Ada satu kalimat yang terdengar sangat indah dalam dunia tasawuf: “Aku ridha dengan ketentuan Allah.”
Kalimat ini mudah sekali diucapkan ketika hidup sedang
baik-baik saja.
Gaji masuk. Anak sehat. Kendaraan tidak mogok. Internet
lancar. Pesanan makanan datang sesuai aplikasi. Bahkan ketika membuka dompet
ternyata masih ada uang, kita bisa berkata dengan penuh keyakinan:
“Alhamdulillah, saya ridha dengan takdir Allah.”
Tetapi cobalah uji kalimat itu pada pukul dua pagi, ketika
rekening tinggal beberapa puluh ribu, listrik hampir habis, WhatsApp tidak
dibalas, dan seseorang yang berutang berkata, “Besok ya, insyaallah.”
Pada saat itulah konsep ridha tiba-tiba terasa
seperti ujian kenaikan tingkat.
Kita mungkin masih bisa tersenyum.
Tetapi di dalam hati sudah ada rapat kabinet.
Ridha: Level Spiritual yang Tidak Bisa Dicapai dengan
Tombol “Like”
Dalam kajian tasawuf, ridha bukan sekadar berkata,
“Ya sudah, mau bagaimana lagi.”
Kalau hanya begitu, orang yang pasrah karena tidak punya
pilihan sudah bisa disebut wali.
Padahal ridha jauh lebih dalam. Ia adalah ketenteraman hati
terhadap ketetapan Allah dan meninggalkan pilihan nafsu demi pilihan-Nya.
Artinya, hati tidak lagi terus-menerus berdebat dengan
kenyataan.
Masalahnya, manusia modern sangat suka berdebat dengan
kenyataan.
Hujan turun:
“Kenapa harus hujan sekarang?”
Panas:
“Kenapa panas sekali?”
Macet:
“Kenapa semua orang keluar hari ini?”
Harga naik:
“Kenapa saya yang harus beli?”
Orang lain sukses:
“Kenapa dia?”
Orang lain gagal:
“Untung bukan saya.”
Dengan kata lain, manusia sering kali bukan hanya ingin
hidupnya baik. Ia ingin Allah mengikuti jadwal yang sudah dibuatnya di
Google Calendar.
Kita menyusun rencana:
Senin sukses.
Selasa kaya.
Rabu sehat.
Kamis mendapat jodoh.
Jumat spiritual.
Sabtu liburan.
Minggu istirahat.
Lalu Allah memberikan skenario lain.
Kita pun melihat kalender sambil berkata:
“Ya Allah, ini kok tidak sesuai proposal?”
Di sinilah ridha mulai bekerja.
Ridha Bukan Berarti Tidak Boleh Sedih
Ini penting.
Ridha bukan berarti seseorang harus tersenyum setiap kali
mendapat musibah seperti iklan pasta gigi.
Nabi pun menangis.
Manusia boleh sedih, kecewa, takut, bahkan merasa berat.
Yang menjadi persoalan adalah ketika hati menjadikan
kesedihan sebagai alasan untuk berburuk sangka kepada Allah.
Orang yang ridha bukan orang yang tidak merasa sakit.
Ia adalah orang yang tidak menjadikan rasa sakit sebagai
alasan untuk memusuhi takdir.
Ini perbedaan yang sangat halus.
Sakit tetap sakit.
Kehilangan tetap kehilangan.
Kegagalan tetap mengecewakan.
Tetapi di balik semuanya ada keyakinan:
“Aku mungkin tidak memahami apa yang sedang terjadi,
tetapi aku percaya Allah tidak pernah kehilangan kendali.”
Nah, ini berat.
Sebab manusia biasanya ingin memahami semuanya terlebih
dahulu baru mau percaya.
Allah justru mengajarkan kita untuk percaya bahkan ketika kita belum memahami semuanya.
Nabi Musa dan Pelajaran yang Bikin Nafsu Kita Bingung
Dalam kisah yang digunakan untuk menjelaskan ridha, Nabi
Musa bertanya tentang amal yang dapat mendatangkan keridhaan Allah.
Kita mungkin membayangkan jawabannya akan berupa daftar
panjang:
Shalat sekian rakaat.
Puasa sekian hari.
