Akal untuk Beli Gorengan, Hati untuk Menikah

Tentang Freud, Cinta, dan Kebiasaan Manusia Mengacaukan Keputusan

Ada sebuah kutipan yang beredar luas dan konon berasal dari Sigmund Freud:

“Dalam perkara-perkara kecil, percayalah pada akalmu; dalam perkara-perkara besar, percayalah pada hatimu.”

Kalimat ini indah. Terlalu indah, malah. Begitu indahnya sampai kita patut curiga: jangan-jangan Freud tidak pernah mengatakannya.

Ini memang salah satu hobi internet yang paling menghibur: mengambil kalimat bijak, lalu mencari tokoh terkenal untuk dijadikan bapaknya. Kalau kalimatnya tentang cinta, kasih kepada Shakespeare. Kalau tentang kesederhanaan, kasih kepada Gandhi. Kalau tentang kegilaan, kasih kepada Nietzsche. Kalau tentang alam bawah sadar, ya sudah, Freud saja.

Kasihan Freud. Setelah meninggal, rupanya ia masih harus bertanggung jawab atas perkataan orang-orang yang tidak pernah ia kenal.

Freud dan Kejahatan Mengatasnamakan Orang Mati

Freud dikenal sebagai orang yang gemar membongkar rahasia manusia. Ia membicarakan ketidaksadaran, dorongan, konflik batin, mimpi, hasrat, dan segala macam hal yang membuat manusia tampak jauh lebih rumit daripada yang ingin kita akui.

Tetapi sejauh penelusuran terhadap karya-karya Freud, kutipan tentang akal dan hati itu tidak mudah ditemukan dalam tulisan aslinya.

Dengan kata lain, Freud mungkin tidak pernah berkata demikian.

Namun, internet punya prinsip yang sederhana:

Kalau kalimatnya terdengar dalam, carikan orang terkenal.

Ini seperti menemukan sandal di masjid lalu menuliskan nama Plato di atasnya.

Masalah selesai.

Yang lebih menarik adalah: meskipun bukan ucapan Freud, kalimat tersebut tetap mengandung persoalan yang sangat Freudian.

Sebab manusia memang makhluk aneh. Kita memiliki akal, tetapi sering mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Kita punya hati, tetapi kadang-kadang baru menggunakannya setelah keputusan dibuat oleh ego.

Bahkan sering kali kita bukan menggunakan akal untuk mencari kebenaran, melainkan menggunakan akal untuk membela keputusan yang sudah dibuat oleh hati.

Hati berkata:

“Belilah.”

Akal bertanya:

“Apakah kita punya uang?”

Hati menjawab:

“Ini kesempatan terakhir.”

Akal:

“Diskonnya cuma 5 persen.”

Hati:

“Tapi warnanya bagus.”

Akal:

“Barang itu tidak kita perlukan.”

Hati:

“Justru karena tidak diperlukan, kita harus membelinya sebelum kehabisan.”

Begitulah peradaban manusia berjalan.

Perkara Kecil: Percayalah pada Akal

Untuk urusan kecil, akal memang sebaiknya diberi pekerjaan.

Misalnya menghitung uang.

Jika uang kita Rp100.000 dan harga barang Rp150.000, akal seharusnya berkata:

“Tidak.”

Tetapi manusia modern telah menemukan teknologi baru untuk mengalahkan akal: paylater.

Dengan paylater, akal tidak lagi berkata “tidak mampu”, melainkan:

“Secara teknis, mampu. Masalahnya nanti.”

Ini kemajuan besar dalam sejarah umat manusia.

Dahulu manusia takut pada harimau. Sekarang manusia takut pada tanggal jatuh tempo.

Akal juga berguna untuk menentukan rute perjalanan, menghitung anggaran, membaca kontrak, memilih ukuran pakaian, atau mengetahui bahwa dua tambah dua memang bukan lima hanya karena kita sedang sangat membutuhkan lima.

Untuk urusan semacam itu, jangan terlalu banyak mendengarkan hati.

Bayangkan kalau kita hendak pergi ke Bandung.

Aplikasi navigasi mengatakan:

“Belok kiri.”

Hati berkata:

“Jalan kanan kelihatannya lebih romantis.”

Kita ikuti hati.

Tiga jam kemudian kita menemukan diri kita di sebuah desa yang tidak pernah kita dengar namanya.

Hati masih berkata:

“Percayalah pada proses.”

Pada titik itu kita sadar: kadang-kadang hati memang memiliki cara yang sangat kreatif untuk membawa manusia menuju masalah.

Tetapi untuk Perkara Besar, Akal Bisa Kebanyakan Ngitung

Lalu datanglah persoalan besar.

Mau menikah dengan siapa?

Mau memilih pekerjaan apa?

Mau tinggal di mana?

Apa yang membuat hidup ini bermakna?

Apa yang sebenarnya kita inginkan?

Nah, di sini kalkulator mulai kehilangan wibawa.

Bayangkan seseorang ingin memilih pasangan hidup berdasarkan spreadsheet.

