Jumat, 07 Agustus 2026

Demokrasi, dan Zaman Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Ahli

Ada sebuah kutipan yang beredar luas dan sering dikaitkan dengan satiris Rusia-Soviet Mikhail Zhvanetsky. Atribusinya sendiri masih diragukan, karena kutipan tersebut tidak mudah ditemukan dalam karya atau rekaman resminya.

Tetapi begitulah nasib sebuah kutipan di internet: begitu sudah telanjur viral, penciptanya bisa pensiun dari dunia, tetapi kalimatnya tetap bekerja lembur.

Isi sindiran itu kurang lebih menggambarkan sebuah dunia yang mengalami perubahan besar. Dahulu, katanya, orang-orang cerdas memerintah dan membuat orang-orang bodoh belajar. Sekarang keadaannya terbalik: orang-orang bodoh memerintah karena jumlah mereka lebih banyak.

Dan karena mayoritas harus selalu dimenangkan, orang cerdas akhirnya mendapat pekerjaan tambahan: menyederhanakan pikirannya sendiri agar tidak membuat orang lain merasa sedang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

Ini sindiran yang kejam.

Tetapi justru karena kejam, ia lucu.

Dan karena lucu, kita mulai merasa tidak nyaman.

Sebab setelah tertawa, kita tiba-tiba sadar: “Lho, kok seperti kehidupan sehari-hari?”


Ketika Jumlah Menjadi Argumen

Ada satu kesalahpahaman yang sangat populer dalam kehidupan modern: kita sering mengira bahwa sesuatu menjadi benar karena banyak orang mempercayainya.

Padahal kalau kebenaran ditentukan oleh jumlah orang yang percaya, maka matahari bisa saja suatu hari kalah voting.

Bayangkan rapat warga:

“Menurut penelitian ilmiah, bumi berbentuk—”

“Interupsi!”

“Kenapa?”

“Karena grup WhatsApp RT kita punya 427 anggota dan 390 orang percaya bumi datar.”

“…”

“Demokratis, Pak.”

Inilah masalah yang disentil oleh sindiran tersebut.

Demokrasi memberikan setiap orang hak untuk bersuara. Itu sangat penting. Tetapi demokrasi tidak pernah menjanjikan bahwa setiap pendapat otomatis menjadi benar hanya karena memiliki jumlah pendukung yang besar.

Satu orang, satu suara.

Bukan:

satu orang, satu fakta.

Kalau begitu, ilmu pengetahuan cukup diganti dengan polling.

“Apakah gravitasi masih berlaku?”

A. Ya
B. Tidak
C. Tergantung zodiak

Hasil survei menentukan hukum alam.

Newton mungkin akan menangis dari dalam kubur.


Masalahnya Bukan Orang Bodoh

Namun di sinilah kita perlu berhati-hati.

Menyebut masyarakat sebagai kumpulan “orang bodoh” juga merupakan bentuk kebodohan yang sangat percaya diri.

Sebab siapa sebenarnya yang berhak menentukan siapa yang bodoh?

Profesor fisika mungkin sangat pintar menghitung persamaan, tetapi belum tentu tahu cara memperbaiki genteng bocor.

Dokter mungkin sangat ahli mendiagnosis penyakit, tetapi bisa saja panik ketika Wi-Fi rumah mati.

Insinyur bisa merancang jembatan, tetapi mungkin tidak tahu kenapa istrinya tiba-tiba menjawab, “Terserah.”

Dan itu jauh lebih rumit daripada mekanika kuantum.

Seorang petani yang mampu membaca cuaca dari perubahan angin mungkin tidak memiliki gelar doktor meteorologi. Tetapi bukan berarti ia bodoh.

Seorang ibu yang tahu anaknya sedang sedih hanya dari cara anak itu membuka pintu juga memiliki bentuk kecerdasan yang tidak tercatat dalam ijazah.

Jadi persoalannya bukan:

orang pintar versus orang bodoh.

Persoalannya adalah:

apakah masyarakat masih mau belajar?

Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.


Zaman Ketika Semua Orang Menjadi Pakar

Media sosial kemudian datang membawa hadiah terbesar bagi umat manusia:

kesempatan untuk berpendapat tentang segala sesuatu.

