Senin, 10 Agustus 2026

Jatuh Cinta Itu Mudah, yang Sulit Bangun Lagi Setelah Bertengkar

Ada satu olahraga modern yang belum masuk Olimpiade: jatuh cinta.

Cabangnya banyak. Ada jatuh cinta pada pandangan pertama, jatuh cinta setelah tiga kali chat, jatuh cinta setelah melihat foto profil dengan pencahayaan bagus, bahkan jatuh cinta setelah membaca bio: “Saya sederhana, suka keluarga, dan tidak suka drama.”

Kalimat terakhir biasanya justru merupakan pertanda bahwa drama sedang dalam perjalanan.

Kita hidup dalam zaman yang sangat memudahkan manusia untuk menemukan calon pasangan. Dahulu, orang harus bertemu di sekolah, kantor, pengajian, pesta pernikahan tetangga, atau dikenalkan oleh teman. Sekarang cukup menggeser layar.

Geser kanan: mungkin cinta.
Geser kiri: mungkin kehilangan jodoh.
Geser terus: mungkin kehilangan waktu.

Masalahnya, teknologi berhasil membuat kita sangat mudah menemukan orang, tetapi tidak otomatis membuat kita pandai mencintai orang.

Di sinilah pemikiran Erich Fromm menjadi menarik.

Jatuh Cinta: Proyek Nasional Mencari Kesempurnaan

Dalam The Art of Loving, Fromm mengingatkan kita bahwa ada perbedaan besar antara jatuh cinta dan mencintai.

Jatuh cinta itu menyenangkan karena pada tahap awal kita biasanya belum mengenal orang tersebut secara lengkap.

Dan ketidaktahuan ternyata sangat romantis.

Kita melihat dia tersenyum, lalu berpikir:

"Wah, dia orangnya hangat."

Padahal mungkin dia hanya sedang tersenyum karena baru mendapat diskon makanan.

Kita melihat dia rajin membalas pesan:

"Dia perhatian sekali."

Padahal mungkin memang sedang tidak ada pekerjaan.

Kita melihat dia berkata, "Aku suka orang yang apa adanya."

Kita langsung merasa:

"Inilah manusia yang selama ini kucari."

Padahal kita belum pernah melihat bagaimana dia menghadapi tagihan listrik.

Itulah keajaiban fase jatuh cinta: informasi sedikit, imajinasi banyak.

Kita tidak sedang mencintai manusia sepenuhnya. Kita sering kali mencintai versi manusia yang kita buat sendiri di kepala.

Pasangan belum tentu sempurna.

Tetapi dalam imajinasi kita, ia sudah menjadi gabungan antara malaikat, filsuf, koki, psikolog, penyair, dan orang yang selalu mengerti tanpa perlu dijelaskan.

Sayangnya, manusia asli biasanya tidak sanggup memenuhi spesifikasi produk seperti itu.

Lalu Datanglah Hari Senin

Setiap hubungan romantis pada akhirnya akan menghadapi satu ujian yang jauh lebih berat daripada makan malam romantis:

hari-hari biasa.

Bukan lagi makan malam dengan lilin, tetapi:

"Kamu sudah bayar listrik?"

Bukan lagi:

"Aku selalu ada untukmu."

Melainkan:

"Kok kamu taruh handuk di kasur lagi?"

Bukan lagi:

"Aku ingin mengenalmu lebih dalam."

Tetapi:

"Kenapa password Wi-Fi diganti?"

Di sinilah fantasi mulai berhadapan dengan kenyataan.

Orang yang dahulu terlihat misterius sekarang ternyata mendengkur.

Orang yang dahulu tampak sangat romantis ternyata kalau makan meninggalkan piring di meja.

Orang yang dahulu terlihat sangat sabar ternyata kalau mengemudi bisa berubah menjadi komentator Formula 1.

Dan kita mulai berpikir:

"Apakah ini orang yang sama?"

Jawabannya:

Ya.

Justru sekarang Anda mulai mengenalnya.

Pecandu Jatuh Cinta

Fromm mengkritik kecenderungan manusia yang terus mengejar sensasi awal hubungan.

Mereka tidak benar-benar mencari cinta.

Mereka mencari perasaan sedang jatuh cinta.

Ini berbeda.

Perasaan jatuh cinta biasanya penuh kejutan, gairah, fantasi, dan kebaruan. Semuanya terasa intens. Pesan sederhana seperti “sudah makan?” bisa membuat seseorang tersenyum selama tiga jam.

