Menua Itu Wajib, Keriput Itu Bonus

Renungan  dari Cermin, Skincare, dan Nasihat Colette

Ada satu hal yang sangat tidak adil dalam hidup: kita boleh menolak banyak hal, tetapi tidak boleh menolak tua.

Kita boleh menolak mantan. Boleh menolak ajakan reuni. Boleh menolak telepon dari nomor tidak dikenal. Bahkan boleh menolak kenyataan bahwa saldo rekening tinggal cukup untuk membeli gorengan.

Tetapi menolak tua?

Silakan coba.

Pagi-pagi Anda bangun, melihat cermin, lalu berkata:

“Saya tidak mau tua.”

Cermin biasanya tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan kenyataan dengan kejam.

Kerutan tetap ada.

Rambut putih tetap tumbuh.

Mata tetap membutuhkan jarak tertentu untuk membaca tulisan kecil di kemasan obat.

Dan yang paling menyakitkan: wajah kita mulai memiliki fitur-fitur baru yang sebelumnya tidak pernah kita pesan.

Di tengah kegelisahan manusia menghadapi waktu itulah nasihat Colette terasa seperti tamparan lembut yang sangat beradab.

Dalam Les Vrilles de la vigne, Colette mengajak kita menerima kenyataan bahwa kita memang harus menua. Bukan dengan menangis, memberontak, atau berdoa agar Tuhan salah memasukkan tanggal lahir kita.

Kita harus pergi menuju usia tua.

Dan menurut Colette, kita sebaiknya pergi dengan membawa kesehatan, keceriaan, daya tarik, kebaikan, dan keadilan.

Singkatnya:

Tua boleh. Berantakan jangan.


Manusia dan Perang Dunia Melawan Keriput

Peradaban manusia telah mencapai kemajuan luar biasa.

Kita bisa mengirim manusia ke luar angkasa.

Kita bisa melakukan video call dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Kita memiliki kecerdasan buatan yang bisa menulis puisi, membuat gambar, menganalisis data, bahkan menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah kita tanyakan.

Tetapi begitu melihat satu kerutan baru di dahi, kita panik.

“Ini apa?”

“Kerutan.”

“Sejak kapan?”

“Sepertinya sejak lima tahun lalu.”

“LIMA TAHUN?!”

Lalu dimulailah operasi militer.

Serum.

Moisturizer.

Retinol.

Sunscreen.

Masker.

Krim malam.

Krim pagi.

Krim sebelum krim.

Dan entah apa lagi.

Kamar mandi akhirnya berubah menjadi laboratorium kimia.

Sementara itu, nenek kita dulu mungkin hanya menggunakan sabun dan tetap hidup sampai usia delapan puluh sekian.

Kita hidup di zaman ketika manusia takut terlihat tua, padahal seluruh isi tubuhnya sedang bekerja sama menuju ke sana.

Ini agak lucu.

Kita membayar mahal untuk melawan sesuatu yang secara biologis sudah menjadi bagian dari paket kelahiran.


Colette Tidak Menyuruh Kita Menyerah

Di sinilah Colette menarik.

Ia tidak mengatakan:

“Kalau sudah tua, ya sudah. Jangan peduli penampilan.”

Bukan.

Justru ia mengatakan: pergilah dengan berhias.

Ini penting.

Menerima penuaan bukan berarti kita harus menyerah kepada kemalasan.

Kalau rambut memutih, kita masih boleh menyisirnya.

Kalau kulit berubah, kita masih boleh merawatnya.

Kalau tubuh bertambah usia, kita masih boleh menjaga kesehatan.

Kalau wajah mulai menunjukkan sejarah kehidupan, kita tidak harus menyembunyikannya seolah-olah kita baru saja melakukan kejahatan.

Ada perbedaan besar antara merawat diri dan memusuhi diri sendiri.

Merawat diri berkata:

“Aku menghargai tubuhku.”

Obsesi anti-tua berkata:

“Aku membenci kenyataan bahwa tubuhku mempunyai umur.”

Yang pertama adalah perawatan.

Yang kedua adalah perang saudara.

Dan lucunya, dalam perang tersebut kita memakai tubuh sendiri sebagai medan tempur.


