Ada manusia yang sangat rajin menghitung umur. Umur sendiri dihitung sampai dua angka di belakang koma, umur orang lain dibandingkan, lalu ketika memasuki usia tertentu mulai panik: “Kok belum punya rumah? Kok belum kaya? Kok belum punya jabatan?”
Padahal ada satu pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: selama
umur itu berjalan, sebenarnya apa yang sudah kita lakukan dengan waktu?
Sebab umur panjang belum tentu panjang berkahnya. Ada orang
hidup puluhan tahun tetapi sebagian besar waktunya habis untuk mengeluh,
mengejar dunia, bertengkar di kolom komentar, dan mencari siapa yang salah. Ada
pula orang yang hidupnya singkat, tetapi setiap waktunya terasa penuh: banyak
memberi, banyak mengingat Allah, banyak bersyukur, dan ketika pergi
meninggalkan jejak kebaikan yang lebih panjang daripada usianya.
Inilah salah satu kegelisahan yang dibangkitkan oleh
hikmah-hikmah Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī. Waktu ternyata bukan sekadar angka
pada kalender. Waktu adalah amanah yang setiap detiknya diam-diam sedang
berjalan menuju pintu keluar.
Dan yang lebih menyedihkan: tidak ada tombol “undo”.
Umur Panjang, Tapi Isinya Loading
Kita sering mengira keberkahan identik dengan panjang umur.
Seolah-olah kalau seseorang hidup sampai 90 tahun, otomatis ia lebih beruntung
daripada yang hidup 50 tahun.
Padahal Allah tidak menilai kehidupan seperti petugas
sensus.
Bukan soal berapa tahun kita hidup, melainkan apa yang
terjadi di dalam tahun-tahun tersebut.
Ada usia yang panjang tetapi kosong. Ada usia yang pendek
tetapi padat makna.
Mirip hard disk: kapasitas besar tidak menjamin isinya
berguna. Bisa saja 1 terabyte penuh dengan foto makanan, screenshot percakapan,
video yang tidak pernah ditonton lagi, dan 4.000 foto langit yang sebenarnya
hampir sama.
Begitu pula hidup.
Yang penting bukan berapa banyak hari yang kita miliki,
tetapi berapa banyak hari yang benar-benar kita hidupi dengan kesadaran
kepada Allah.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia melalui Surah al-‘Aṣr
bahwa waktu membawa manusia kepada kerugian, kecuali mereka yang beriman,
beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Jadi masalah kita bukan semata-mata kekurangan waktu.
Sering kali masalah kita adalah kelebihan waktu yang
tidak tahu mau dipakai untuk apa.
22 Jam yang Misterius
Imam al-Ghazālī dalam Bidāyat al-Hidāyah memberikan
gambaran yang membuat kita agak malu kepada jam dinding: waktu ibadah formal
manusia dalam sehari relatif singkat, sementara sebagian besar waktu lainnya
terbuka lebar untuk berbagai aktivitas.
Dan di sinilah manusia modern menunjukkan kreativitasnya.
Dua puluh dua jam bisa digunakan untuk:
bangun tidur, membuka ponsel, mengecek notifikasi, membuka
media sosial, menonton satu video, terseret ke video berikutnya, membaca
komentar, membalas komentar, menyesal membalas komentar, lalu mencari video
untuk menenangkan diri setelah membaca komentar.
Tiba-tiba sudah magrib.
Kita kemudian berkata:
“Wah, hari ini cepat sekali.”
Hari memang tidak cepat.
Kita yang terlalu sibuk sehingga tidak menyadari ia
sedang pergi.
Setiap Napas Adalah Kesempatan
Dalam pembahasan ḥuqūq al-awqāt, ada satu kesadaran
yang sangat dalam: tidak semua hak waktu dapat diganti.
Salat yang terlewat memiliki pembahasan qada. Puasa tertentu
juga memiliki qada. Tetapi bagaimana dengan satu napas yang sudah berlalu?
Tidak ada qada untuk napas pukul 14.37 tadi.
Tidak ada tombol:
“Ulangi napas sebelumnya.”
Karena itu setiap detik memiliki keunikannya sendiri.
Satu detik yang lewat tidak pernah kembali dalam bentuk yang
sama.
Di sinilah konsep zikir menjadi sangat luas. Zikir bukan
hanya ketika seseorang duduk di atas sajadah dengan tasbih di tangan. Zikir
adalah kesadaran bahwa hidup berlangsung billāh-lillāh: karena Allah dan
untuk Allah.