Sedekah sekian banyak.
Membaca sekian halaman.
Tetapi inti jawabannya justru:
Ridha terhadap ketentuan Allah.
Ini seperti seseorang yang datang kepada dokter dan
bertanya:
“Dok, bagaimana supaya saya sehat?”
Dokter menjawab:
“Jangan makan berlebihan.”
Pasien:
“Bukan itu, Dok. Saya mau resep yang lebih menarik.”
Begitulah manusia.
Kita senang dengan amalan yang bisa dihitung.
Seribu zikir.
Seratus sedekah.
Sepuluh rakaat.
Tiga puluh hari puasa.
Tetapi ketika diminta ridha, alat penghitung kita
mendadak tidak berguna.
Sebab ridha tidak bisa dipamerkan.
Tidak ada sertifikat:
“Telah Lulus Ridha Tingkat Dasar.”
Tidak ada medali:
“Juara 1 Menerima Takdir Tanpa Banyak Mengomel.”
Ridha berlangsung di tempat yang paling sulit diawasi: di dalam hati.
Masalah Besar: Kita Sering Mengira Ridha = Pasrah Total
Di sinilah tasawuf menjadi menarik.
Ridha bukan fatalisme.
Ridha tidak berarti kita berhenti berusaha.
Kalau sakit, berobat.
Kalau miskin, bekerja.
Kalau bodoh, belajar.
Kalau salah, bertobat.
Kalau ada masalah, diselesaikan.
Lalu setelah semua ikhtiar dilakukan, hati menyerahkan hasil
kepada Allah.
Jadi ridha bukan:
“Saya tidak perlu melakukan apa-apa karena semuanya sudah
ditakdirkan.”
Itu bukan tawakal.
Itu malas yang diberi pakaian spiritual.
Orang berkata:
“Kalau rezeki sudah diatur, buat apa bekerja?”
Biasanya kalimat itu diucapkan sambil rebahan.
Tetapi ketika ada lowongan pekerjaan, dia juga tidak
melamar.
Kemudian ketika uang habis, dia berkata:
“Ini ujian dari Allah.”
Memang ujian.
Tetapi bisa jadi soal ujiannya adalah:
“Mengapa kamu tidak mau berusaha?”
Allah Menghendaki Sesuatu, tetapi Tidak Berarti Allah
Memerintahkannya
Pembahasan tentang iradah dan amr juga sangat
penting.
Segala sesuatu yang terjadi berada dalam kehendak Allah.
Tetapi tidak semua yang terjadi merupakan perintah Allah.
Dosa terjadi dalam kehidupan manusia, tetapi Allah tidak
memerintahkan manusia untuk berdosa.
Karena itu, seseorang tidak boleh berkata:
“Saya berbuat maksiat karena sudah ditakdirkan.”
Kalau logika itu dipakai, pencuri bisa berkata kepada hakim:
“Yang Mulia, saya tidak mencuri. Saya hanya menjalankan
takdir.”
Hakim mungkin menjawab:
“Baik. Kalau begitu, takdir Anda juga yang akan membayar
denda.”
Ridha terhadap takdir tidak berarti ridha terhadap maksiat.
Kalau pernah berbuat dosa, sikapnya adalah menerima bahwa
peristiwa itu telah terjadi, mengambil pelajaran, lalu bertobat.
Bukan merayakannya.
Adam: Jatuh, Menangis, Lalu Bangkit
Kisah Nabi Adam memberikan pelajaran penting tentang
bagaimana kesalahan tidak harus menjadi akhir perjalanan.
Kesalahan dapat menjadi pintu pertobatan.
Ini tidak berarti dosa menjadi sesuatu yang baik.
Dosa tetap dosa.
Tetapi Allah dapat menghadirkan kebaikan bahkan setelah
seseorang jatuh.
Seperti orang yang tersandung.
Tersandung tetap tidak enak.
Lutut sakit.
Harga diri sedikit berkurang.
Orang di belakang mungkin tertawa.
Tetapi setelah berdiri, seseorang bisa belajar:
“Besok saya harus melihat jalan.”
Demikian pula kehidupan.
Kadang manusia baru belajar berjalan setelah pernah jatuh.