Keriput Itu Arsip, Bukan Aib

Bayangkan wajah sebagai sebuah buku.

Setiap kerutan adalah semacam catatan kaki.

Ada kerutan karena terlalu banyak tertawa.

Ada kerutan karena terlalu sering berpikir.

Ada kerutan karena pernah menangis.

Ada kerutan karena terlalu sering mengernyit melihat harga kebutuhan pokok.

Ada juga kerutan karena bertahun-tahun menghadapi orang yang mengatakan:

“Sebentar saja, Pak.”

Lalu rapat berlangsung tiga jam.

Jadi sebenarnya kerutan bukan sekadar tanda bahwa usia bertambah.

Ia adalah semacam arsip biologis.

Wajah manusia menyimpan sejarah.

Masalahnya, masyarakat modern lebih menyukai wajah tanpa sejarah.

Kita ingin wajah yang terlihat seperti baru keluar dari pabrik.

Halus.

Licin.

Mengilap.

Tanpa noda.

Tanpa kerutan.

Tanpa masa lalu.

Kalau bisa, wajah umur lima puluh tetapi tampak seperti baru lulus SMA.

Tubuh berkata:

“Saya sudah melewati banyak hal.”

Filter berkata:

“Tidak ada yang perlu tahu.”


Manusia Modern Ingin Menipu Cermin

Kita sekarang hidup dalam zaman ketika kamera depan ponsel menjadi hakim baru kehidupan.

Sebelum keluar rumah, kita bercermin.

Setelah keluar rumah, kita membuka kamera.

Setelah memotret, kita memperbaiki wajah.

Setelah memperbaiki wajah, kita masih merasa ada yang kurang.

Akhirnya kita mengedit foto sampai orang yang ada di foto tidak lagi sepenuhnya mengenali dirinya sendiri.

Teman bertanya:

“Ini kamu?”

Kita menjawab:

“Versi terbaikku.”

Masalahnya, versi terbaik itu kadang bahkan tidak memiliki pori-pori.

Padahal manusia asli memang punya pori-pori.

Dan Colette tampaknya memahami sesuatu yang kita lupakan: martabat tidak membutuhkan wajah yang selalu muda.

Martabat membutuhkan cara kita membawa diri.


Keceriaan: Skincare yang Tidak Dijual di Apotek

Menariknya, Colette memasukkan keceriaan ke dalam bekal menghadapi usia tua.

Ini mungkin salah satu kosmetik terbaik yang sering kita lupakan.

Kita membeli krim anti-aging seharga ratusan ribu, tetapi lupa membeli kegembiraan.

Kita rajin merawat kulit, tetapi lupa merawat humor.

Padahal kemampuan tertawa adalah salah satu bentuk perlawanan paling sehat terhadap keseriusan hidup.

Orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri memiliki keunggulan besar.

Ia tidak mudah dipermalukan oleh kenyataan.

Ketika rambutnya putih, ia berkata:

“Ini bukan uban. Ini highlight alami.”

Ketika lupa sesuatu:

“Bukan lupa. Otak sedang melakukan seleksi prioritas.”

Ketika harus membaca tulisan kecil dengan menjauhkan ponsel:

“Saya sedang menggunakan teknologi zoom manual.”

Begitulah manusia bertahan.

Dengan humor.

Sebab kalau semua perubahan hidup dianggap tragedi, kita akan kehabisan tenaga bahkan sebelum mencapai usia tua.


Yang Menjadi Tua Bukan Hanya Wajah

Ada hal yang lebih mengkhawatirkan daripada keriput.

Yaitu ketika hati menjadi tua sebelum waktunya.

Wajah boleh menua.

Rambut boleh memutih.

Langkah boleh melambat.

Tetapi jangan sampai rasa ingin tahu mati.

Jangan sampai kita menjadi orang yang setiap melihat sesuatu yang baru langsung berkata:

“Zaman saya dulu tidak begitu.”

Kalimat itu adalah salah satu tanda penuaan mental paling klasik.

Anak muda memakai teknologi baru:

“Zaman saya dulu…”

Mereka mendengarkan musik baru:

“Zaman saya dulu…”

Mereka memiliki cara komunikasi baru:

“Zaman saya dulu…”

Akhirnya seluruh kehidupan menjadi museum pribadi.