Belum pernah dalam sejarah manusia seseorang bisa bangun tidur sebagai ahli ekonomi, sarapan sebagai ahli geopolitik, makan siang sebagai ahli kesehatan, lalu tidur malam sebagai ahli perang.

Semuanya tanpa membaca satu buku pun.

Cukup membaca tiga unggahan.

Dan jangan lupa: dua di antaranya harus berasal dari akun yang menggunakan foto profil Nietzsche.

Seorang dokter mengatakan:

“Data penelitian menunjukkan—”

Netizen menjawab:

“Dokter itu belum tentu benar.”

Seorang ekonom menjelaskan:

“Inflasi memiliki beberapa faktor struktural—”

Komentar:

“Menurut saya gampang. Tinggal cetak uang.”

Seorang ilmuwan mengatakan:

“Masalah ini kompleks.”

Netizen:

“Ilmuwan memang suka bikin rumit.”

Ini adalah fenomena menarik.

Ketika orang tidak memahami sesuatu, seharusnya respons yang sehat adalah:

“Saya belum mengerti.”

Tetapi di internet, kalimat itu terasa terlalu sederhana.

Maka lahirlah kalimat baru:

“Ilmuwan sengaja menyembunyikan kebenaran.”

Lebih dramatis.

Lebih mudah mendapat 12.000 likes.


Algoritma Tidak Peduli Anda Pintar

Masalahnya semakin rumit karena internet tidak dirancang untuk memberikan penghargaan kepada orang paling bijaksana.

Internet memberikan penghargaan kepada orang yang paling menarik perhatian.

Dan ini dua hal yang sangat berbeda.

Kalimat:

“Permasalahan ini memiliki 17 faktor penyebab yang saling berkaitan.”

kemungkinan besar kalah viral dari:

“MEREKA SELAMA INI TELAH MEMBOHONGI KITA!”

Kalimat pertama meminta kita berpikir.

Kalimat kedua meminta kita marah.

Dan manusia, sayangnya, sering lebih cepat marah daripada berpikir.

Algoritma pun belajar.

Ia melihat bahwa kemarahan menghasilkan klik.

Ketakutan menghasilkan komentar.

Kontroversi menghasilkan perdebatan.

Dan kebencian menghasilkan engagement.

Maka algoritma berkata:

“Baiklah. Saya mengerti selera kalian.”

Besok pagi, beranda kita dipenuhi manusia yang marah kepada manusia lain yang bahkan tidak mereka kenal.

Sebuah kemajuan teknologi yang luar biasa.

Dulu manusia membutuhkan kapal untuk menjajah benua.

Sekarang cukup satu unggahan untuk menjajah pikiran.


Kecerdasan yang Harus Membuat Subtitle

Di sinilah bagian paling lucu dari sindiran Zhvanetsky menjadi relevan.

Orang yang memahami persoalan kompleks sering kali harus menyederhanakan penjelasannya.

Bukan karena masyarakat bodoh.

Tetapi karena perhatian manusia terbatas.

Masalahnya, penyederhanaan memiliki risiko.

Awalnya:

“Situasi ini memiliki beberapa faktor ekonomi, sosial, sejarah, dan geopolitik.”

Kemudian disederhanakan menjadi:

“Masalah ekonomi.”

Lalu disederhanakan lagi:

“Pemerintah salah.”

Lalu dipadatkan menjadi:

“MEREKA JAHAT.”

Akhirnya menjadi meme.

Lima detik kemudian, semua orang merasa sudah memahami masalah.

Inilah tragedi komunikasi modern:

semakin kompleks masalahnya, semakin pendek kesimpulannya.


Tetapi Jangan Juga Terlalu Memuja Orang Pintar

Di sinilah kita perlu memberikan sedikit hukuman kepada kaum intelektual.

Sebab kadang-kadang orang pintar juga memiliki kebiasaan yang menjengkelkan.

Mereka suka menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang membuat orang lain merasa sedang membaca manual mesin cuci dalam bahasa Latin.

Kemudian ketika masyarakat tidak memahami, mereka berkata:

“Publik memang tidak mampu memahami kompleksitas.”

Lho?

Kalau Anda dokter dan pasien tidak memahami istilah medis Anda, mungkin pasiennya bukan bodoh.

Mungkin Anda saja yang perlu belajar menjelaskan.

Kecerdasan bukan hanya kemampuan mengetahui sesuatu.

