Kedamaian Itu Mudah: Tinggal Salam, Sabar, dan Jangan Merasa Jadi Tuhan
Ada sebuah cita-cita manusia yang sangat universal: ingin hidup damai.
Semua orang menginginkannya. Orang kaya ingin damai. Orang
miskin ingin damai. Orang yang punya jabatan ingin damai. Bahkan orang yang
setiap hari membuat orang lain tidak damai pun, kalau ditanya, biasanya akan
menjawab, “Saya juga ingin kedamaian.”
Ini menarik.
Kita semua ingin dunia tenang, tetapi sering kali kita
sendiri menjadi sumber kebisingannya.
Kita ingin keluarga harmonis, tetapi baru melihat pesan
WhatsApp yang tidak sesuai harapan saja sudah menyusun tiga bab tentang
pengkhianatan. Kita ingin masyarakat rukun, tetapi berbeda pendapat sedikit
langsung muncul kalimat, “Nah, kelihatan sekarang aslinya!”
Kita ingin perdamaian dunia, tetapi rebutan tempat parkir
saja bisa membuat kita mempertanyakan kualitas peradaban manusia.
Maka pertanyaannya: di mana sebenarnya kedamaian itu?
Dalam kajian Kedamaian dari Kesabaran, memberikan jawaban yang sangat sederhana, tetapi justru karena sederhana
itulah manusia sering gagal melakukannya: tebarkan salam dan bersabarlah.
Masalahnya, dua pekerjaan ini kelihatannya mudah.
Mengucapkan salam hanya membutuhkan beberapa detik.
Bersabar? Nah, ini yang membutuhkan seluruh isi kepala,
hati, dan kadang-kadang koneksi internet yang stabil agar kita tidak sempat
membalas komentar orang.
Salam: Kalimat Pendek, Dampaknya Panjang
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa iman dan cinta kepada
sesama memiliki hubungan erat, dan salah satu jalan untuk menumbuhkan cinta itu
adalah menebarkan salam.
Salam bukan sekadar “Assalamu'alaikum” sebagai pembuka
percakapan.
Salam adalah doa.
Ketika kita mengucapkan salam, kita sebenarnya sedang
berkata kepada orang lain: semoga engkau selamat, semoga engkau mendapat
rahmat, semoga engkau berada dalam kebaikan.
Masalahnya, zaman sekarang kadang salam sudah berubah
menjadi semacam tombol login sosial.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam.”
“Bang, ada transfer?”
Selesai.
Padahal salam seharusnya menjadi pembuka pintu kasih sayang,
bukan sekadar pembuka pintu transaksi.
Lebih lucu lagi kalau kita rajin mengucapkan salam tetapi
setelah itu menghabiskan satu jam menjelaskan mengapa orang yang baru kita
salami adalah manusia paling menyebalkan di muka bumi.
Salamnya damai.
Narasinya perang.
Di sinilah kita belajar bahwa kedamaian bukan hanya
persoalan ucapan, tetapi latihan hati.
Kalau setiap bertemu orang kita mendoakan keselamatannya,
lama-lama hati kita akan kesulitan untuk memelihara dendam.
Sulit membenci seseorang yang setiap hari kita doakan
kebaikannya.
Itulah hebatnya salam.
Ia bukan sekadar suara yang keluar dari mulut. Ia bisa
menjadi semacam “antivirus” bagi hati.
Tiga Ukhuwah dan Satu Masalah Besar: Ego
Dalam tradisi Islam, persaudaraan tidak berhenti pada satu
lingkaran saja.
Ada ukhuwah islamiyah: persaudaraan sesama Muslim.
Ada ukhuwah basyariyah: persaudaraan sesama manusia.
Dan ada ukhuwah wathoniyah: persaudaraan sebagai
sesama anak bangsa.
Secara teori, semuanya indah.
Secara praktik, kadang kita baru berbeda pilihan makanan
saja sudah merasa perlu membuat manifesto politik.
Perbedaan memang ada.