Padahal menjadi tua tidak berarti harus berhenti belajar.

Justru usia seharusnya memberi kita kemampuan untuk berkata:

“Saya mungkin tidak memahami semuanya, tetapi saya ingin tahu.”

Itulah kemudaan yang lebih penting daripada wajah.


Bawa Kebaikan, Karena Krim Tidak Bisa Melakukannya

Colette juga menyebut kebaikan dan keadilan.

Ini menarik.

Karena keduanya tidak bisa dibeli di toko kosmetik.

Tidak ada serum:

Anti-Wrinkle + Anti-Jahat Formula.

Tidak ada moisturizer:

Deep Hydration + Deep Empathy.

Tidak ada toner:

Brightening + Tidak Suka Menghakimi Orang.

Padahal semakin tua, mestinya manusia semakin ringan dalam menjalani hidup.

Kita sudah cukup lama melihat manusia melakukan kesalahan.

Kita sendiri sudah cukup banyak melakukan kesalahan.

Maka usia seharusnya membuat kita lebih memahami bahwa setiap orang sedang membawa sesuatu yang tidak terlihat.

Orang yang semakin tua tetapi semakin kasar sebenarnya hanya menambah umur, bukan menambah kebijaksanaan.

Sebab tua secara biologis itu otomatis.

Bijaksana tidak.


Jangan Berhenti di Tengah Jalan

Nasihat Colette akhirnya kembali kepada sebuah gagasan sederhana:

Jangan berhenti di jalan yang memang harus ditempuh.

Kita sering berhenti bukan karena tidak mampu berjalan, tetapi karena terus menoleh ke belakang.

“Dulu saya begini.”

“Dulu wajah saya begitu.”

“Dulu rambut saya hitam.”

“Dulu badan saya lebih langsing.”

“Dulu saya kuat begadang.”

Tentu saja.

Dulu juga kita tidak punya cicilan sebanyak sekarang.

Tetapi waktu tidak mengenal nostalgia.

Ia terus berjalan.

Maka tugas kita bukan memaksa waktu mundur.

Tugas kita adalah berjalan bersamanya.

Hari ini kita mungkin tidak sekuat sepuluh tahun lalu.

Tetapi mungkin kita lebih sabar.

Mungkin kita tidak lagi mengejar semua orang.

Mungkin kita sudah tahu mana yang penting dan mana yang hanya kebisingan.

Mungkin kita mulai memahami bahwa tidak semua pertengkaran perlu dimenangkan.

Mungkin kita akhirnya tahu bahwa tidur lebih awal jauh lebih menyenangkan daripada debat politik di media sosial sampai pukul dua pagi.

Kalau begitu, bukankah ada sesuatu yang kita peroleh dari usia?


Menua dengan Anggun, Bukan dengan Panik

Pada akhirnya, menjadi tua bukanlah kegagalan.

Kegagalan adalah menghabiskan seluruh hidup kita dengan sibuk membenci kenyataan bahwa kita sedang hidup.

Colette mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana:

Kita harus pergi.

Maka pergilah.

Bawalah kesehatan jika masih ada.

Bawalah keceriaan.

Bawalah daya tarik tanpa harus terobsesi.

Bawalah kebaikan.

Bawalah keadilan.

Bawalah kenangan, tetapi jangan menjadikannya tempat tinggal permanen.

Dan kalau rambut sudah memutih, jangan buru-buru menganggapnya sebagai musuh.

Mungkin ia hanya sedang memberi tahu bahwa kita telah berjalan cukup jauh.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan wajah yang selalu muda.

Ia membutuhkan jiwa yang tidak kehilangan kemampuan untuk mencintai kehidupan.

Jadi, kalau besok pagi kita bercermin dan menemukan satu kerutan baru, jangan langsung panik.

Tataplah baik-baik.

Tersenyumlah.

Lalu katakan:

“Selamat datang. Rupanya kamu sudah sampai juga.”

Setelah itu, pakailah sunscreen.

Karena menerima takdir tidak berarti menolak akal sehat.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Menua Itu Wajib, Keriput Itu Bonus Menua Itu Wajib, Keriput Itu Bonus Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/11/2026 03:07:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list