Selasa, 18 Agustus 2026

Sampai di Tujuan, Lalu Bingung Mau Ngapain

Ada satu bentuk kelelahan yang sangat modern: berhasil.

Dulu kita mengira hidup akan indah kalau berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Nilai bagus, pekerjaan bagus, jabatan bagus, rumah bagus, rekening bagus. Kita mengejarnya dengan semangat seekor kucing mengejar laser pointer: fokus, cepat, dan tidak pernah bertanya apakah benda merah itu sebenarnya bisa ditangkap.

Lalu suatu hari kita berhasil.

Dan ternyata rasanya...

“Wah, capek.”

Di sinilah kutipan yang dinisbatkan kepada Ernest Hemingway itu terasa seperti tamparan yang sangat sopan. Seseorang berkata bahwa sejak kecil ia selalu sampai pada apa yang diinginkannya, tetapi setiap kali sampai, ia sudah terlalu lelah untuk bergembira. Ia ingin mencapai sesuatu, bukan untuk menikmati pencapaian itu, melainkan untuk akhirnya bisa berbaring.

Ini sungguh tragis.

Tetapi juga agak lucu.

Sebab manusia modern tampaknya memang memiliki cita-cita yang sangat mulia: bekerja keras supaya suatu hari bisa cukup kaya untuk membeli kasur yang nyaman, lalu terlalu sibuk untuk tidur di atasnya.

Kita Mengejar Tujuan Seperti Mengejar Kereta

Masalah terbesar kita mungkin bukan tidak punya tujuan.

Masalahnya adalah kita terlalu pandai membuat tujuan baru.

Ketika masih sekolah, kita berkata:

“Kalau sudah lulus, saya bahagia.”

Lulus.

Kemudian:

“Kalau sudah dapat kerja, saya bahagia.”

Dapat kerja.

Kemudian:

“Kalau sudah naik jabatan, hidup saya tenang.”

Naik jabatan.

Kemudian:

“Kalau punya rumah sendiri, selesai sudah.”

Punya rumah.

Kemudian ternyata cicilan rumah punya pendapat lain.

Akhirnya kita berkata:

“Kalau pensiun nanti, baru saya menikmati hidup.”

Dan ketika pensiun tiba, tubuh sudah mengirim surat resmi:

“Maaf, layanan petualangan sudah tidak tersedia.”

Inilah paradoks pencapaian. Kita sering menganggap kebahagiaan sebagai hadiah yang baru boleh dibuka setelah semua pekerjaan selesai.

Padahal pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.

Email tetap masuk. Pesan WhatsApp tetap berbunyi. Grup keluarga tetap aktif. Grup alumni yang dulu kita pikir sudah mati ternyata tiba-tiba mengadakan reuni. Bahkan ketika kita sedang tidur, algoritma media sosial bekerja lembur mencarikan masalah baru untuk kita pikirkan.

Kita hidup dalam perlombaan yang garis finisnya terus dipindahkan.

Ketika “Sampai” Tidak Lagi Berarti “Bahagia”

Kata “sampai” biasanya memiliki nuansa kemenangan.

Kita sampai di puncak.

Sampai di tujuan.

Sampai pada cita-cita.

Tetapi ada kemungkinan kita terlalu sibuk mengejar “sampai” sampai lupa bertanya:

“Setelah sampai, saya mau melakukan apa?”

Ini seperti orang yang menghabiskan sepuluh tahun menabung untuk membeli kapal, kemudian begitu kapal terbeli ia berkata:

“Bagus. Sekarang saya harus bekerja lebih keras supaya bisa membeli kapal yang lebih besar.”

Kapal pertama akhirnya hanya menjadi tempat menaruh kapal kedua dalam mimpi.

Begitulah cara ambisi bekerja. Ia sangat sopan. Ia tidak pernah mengatakan, “Kamu sudah cukup.”

Ia selalu berkata:

“Bagus. Tapi...”

Sudah punya pekerjaan?

“Bagus. Tapi gajinya?”

Sudah punya gaji?