Setelah hubungan berjalan beberapa lama, pesan yang sama bisa berubah menjadi:

"Sudah makan belum? Aku tanya dari tadi."

Dopamin yang dahulu bekerja lembur mulai mengambil cuti.

Kemudian muncul pikiran:

"Mungkin dia bukan jodohku."

Padahal mungkin bukan jodohnya yang bermasalah.

Mungkin saja dopaminnya yang sedang tidak bekerja.

Inilah jebakan budaya modern: kita bisa mengira hilangnya sensasi berarti hilangnya cinta.

Padahal bisa jadi yang hilang hanyalah efek kembang api.

Dan cinta yang matang justru baru mulai terlihat setelah kembang api selesai.

Cinta Bukan Paket Unlimited

Masalah lain adalah budaya konsumtif yang perlahan masuk ke dalam hubungan.

Aplikasi kencan memberi kita perasaan bahwa manusia adalah katalog.

Kalau yang satu kurang cocok, masih ada sepuluh.

Kalau yang sepuluh kurang cocok, masih ada seratus.

Kalau seratus kurang cocok, kita mulai curiga:

"Jangan-jangan standar saya terlalu tinggi."

Lalu kita naikkan lagi standar.

Akhirnya mencari pasangan terasa seperti mencari laptop.

RAM harus besar.

Baterai tahan lama.

Kamera bagus.

Tidak cepat panas.

Responsif.

Tidak banyak bug.

Dan kalau ada masalah:

reset pabrik.

Padahal manusia tidak memiliki tombol factory reset.

Lebih parah lagi, kita sering membandingkan pasangan nyata dengan calon pasangan imajiner yang ada di aplikasi.

Pasangan kita punya kekurangan yang nyata.

Orang di layar punya kelebihan yang dipilihkan oleh algoritma.

Akibatnya, manusia yang tinggal serumah kalah bersaing dengan manusia yang fotonya diambil ketika sedang berada di tempat terbaik, dengan sudut terbaik, cahaya terbaik, dan mungkin setelah melakukan dua puluh tujuh kali retake.

Cinta yang Dewasa Tidak Buta

Kita sering mendengar:

"Cinta itu buta."

Fromm justru mengajak kita menuju arah sebaliknya.

Cinta yang matang tidak buta.

Ia melihat.

Melihat kekurangan.

Melihat kelemahan.

Melihat kebiasaan buruk.

Melihat perbedaan.

Melihat bahwa orang yang kita cintai bukan tokoh utama dalam novel romantis, melainkan manusia yang kadang lelah, keras kepala, salah bicara, lupa, takut, egois, dan sesekali menyebalkan.

Tetapi melihat semua itu tidak otomatis berarti pergi.

Di situlah cinta menjadi pilihan.

Bukan:

"Aku mencintaimu karena kamu sempurna."

Melainkan:

"Aku tahu kamu tidak sempurna. Aku juga tidak. Mari kita lihat apakah dua ketidaksempurnaan ini bisa bekerja sama tanpa saling menghancurkan."

Ini jauh lebih realistis.

Dan mungkin juga jauh lebih sulit dijual sebagai film romantis.

Empat Peralatan Cinta Menurut Fromm

Fromm melihat cinta sebagai seni yang membutuhkan latihan.

Ia berbicara tentang unsur-unsur seperti perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengertian.

Kalau dipikir-pikir, ini memang masuk akal.

Sebab mengatakan “Aku cinta kamu” itu mudah.

Menanyakan:

"Kamu baik-baik saja?"

lalu benar-benar mendengarkan jawabannya, itu lebih sulit.

Mengatakan:

"Aku selalu mendukungmu."

mudah.

Mendukung ketika keputusan pasangan berbeda dari keinginan kita, itu lebih sulit.

Mengatakan:

"Aku menghormatimu."

juga mudah.

Menghormati pasangan ketika kita sedang marah adalah ujian sebenarnya.

Cinta ternyata bukan sekadar urusan jantung berdebar.

Kadang cinta adalah kemampuan untuk tidak mengirim pesan panjang ketika sedang emosi.

Ini mungkin salah satu bentuk kebijaksanaan tertinggi manusia modern.

Cinta Bukan Mencari Orang Tanpa Kekurangan

Mungkin kita terlalu sibuk mencari orang yang tepat.

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah saya sedang belajar menjadi orang yang mampu mencintai dengan tepat?"

Sebab kita bisa menemukan pasangan yang sangat baik lalu merusaknya dengan kecemburuan.

