Belajar Stoikisme dari Marcus Aurelius, Sambil Menyadari Bahwa Bahkan Password Wi-Fi Pun Tidak Benar-Benar Milik Kita
Ada sebuah kebiasaan manusia yang agak lucu: kita datang ke
dunia tanpa membawa apa-apa, lalu menghabiskan sebagian besar hidup untuk
mengumpulkan sesuatu sambil berkata, “Ini punyaku!”
Rumahku. Mobilku. Uangku. Pekerjaanku. Jabatanku.
Pasanganku. Anak-anakku. Reputasiku. Pengikutku. Bahkan ada yang sampai
berkata, “Ini akun Instagram-ku!”
Padahal, beberapa abad yang lalu, Marcus Aurelius sudah
mengingatkan: santai saja. Jangan terlalu merasa memiliki. Dunia ini tidak
pernah menandatangani surat kontrak bahwa segala sesuatu akan tinggal bersama
kita selamanya.
Masalahnya, manusia tidak begitu mudah menerima kenyataan
tersebut.
Kita membeli mobil dengan cicilan lima tahun, lalu takut
mobilnya lecet. Membeli rumah tiga puluh tahun, lalu panik kalau genteng bocor.
Menjalin hubungan, lalu setiap lima menit memeriksa last seen. Membuat
unggahan di media sosial, lalu gelisah karena hanya mendapat tujuh likes.
Kita ingin memiliki dunia sekaligus meminta dunia berjanji
tidak akan berubah.
Sayangnya, dunia tidak pernah ikut rapat.
Ketakutan: Anak Kandung dari Rasa Memiliki
Gagasan utama Stoikisme dalam kutipan tersebut sederhana
tetapi agak menyebalkan: ketakutan sering lahir karena kita merasa memiliki
sesuatu.
Kita takut kehilangan karena sebelumnya berkata, “Ini
milikku.”
Kalau tidak merasa memiliki, mengapa takut kehilangan?
Coba perhatikan seorang anak kecil yang sedang bermain di
taman. Ia menemukan sebatang kayu dan berkata:
“Ini punyaku!”
Lima menit kemudian ia menemukan batu.
“Ini juga punyaku!”
Sepuluh menit kemudian ia menangis karena temannya mengambil
kayu tadi.
Orang dewasa sebenarnya tidak jauh berbeda. Hanya saja
mainannya lebih mahal.
Anak kecil kehilangan mobil-mobilan seharga dua puluh ribu
rupiah lalu menangis. Orang dewasa kehilangan mobil sungguhan lalu mengunggah
status:
“Tidak semua kehilangan harus disesali.”
Setelah itu diam-diam menelepon leasing.
Kita Mengira Memiliki, Padahal Hanya Sedang Menumpang
Stoikisme mengajak kita melihat kehidupan dengan perspektif
yang agak pahit tetapi sehat: segala sesuatu bersifat sementara.
Harta bisa hilang.
Jabatan bisa turun.
Tubuh berubah.
Popularitas surut.
Orang yang kita cintai suatu hari pergi.
Bahkan diri kita sendiri akhirnya harus menyerahkan kartu
identitas kepada alam semesta tanpa sempat memperpanjang masa berlaku.
Ini bukan ajaran pesimistis. Justru sebaliknya.
Dengan menyadari bahwa segala sesuatu sementara, kita
belajar menghargainya tanpa menjadi budaknya.
Kita menikmati rumah tanpa menganggap rumah sebagai sumber
harga diri.
Kita mencintai pasangan tanpa menganggap pasangan sebagai
barang inventaris.
Kita menikmati pekerjaan tanpa menganggap jabatan sebagai
identitas permanen.
Dan kita menggunakan media sosial tanpa menganggap jumlah likes
sebagai referendum atas harga diri.
Ini penting, karena manusia modern sering mengalami tragedi
filosofis yang sangat khas: baterai ponsel tinggal 5 persen, tetapi
ketenangan batin sudah habis sejak 80 persen.
Marcus Aurelius: Kaisar yang Juga Harus Mengingatkan
Dirinya Sendiri
Ada ironi menarik pada Marcus Aurelius.
Ia seorang kaisar. Ia memiliki kekuasaan, harta, status,
tentara, istana, dan segala macam benda yang membuat manusia biasa berkata,
“Enak ya jadi dia.”
Tetapi justru di tengah kekuasaan itulah ia menulis
pengingat untuk dirinya sendiri tentang kefanaan.
Seolah-olah ia berkata:
“Marcus, jangan terlalu mabuk jabatan. Besok juga mati.”
Ini sebenarnya luar biasa.
Sebab filosofi bukan sekadar kumpulan kalimat indah untuk
dipasang sebagai status WhatsApp. Filosofi adalah sesuatu yang terutama harus
dipakai ketika hidup sedang tidak sesuai dengan keinginan.