“Bagus. Tapi jabatannya?”

Sudah punya jabatan?

“Bagus. Tapi pengaruhnya?”

Sudah punya pengaruh?

“Bagus. Tapi pengikutnya?”

Sudah punya pengikut?

“Bagus. Tapi engagement-nya?”

Akhirnya manusia bukan lagi hidup.

Ia menjadi dashboard KPI yang kebetulan bisa merasa sedih.

Hemingway dan Seni Menahan Sakit

Di sinilah sosok Hemingway terasa relevan.

Dalam banyak karya Hemingway, manusia tidak digambarkan sebagai makhluk yang selalu bahagia. Ia justru sering muncul sebagai manusia yang terluka, kalah, kesepian, tetapi tetap menjaga martabat.

Santiago dalam The Old Man and the Sea terus berjuang menghadapi laut, ikan, tubuhnya sendiri, dan nasib. Ia tidak mendapat kehidupan yang mudah. Tetapi ia tetap bergerak.

Hemingway juga terkenal dengan gagasan tentang grace under pressure: kemampuan mempertahankan martabat ketika berada di bawah tekanan.

Masalahnya, manusia modern tampaknya telah mengambil konsep itu terlalu serius.

Kita ingin selalu kuat.

Sedih? Tetap produktif.

Lelah? Tetap produktif.

Kecewa? Tetap produktif.

Patah hati?

Buka laptop.

Kita bahkan sudah memiliki budaya “healing” yang sangat produktif. Kita pergi ke tempat wisata untuk memulihkan diri, lalu sibuk mengambil 47 foto agar orang lain tahu bahwa kita sedang healing.

Kita duduk di tepi pantai sambil menikmati matahari terbenam.

Tetapi lima menit kemudian:

“Sebentar, sunset-nya kurang estetik kalau tidak difoto dari angle sini.”

Bahkan ketenangan pun kini punya target engagement.

Masyarakat Pencapaian

Filsuf Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai Leistungsgesellschaft, masyarakat pencapaian.

Dalam masyarakat seperti ini, kita tidak perlu lagi dipaksa oleh mandor.

Kita menjadi mandor bagi diri sendiri.

Tidak ada bos?

Kita sendiri yang menyuruh diri bekerja.

Tidak ada yang memarahi?

Kita sendiri yang merasa bersalah.

Tidak ada deadline?

Kita buat sendiri.

Tidak ada target?

Kita merasa hidup tidak berguna.

Ini bentuk perbudakan yang sangat canggih karena budaknya bahkan membayar sendiri biaya internet untuk mengakses aplikasi produktivitas.

Kita membuat daftar tugas untuk mengatur hidup.

Kemudian kita membuat aplikasi untuk mengatur daftar tugas.

Kemudian membuat kalender untuk mengatur aplikasi.

Lalu membeli buku tentang manajemen waktu.

Pada akhirnya waktu habis untuk mengatur bagaimana mengatur waktu.

Dan ketika malam tiba, kita berkata:

“Hari ini saya tidak produktif.”

Padahal kita sudah menghabiskan delapan jam mengoptimalkan produktivitas.

Yang Kita Inginkan Mungkin Bukan Kesuksesan, Melainkan Istirahat

Inilah bagian paling menarik dari kutipan tersebut.

Ia mengatakan bahwa seseorang ingin “sampai” terutama agar bisa beristirahat.

Berarti mungkin selama ini kita salah membaca banyak keinginan kita.

Kita berkata ingin uang.

Mungkin sebenarnya kita ingin rasa aman.

Kita berkata ingin jabatan.

Mungkin sebenarnya kita ingin dihargai.

Kita berkata ingin sukses.

Mungkin sebenarnya kita ingin bebas.

Kita berkata ingin memiliki banyak hal.

Mungkin sebenarnya kita ingin merasa bahwa hidup kita sudah cukup.

Ironisnya, kita sering mengejar semua itu dengan cara yang justru menghancurkan rasa cukup tersebut.

Kita bekerja agar bisa hidup nyaman.