Ada yang suka kopi pahit, ada yang suka kopi susu. Ada yang
suka membaca filsafat, ada yang lebih suka membaca komentar di media
sosial—yang kadang tingkat filosofinya lebih tinggi daripada bukunya.
Namun perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Kita berasal dari sumber kemanusiaan yang sama. Maka
perbedaan seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan alasan untuk
saling merendahkan.
Sayangnya, manusia memiliki satu penyakit yang sangat sulit
disembuhkan: ego.
Ego selalu berkata:
“Saya benar.”
Kalau ada bukti bahwa kita salah, ego menjawab:
“Buktinya belum cukup.”
Kalau bukti sudah sangat lengkap, ego berkata:
“Yang penting saya tetap tidak setuju.”
Begitulah ego.
Ia tidak mencari kebenaran.
Ia mencari kemenangan.
Padahal dalam kehidupan spiritual, kemenangan terbesar
bukanlah berhasil mengalahkan orang lain, melainkan berhasil mengalahkan diri
sendiri.
Dunia Memang Tempat Ujian, Bukan Tempat Check-In Permanen
Dalam pandangan tasawuf, dunia adalah tempat ujian.
Ini kabar yang sebenarnya sudah diketahui semua orang,
tetapi sering kita lupakan ketika masalah datang.
Kita ingin hidup seperti hotel bintang lima: tenang, nyaman,
pelayanan bagus, sarapan gratis.
Padahal Allah tidak pernah menjanjikan dunia sebagai hotel.
Dunia lebih mirip ruang ujian.
Dan yang lucu, manusia sering marah kepada soal ujian karena
merasa soalnya terlalu sulit.
“Kenapa saya diuji dengan masalah ini?”
Seolah-olah kita bisa mengajukan komplain kepada panitia
ujian:
“Pak, soal nomor tiga mohon diganti. Saya lebih siap
menghadapi soal nomor lima.”
Padahal ujian kehidupan bukan tentang memilih soal yang kita
sukai.
Yang dinilai adalah bagaimana kita menghadapinya.
Ujian bisa menjadi ikrāman, pemuliaan, atau ihānah, penghinaan.
Ujian yang membuat kita kembali kepada Allah bisa menjadi
jalan kemuliaan.
Sebaliknya, ujian yang membuat kita semakin sombong, marah,
dan menjauh dari Allah justru dapat menjadi kehancuran.
Jadi masalahnya bukan semata-mata apa yang terjadi kepada
kita, tetapi menjadi siapa kita setelah sesuatu terjadi kepada kita.
Sabar Bukan Berarti Menjadi Keset
Ada kesalahpahaman yang cukup populer tentang sabar.
Sebagian orang mengira sabar berarti diam terhadap segala
sesuatu.
Dizalimi, sabar.
Dihina, sabar.
Ditipu, sabar.
Saldo berkurang, sabar.
Wi-Fi mati ketika sedang rapat daring, sabar.
Semua dijawab dengan sabar.
Padahal sabar bukan berarti kehilangan akal sehat.
Sabar adalah keteguhan hati dalam menghadapi ujian tanpa
kehilangan hubungan dengan Allah.
Orang sabar bukan orang yang tidak merasakan sakit.
Ia merasakan sakit, tetapi tidak membiarkan rasa sakit
mengendalikan seluruh dirinya.
Ia marah, tetapi tidak menjadi budak kemarahan.
Ia sedih, tetapi tidak menjadikan kesedihan sebagai
identitas.
Ia kecewa, tetapi tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan
untuk membenci seluruh dunia.
Dan yang paling penting, ia tidak merasa bahwa karena sedang
diuji maka Allah sedang meninggalkannya.
Justru bisa jadi sebaliknya.
Ujian itu sedang mengetuk pintu hati:
“Pulanglah.”
Jangan-Jangan Kita Lebih Mirip Iblis daripada Adam
Bagian paling menarik dari refleksi ini adalah perbandingan
antara Nabi Adam AS dan Iblis.
Keduanya sama-sama menghadapi ujian.
Tetapi responsnya berbeda.
Iblis melihat dirinya sendiri.
“Aku lebih baik.”