Mudah mengatakan, “Semua akan berlalu,” ketika sedang
menikmati kopi.
Sulit mengatakannya ketika rekening tinggal Rp47.000.
Mudah berkata, “Jangan terikat pada materi,” ketika rumah
aman dan kulkas penuh.
Tetapi ketika motor hilang di depan rumah, kita mendadak
menjadi ahli investigasi nasional.
Satu Hal yang Tidak Mudah Dirampas
Jika segala sesuatu di luar diri kita dapat berubah, lalu
apa yang tersisa?
Menurut Stoikisme: kebajikan dan karakter kita.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi.
Tetapi kita bisa berusaha mengendalikan bagaimana kita
meresponsnya.
Kita tidak dapat mengendalikan apakah orang menyukai kita.
Tetapi kita dapat mengendalikan apakah kita bersikap jujur.
Kita tidak dapat mengendalikan apakah orang memuji kita.
Tetapi kita dapat mengendalikan apakah kita tetap rendah
hati.
Kita tidak dapat mengendalikan masa depan.
Tetapi kita dapat mengendalikan tindakan hari ini.
Inilah yang membuat Stoikisme bukan sekadar filsafat “ya
sudah, terima saja”.
Stoikisme bukan mengajarkan kita menjadi batu.
Ia justru mengajarkan kita menjadi manusia yang tidak
gampang diombang-ambingkan oleh keadaan.
Ada perbedaan besar antara menerima kenyataan dan menyerah
kepada keadaan.
Orang yang menyerah berkata:
“Memang begini nasib saya.”
Orang Stoik berkata:
“Baik. Ini kenyataannya. Sekarang apa yang bisa saya
lakukan?”
Yang satu berhenti.
Yang lain bergerak.
Era Digital: Tempat Ketakutan Mendapat Wi-Fi
Kalau Marcus Aurelius hidup sekarang, mungkin ia akan
menghadapi jenis kecemasan baru.
Bukan hanya perang dan politik kekaisaran, tetapi juga:
“Kenapa dia sudah read tapi belum membalas?”
“Kenapa jumlah followers saya turun?”
“Kenapa orang itu tidak like unggahan saya?”
“Apakah saya terlihat sukses?”
“Apakah kehidupan orang lain lebih bahagia daripada saya?”
Media sosial membuat manusia memiliki kemampuan luar biasa
untuk membandingkan kehidupan nyata dengan highlight kehidupan orang
lain.
Kita melihat seseorang sedang berlibur di Eropa dan langsung
merasa hidup kita gagal.
Padahal kita tidak tahu bahwa lima menit sebelum foto itu
diambil, ia mungkin sedang bertengkar dengan pasangannya karena salah pesan
tiket kereta.
Kita hanya melihat fotonya.
Kita tidak melihat cicilannya.
Di sinilah Stoikisme menjadi sangat relevan.
Ia mengajarkan:
Jangan menyerahkan kedamaian batin kepada sesuatu yang
tidak berada dalam kendalimu.
Termasuk algoritma.
Bayangkan betapa lucunya manusia jika kebahagiaannya
ditentukan oleh robot yang bahkan tidak pernah minum kopi.
“Dunia Tidak Berutang Apa Pun Kepadamu”
Kalimat ini terdengar keras.
Tetapi justru karena keras, ia bisa membebaskan.
Kita sering merasa dunia seharusnya berlaku sesuai harapan
kita.
Saya sudah bekerja keras, maka saya harus sukses.
Saya sudah baik, maka orang lain harus baik kepada saya.
Saya sudah mencintai seseorang, maka ia harus mencintai saya
selamanya.
Saya sudah mengunggah sesuatu, maka orang harus menyukainya.
Padahal alam semesta tidak pernah menandatangani kontrak
tersebut.
Kerja keras tidak selalu menghasilkan kesuksesan secepat
yang kita inginkan.
Kebaikan tidak selalu dibalas kebaikan.
Cinta tidak selalu berlangsung selamanya.
Dan unggahan yang menurut kita sangat filosofis kadang hanya
mendapat tiga likes—dua di antaranya dari keluarga sendiri.
Stoikisme mengajak kita berhenti menuntut dunia memenuhi
skenario pribadi kita.
Bukan berarti kita berhenti berusaha.
Justru karena kita tidak mengendalikan hasil, kita belajar
mencurahkan perhatian kepada tindakan.
Kerjakan bagianmu. Biarkan dunia mengerjakan bagiannya.
Mencintai Tanpa Mencekik
Namun, jangan sampai ajaran tentang pelepasan disalahpahami.
Stoikisme bukan mengatakan:
“Jangan mencintai siapa pun karena semuanya akan hilang.”
Kalau begitu, kita tidak perlu menikah, berteman, punya
keluarga, atau bahkan memelihara kucing.