Kemudian bekerja terlalu keras sehingga tidak punya waktu menikmati kenyamanan.

Kita membeli rumah agar merasa tenang.

Kemudian sibuk membayar rumah sehingga tidak sempat menikmati ketenangan.

Kita mengejar kebebasan finansial.

Kemudian menghabiskan seluruh hidup untuk mencapai kebebasan finansial.

Ini seperti berlari sekuat tenaga menuju sebuah kursi agar bisa duduk.

Begitu sampai di kursi, kita terlalu lelah untuk duduk.

Mungkin Hidup Tidak Harus Selalu Naik Level

Kita terlalu terpesona dengan gagasan “naik level”.

Anak kecil harus naik kelas.

Mahasiswa harus lulus.

Karyawan harus naik jabatan.

Pengusaha harus memperbesar bisnis.

Konten kreator harus menambah followers.

Investor harus menambah aset.

Semua harus naik.

Tidak ada yang mengajarkan seni tetap.

Padahal pohon tidak merasa gagal hanya karena hari ini ia masih menjadi pohon yang sama.

Bulan tidak mengadakan rapat evaluasi setiap akhir bulan untuk membahas pencapaian kuartalnya.

Kucing juga tidak membuat personal development plan.

Ia tidur.

Bangun.

Makan.

Membersihkan diri.

Tidur lagi.

Dan tampaknya ia baik-baik saja.

Mungkin sesekali manusia perlu belajar dari kucing.

Bukan soal malas.

Melainkan soal tidak selalu merasa wajib membuktikan bahwa keberadaan kita layak dipertahankan melalui pencapaian.

Berhenti Sebelum Kita Sampai

Ada pertanyaan yang lebih penting daripada “Apa yang ingin saya capai?”

Yaitu:

“Menjadi siapa saya ketika mencapai itu?”

Jika kita menjadi manusia yang semakin cemas, semakin kosong, semakin mudah marah, semakin jauh dari keluarga, semakin tidak punya waktu untuk membaca, bercakap-cakap, berdoa, tertawa, atau sekadar duduk tanpa tujuan—mungkin ada yang salah dengan arah perjalanan.

Sebab tidak semua jalan menuju puncak harus ditempuh sampai puncak.

Kadang-kadang kita boleh berhenti di tengah.

Minum kopi.

Melihat langit.

Mendengarkan suara orang yang kita cintai.

Tertawa karena hal yang bodoh.

Tidak menghasilkan apa-apa.

Dan ternyata dunia tidak runtuh.

Produktivitas tidak mati.

Peradaban tetap berjalan.

Bahkan kemungkinan besar Excel kita tetap selamat.

Penutup: Jangan Sampai Berhasil Terlalu Cepat

Mungkin persoalan hidup bukan bagaimana mencapai semua yang kita inginkan.

Mungkin persoalannya adalah belajar mengenali mana yang memang layak diinginkan.

Sebab ada pencapaian yang membuat kita semakin hidup.

Tetapi ada pula pencapaian yang hanya membuat kita semakin pandai menyembunyikan kelelahan.

Dan mungkin kebijaksanaan terbesar bukanlah kemampuan untuk berlari lebih cepat, melainkan keberanian untuk bertanya:

“Saya ini sebenarnya sedang menuju ke mana?”

Sebab sungguh menyedihkan jika setelah puluhan tahun bekerja keras, kita akhirnya tiba di tujuan, membuka pintu, melihat sekeliling, lalu berkata:

“Jadi... cuma ini?”

Kemudian kita mencari tujuan baru.

Lalu berlari lagi.

Mungkin sesekali kita perlu melakukan hal yang sangat tidak produktif:

berhenti sebelum sampai.

Duduk.

Bernapas.

Menikmati apa yang sudah ada.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling cepat sampai di akhir.

Kita semua akan sampai juga.

Dan ketika saat itu tiba, tidak ada penghargaan untuk manusia yang paling banyak lembur.

Yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana:

Apakah selama perjalanan tadi kita sempat hidup?

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.