Kuliah karena Allah.
Bekerja karena Allah.
Mengasuh anak karena Allah.
Mencari nafkah karena Allah.
Bahkan mencuci piring pun—kalau dilakukan dengan kesadaran
yang benar—tidak harus menjadi aktivitas spiritual yang dramatis.
Hanya saja, kita sering ingin pengalaman spiritual yang
spektakuler.
Mencuci piring sambil mengingat Allah terasa kurang mistis.
Kita maunya melihat cahaya dari langit.
Padahal mungkin Allah sedang mengajari kita ikhlas melalui piring
kotor yang tidak pernah selesai.
Lailatul Qadar di Mana-Mana?
Ada ungkapan Syekh Abul ‘Abbās al-Mursī yang sangat indah:
“Awqātunā kulluhā lailat al-qadr.”
Setiap waktu kita adalah Lailatul Qadar.
Ini tentu bukan berarti setiap malam secara hukum menjadi
Lailatul Qadar. Maksud spiritualnya adalah bahwa bagi orang yang benar-benar
hadir bersama Allah, setiap saat dapat menjadi waktu yang penuh limpahan makna
dan keberkahan.
Ramadan memberi kita Lailatul Qadar sebagai karunia yang
luar biasa.
Tetapi tasawuf mengajak kita bertanya lebih jauh:
Kalau kita hanya sadar kepada Allah pada malam tertentu,
lalu bagaimana dengan siang, sore, dan pagi yang lain?
Jangan-jangan kita terlalu sibuk menunggu malam istimewa
sampai lupa membuat siang biasa menjadi istimewa.
Ada orang mengejar Lailatul Qadar sambil tetap menghabiskan
sebelas bulan lainnya dalam mode autopilot.
Padahal spiritualitas bukan sekadar berburu malam.
Ia adalah belajar hadir dalam setiap saat.
Barakah Bukan Berarti Rekening Bertambah Nol
Ini bagian yang sering membuat manusia modern salah paham.
Ketika mendengar “barakah”, kita membayangkan:
rekening bertambah, bisnis laris, rumah besar, kendaraan
bagus, proyek datang bertubi-tubi.
Kalau semua itu datang, kita berkata:
“Alhamdulillah, hidup saya penuh berkah.”
Tetapi kalau bisnis bangkrut, kesehatan terganggu, rencana
gagal, lalu kita bertanya:
“Ya Allah, berkahnya ke mana?”
Padahal barakah bukan sekadar banyaknya benda yang kita
miliki.
Barakah adalah bertambahnya kebaikan dalam diri kita.
Bertambah sabar.
Bertambah syukur.
Bertambah tawakkal.
Bertambah ridha.
Bertambah kasih sayang.
Bertambah kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan
Allah.
Karena itu seseorang bisa memiliki sedikit harta tetapi
hidupnya penuh berkah. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi
setiap malam hatinya tetap gelisah seperti tab browser yang terlalu banyak
dibuka.
Kuliah Bisa Menjadi Ibadah, Kantor Bisa Menjadi Jalan
Pulang
Gagasan billāh-lillāh menjadi menarik ketika
diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Seorang mahasiswa yang berangkat kuliah dengan niat:
“Ilāhī anta maqṣūdī” — Tuhanku, Engkaulah tujuanku.
Maka perjalanan menuju kampus tidak lagi sekadar perpindahan
geografis.
Kuliah bukan hanya mengejar nilai.
Belajar menjadi bagian dari amanah.
Demikian pula orang yang bekerja.
Ia tidak harus meninggalkan kantor untuk menjadi spiritual.
Justru kantor itulah medan spiritualnya.
Bos yang menyebalkan bisa menjadi latihan sabar.
Teman kerja yang sulit bisa menjadi latihan menahan ego.
Gaji yang pas-pasan bisa menjadi latihan syukur.
Deadline yang brutal bisa menjadi latihan tawakkal.
Dan rapat yang seharusnya 20 menit tetapi berlangsung dua
jam?
Mungkin itu level lanjut dari mujāhadah.
Tentu saja, bukan berarti semua rapat adalah ibadah. Tetapi
kesadaran kepada Allah membuat aktivitas biasa memperoleh orientasi yang
berbeda.
Zikir yang Tidak Perlu Dipamerkan
Ada tingkatan zikir yang semakin dalam ketika semakin tidak
membutuhkan penonton.
Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal ingin
didokumentasikan.
Makan difoto.
Liburan difoto.
Sedekah difoto.
Olahraga difoto.
