Kamis, 20 Agustus 2026

Selubung Dzikir: Lailatul Qadar, Bahkan Saat Kita Sedang Menunggu Wi-Fi

Ada manusia yang sangat rajin menghitung umur. Umur sendiri dihitung sampai dua angka di belakang koma, umur orang lain dibandingkan, lalu ketika memasuki usia tertentu mulai panik: “Kok belum punya rumah? Kok belum kaya? Kok belum punya jabatan?”

Padahal ada satu pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: selama umur itu berjalan, sebenarnya apa yang sudah kita lakukan dengan waktu?

Sebab umur panjang belum tentu panjang berkahnya. Ada orang hidup puluhan tahun tetapi sebagian besar waktunya habis untuk mengeluh, mengejar dunia, bertengkar di kolom komentar, dan mencari siapa yang salah. Ada pula orang yang hidupnya singkat, tetapi setiap waktunya terasa penuh: banyak memberi, banyak mengingat Allah, banyak bersyukur, dan ketika pergi meninggalkan jejak kebaikan yang lebih panjang daripada usianya.

Inilah salah satu kegelisahan yang dibangkitkan oleh hikmah-hikmah Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī. Waktu ternyata bukan sekadar angka pada kalender. Waktu adalah amanah yang setiap detiknya diam-diam sedang berjalan menuju pintu keluar.

Dan yang lebih menyedihkan: tidak ada tombol “undo”.

Umur Panjang, Tapi Isinya Loading

Kita sering mengira keberkahan identik dengan panjang umur. Seolah-olah kalau seseorang hidup sampai 90 tahun, otomatis ia lebih beruntung daripada yang hidup 50 tahun.

Padahal Allah tidak menilai kehidupan seperti petugas sensus.

Bukan soal berapa tahun kita hidup, melainkan apa yang terjadi di dalam tahun-tahun tersebut.

Ada usia yang panjang tetapi kosong. Ada usia yang pendek tetapi padat makna.

Mirip hard disk: kapasitas besar tidak menjamin isinya berguna. Bisa saja 1 terabyte penuh dengan foto makanan, screenshot percakapan, video yang tidak pernah ditonton lagi, dan 4.000 foto langit yang sebenarnya hampir sama.

Begitu pula hidup.

Yang penting bukan berapa banyak hari yang kita miliki, tetapi berapa banyak hari yang benar-benar kita hidupi dengan kesadaran kepada Allah.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia melalui Surah al-‘Aṣr bahwa waktu membawa manusia kepada kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Jadi masalah kita bukan semata-mata kekurangan waktu.

Sering kali masalah kita adalah kelebihan waktu yang tidak tahu mau dipakai untuk apa.

22 Jam yang Misterius

Imam al-Ghazālī dalam Bidāyat al-Hidāyah memberikan gambaran yang membuat kita agak malu kepada jam dinding: waktu ibadah formal manusia dalam sehari relatif singkat, sementara sebagian besar waktu lainnya terbuka lebar untuk berbagai aktivitas.

Dan di sinilah manusia modern menunjukkan kreativitasnya.

Dua puluh dua jam bisa digunakan untuk:

bangun tidur, membuka ponsel, mengecek notifikasi, membuka media sosial, menonton satu video, terseret ke video berikutnya, membaca komentar, membalas komentar, menyesal membalas komentar, lalu mencari video untuk menenangkan diri setelah membaca komentar.

Tiba-tiba sudah magrib.

Kita kemudian berkata:

“Wah, hari ini cepat sekali.”

Hari memang tidak cepat.

Kita yang terlalu sibuk sehingga tidak menyadari ia sedang pergi.

Setiap Napas Adalah Kesempatan

Dalam pembahasan ḥuqūq al-awqāt, ada satu kesadaran yang sangat dalam: tidak semua hak waktu dapat diganti.

Salat yang terlewat memiliki pembahasan qada. Puasa tertentu juga memiliki qada. Tetapi bagaimana dengan satu napas yang sudah berlalu?

Tidak ada qada untuk napas pukul 14.37 tadi.

Tidak ada tombol:

“Ulangi napas sebelumnya.”

Karena itu setiap detik memiliki keunikannya sendiri.

Satu detik yang lewat tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.

Di sinilah konsep zikir menjadi sangat luas. Zikir bukan hanya ketika seseorang duduk di atas sajadah dengan tasbih di tangan. Zikir adalah kesadaran bahwa hidup berlangsung billāh-lillāh: karena Allah dan untuk Allah.