Yang diajarkan adalah mencintai tanpa menjadikan kepemilikan
sebagai syarat kebahagiaan.
Kita boleh mencintai seseorang dengan sangat dalam sambil
menyadari bahwa orang itu bukan barang milik kita.
Kita menemani, bukan memiliki.
Kita merawat, bukan menguasai.
Kita mencintai, bukan mencengkeram.
Sebab kadang-kadang yang kita sebut “cinta” sebenarnya hanya
kecemasan yang memakai parfum.
“Kamu harus selalu bersamaku.”
“Kamu harus membalas pesanku sekarang.”
“Kamu tidak boleh berubah.”
“Kamu harus selalu seperti ketika pertama kali kita
bertemu.”
Itu bukan cinta yang tenang.
Itu kontrak kerja tanpa tanda tangan.
Masalah Kita Bukan Kehilangan, Melainkan Keengganan
Menerima Perubahan
Kita tidak bisa menghentikan perubahan.
Orang bertambah tua.
Anak-anak tumbuh.
Teman berpindah.
Pekerjaan berubah.
Tubuh berubah.
Kota berubah.
Teknologi berubah.
Bahkan harga gorengan berubah.
Satu-satunya hal yang tidak berubah adalah kenyataan bahwa
semuanya berubah.
Karena itu, kebijaksanaan bukanlah kemampuan mempertahankan
segala sesuatu.
Kebijaksanaan adalah kemampuan mengatakan:
“Aku akan menghargainya selama ia ada, dan aku akan
menerimanya ketika ia pergi.”
Kalimat ini sederhana.
Tetapi menjalankannya membutuhkan latihan seumur hidup.
Sebab hati manusia sering berkata:
“Boleh berubah, tapi jangan yang ini.”
Masalahnya, alam semesta tidak menyediakan formulir
pengecualian.
Ketakutan Tidak Harus Dibunuh
Stoikisme tidak meminta kita menghilangkan seluruh rasa
takut.
Takut adalah bagian dari manusia.
Yang perlu dijinakkan adalah ketakutan yang menguasai
pikiran.
Takut kehilangan pekerjaan boleh.
Tetapi jangan sampai ketakutan membuat kita tidak berani
bekerja.
Takut kehilangan orang yang dicintai boleh.
Tetapi jangan sampai ketakutan membuat kita lupa menikmati
kebersamaan hari ini.
Takut gagal boleh.
Tetapi jangan sampai ketakutan membuat kita tidak pernah
mencoba.
Dengan kata lain:
Jangan menunggu rasa takut hilang untuk hidup. Belajarlah
hidup meskipun rasa takut masih ada.
Itulah keberanian.
Bukan tidak takut.
Melainkan tetap berjalan meskipun takut ikut berjalan di
sebelah kita.
Dan Akhirnya: Apa yang Sebenarnya Kita Miliki?
Pada akhirnya, pertanyaan Marcus Aurelius—atau setidaknya
semangat yang sering dikaitkan dengannya—mengarah kepada pertanyaan yang lebih
dalam:
Jika semua yang kita miliki dapat hilang, lalu apa yang
benar-benar menjadi milik kita?
Mungkin jawabannya bukan rumah.
Bukan uang.
Bukan jabatan.
Bukan popularitas.
Bukan jumlah pengikut.
Bahkan bukan tubuh yang setiap tahun semakin rajin
mengoleksi kerutan.
Yang paling dekat dengan “milik kita” adalah cara kita
memilih untuk hidup.
Kejujuran kita.
Keberanian kita.
Kebijaksanaan kita.
Keadilan kita.
Kemampuan kita untuk tetap manusiawi ketika dunia sedang
tidak ramah.
Itulah tanah terakhir yang sulit dirampas.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Apa yang akan hilang dariku?”
Melainkan:
“Ketika semuanya berubah, manusia seperti apa yang ingin
tetap menjadi diriku?”
Kalau kita mampu menjawabnya, mungkin ketakutan tidak perlu
diusir.
Cukup diajak duduk.
Diberi kopi.
Lalu dikatakan:
“Tenang. Kita memang tidak memiliki dunia ini. Kita hanya
sedang diberi kesempatan untuk menjalaninya.”
Dan mungkin, setelah itu, kita bisa hidup sedikit lebih
ringan.
Tidak terlalu takut kehilangan.
Tidak terlalu sibuk memiliki.
Tidak terlalu haus pengakuan.
Dan tentu saja, tidak perlu memeriksa jumlah likes
setiap tiga menit.
Sebab kalau Marcus Aurelius benar, yang paling penting
bukan berapa banyak yang kita genggam sebelum mati, melainkan seberapa baik
kita menjalani hidup sebelum genggaman itu akhirnya terbuka.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.