Ada satu olahraga modern yang belum masuk Olimpiade: jatuh cinta.
Cabangnya banyak. Ada jatuh cinta pada pandangan pertama,
jatuh cinta setelah tiga kali chat, jatuh cinta setelah melihat foto profil
dengan pencahayaan bagus, bahkan jatuh cinta setelah membaca bio: “Saya
sederhana, suka keluarga, dan tidak suka drama.”
Kalimat terakhir biasanya justru merupakan pertanda bahwa
drama sedang dalam perjalanan.
Kita hidup dalam zaman yang sangat memudahkan manusia untuk
menemukan calon pasangan. Dahulu, orang harus bertemu di sekolah, kantor,
pengajian, pesta pernikahan tetangga, atau dikenalkan oleh teman. Sekarang
cukup menggeser layar.
Masalahnya, teknologi berhasil membuat kita sangat mudah
menemukan orang, tetapi tidak otomatis membuat kita pandai mencintai orang.
Di sinilah pemikiran Erich Fromm menjadi menarik.
Jatuh Cinta: Proyek Nasional Mencari Kesempurnaan
Dalam The Art of Loving, Fromm mengingatkan kita
bahwa ada perbedaan besar antara jatuh cinta dan mencintai.
Jatuh cinta itu menyenangkan karena pada tahap awal kita
biasanya belum mengenal orang tersebut secara lengkap.
Dan ketidaktahuan ternyata sangat romantis.
Kita melihat dia tersenyum, lalu berpikir:
"Wah, dia orangnya hangat."
Padahal mungkin dia hanya sedang tersenyum karena baru
mendapat diskon makanan.
Kita melihat dia rajin membalas pesan:
"Dia perhatian sekali."
Padahal mungkin memang sedang tidak ada pekerjaan.
Kita melihat dia berkata, "Aku suka orang yang apa
adanya."
Kita langsung merasa:
"Inilah manusia yang selama ini kucari."
Padahal kita belum pernah melihat bagaimana dia menghadapi
tagihan listrik.
Itulah keajaiban fase jatuh cinta: informasi sedikit,
imajinasi banyak.
Kita tidak sedang mencintai manusia sepenuhnya. Kita sering
kali mencintai versi manusia yang kita buat sendiri di kepala.
Pasangan belum tentu sempurna.
Tetapi dalam imajinasi kita, ia sudah menjadi gabungan
antara malaikat, filsuf, koki, psikolog, penyair, dan orang yang selalu
mengerti tanpa perlu dijelaskan.
Sayangnya, manusia asli biasanya tidak sanggup memenuhi
spesifikasi produk seperti itu.
Lalu Datanglah Hari Senin
Setiap hubungan romantis pada akhirnya akan menghadapi satu
ujian yang jauh lebih berat daripada makan malam romantis:
hari-hari biasa.
Bukan lagi makan malam dengan lilin, tetapi:
"Kamu sudah bayar listrik?"
Bukan lagi:
"Aku selalu ada untukmu."
Melainkan:
"Kok kamu taruh handuk di kasur lagi?"
Bukan lagi:
"Aku ingin mengenalmu lebih dalam."
Tetapi:
"Kenapa password Wi-Fi diganti?"
Di sinilah fantasi mulai berhadapan dengan kenyataan.
Orang yang dahulu terlihat misterius sekarang ternyata
mendengkur.
Orang yang dahulu tampak sangat romantis ternyata kalau
makan meninggalkan piring di meja.
Orang yang dahulu terlihat sangat sabar ternyata kalau
mengemudi bisa berubah menjadi komentator Formula 1.
Dan kita mulai berpikir:
"Apakah ini orang yang sama?"
Jawabannya:
Ya.
Justru sekarang Anda mulai mengenalnya.
Pecandu Jatuh Cinta
Fromm mengkritik kecenderungan manusia yang terus mengejar
sensasi awal hubungan.
Mereka tidak benar-benar mencari cinta.
Mereka mencari perasaan sedang jatuh cinta.
Ini berbeda.
Perasaan jatuh cinta biasanya penuh kejutan, gairah,
fantasi, dan kebaruan. Semuanya terasa intens. Pesan sederhana seperti “sudah
makan?” bisa membuat seseorang tersenyum selama tiga jam.
Setelah hubungan berjalan beberapa lama, pesan yang sama
bisa berubah menjadi:
"Sudah makan belum? Aku tanya dari tadi."
Dopamin yang dahulu bekerja lembur mulai mengambil cuti.