Adam AS melihat kelemahannya.
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.”
Di sinilah letak perbedaan spiritual yang sangat besar.
Iblis berkata, kira-kira, “Saya hebat.”
Adam berkata, “Saya membutuhkan-Mu.”
Dan manusia modern kadang tanpa sadar memilih jalan pertama.
Sedikit berhasil, langsung merasa hebat.
Sedikit punya ilmu, merasa paling tahu.
Sedikit punya pengikut, merasa pendapatnya sudah menjadi
fatwa semesta.
Sedikit punya jabatan, mulai berjalan seperti bumi harus
meminta izin sebelum berputar.
Padahal semua yang kita miliki sebenarnya bisa hilang dalam
satu detik.
Kesehatan, harta, jabatan, popularitas, bahkan sinyal
telepon.
Manusia memang makhluk yang unik.
Ketika punya sedikit kekuasaan, ia merasa seperti penguasa
alam.
Ketika kehilangan kuasa, baru sadar bahwa ternyata membuka
tutup botol sendiri saja kadang membutuhkan bantuan.
Kedamaian Bukan Dunia Tanpa Masalah
Inilah inti yang paling indah.
Kedamaian sejati bukan berarti hidup tanpa masalah.
Kalau kedamaian berarti tidak ada masalah, maka mungkin
manusia baru akan benar-benar damai ketika sudah tidak hidup di dunia.
Selama masih hidup, akan selalu ada sesuatu yang mengganggu.
Ada manusia yang tidak sesuai harapan.
Ada rencana yang gagal.
Ada kehilangan.
Ada sakit hati.
Ada tagihan.
Ada komentar netizen.
Dan yang terakhir ini kadang terasa seperti ujian khusus
yang tidak tercantum dalam Al-Qur'an, tetapi sangat efektif melatih kesabaran.
Maka kedamaian bukanlah hilangnya badai.
Kedamaian adalah kemampuan menjaga hati ketika badai datang.
Salam mengajarkan kita untuk mencintai manusia.
Sabar mengajarkan kita untuk menerima kenyataan tanpa
kehilangan Allah.
Keduanya seperti dua kaki.
Kalau hanya punya salam tanpa sabar, kita mungkin menjadi
orang yang ramah kepada semua orang tetapi gampang meledak ketika hidup tidak
sesuai keinginan.
Kalau hanya sabar tanpa cinta, kita mungkin terlihat tenang
tetapi hati masih penuh jarak dengan manusia.
Salam membuka pintu ke sesama.
Sabar membuka pintu kepada Allah.
Penutup: Barangkali Damai Itu Dimulai dari Mulut Kita
Kita sering menunggu dunia menjadi damai sebelum kita merasa
damai.
Padahal mungkin urutannya justru sebaliknya.
Mulailah dari diri sendiri.
Ucapkan salam.
Doakan orang lain.
Kurangi dendam.
Jangan terlalu cepat menghakimi.
Belajarlah sabar.
Dan sesekali, ketika ego mulai berkata, “Aku lebih baik
daripada dia,” segera ingat kisah Iblis.
Tidak perlu menunggu malaikat datang membawa papan
pengumuman.
Kita sudah punya contoh sejarahnya.
Pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan dunia yang sempurna
untuk merasakan kedamaian.
Kita membutuhkan hati yang tahu kepada siapa ia bersandar.
Karena hidup akan selalu menghadirkan ujian.
Orang akan tetap menyebalkan.
Rencana akan tetap gagal.
Dunia akan tetap ribut.
Dan manusia akan tetap menjadi manusia.
Tetapi kita masih memiliki pilihan:
menjadi orang yang menambah kebisingan, atau menjadi
orang yang menebarkan salam.
Kita masih bisa memilih:
mengeluh kepada dunia, atau bersabar sambil kembali
kepada Allah.
Dan mungkin, di situlah kedamaian sejati dimulai.
Bukan ketika semua masalah selesai.
Melainkan ketika hati kita tidak lagi membutuhkan dunia
untuk selalu berjalan sesuai keinginan kita.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
8/22/2026 03:58:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.