Kisah Pemuda yang Mendengar Dirinya Akan Masuk Neraka
Bagian paling menarik dalam kisah yang dibahas adalah
seorang pemuda ahli ibadah yang diberitahu bahwa namanya tercatat sebagai
penghuni neraka.
Bayangkan kalau kabar itu datang kepada manusia modern.
Mungkin reaksinya:
“Serius?”
Kemudian:
“Siapa sumbernya?”
Lalu:
“Bisa cek ulang?”
Setelah itu:
“Ini hoaks atau bukan?”
Dan akhirnya:
“Admin, tolong jelaskan.”
Tetapi pemuda tersebut justru bersujud dan memuji Allah atas
takdir-Nya.
Di sinilah kedalaman ridha terlihat.
Ia tidak berkata:
“Kalau begitu saya berhenti beribadah.”
Ia juga tidak berkata:
“Kalau sudah masuk neraka, sekalian saja maksiat.”
Sebaliknya, ia tetap berada dalam posisi seorang hamba.
Dan kisah itu kemudian menggambarkan perubahan takdirnya
menuju keselamatan.
Secara teologis, kisah semacam ini sebaiknya dipahami
sebagai kisah pengajaran moral, bukan sebagai rumus mekanis bahwa
seseorang dapat “mengedit Lauh Mahfuz” dengan satu kali sujud.
Sebab kalau takdir bisa diedit seperti dokumen Word, manusia
mungkin akan membuat menu:
Undo.
Redo.
Delete suffering.
Insert happiness.
Sayangnya hidup tidak bekerja seperti itu.
Justru keindahan kisah tersebut terletak pada pesan spiritualnya: kerelaan seorang hamba kepada Allah dapat menjadi sebab datangnya rahmat Allah.
Empat Keadaan Hidup dan Empat Jawaban Hati
Kajian ini juga memberikan peta sederhana yang sangat
berguna.
1. Ketika mendapat nikmat: Ridha dan syukur
Kita mendapat uang.
Syukur.
Mendapat kesehatan.
Syukur.
Mendapat jabatan.
Syukur.
Mendapat popularitas.
Syukur.
Tetapi ada satu jebakan:
Jangan sampai syukur berubah menjadi:
“Alhamdulillah, ternyata saya memang hebat.”
Itu sudah bukan syukur.
Itu kesombongan yang memakai peci.
Nikmat harus membuat kita semakin sadar bahwa sumbernya bukan semata-mata kemampuan kita.
2. Ketika mendapat musibah: Ridha dan sabar
Sabar bukan berarti tidak boleh menangis.
Sabar adalah tidak membiarkan penderitaan mengubah kita
menjadi manusia yang kehilangan arah.
Orang boleh menangis sambil berkata:
“Ya Allah, saya berat.”
Tetapi tetap ada keyakinan:
“Saya percaya Engkau tahu apa yang saya tidak tahu.”
Itulah sabar yang hidup.
Bukan sekadar diam.
3. Ketika mampu beribadah: Ridha dan istiqamah
Ini juga menarik.
Kadang kita menganggap ibadah sebagai kewajiban yang
melelahkan.
Padahal kemampuan untuk beribadah sendiri adalah nikmat.
Kita bisa bangun untuk shalat karena Allah memberi kemampuan
bangun.
Kita bisa bersedekah karena Allah memberi sesuatu yang bisa
disedekahkan.
Kita bisa membaca Al-Qur'an karena Allah memberi kesempatan
dan kemampuan.
Maka jangan sampai kita merasa:
“Ya Allah, saya sudah banyak ibadah. Tolong jangan tambah
lagi.”
Seolah-olah sedang mengajukan komplain kepada bagian layanan pelanggan langit.
4. Ketika pernah bermaksiat: Ridha terhadap takdir, lalu
bertobat
Ini yang paling manusiawi.
Kita semua punya halaman kehidupan yang ingin kita sobek.
Masalahnya, masa lalu tidak menyediakan tombol delete.
Yang bisa kita lakukan adalah bertobat.
Kesalahan dijadikan guru.
Luka dijadikan pelajaran.
Dan masa lalu tidak lagi dijadikan tempat tinggal.
Sebab ada orang yang secara fisik sudah berada di tahun
2026, tetapi secara mental masih tinggal di tahun 2012.