Kuliah karena Allah.

Bekerja karena Allah.

Mengasuh anak karena Allah.

Mencari nafkah karena Allah.

Bahkan mencuci piring pun—kalau dilakukan dengan kesadaran yang benar—tidak harus menjadi aktivitas spiritual yang dramatis.

Hanya saja, kita sering ingin pengalaman spiritual yang spektakuler.

Mencuci piring sambil mengingat Allah terasa kurang mistis.

Kita maunya melihat cahaya dari langit.

Padahal mungkin Allah sedang mengajari kita ikhlas melalui piring kotor yang tidak pernah selesai.

Lailatul Qadar di Mana-Mana?

Ada ungkapan Syekh Abul ‘Abbās al-Mursī yang sangat indah:

“Awqātunā kulluhā lailat al-qadr.”

Setiap waktu kita adalah Lailatul Qadar.

Ini tentu bukan berarti setiap malam secara hukum menjadi Lailatul Qadar. Maksud spiritualnya adalah bahwa bagi orang yang benar-benar hadir bersama Allah, setiap saat dapat menjadi waktu yang penuh limpahan makna dan keberkahan.

Ramadan memberi kita Lailatul Qadar sebagai karunia yang luar biasa.

Tetapi tasawuf mengajak kita bertanya lebih jauh:

Kalau kita hanya sadar kepada Allah pada malam tertentu, lalu bagaimana dengan siang, sore, dan pagi yang lain?

Jangan-jangan kita terlalu sibuk menunggu malam istimewa sampai lupa membuat siang biasa menjadi istimewa.

Ada orang mengejar Lailatul Qadar sambil tetap menghabiskan sebelas bulan lainnya dalam mode autopilot.

Padahal spiritualitas bukan sekadar berburu malam.

Ia adalah belajar hadir dalam setiap saat.

Barakah Bukan Berarti Rekening Bertambah Nol

Ini bagian yang sering membuat manusia modern salah paham.

Ketika mendengar “barakah”, kita membayangkan:

rekening bertambah, bisnis laris, rumah besar, kendaraan bagus, proyek datang bertubi-tubi.

Kalau semua itu datang, kita berkata:

“Alhamdulillah, hidup saya penuh berkah.”

Tetapi kalau bisnis bangkrut, kesehatan terganggu, rencana gagal, lalu kita bertanya:

“Ya Allah, berkahnya ke mana?”

Padahal barakah bukan sekadar banyaknya benda yang kita miliki.

Barakah adalah bertambahnya kebaikan dalam diri kita.

Bertambah sabar.

Bertambah syukur.

Bertambah tawakkal.

Bertambah ridha.

Bertambah kasih sayang.

Bertambah kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan Allah.

Karena itu seseorang bisa memiliki sedikit harta tetapi hidupnya penuh berkah. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi setiap malam hatinya tetap gelisah seperti tab browser yang terlalu banyak dibuka.

Kuliah Bisa Menjadi Ibadah, Kantor Bisa Menjadi Jalan Pulang

Gagasan billāh-lillāh menjadi menarik ketika diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Seorang mahasiswa yang berangkat kuliah dengan niat:

“Ilāhī anta maqṣūdī” — Tuhanku, Engkaulah tujuanku.

Maka perjalanan menuju kampus tidak lagi sekadar perpindahan geografis.

Kuliah bukan hanya mengejar nilai.

Belajar menjadi bagian dari amanah.

Demikian pula orang yang bekerja.

Ia tidak harus meninggalkan kantor untuk menjadi spiritual.

Justru kantor itulah medan spiritualnya.

Bos yang menyebalkan bisa menjadi latihan sabar.

Teman kerja yang sulit bisa menjadi latihan menahan ego.

Gaji yang pas-pasan bisa menjadi latihan syukur.

Deadline yang brutal bisa menjadi latihan tawakkal.

Dan rapat yang seharusnya 20 menit tetapi berlangsung dua jam?

Mungkin itu level lanjut dari mujāhadah.

Tentu saja, bukan berarti semua rapat adalah ibadah. Tetapi kesadaran kepada Allah membuat aktivitas biasa memperoleh orientasi yang berbeda.

Zikir yang Tidak Perlu Dipamerkan

Ada tingkatan zikir yang semakin dalam ketika semakin tidak membutuhkan penonton.

Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal ingin didokumentasikan.

Makan difoto.