Kolom pertama: pendidikan.

Kolom kedua: penghasilan.

Kolom ketiga: tinggi badan.

Kolom keempat: stabilitas pekerjaan.

Kolom kelima: kesamaan hobi.

Kolom keenam: kemampuan komunikasi.

Kolom ketujuh: hubungan dengan keluarga.

Setelah semua dihitung, keluarlah hasil:

“Calon pasangan ideal: tidak tersedia.”

Sebab manusia bukan barang elektronik yang bisa dibandingkan berdasarkan spesifikasi.

Kita bisa menghitung berapa penghasilan seseorang.

Kita tidak bisa menghitung berapa banyak ketenangan yang ia bawa ke dalam hidup kita.

Kita bisa menghitung jarak rumah.

Kita tidak bisa menghitung seberapa jauh seseorang akan berjalan ketika kita sedang jatuh.

Kita bisa menilai penampilan.

Tetapi kita tidak punya alat ukur yang akurat untuk mengetahui apakah seseorang akan tetap tinggal ketika wajah kita sudah tidak menarik, rambut mulai rontok, dan pembicaraan kita mulai diulang tiga kali dalam satu malam.

Untuk perkara besar, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kalkulasi.

Ia membutuhkan hati.

Atau, kalau istilah “hati” terasa terlalu puitis, kita bisa menyebutnya intuisi, nilai hidup, kesadaran diri, pengalaman, dan suara batin.

Tetapi tentu saja, “ikuti spreadsheet-mu” tidak seindah “ikuti hatimu”.

Masalahnya: Hati Juga Bisa Bohong

Di sinilah persoalannya.

Kalau akal selalu benar, hidup akan sederhana.

Kalau hati selalu benar, hidup juga sederhana.

Sayangnya, keduanya kadang sama-sama bermasalah.

Hati bisa berkata:

“Dia orang yang tepat.”

Padahal sebenarnya hati sedang berkata:

“Aku takut sendirian.”

Hati berkata:

“Aku mencintainya.”

Padahal bisa jadi:

“Aku hanya takut kehilangan perhatian.”

Hati berkata:

“Aku harus membeli ini.”

Padahal:

“Aku sedang stres.”

Jadi tidak semua suara dari dalam diri adalah suara kebijaksanaan.

Kadang-kadang itu cuma kecemasan yang sedang memakai pakaian puitis.

Bahkan intuisi yang sering kita anggap sebagai “suara hati” pun tidak selalu ajaib. Intuisi bisa merupakan hasil pengalaman yang terkumpul secara diam-diam. Tetapi ia juga bisa menjadi kumpulan prasangka, ketakutan, kebiasaan, dan bias yang menyamar sebagai kebijaksanaan.

Maka ketika hati berkata:

“Jangan percaya orang itu.”

Kita sebaiknya tidak langsung menganggapnya wahyu.

Bisa jadi memang ada tanda bahaya.

Tetapi bisa juga orang itu hanya memakai sandal yang kita tidak suka.

Dan Akal Pun Bisa Gila

Kalau hati dapat menipu, akal juga tidak lebih suci.

Akal memiliki penyakitnya sendiri: overthinking.

Orang yang terlalu banyak berpikir bisa membuat keputusan sederhana menjadi sidang kabinet.

Mau mengirim pesan:

“Sudah makan?”

Kemudian dipikirkan selama 45 menit.

Apakah terlalu perhatian?

Apakah terlalu dingin?

Apakah tanda tanya perlu satu atau dua?

Apakah emoji akan membuatnya tampak kekanak-kanakan?

Akhirnya pesan tidak pernah dikirim.

Orang yang ditunggu pun menikah dengan orang lain.

Akal kemudian membuat kesimpulan:

“Ini memang bukan takdir.”

Padahal masalahnya sederhana:

terlalu lama mengetik.

Ada pula orang yang ingin memilih pekerjaan.

Ia membaca 37 artikel.

Menonton 18 video.

Membuat lima tabel.

Bertanya kepada tujuh teman.

Mengikuti tes kepribadian.

Membaca ramalan zodiak—diam-diam.

Lalu setelah tiga bulan penelitian:

“Sepertinya saya belum siap memutuskan.”

Inilah tragedi manusia modern.

Kita memiliki informasi yang luar biasa banyak, tetapi kadang-kadang tidak mampu memilih makan malam.

Mungkin yang Kita Butuhkan Bukan Akal atau Hati

Mungkin persoalannya bukan memilih antara akal dan hati.

Mungkin kita perlu membuat keduanya duduk satu meja.

Akal bertugas bertanya:

“Apakah ini masuk akal?”

Hati bertanya:

“Apakah ini bermakna?”

Akal bertanya:

“Apa risikonya?”

Hati bertanya:

“Apakah hidup seperti ini sesuai dengan nilai yang kupercaya?”

Akal melihat konsekuensi.

Hati melihat makna.

Akal membantu kita agar tidak tersesat.

Hati membantu kita menentukan apakah tempat yang kita tuju memang layak didatangi.

