nama Schopenhauer ikut diseret. Padahal kalau
Schopenhauer benar-benar melihat kutipan itu, mungkin ia akan berkata,
“Saudara, saya pesimis, bukan motivator seminar.”
Salah satu kutipan viral yang beredar dalam bahasa Prancis
kurang lebih mengatakan: bangkitlah dari kesedihan, sebab hidup tidak akan
berhenti menunggu Anda. Pesannya bagus. Bahkan sangat bagus. Kita semua
membutuhkannya sesekali.
Masalahnya hanya satu: Schopenhauer kemungkinan besar
tidak pernah mengatakan itu.
Dan lebih lucu lagi, kalau kita mengenal pemikiran
Schopenhauer, kutipan tersebut justru terasa seperti seseorang menyuruh seorang
pesimis profesional menjadi pembicara self improvement.
Schopenhauer dan Larangan Menjadi Motivator
Bayangkan Schopenhauer datang ke sebuah seminar motivasi
modern.
Pembawa acara membuka:
“Bapak dan Ibu, hari ini kita akan belajar bagaimana bangkit
dari keterpurukan!”
Tepuk tangan.
Kemudian Schopenhauer naik ke panggung.
“Saudara-saudara, hidup adalah penderitaan.”
Suasana langsung hening.
“Keinginan menghasilkan penderitaan. Ketika keinginan
terpenuhi, kita bosan. Ketika tidak terpenuhi, kita menderita.”
Peserta mulai membuka Google untuk mencari pintu keluar.
Lalu Schopenhauer melanjutkan:
“Solusinya adalah mengurangi keterikatan terhadap kehendak.”
Moderator panik.
“Pak, ini seminar Healing Your Inner Self, bukan
pengantar pesimisme metafisik.”
Schopenhauer mungkin hanya mengangkat bahu.
Karena memang di situlah letak perbedaannya.
Kutipan viral tersebut berbicara dengan bahasa ketahanan: jangan
menyerah, bangkit, terus berjalan. Schopenhauer justru mengajak kita
melihat lebih dalam: mengapa kita terus mengejar sesuatu yang membuat kita
menderita?
Dalam kerangka pemikirannya, manusia didorong oleh Will
to Live—kehendak untuk hidup yang terus menginginkan, mengejar, dan
mengulang.
Ingin punya uang.
Setelah punya uang, ingin lebih banyak.
Setelah lebih banyak, ingin rumah.
Setelah punya rumah, ingin rumah yang lebih besar.
Setelah rumah lebih besar, tetangga membeli mobil baru.
Maka rumah mendadak terasa kecil.
Begitulah roda kehidupan berputar.
Schopenhauer mungkin akan berkata: “Selamat. Anda baru saja
menemukan penderitaan versi cicilan.”
Internet: Pabrik Kutipan Tanpa Akta Kelahiran
Masalah sebenarnya bukan hanya siapa yang mengucapkan sebuah
kalimat.
Masalahnya adalah bagaimana internet bekerja.
Media sosial menyukai kalimat pendek, dramatis, indah, dan
mudah dibagikan. Pemikiran filsafat yang membutuhkan 400 halaman jelas kalah
bersaing dengan satu kalimat yang bisa dibaca sambil menunggu kopi selesai
dibuat.
Bayangkan:
“Hidup adalah manifestasi kehendak metafisik yang secara
struktural menjerumuskan manusia ke dalam siklus hasrat dan penderitaan.”
Tidak viral.
Terlalu panjang.
Kemudian seseorang mengubahnya menjadi:
“Jangan sedih. Bangkit. Hidup terus berjalan.” —
Schopenhauer
Nah!
Langsung cocok untuk Instagram.
Bahkan bisa diberi latar belakang matahari terbenam.
Lebih bagus lagi kalau siluet seorang laki-laki berdiri di
tepi pantai.
Selesai.
Schopenhauer berubah dari filsuf pesimisme menjadi guru healing.
Yang Penting Bijaksana, Soal Sumber Belakangan
Fenomena ini menunjukkan penyakit kecil dalam budaya
digital: kita sering lebih tertarik pada kebijaksanaan daripada kebenaran.
Kalimatnya terasa benar, maka kita tidak terlalu peduli
siapa yang mengatakannya.
Kalau nasihatnya menyentuh hati, kita merasa urusan selesai.
Padahal ada perbedaan antara:
“Kalimat ini bagus.”
dan
“Schopenhauer mengatakan kalimat ini.”
Yang pertama bisa benar.
Yang kedua membutuhkan bukti.
Ini seperti menemukan nasi goreng enak lalu mengatakan bahwa
resepnya ditemukan oleh Leonardo da Vinci.
Nasi gorengnya tetap enak.
Tetapi sejarahnya kacau.
Demikian pula dengan kutipan. Sebuah kalimat boleh saja
bijaksana meskipun penulis aslinya bukan filsuf terkenal. Tidak perlu
memberikan jas akademik kepada kalimat yang sebenarnya lahir dari dapur
internet.