Bahkan ketika sedang “tidak melakukan apa-apa”, kita masih
sempat membuat story bahwa kita sedang tidak melakukan apa-apa.
Maka zikir yang rahasia menjadi sangat berharga.
Ada hubungan yang hanya diketahui oleh hamba dan Tuhannya.
Tidak perlu caption.
Tidak perlu emoji.
Tidak perlu:
“Masya Allah, sedang menikmati kedekatan spiritual.”
Sebab semakin dalam zikir, semakin kecil kebutuhan untuk
memberitahukan bahwa kita sedang berzikir.
Di titik tertentu, lafaz bahkan menjadi sunyi, sementara
hati mengalami ḥuḍūr—kehadiran.
Bukan lagi sekadar “mengucapkan nama Allah”, tetapi hidup
dalam kesadaran bahwa Allah tidak pernah absen.
Takhallī, Taḥallī, Tajallī: Bersih-Bersih Batin
Perjalanan spiritual kemudian bergerak melalui tiga istilah
indah: takhallī, taḥallī, dan tajallī.
Takhallī adalah mengosongkan diri dari sifat buruk.
Terutama ego.
Masalahnya, ego ini sangat pintar.
Ketika kita mengatakan:
“Aku tidak punya ego.”
Ego kita langsung tersenyum bangga.
Ketika kita berkata:
“Aku sudah ikhlas.”
Ego menjawab:
“Hebat juga saya.”
Karena itu perjuangan melawan ego bukan perkara sederhana.
Setelah mengosongkan diri, datang taḥallī: menghiasi
diri dengan sifat-sifat terpuji—sabar, tawaduk, syukur, kasih sayang, dan
kejujuran.
Lalu tajallī: ketika nilai-nilai itu mulai memancar
dalam kehidupan.
Artinya, kesalehan tidak berhenti di sajadah.
Kalau selesai salat kita langsung memarahi orang serumah,
mungkin ada sesuatu yang masih perlu direnungkan.
Kalau rajin zikir tetapi senang merendahkan orang lain,
mungkin tasbih sudah panjang tetapi ego masih pendek umur.
Tafakur: Jalan-Jalan Tanpa Tiket
Tasawuf juga mengajak manusia bertafakur.
Al-fikratu sairul-qalbi fī mayādīnil-agyār—tafakur
adalah perjalanan hati di medan makhluk.
Ini menarik karena kita sebenarnya sering jalan-jalan setiap
hari, tetapi belum tentu hati kita ikut berjalan.
Kita melihat langit, tetapi yang dipikirkan saldo.
Melihat hujan, tetapi memikirkan jemuran.
Melihat gunung, tetapi memikirkan angle foto.
Melihat laut, tetapi mencari sinyal.
Tafakur mengubah cara memandang.
Langit bukan sekadar langit.
Hujan bukan sekadar hujan.
Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan, kegagalan,
keberhasilan—semuanya dapat menjadi pintu untuk membaca tanda-tanda Allah.
Para ulul albāb bukan orang yang berhenti berpikir
karena sudah beriman.
Justru karena beriman, mereka berpikir lebih dalam.
Mereka berzikir sambil berdiri, duduk, dan berbaring.
Kemudian bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi.
Dengan kata lain:
zikir menjaga hati agar tidak tersesat; tafakur membuat
akal tidak menganggur.
Orang Arif dan Seni Melihat Allah di Balik Kejadian
Ada perbedaan menarik antara orang yang hanya melihat
peristiwa dan orang yang belajar melihat makna di balik peristiwa.
Bagi sebagian orang, dunia adalah kumpulan ancaman.
Ada orang yang harus ditakuti.
Ada masalah yang harus dikhawatirkan.
Ada masa depan yang harus dicemaskan.
Tetapi bagi orang yang arif, setiap kejadian dapat menjadi
pintu untuk mengenal Allah.
Bukan berarti ia tidak sedih.
Bukan berarti ia tidak menangis.
Bukan berarti hidupnya bebas masalah.
Ia hanya tidak membiarkan masalah menjadi tuhan kecil
yang menguasai seluruh hatinya.
Karena itu ḥusnuzan kepada Allah bukan sekadar
berpikir positif.
Ia adalah keyakinan bahwa di balik sesuatu yang belum kita
pahami, tetap ada hikmah dan pengaturan Allah.
Kita hanya belum melihat seluruh halaman.
Kita Sering Mengejar Surga, Tetapi Lupa Menjadi Orang
yang Layak Memasukinya
Ada manusia yang sangat rajin membicarakan surga.