Tanpa akal, hati bisa menjadi kompas yang rusak.

Tanpa hati, akal bisa menjadi GPS yang sangat akurat menuju tempat yang sebenarnya tidak ingin kita datangi.

Di Zaman Algoritma, Hati Malah Semakin Penting

Ironisnya, semakin canggih teknologi, semakin banyak keputusan kecil yang bisa diserahkan kepada mesin.

Algoritma bisa memilih lagu.

Bisa merekomendasikan film.

Bisa menentukan rute.

Bisa menghitung pengeluaran.

Bisa menganalisis data.

Bahkan sekarang mesin semakin mampu membantu manusia mengambil keputusan yang dulu dianggap membutuhkan kecerdasan luar biasa.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih sulit:

Untuk apa saya hidup?

Algoritma mungkin bisa mengetahui lagu yang kemungkinan besar kita sukai.

Tetapi apakah ia tahu mengapa lagu itu membuat kita menangis?

Mesin mungkin bisa menemukan pasangan yang secara statistik paling kompatibel.

Tetapi apakah statistik mampu menjelaskan mengapa kita merasa pulang ketika berada di samping seseorang?

AI dapat membantu kita memilih pekerjaan dengan gaji tinggi.

Tetapi ia tidak bisa sepenuhnya menentukan apakah pekerjaan itu membuat kita merasa hidup atau hanya membuat rekening bank kita hidup.

Teknologi dapat membantu menjawab pertanyaan:

“Apa yang sebaiknya saya pilih?”

Tetapi pertanyaan:

“Menjadi manusia seperti apa yang ingin saya jalani?”

tetap berada di wilayah yang lebih dalam.

Mungkin Freud Akan Tertawa

Kalau Freud benar-benar mendengar kutipan yang dinisbatkan kepadanya itu, mungkin ia akan tersenyum.

Lalu berkata:

“Menarik. Saya tidak pernah mengatakan itu.”

Kemudian ia mungkin bertanya:

“Kenapa kalian begitu ingin saya yang mengatakannya?”

Dan di situlah persoalan sebenarnya muncul.

Manusia suka mencari otoritas untuk mengesahkan apa yang sebenarnya sudah ingin dipercayainya.

Kita tidak hanya mencari kebenaran.

Kadang-kadang kita mencari orang terkenal yang bersedia menjadi saksi bahwa kita benar.

Kalau kutipan itu dikatakan orang biasa, kita mungkin mengabaikannya.

Tetapi kalau di bawahnya tertulis:

— Sigmund Freud

Mendadak kalimat tersebut menjadi sangat dalam.

Padahal mungkin Freud sedang tidur di kuburan dan tidak tahu apa-apa.

Penutup: Jangan Gunakan Hati untuk Membeli, Jangan Gunakan Kalkulator untuk Mencintai

Pada akhirnya, kebijaksanaan mungkin bukan terletak pada memilih akal atau hati.

Kebijaksanaan adalah mengetahui kapan harus menggunakan yang mana.

Gunakan akal ketika membeli barang yang sebenarnya tidak perlu.

Gunakan hati ketika menentukan apa yang benar-benar berharga.

Gunakan akal ketika membaca kontrak.

Gunakan hati ketika memilih siapa yang akan kita percaya.

Gunakan akal ketika menghitung utang.

Gunakan hati ketika memutuskan untuk memaafkan.

Gunakan akal ketika seseorang menawarkan investasi dengan keuntungan 500 persen per bulan.

Dan gunakan hati—serta akal sekaligus—ketika orang itu mengatakan:

“Tenang saja, ini pasti aman.”

Sebab manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang selalu rasional, juga bukan manusia yang selalu mengikuti perasaan.

Ia adalah manusia yang mampu membuat akal dan hati berdialog tanpa saling membunuh.

Akal berkata:

“Jangan terburu-buru.”

Hati berkata:

“Tapi jangan takut hidup.”

Akal berkata:

“Perhitungkan risikonya.”

Hati berkata:

“Tapi jangan sampai hidup hanya menjadi perhitungan.”

Dan mungkin, di antara keduanya, lahirlah sesuatu yang lebih matang:

kebijaksanaan.

Adapun apakah kalimat tersebut benar-benar berasal dari Freud?

Itu soal lain.

Kalau tidak benar pun, kita masih bisa mengambil hikmahnya.

Lagipula, di zaman internet ini, sebuah kalimat tidak perlu benar-benar diucapkan seseorang untuk membuat manusia merenung.

Cukup dibuat indah, diberi nama Freud, lalu dibagikan ribuan orang.

Setelah itu, kita semua merasa sedikit lebih bijaksana.

Padahal tadi baru saja membeli barang diskon 70 persen yang tidak kita butuhkan.

Hati menang.

Akal mengajukan keberatan.

Kartu kredit membayar.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Akal untuk Beli Gorengan, Hati untuk Menikah Akal untuk Beli Gorengan, Hati untuk Menikah Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/28/2026 01:06:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list