Kecerdasan juga kemampuan membuat orang lain memahami sesuatu tanpa membuat mereka merasa bodoh.

Seorang guru yang hebat bukan orang yang mampu membuat murid kagum karena dirinya pintar.

Seorang guru yang hebat adalah orang yang membuat murid berkata:

“Ah, ternyata saya bisa mengerti.”

Itulah kemenangan intelektual yang sesungguhnya.


Demokrasi Tidak Bodoh, Manusia yang Bisa Bodoh

Ada kecenderungan dalam kritik terhadap populisme untuk menyalahkan demokrasi.

“Lihat! Mayoritas bisa salah.”

Tentu saja.

Mayoritas bisa salah.

Minoritas juga bisa salah.

Profesor bisa salah.

Jurnalis bisa salah.

Presiden bisa salah.

Influencer bisa salah.

Dan orang yang menulis esai ini juga sangat mungkin salah.

Perbedaan demokrasi dengan sistem lain adalah demokrasi menyediakan mekanisme untuk memperbaiki kesalahan melalui partisipasi, kritik, pergantian kekuasaan, kebebasan informasi, dan institusi.

Masalahnya muncul ketika masyarakat tidak lagi menggunakan hak demokratisnya untuk berpikir, tetapi hanya untuk bereaksi.

Kita tidak lagi bertanya:

“Apakah ini benar?”

Kita bertanya:

“Apakah ini sesuai dengan kelompok saya?”

Ini jauh lebih berbahaya.

Sebab ketika identitas kelompok sudah menjadi sumber kebenaran, fakta bisa dipecat tanpa pesangon.


Plato Sudah Pernah Khawatir

Menariknya, kekhawatiran semacam ini bukan barang baru.

Sejak zaman Plato, manusia sudah gelisah terhadap pertanyaan: apakah keputusan politik sebaiknya ditentukan oleh semua orang, atau oleh mereka yang dianggap paling memahami persoalan?

Plato bahkan membayangkan gagasan tentang filsuf-raja.

Masalahnya, kita kemudian menemukan persoalan lain:

siapa yang memilih filsufnya?

Dan bagaimana memastikan sang filsuf tidak berubah menjadi raja yang kebetulan sangat pandai mengutip Plato?

Sejarah menunjukkan bahwa manusia yang merasa dirinya paling pintar juga bisa melakukan kesalahan luar biasa.

Karena itu, dunia tidak membutuhkan pemerintahan orang pintar semata.

Dunia membutuhkan institusi yang membuat orang pintar bisa dikritik dan orang biasa bisa didengar.


Anti-Intelektualisme: Ketika Pintar Mulai Dianggap Mencurigakan

Ada gejala yang lebih serius ketika keahlian mulai dipandang sebagai sesuatu yang mencurigakan.

“Dia doktor.”

“Pasti antek.”

“Dia profesor.”

“Pasti bagian dari elite.”

“Dia ahli.”

“Pasti ada kepentingan.”

Tentu saja para ahli bisa memiliki kepentingan.

Tetapi solusi terhadap kemungkinan bias bukanlah membuang keahlian.

Solusinya adalah:

periksa datanya, periksa metodenya, bandingkan sumbernya, dan kritik kesimpulannya.

Bukan:

“Dia lulusan universitas terkenal, berarti pasti bohong.”

Kalau begitu, kita akan segera sampai pada tahap berikutnya:

“Dia tidak punya pendidikan, berarti pasti benar.”

Dan itu juga tidak masuk akal.

Tidak memiliki gelar bukan bukti kebodohan.

Tetapi tidak memiliki gelar juga bukan bukti otomatis kebijaksanaan.

Sama seperti memiliki gelar bukan jaminan seseorang selalu benar.


Mungkin yang Menyusut Bukan Orang Pintar

Di sinilah kita bisa membalik sindiran Zhvanetsky.

Mungkin bukan jumlah orang pintar yang semakin sedikit.

Mungkin yang semakin sedikit adalah:

kesabaran untuk mendengarkan orang pintar.

Dan lebih buruk lagi:

kesabaran untuk menjadi pintar.

Sebab menjadi pintar itu melelahkan.

Anda harus membaca.

Harus memeriksa sumber.

Harus mengakui bahwa Anda salah.

Harus mengubah pendapat ketika bukti berubah.