Liburan difoto.

Sedekah difoto.

Olahraga difoto.

Bahkan ketika sedang “tidak melakukan apa-apa”, kita masih sempat membuat story bahwa kita sedang tidak melakukan apa-apa.

Maka zikir yang rahasia menjadi sangat berharga.

Ada hubungan yang hanya diketahui oleh hamba dan Tuhannya.

Tidak perlu caption.

Tidak perlu emoji.

Tidak perlu:

“Masya Allah, sedang menikmati kedekatan spiritual.”

Sebab semakin dalam zikir, semakin kecil kebutuhan untuk memberitahukan bahwa kita sedang berzikir.

Di titik tertentu, lafaz bahkan menjadi sunyi, sementara hati mengalami ḥuḍūr—kehadiran.

Bukan lagi sekadar “mengucapkan nama Allah”, tetapi hidup dalam kesadaran bahwa Allah tidak pernah absen.

Takhallī, Taḥallī, Tajallī: Bersih-Bersih Batin

Perjalanan spiritual kemudian bergerak melalui tiga istilah indah: takhallī, taḥallī, dan tajallī.

Takhallī adalah mengosongkan diri dari sifat buruk.

Terutama ego.

Masalahnya, ego ini sangat pintar.

Ketika kita mengatakan:

“Aku tidak punya ego.”

Ego kita langsung tersenyum bangga.

Ketika kita berkata:

“Aku sudah ikhlas.”

Ego menjawab:

“Hebat juga saya.”

Karena itu perjuangan melawan ego bukan perkara sederhana.

Setelah mengosongkan diri, datang taḥallī: menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji—sabar, tawaduk, syukur, kasih sayang, dan kejujuran.

Lalu tajallī: ketika nilai-nilai itu mulai memancar dalam kehidupan.

Artinya, kesalehan tidak berhenti di sajadah.

Kalau selesai salat kita langsung memarahi orang serumah, mungkin ada sesuatu yang masih perlu direnungkan.

Kalau rajin zikir tetapi senang merendahkan orang lain, mungkin tasbih sudah panjang tetapi ego masih pendek umur.

Tafakur: Jalan-Jalan Tanpa Tiket

Tasawuf juga mengajak manusia bertafakur.

Al-fikratu sairul-qalbi fī mayādīnil-agyār—tafakur adalah perjalanan hati di medan makhluk.

Ini menarik karena kita sebenarnya sering jalan-jalan setiap hari, tetapi belum tentu hati kita ikut berjalan.

Kita melihat langit, tetapi yang dipikirkan saldo.

Melihat hujan, tetapi memikirkan jemuran.

Melihat gunung, tetapi memikirkan angle foto.

Melihat laut, tetapi mencari sinyal.

Tafakur mengubah cara memandang.

Langit bukan sekadar langit.

Hujan bukan sekadar hujan.

Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan, kegagalan, keberhasilan—semuanya dapat menjadi pintu untuk membaca tanda-tanda Allah.

Para ulul albāb bukan orang yang berhenti berpikir karena sudah beriman.

Justru karena beriman, mereka berpikir lebih dalam.

Mereka berzikir sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Kemudian bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi.

Dengan kata lain:

zikir menjaga hati agar tidak tersesat; tafakur membuat akal tidak menganggur.

Orang Arif dan Seni Melihat Allah di Balik Kejadian

Ada perbedaan menarik antara orang yang hanya melihat peristiwa dan orang yang belajar melihat makna di balik peristiwa.

Bagi sebagian orang, dunia adalah kumpulan ancaman.

Ada orang yang harus ditakuti.

Ada masalah yang harus dikhawatirkan.

Ada masa depan yang harus dicemaskan.

Tetapi bagi orang yang arif, setiap kejadian dapat menjadi pintu untuk mengenal Allah.

Bukan berarti ia tidak sedih.

Bukan berarti ia tidak menangis.

Bukan berarti hidupnya bebas masalah.

Ia hanya tidak membiarkan masalah menjadi tuhan kecil yang menguasai seluruh hatinya.

Karena itu ḥusnuzan kepada Allah bukan sekadar berpikir positif.

Ia adalah keyakinan bahwa di balik sesuatu yang belum kita pahami, tetap ada hikmah dan pengaturan Allah.

Kita hanya belum melihat seluruh halaman.

Kita Sering Mengejar Surga, Tetapi Lupa Menjadi Orang yang Layak Memasukinya

Ada manusia yang sangat rajin membicarakan surga.