Kemudian muncul pikiran:
"Mungkin dia bukan jodohku."
Padahal mungkin bukan jodohnya yang bermasalah.
Mungkin saja dopaminnya yang sedang tidak bekerja.
Inilah jebakan budaya modern: kita bisa mengira hilangnya
sensasi berarti hilangnya cinta.
Padahal bisa jadi yang hilang hanyalah efek kembang api.
Dan cinta yang matang justru baru mulai terlihat setelah
kembang api selesai.
Cinta Bukan Paket Unlimited
Masalah lain adalah budaya konsumtif yang perlahan masuk ke
dalam hubungan.
Aplikasi kencan memberi kita perasaan bahwa manusia adalah
katalog.
Kalau yang satu kurang cocok, masih ada sepuluh.
Kalau yang sepuluh kurang cocok, masih ada seratus.
Kalau seratus kurang cocok, kita mulai curiga:
"Jangan-jangan standar saya terlalu tinggi."
Lalu kita naikkan lagi standar.
Akhirnya mencari pasangan terasa seperti mencari laptop.
RAM harus besar.
Baterai tahan lama.
Kamera bagus.
Tidak cepat panas.
Responsif.
Tidak banyak bug.
Dan kalau ada masalah:
reset pabrik.
Padahal manusia tidak memiliki tombol factory reset.
Lebih parah lagi, kita sering membandingkan pasangan nyata
dengan calon pasangan imajiner yang ada di aplikasi.
Pasangan kita punya kekurangan yang nyata.
Orang di layar punya kelebihan yang dipilihkan oleh
algoritma.
Akibatnya, manusia yang tinggal serumah kalah bersaing
dengan manusia yang fotonya diambil ketika sedang berada di tempat terbaik,
dengan sudut terbaik, cahaya terbaik, dan mungkin setelah melakukan dua puluh
tujuh kali retake.
Cinta yang Dewasa Tidak Buta
Kita sering mendengar:
"Cinta itu buta."
Fromm justru mengajak kita menuju arah sebaliknya.
Cinta yang matang tidak buta.
Ia melihat.
Melihat kekurangan.
Melihat kelemahan.
Melihat kebiasaan buruk.
Melihat perbedaan.
Melihat bahwa orang yang kita cintai bukan tokoh utama dalam
novel romantis, melainkan manusia yang kadang lelah, keras kepala, salah
bicara, lupa, takut, egois, dan sesekali menyebalkan.
Tetapi melihat semua itu tidak otomatis berarti pergi.
Di situlah cinta menjadi pilihan.
Bukan:
"Aku mencintaimu karena kamu sempurna."
Melainkan:
"Aku tahu kamu tidak sempurna. Aku juga tidak. Mari
kita lihat apakah dua ketidaksempurnaan ini bisa bekerja sama tanpa saling
menghancurkan."
Ini jauh lebih realistis.
Dan mungkin juga jauh lebih sulit dijual sebagai film
romantis.
Empat Peralatan Cinta Menurut Fromm
Fromm melihat cinta sebagai seni yang membutuhkan latihan.
Ia berbicara tentang unsur-unsur seperti perhatian,
tanggung jawab, rasa hormat, dan pengertian.
Kalau dipikir-pikir, ini memang masuk akal.
Sebab mengatakan “Aku cinta kamu” itu mudah.
Menanyakan:
"Kamu baik-baik saja?"
lalu benar-benar mendengarkan jawabannya, itu lebih sulit.
Mengatakan:
"Aku selalu mendukungmu."
mudah.
Mendukung ketika keputusan pasangan berbeda dari keinginan
kita, itu lebih sulit.
Mengatakan:
"Aku menghormatimu."
juga mudah.
Menghormati pasangan ketika kita sedang marah adalah ujian
sebenarnya.
Cinta ternyata bukan sekadar urusan jantung berdebar.
Kadang cinta adalah kemampuan untuk tidak mengirim pesan
panjang ketika sedang emosi.
Ini mungkin salah satu bentuk kebijaksanaan tertinggi
manusia modern.
Cinta Bukan Mencari Orang Tanpa Kekurangan
Mungkin kita terlalu sibuk mencari orang yang tepat.
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah saya sedang belajar menjadi orang yang mampu
mencintai dengan tepat?"
Sebab kita bisa menemukan pasangan yang sangat baik lalu
merusaknya dengan kecemburuan.