Gambarannya indah.
Sungai mengalir.
Buah-buahan.
Tidak ada pajak.
Tidak ada deadline.
Tidak ada grup WhatsApp kantor.
Sungguh menjanjikan.
Tetapi pembahasan spiritual mengingatkan: menginginkan surga
tanpa amal adalah lamunan.
Demikian pula mengejar dunia tanpa henti sampai kematian
datang adalah kesia-siaan.
Kita harus hidup di antara keduanya: bekerja di dunia,
tetapi tidak diperbudak dunia; berharap akhirat, tetapi tidak menjadikannya
alasan untuk mengabaikan amanah di dunia.
Satu Jam Tafakur
Anjuran untuk menyediakan waktu bertafakur setidaknya satu
jam terdengar sederhana.
Tetapi cobalah.
Satu jam tanpa ponsel.
Satu jam tanpa scrolling.
Satu jam tanpa membuka berita.
Satu jam tanpa memeriksa apakah seseorang sudah membaca
pesan kita.
Mungkin lima menit pertama kita akan merasa damai.
Menit keenam mulai gelisah.
Menit kesepuluh tangan mencari ponsel.
Menit kelima belas kita sadar bahwa ponsel ternyata memiliki
kekuatan magnetis.
Dan di situlah latihan dimulai.
Karena kita bukan hanya belajar duduk diam.
Kita sedang belajar berjumpa dengan diri sendiri tanpa
distraksi.
Mungkin setelah itu kita baru sadar betapa berisiknya
kehidupan yang selama ini kita sebut “normal”.
Selubung Dzikir
Pada akhirnya, zikir bukanlah aktivitas yang ditempelkan di
pinggir kehidupan.
Ia adalah selubung yang menyelimuti kehidupan.
Ketika bekerja, zikir.
Ketika belajar, zikir.
Ketika berjalan, zikir.
Ketika makan, zikir.
Ketika menghadapi masalah, zikir.
Bukan berarti lidah harus terus-menerus mengucapkan lafaz
tertentu sampai lupa bahwa kita sedang menyebrang jalan.
Kesadaran spiritual tidak menghapus kewaspadaan.
Ia justru membuat kita lebih hadir.
Kita makan dengan sadar.
Berbicara dengan sadar.
Bekerja dengan sadar.
Marah dengan sadar—dan kalau bisa, jangan terlalu sering.
Kita mulai menyadari bahwa setiap napas adalah hadiah.
Setiap detak jantung adalah kesempatan.
Setiap pertemuan adalah kemungkinan untuk berbuat baik.
Setiap kesulitan adalah kesempatan untuk belajar.
Dan setiap waktu yang berlalu adalah halaman yang tidak
dapat kita tulis ulang.
Mungkin inilah makna terdalam dari ungkapan bahwa setiap
waktu dapat menjadi Lailatul Qadar.
Bukan karena setiap malam berubah secara hukum menjadi malam
kemuliaan itu, tetapi karena hati yang hadir bersama Allah mampu menemukan
keberkahan di dalam setiap detik.
Maka jangan menunggu usia panjang untuk menjadi dekat kepada
Allah.
Jangan menunggu Ramadan untuk mulai sadar.
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.
Jangan menunggu kehilangan untuk memahami keberadaan.
Dan jangan menunggu ponsel kehabisan baterai untuk menyadari
bahwa hidup kita sendiri juga sedang berjalan menuju angka nol.
Sebab barangkali pertanyaan terbesar kehidupan bukan:
“Berapa lama aku hidup?”
Melainkan:
“Berapa banyak dari hidupku yang benar-benar kujalani
bersama Allah?”
Di situlah waktu berubah menjadi barakah.
Di situlah napas menjadi zikir.
Di situlah kehidupan sehari-hari perlahan menjadi perjalanan
pulang.
Dan mungkin, di sanalah kita menemukan bahwa Lailatul Qadar
tidak selalu harus dicari di kejauhan.
Kadang ia bersembunyi di balik satu napas yang kita sadari,
satu detik yang kita syukuri, satu kesalahan yang kita tobati, dan satu hati
yang akhirnya berkata dengan sungguh-sungguh:
“Ilāhī anta maqṣūdī.”
Tuhanku, Engkaulah tujuanku.
Selebihnya, dunia boleh ribut.
Notifikasi boleh berbunyi.
Deadline boleh mengejar.
Tetangga boleh membicarakan kita.
Tetapi hati tahu ke mana ia pulang.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.