Kita bisa menemukan orang yang setia lalu membuatnya lelah dengan kecurigaan.

Kita bisa menemukan orang yang mencintai kita lalu kehilangan dia karena kita terus menunggu seseorang yang "lebih sempurna".

Dan lucunya, ketika orang itu pergi, kita baru sadar:

"Ternyata dia bagus juga."

Manusia memang sering memiliki kemampuan luar biasa untuk mengenali nilai sesuatu setelah kehilangan kesempatan untuk memilikinya.

Dari "Aku Suka Kamu" Menuju "Aku Memilihmu"

Barangkali inilah perbedaan paling penting antara jatuh cinta dan mencintai.

Jatuh cinta berkata:

"Aku suka perasaan yang muncul ketika bersamamu."

Cinta matang berkata:

"Aku memilih untuk mengenalmu, menghormatimu, merawat hubungan ini, dan bertumbuh bersamamu."

Yang pertama sangat menyenangkan.

Yang kedua membutuhkan kerja.

Yang pertama bisa terjadi dalam lima menit.

Yang kedua bisa membutuhkan bertahun-tahun.

Dan tentu saja, yang kedua jauh lebih tidak cocok untuk algoritma.

Algoritma suka sesuatu yang cepat.

Manusia justru tumbuh melalui sesuatu yang lambat.

Jangan Terlalu Cepat Mengganti Orang

Setiap kali hubungan mengalami masalah, kita mungkin tergoda berpikir:

"Mungkin saya salah memilih orang."

Kadang memang benar.

Ada hubungan yang tidak sehat dan harus ditinggalkan. Cinta bukan alasan untuk mempertahankan kekerasan, manipulasi, atau penghinaan.

Tetapi tidak setiap ketidaksempurnaan adalah tanda bahwa kita salah memilih.

Kadang masalahnya bukan pasangan yang salah.

Kadang kita hanya belum belajar bagaimana mencintai manusia yang nyata.

Kita ingin pasangan yang memahami kita.

Tetapi lupa belajar memahami.

Kita ingin dihargai.

Tetapi lupa menghargai.

Kita ingin dimengerti.

Tetapi ketika pasangan berbicara, tangan kita malah sibuk membuka ponsel.

Kemudian kita berkata:

"Komunikasi kita buruk."

Tentu saja.

Salah satu sedang bicara, yang satu sedang scrolling.

Pada Akhirnya, Cinta Itu Bukan Jatuh

Mungkin kita perlu memperbaiki istilah.

Kita terlalu bangga mengatakan:

"Aku jatuh cinta."

Jatuh memang tidak membutuhkan keterampilan.

Anak kecil bisa jatuh.

Orang dewasa juga bisa jatuh.

Bahkan harga diri bisa jatuh dalam satu menit setelah salah mengirim pesan kepada orang yang seharusnya tidak dikirimi pesan.

Yang membutuhkan keterampilan adalah bangun dan berjalan bersama.

Karena itu, cinta sejati barangkali bukan tentang menemukan seseorang yang membuat kita terus-menerus berdebar.

Cinta sejati adalah menemukan seseorang yang membuat kita bersedia belajar menjadi manusia yang lebih baik—dan bersedia menerima bahwa proses itu kadang membosankan, melelahkan, penuh salah paham, serta tidak selalu memiliki musik latar seperti film romantis.

Jatuh cinta mungkin membuat kita berkata:

"Aku tidak bisa hidup tanpamu."

Cinta yang matang berkata:

"Aku bisa hidup sendiri, tetapi aku memilih membangun kehidupan bersamamu."

Yang pertama terdengar lebih dramatis.

Yang kedua jauh lebih dewasa.

Dan mungkin itulah maksud terdalam gagasan Erich Fromm: cinta bukan sekadar sesuatu yang terjadi kepada kita. Cinta adalah sesuatu yang kita kerjakan.

Sebab jatuh cinta hanya membutuhkan hati.

Tetapi untuk benar-benar mencintai seseorang, kita membutuhkan hati, akal sehat, kesabaran, keberanian, dan—dalam banyak kasus—kemampuan untuk menutup aplikasi kencan sebelum hubungan kita sendiri benar-benar selesai.

Karena kalau setiap kali bosan kita mencari orang baru, kita mungkin tidak pernah benar-benar belajar mencintai.

Kita hanya menjadi kolektor perasaan.

Dan hidup terlalu pendek untuk mengoleksi match tetapi miskin kemampuan mencintai.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.