Gambarannya indah.

Sungai mengalir.

Buah-buahan.

Tidak ada pajak.

Tidak ada deadline.

Tidak ada grup WhatsApp kantor.

Sungguh menjanjikan.

Tetapi pembahasan spiritual mengingatkan: menginginkan surga tanpa amal adalah lamunan.

Demikian pula mengejar dunia tanpa henti sampai kematian datang adalah kesia-siaan.

Kita harus hidup di antara keduanya: bekerja di dunia, tetapi tidak diperbudak dunia; berharap akhirat, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk mengabaikan amanah di dunia.

Satu Jam Tafakur

Anjuran untuk menyediakan waktu bertafakur setidaknya satu jam terdengar sederhana.

Tetapi cobalah.

Satu jam tanpa ponsel.

Satu jam tanpa scrolling.

Satu jam tanpa membuka berita.

Satu jam tanpa memeriksa apakah seseorang sudah membaca pesan kita.

Mungkin lima menit pertama kita akan merasa damai.

Menit keenam mulai gelisah.

Menit kesepuluh tangan mencari ponsel.

Menit kelima belas kita sadar bahwa ponsel ternyata memiliki kekuatan magnetis.

Dan di situlah latihan dimulai.

Karena kita bukan hanya belajar duduk diam.

Kita sedang belajar berjumpa dengan diri sendiri tanpa distraksi.

Mungkin setelah itu kita baru sadar betapa berisiknya kehidupan yang selama ini kita sebut “normal”.

Selubung Dzikir

Pada akhirnya, zikir bukanlah aktivitas yang ditempelkan di pinggir kehidupan.

Ia adalah selubung yang menyelimuti kehidupan.

Ketika bekerja, zikir.

Ketika belajar, zikir.

Ketika berjalan, zikir.

Ketika makan, zikir.

Ketika menghadapi masalah, zikir.

Bukan berarti lidah harus terus-menerus mengucapkan lafaz tertentu sampai lupa bahwa kita sedang menyebrang jalan.

Kesadaran spiritual tidak menghapus kewaspadaan.

Ia justru membuat kita lebih hadir.

Kita makan dengan sadar.

Berbicara dengan sadar.

Bekerja dengan sadar.

Marah dengan sadar—dan kalau bisa, jangan terlalu sering.

Kita mulai menyadari bahwa setiap napas adalah hadiah.

Setiap detak jantung adalah kesempatan.

Setiap pertemuan adalah kemungkinan untuk berbuat baik.

Setiap kesulitan adalah kesempatan untuk belajar.

Dan setiap waktu yang berlalu adalah halaman yang tidak dapat kita tulis ulang.

Mungkin inilah makna terdalam dari ungkapan bahwa setiap waktu dapat menjadi Lailatul Qadar.

Bukan karena setiap malam berubah secara hukum menjadi malam kemuliaan itu, tetapi karena hati yang hadir bersama Allah mampu menemukan keberkahan di dalam setiap detik.

Maka jangan menunggu usia panjang untuk menjadi dekat kepada Allah.

Jangan menunggu Ramadan untuk mulai sadar.

Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.

Jangan menunggu kehilangan untuk memahami keberadaan.

Dan jangan menunggu ponsel kehabisan baterai untuk menyadari bahwa hidup kita sendiri juga sedang berjalan menuju angka nol.

Sebab barangkali pertanyaan terbesar kehidupan bukan:

“Berapa lama aku hidup?”

Melainkan:

“Berapa banyak dari hidupku yang benar-benar kujalani bersama Allah?”

Di situlah waktu berubah menjadi barakah.

Di situlah napas menjadi zikir.

Di situlah kehidupan sehari-hari perlahan menjadi perjalanan pulang.

Dan mungkin, di sanalah kita menemukan bahwa Lailatul Qadar tidak selalu harus dicari di kejauhan.

Kadang ia bersembunyi di balik satu napas yang kita sadari, satu detik yang kita syukuri, satu kesalahan yang kita tobati, dan satu hati yang akhirnya berkata dengan sungguh-sungguh:

“Ilāhī anta maqṣūdī.”

Tuhanku, Engkaulah tujuanku.

Selebihnya, dunia boleh ribut.

Notifikasi boleh berbunyi.

Deadline boleh mengejar.

Tetangga boleh membicarakan kita.

Tetapi hati tahu ke mana ia pulang.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.