Setiap malam ia membuka kembali arsip kesalahan:
“Seandainya waktu itu…”
Padahal waktu tidak punya tombol back.
Yang tersedia hanya taubat dan perbaikan.
Ridha dan Penyakit Modern Bernama “Kenapa Saya?”
Mungkin salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah
pertanyaan:
“Kenapa saya?”
Kenapa saya yang gagal?
Kenapa saya yang sakit?
Kenapa saya yang ditinggalkan?
Kenapa saya yang miskin?
Kenapa orang lain lebih berhasil?
Kenapa hidup saya begini?
Pertanyaan itu manusiawi.
Tetapi kalau terus dipelihara, ia bisa berubah menjadi
penjara.
Ridha perlahan mengubah pertanyaan:
Dari:
“Kenapa ini terjadi kepada saya?”
menjadi:
“Apa yang Allah ingin saya pelajari dari ini?”
Perubahan pertanyaan itu luar biasa.
Karena kita tidak lagi hanya mencari penjelasan.
Kita mencari makna.
Ridha Bukan Membuat Hidup Tanpa Masalah
Ini perlu digarisbawahi.
Orang yang ridha tetap bisa miskin.
Tetap bisa sakit.
Tetap bisa kehilangan pekerjaan.
Tetap bisa ditinggalkan.
Tetap bisa gagal.
Tetap bisa mengalami hari Senin.
Jadi ridha bukan jaminan bahwa hidup akan berubah menjadi
film romantis dengan musik latar yang indah.
Ridha mengubah cara hati berada di dalam kehidupan.
Masalah mungkin tetap sama.
Tetapi manusia yang menghadapinya sudah berbeda.
Dulu musibah membuatnya hancur.
Sekarang musibah membuatnya lebih dekat kepada Allah.
Dulu nikmat membuatnya sombong.
Sekarang nikmat membuatnya bersyukur.
Dulu dosa membuatnya putus asa.
Sekarang dosa membuatnya bertobat.
Dulu ketidakpastian membuatnya panik.
Sekarang ketidakpastian membuatnya bertawakal.
Inilah transformasi yang sebenarnya.
Akhirnya, Belajar Mengucapkan “Aku Ridha”
Ridha mungkin merupakan salah satu kalimat paling pendek
tetapi paling panjang proses belajarnya.
Kita bisa mengucapkannya dalam satu detik.
Tetapi membutuhkan bertahun-tahun untuk benar-benar
menghidupinya.
Sebab hati manusia keras kepala.
Ia ingin Allah memberi sesuai keinginannya.
Ia ingin doa dijawab sesuai jadwalnya.
Ia ingin rezeki sesuai targetnya.
Ia ingin jodoh sesuai kriterianya.
Ia ingin anak sesuai harapannya.
Ia ingin masa depan sesuai desainnya.
Pendeknya, manusia kadang ingin menjadi sutradara
kehidupan, sementara Allah mengingatkannya bahwa ia sebenarnya hanya pemain.
Ridha adalah saat seorang hamba akhirnya berhenti memaksa
naskah hidup mengikuti keinginannya.
Ia tetap berusaha.
Tetap berdoa.
Tetap menangis.
Tetap bekerja.
Tetap memperbaiki kesalahan.
Tetapi setelah itu ia menyerahkan hasil kepada Allah dengan
hati yang tenang.
Dan mungkin di situlah letak ma'rifat mulai tumbuh.
Bukan ketika kita sudah memahami seluruh rahasia takdir.
Melainkan ketika kita tidak lagi membutuhkan seluruh rahasia
itu untuk percaya kepada Allah.
Pada akhirnya, ridha bukan berarti kita berkata:
“Saya suka semua yang terjadi.”
Tetapi lebih dalam dari itu:
“Saya percaya kepada Allah bahkan ketika saya tidak
menyukai apa yang sedang terjadi.”
Itulah kedewasaan spiritual.
Dan kalau suatu hari kita bisa sampai pada tingkat itu,
mungkin hati kita benar-benar mulai terasa plong.
Bukan karena semua masalah selesai.
Tetapi karena kita akhirnya sadar:
Yang harus selesai bukan selalu masalahnya. Kadang yang
harus selesai adalah pertengkaran kita dengan takdir.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.