Kalau Bukan Schopenhauer, Lalu Apakah Nasihatnya Salah?
Tidak juga.
Inilah bagian yang menarik.
Kita bisa menolak atribusinya tanpa harus membuang pesannya.
Bahwa hidup terus berjalan adalah kenyataan sederhana. Dunia
tidak otomatis berhenti ketika hati kita patah.
Ketika kita gagal, matahari tetap terbit.
Ketika seseorang meninggalkan kita, tagihan listrik tetap
datang.
Ketika bisnis bangkrut, notifikasi bank tidak ikut berduka.
Ketika kita sedang patah hati, algoritma media sosial bahkan
tetap tega menampilkan iklan sepatu.
Dunia memang tidak menunggu.
Karena itu, pesan untuk bangkit memiliki nilai praktis.
Tetapi ia tidak perlu menjadi milik Schopenhauer.
Bahkan mungkin lebih sehat jika kita mengatakannya sebagai
kebijaksanaan manusia biasa.
Sebab tidak semua kebenaran harus memiliki nama besar di
belakangnya.
Kadang-kadang kalimat yang benar hanyalah kalimat yang
benar.
Tidak perlu diberi stempel Nietzsche.
Tidak perlu tanda tangan Rumi.
Tidak perlu foto Schopenhauer dengan ekspresi seperti sedang
menagih utang metafisik.
Antara Bangkit dan Berhenti Sejenak
Ada pula satu hal yang perlu dikritik dari budaya motivasi:
kita terlalu cepat menyuruh orang bangkit.
Sedih?
Bangkit!
Gagal?
Bangkit!
Patah hati?
Bangkit!
Kehilangan arah?
Bangkit!
Kadang-kadang manusia ingin berkata:
“Boleh saya duduk dulu lima menit?”
Tidak semua kesedihan harus segera diubah menjadi
produktivitas.
Ada luka yang membutuhkan waktu.
Ada kegagalan yang perlu dipahami.
Ada kehilangan yang tidak bisa diselesaikan dengan poster
bertuliskan Never Give Up.
Bangkit memang penting.
Tetapi berhenti sejenak juga manusiawi.
Dan mungkin di sinilah Schopenhauer, meskipun tidak pernah
mengucapkan kutipan tersebut, justru memberi kita pelajaran yang lebih serius:
jangan sekadar memaksa diri terus mengejar kehidupan. Cobalah memahami apa yang
sebenarnya kita kejar.
Sebab bisa jadi kita bukan sedang mencari kebahagiaan.
Kita hanya sedang berlari dari ketidaknyamanan menuju
ketidaknyamanan berikutnya.
Filsafat Jangan Dijadikan Stiker Motivasi
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kutipan itu indah.
Ia memang indah.
Persoalannya adalah kita perlu membedakan antara pesan
yang baik dan atribusi yang benar.
Kalimat motivasi boleh menjadi bahan bakar.
Tetapi sejarah tetap membutuhkan alamat.
Jika sebuah kutipan dikaitkan dengan Schopenhauer, sebaiknya
kita bertanya: di buku mana?
Di halaman berapa?
Dalam konteks apa?
Dan kalau jawabannya adalah, “Ada di Pinterest,” maka
mungkin kita sedang berhadapan dengan cabang baru ilmu pengetahuan:
Filologi Pinterest.
Metodenya sederhana.
Pertama, cari kalimat.
Kedua, tambahkan nama filsuf.
Ketiga, pasang gambar hitam-putih.
Keempat, unggah.
Kelima, tunggu orang lain berkata, “Deep banget.”
Penutup: Bangkitlah, Tetapi Jangan Mengarang
Kita boleh bangkit dari kesedihan.
Kita boleh terus berjalan.
Kita boleh percaya bahwa hidup harus diteruskan.
Tetapi ketika menyampaikan kebijaksanaan, ada satu kebiasaan
sederhana yang sebaiknya ikut dibawa: kejujuran intelektual.
Jika kita tidak tahu siapa yang mengatakannya, katakan saja
tidak tahu.
Kalimat tanpa nama tidak otomatis menjadi bodoh.
Sebaliknya, kalimat dengan nama besar tidak otomatis menjadi
benar.
Dan mungkin itulah ironi terbesar dari kutipan Schopenhauer
yang tidak pernah dikatakan Schopenhauer ini:
kita begitu ingin bangkit dari kesedihan, sampai-sampai
kita rela mengarang kata-kata orang mati untuk menyemangati orang hidup.
Schopenhauer sendiri mungkin akan menganggapnya sebagai
bukti tambahan bahwa manusia memang makhluk yang aneh.
Dan kalau dia benar-benar sedang berada di sana, mungkin ia
hanya tersenyum tipis lalu berkata:
“Sudah saya bilang. Hidup memang penuh penderitaan.”
Kali ini, setidaknya, kita tahu kalimat itu memang lebih
mendekati Schopenhauer.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.