Kita bisa menemukan orang yang setia lalu membuatnya lelah
dengan kecurigaan.
Kita bisa menemukan orang yang mencintai kita lalu
kehilangan dia karena kita terus menunggu seseorang yang "lebih
sempurna".
Dan lucunya, ketika orang itu pergi, kita baru sadar:
"Ternyata dia bagus juga."
Manusia memang sering memiliki kemampuan luar biasa untuk
mengenali nilai sesuatu setelah kehilangan kesempatan untuk memilikinya.
Dari "Aku Suka Kamu" Menuju "Aku
Memilihmu"
Barangkali inilah perbedaan paling penting antara jatuh
cinta dan mencintai.
Jatuh cinta berkata:
"Aku suka perasaan yang muncul ketika
bersamamu."
Cinta matang berkata:
"Aku memilih untuk mengenalmu, menghormatimu,
merawat hubungan ini, dan bertumbuh bersamamu."
Yang pertama sangat menyenangkan.
Yang kedua membutuhkan kerja.
Yang pertama bisa terjadi dalam lima menit.
Yang kedua bisa membutuhkan bertahun-tahun.
Dan tentu saja, yang kedua jauh lebih tidak cocok untuk
algoritma.
Algoritma suka sesuatu yang cepat.
Manusia justru tumbuh melalui sesuatu yang lambat.
Jangan Terlalu Cepat Mengganti Orang
Setiap kali hubungan mengalami masalah, kita mungkin tergoda
berpikir:
"Mungkin saya salah memilih orang."
Kadang memang benar.
Ada hubungan yang tidak sehat dan harus ditinggalkan. Cinta
bukan alasan untuk mempertahankan kekerasan, manipulasi, atau penghinaan.
Tetapi tidak setiap ketidaksempurnaan adalah tanda bahwa
kita salah memilih.
Kadang masalahnya bukan pasangan yang salah.
Kadang kita hanya belum belajar bagaimana mencintai
manusia yang nyata.
Kita ingin pasangan yang memahami kita.
Tetapi lupa belajar memahami.
Kita ingin dihargai.
Tetapi lupa menghargai.
Kita ingin dimengerti.
Tetapi ketika pasangan berbicara, tangan kita malah sibuk
membuka ponsel.
Kemudian kita berkata:
"Komunikasi kita buruk."
Tentu saja.
Salah satu sedang bicara, yang satu sedang scrolling.
Pada Akhirnya, Cinta Itu Bukan Jatuh
Mungkin kita perlu memperbaiki istilah.
Kita terlalu bangga mengatakan:
"Aku jatuh cinta."
Jatuh memang tidak membutuhkan keterampilan.
Anak kecil bisa jatuh.
Orang dewasa juga bisa jatuh.
Bahkan harga diri bisa jatuh dalam satu menit setelah salah
mengirim pesan kepada orang yang seharusnya tidak dikirimi pesan.
Yang membutuhkan keterampilan adalah bangun dan berjalan
bersama.
Karena itu, cinta sejati barangkali bukan tentang menemukan
seseorang yang membuat kita terus-menerus berdebar.
Cinta sejati adalah menemukan seseorang yang membuat kita
bersedia belajar menjadi manusia yang lebih baik—dan bersedia menerima bahwa
proses itu kadang membosankan, melelahkan, penuh salah paham, serta tidak
selalu memiliki musik latar seperti film romantis.
Jatuh cinta mungkin membuat kita berkata:
"Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Cinta yang matang berkata:
"Aku bisa hidup sendiri, tetapi aku memilih
membangun kehidupan bersamamu."
Yang pertama terdengar lebih dramatis.
Yang kedua jauh lebih dewasa.
Dan mungkin itulah maksud terdalam gagasan Erich Fromm: cinta
bukan sekadar sesuatu yang terjadi kepada kita. Cinta adalah sesuatu yang kita
kerjakan.
Sebab jatuh cinta hanya membutuhkan hati.
Tetapi untuk benar-benar mencintai seseorang, kita
membutuhkan hati, akal sehat, kesabaran, keberanian, dan—dalam banyak
kasus—kemampuan untuk menutup aplikasi kencan sebelum hubungan kita sendiri
benar-benar selesai.
Karena kalau setiap kali bosan kita mencari orang baru, kita
mungkin tidak pernah benar-benar belajar mencintai.
Kita hanya menjadi kolektor perasaan.
Dan hidup terlalu pendek untuk mengoleksi match
tetapi miskin kemampuan mencintai.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.