Catatan Ringan tentang Manusia yang Ingin Masuk Surga, Tapi Masih Mengecek Siapa yang Menekan Tombol "Like"
Ada satu profesi yang tampaknya sedang naik daun di zaman
media sosial: kolektor pahala yang merangkap content creator.
Setiap amal harus ada dokumentasinya. Sedekah difoto.
Tahajud diberi caption. Umrah dibuat menjadi serial delapan episode. Bahkan ada
orang yang baru selesai membaca Al-Qur'an satu juz, tetapi proses memilih
filter Instagram memakan waktu lebih lama daripada waktu tilawahnya.
Untunglah para ulama tasawuf hidup jauh sebelum ada media
sosial. Bayangkan jika Ibnu Athaillah memiliki akun TikTok. Bisa-bisa hikmah
Al-Hikam berbunyi:
"Amal sedikit dari hati yang zuhud lebih besar nilainya
daripada amal berjilid-jilid yang diedit dengan transisi sinematik."
Lucunya, meskipun dunia berubah drastis, penyakit hati
manusia ternyata menggunakan sistem operasi yang sama sejak ribuan tahun lalu.
Yang berubah hanya perangkatnya.
Dulu orang riya di alun-alun.
Sekarang riya di kolom komentar.
Dulu orang ingin dipuji tetangga.
Sekarang ingin dipuji orang yang bahkan belum pernah
bertemu.
Teknologi berkembang. Ego tetap versi lama.
Ibnu Athaillah memberikan kabar yang sebenarnya cukup
melegakan. Allah ternyata tidak memiliki kalkulator amal seperti panitia lomba
menghitung jumlah peserta.
Yang dinilai bukan semata-mata banyaknya amal.
Yang diperiksa justru mesin penggeraknya: hati.
Ini kabar buruk bagi mereka yang rajin menghitung berapa
kali sedekahnya disebut orang.
Tetapi kabar baik bagi seseorang yang hanya mampu membantu
sedikit, lalu pulang tanpa seorang pun mengetahui.
Allah rupanya tidak terlalu terkesan pada angka.
Manusialah yang gemar membuat grafik.
Masalahnya, manusia memang sulit berpisah dengan dunia.
Bahkan ketika sedang berbicara tentang akhirat, yang
dipikirkan sering kali tetap dunia.
Ada yang rajin shalat supaya usahanya lancar.
Rajin sedekah supaya proyek cair.
Rajin umrah supaya omzet naik.
Rajin membaca wirid supaya cepat naik jabatan.
Seolah-olah surga hanyalah kantor pelayanan administrasi
keberuntungan.
Doa diperlakukan seperti proposal investasi.
Kalau keuntungan belum turun dalam tiga hari kerja, mulai
bertanya kepada ustaz, "Pak, wiridnya asli, kan?"
Padahal mungkin Allah sedang tersenyum sambil berkata, "Aku kira kamu sedang mencari-Ku. Ternyata kamu sedang mencari bonus."
Lalu datanglah tingkat kedua yang lebih halus.
Orang tidak lagi mengejar uang.
Ia mengejar penghormatan.
Kalimat favoritnya terdengar sangat rendah hati.
"Saya ini bukan siapa-siapa."
Biasanya kalimat itu diucapkan setelah pembawa acara
memperkenalkannya selama lima belas menit penuh.
Ada juga yang berkata,
"Jangan panggil saya ustaz."
Lalu kecewa ketika dipanggil hanya dengan nama.
Kerendahan hati ternyata kadang memiliki cara yang sangat kreatif untuk menyamar menjadi kesombongan.
Namun puncak kejeniusan ego manusia muncul pada tingkat
ketiga.
Inilah level yang paling sulit dideteksi.
Seseorang tidak lagi bangga karena mobilnya.
Tidak lagi bangga karena rumahnya.
Tidak lagi bangga karena jabatannya.
Ia bangga karena sudah tidak bangga.
Ini luar biasa.
Ego berhasil menyusup ke dalam ruang anti-ego.
Seperti pencuri yang menyamar menjadi satpam.
Ia berkata dalam hati,
"Masya Allah... aku memang sudah ikhlas."