Harus mengatakan:

“Saya tidak tahu.”

Kalimat terakhir ini sangat sulit di zaman internet.

Sebab internet telah menciptakan pasar besar bagi manusia yang tidak tahu tetapi sangat yakin.

Sementara manusia yang benar-benar memahami persoalan justru sering berkata:

“Masalahnya lebih kompleks dari itu.”

Kalimat tersebut tidak viral.

Tidak ada yang mau membagikan:

“Menurut penelitian terbaru, kesimpulannya masih belum pasti.”

Tidak cukup seksi.


Jangan Takut pada Mayoritas, Takutlah pada Kemalasan Berpikir

Pada akhirnya, sindiran tentang dominasi kebodohan mungkin tidak perlu dibaca sebagai kebencian kepada mayoritas.

Ia lebih berguna jika dibaca sebagai peringatan terhadap kemalasan intelektual.

Bahaya terbesar bukan ketika orang biasa memiliki suara.

Bahaya terbesar adalah ketika orang berhenti menggunakan suara itu untuk mencari kebenaran.

Demokrasi membutuhkan rakyat.

Tetapi demokrasi juga membutuhkan literasi.

Masyarakat membutuhkan ilmuwan.

Tetapi ilmuwan juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi.

Publik membutuhkan ahli.

Tetapi ahli juga membutuhkan kerendahan hati.

Dan kita semua membutuhkan sesuatu yang semakin langka:

kesediaan untuk berkata, “Mungkin saya salah.”

Kalimat itu sebenarnya sangat sederhana.

Tetapi di internet, ia hampir tergolong tindakan revolusioner.


Dunia Tidak Kekurangan Orang Pintar, Hanya Kekurangan Orang yang Mau Berpikir

Sindiran Zhvanetsky—entah benar berasal darinya atau merupakan kutipan yang kemudian ditempelkan pada namanya—tetap menarik karena menyentuh kegelisahan yang nyata.

Tetapi kita tidak perlu menyimpulkan bahwa dunia sedang dikuasai orang bodoh.

Itu terlalu mudah.

Dan ironisnya, terlalu bodoh.

Persoalan sebenarnya jauh lebih rumit.

Kita hidup dalam dunia yang memberi penghargaan besar kepada kecepatan, popularitas, emosi, dan kesederhanaan. Sementara berpikir mendalam membutuhkan waktu, keraguan, ketekunan, dan kesediaan membaca sesuatu yang panjangnya lebih dari satu layar ponsel.

Itulah sebabnya perjuangan intelektual zaman sekarang bukan hanya melawan kebodohan.

Ia juga melawan notifikasi.

Dan ini musuh yang sangat kuat.

Sebab kebodohan masih bisa dilawan dengan pendidikan.

Tetapi bagaimana melawan seseorang yang sedang mencoba membaca buku sambil menerima 47 notifikasi WhatsApp?

Mungkin di sinilah ironi terbesar zaman kita.

Kita memiliki akses terhadap hampir seluruh pengetahuan manusia dalam genggaman tangan.

Tetapi sering kali menggunakan benda itu untuk mencari:

“Benarkah makan pisang sambil tidur bisa membuat seseorang menjadi jenius?”

Lalu kita membaca satu komentar.

Percaya.

Membagikan.

Dan merasa tercerahkan.

Mungkin dunia tidak sedang menuju idiokrasi.

Mungkin dunia hanya sedang mengalami kelebihan informasi dan kekurangan kebijaksanaan.

Dan obatnya bukan pemerintahan orang pintar.

Bukan pula pemerintahan orang bodoh.

Melainkan masyarakat yang mau terus belajar—termasuk belajar bahwa dirinya sendiri mungkin keliru.

Karena pada akhirnya, kecerdasan bukanlah kemampuan untuk selalu benar.

Kecerdasan adalah keberanian untuk menyadari bahwa kita bisa salah, lalu cukup rendah hati untuk memperbaikinya.

Dan kalau kalimat itu terasa terlalu panjang untuk dibagikan di media sosial, jangan khawatir.

Kita bisa ringkas:

“Jangan sok tahu.”

Nah.

Ini pasti viral.

yang bikin emosi.

Ketika Kebodohan Menang Pemilu dan Kecerdasan Disuruh Bikin Subtitle

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.