Kalimat itu sendiri sudah cukup untuk membatalkan pesta
perayaan keikhlasan yang baru saja ia adakan sendirian.
Ego memang licik.
Kalau pintu depan ditutup, ia masuk lewat jendela.
Kalau jendela dikunci, ia menyamar menjadi penghuni rumah.
Kajian tentang zuhud sebenarnya membongkar kesalahpahaman
besar.
Banyak orang mengira zuhud berarti hidup lusuh, makan
singkong, memakai sandal yang sudah pensiun sejak reformasi, lalu memandang
sinis orang yang membeli kopi mahal.
Padahal bukan itu.
Kalau ukuran zuhud adalah pakaian sederhana, maka mesin cuci
adalah sufi terbesar di rumah.
Yang membuat seseorang zuhud bukan harga bajunya.
Melainkan apakah bajunya menguasai hatinya.
Rumah besar bukan masalah.
Yang bermasalah adalah ketika hati ikut menjadi cicilan.
Mobil mewah bukan dosa.
Yang melelahkan adalah ketika harga diri ikut ditentukan
oleh logo di kap mesin.
Dunia tidak dilarang masuk ke garasi.
Yang berbahaya adalah ketika dunia pindah alamat ke dalam hati.
Ada ironi yang menarik.
Semakin modern manusia, semakin sibuk ia mengejar sesuatu
yang sebenarnya tidak bisa dibawa pulang.
Kita bekerja mati-matian membeli rumah.
Setelah rumah lunas, tubuh justru lebih sering berada di
kantor.
Kita membeli kasur paling empuk.
Lalu tidur ditemani notifikasi.
Kita membeli ponsel paling mahal.
Tetapi tidak pernah punya waktu menelepon ibu.
Kemajuan teknologi ternyata belum otomatis membuat hati ikut
maju.
Kecepatan internet meningkat.
Kecepatan muhasabah tetap menggunakan jaringan yang sering putus.
Yang paling menyentuh dari ajaran zuhud justru
kesederhanaannya.
Allah tidak meminta kita menjadi malaikat.
Tidak meminta kita hidup tanpa kebutuhan.
Tidak meminta kita membenci dunia.
Yang diminta hanyalah jangan sampai dunia duduk di
singgasana hati.
Karena singgasana itu seharusnya hanya cukup untuk satu.
Kalau sudah diisi gengsi, ambisi, pujian, dan ketakutan
kehilangan, maka cinta kepada Allah harus antre.
Padahal Dia tidak pernah meminta nomor antrean.
Mungkin itulah sebabnya para sufi selalu tampak tenang.
Bukan karena hidup mereka bebas masalah.
Melainkan karena mereka berhenti menjadikan dunia sebagai
direktur utama kebahagiaan.
Kalau rezeki datang, mereka bersyukur.
Kalau terlambat, mereka tetap makan dengan lahap.
Kalau dipuji, tidak mabuk.
Kalau dicela, tidak runtuh.
Mereka tidak kebal terhadap hidup.
Mereka hanya tidak menggantungkan hidup pada sesuatu yang mudah hilang.
Pada akhirnya, zuhud bukanlah soal meninggalkan dunia.
Kalau semua orang pergi ke gunung, siapa yang akan membayar
pajak, mengajar di sekolah, atau memperbaiki jalan?
Zuhud justru mengajarkan seni yang jauh lebih sulit.
Tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan.
Tetap memiliki harta, tetapi tidak dimiliki harta.
Tetap terkenal bila Allah menghendaki, tetapi tidak menjadi
pecandu tepuk tangan.
Tetap beramal, tetapi lupa menghitung amal sendiri.
Barangkali di situlah letak keindahan zuhud.
Ia membuat hidup menjadi ringan.
Karena yang paling berat dalam hidup ternyata bukan membawa
dunia.
Melainkan membawa ego ke mana-mana.
Dan anehnya, koper ego selalu kelebihan bagasi, padahal
isinya cuma satu kalimat:
"Semoga semua orang tahu kalau saya sudah tidak
mencintai dunia."
Kalimat itulah yang sering membuat dunia tertawa paling
keras.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.