Rabu, 12 Agustus 2026

Manusia: Makhluk yang Selalu Salah Alamat Waktu

Ada sebuah kalimat yang beredar luas di media sosial:

“Manusia menangisi masa lalu yang tidak akan kembali, takut pada masa depan yang belum datang, dan melupakan masa kini yang sedang dijalaninya.”

Kalimat ini sering dikaitkan dengan Mark Twain. Padahal, seperti banyak kutipan bijak di internet, nama Mark Twain kadang-kadang diperlakukan seperti stempel kelurahan: asal ditempel, dianggap sah.

Mark Twain sendiri belum tentu pernah mengucapkannya. Tetapi tidak apa-apa. Sebab meskipun nama penulisnya masih menjadi misteri, isi kalimatnya terlalu akrab dengan kehidupan kita. Bahkan mungkin terlalu akrab.

Sebab begitulah manusia.

Pagi-pagi memikirkan masa depan.

Siang hari menyesali masa lalu.

Malam hari membuka ponsel dan kehilangan masa kini.

Masa Lalu: Museum Penyesalan yang Tidak Pernah Tutup

Masa lalu adalah tempat yang sangat aneh. Ia sudah tidak ada, tetapi manusia rajin sekali mengunjunginya.

Kita membuka kembali percakapan lama, melihat foto lama, mengingat keputusan lama, lalu berkata:

“Seandainya waktu itu saya tidak mengatakan begitu…”

“Seandainya saya memilih yang lain…”

“Seandainya dulu saya lebih berani…”

Kata seandainya adalah kendaraan paling populer menuju masa lalu. Sayangnya, kendaraan ini tidak memiliki roda.

Ia hanya berputar-putar di tempat.

Kita sering memperlakukan masa lalu seperti film yang bisa diedit. Masalahnya, tombol undo kehidupan tidak pernah dipasang oleh Tuhan. Kita bisa menghapus foto di galeri, tetapi tidak bisa menghapus kejadian dari sejarah diri sendiri.

Lucunya, manusia sering menghabiskan hari ini untuk memperbaiki kemarin.

Padahal kemarin sudah tidak menerima layanan perbaikan.

Masa lalu sebenarnya berguna. Ia adalah guru. Ia memberikan pelajaran, pengalaman, dan kadang-kadang rasa malu yang cukup untuk membuat kita tidak mengulangi kebodohan yang sama.

Tetapi manusia sering salah memahami fungsi guru.

Bukannya mengambil pelajaran, kita malah mengajak gurunya tinggal di rumah.

Akhirnya setiap malam masa lalu duduk di ruang tamu sambil berkata:

“Coba kalau dulu…”

Masa Depan: Bioskop yang Tiketnya Sudah Dibeli, Filmnya Belum Dibuat

Kalau masa lalu membuat manusia menyesal, masa depan membuat manusia cemas.

Masa depan bahkan lebih mengagumkan: ia belum terjadi, tetapi sudah berhasil membuat kita lelah.

Kita khawatir tentang pekerjaan yang belum hilang, penyakit yang belum datang, masalah yang belum muncul, orang yang belum mengecewakan, dan kegagalan yang bahkan belum sempat mencoba menyapa.

Ada orang yang baru mendapat kesempatan besok, tetapi malam ini sudah takut gagal.

Ada yang belum melamar, tetapi sudah membayangkan ditolak.

Belum memulai usaha, sudah menghitung kerugiannya.

Belum ujian, sudah membayangkan nilai jelek.

Belum tua, sudah khawatir pensiun.

Bahkan ada yang sedang menikmati liburan tetapi pikirannya sibuk memikirkan pekerjaan hari Senin.

Ini luar biasa.

Tubuhnya berada di pantai, tetapi pikirannya sudah duduk di kantor.

Manusia memang satu-satunya makhluk yang mampu berlibur sambil bekerja secara imajinatif.

Kecemasan pada masa depan sebenarnya memiliki fungsi. Ia bisa membuat kita bersiap. Masalahnya muncul ketika persiapan berubah menjadi kepanikan.

Mempersiapkan payung sebelum hujan adalah kebijaksanaan.

Duduk di rumah sambil menatap langit selama tiga hari karena takut hujan adalah masalah lain.

Masa Kini: Satu-satunya Waktu yang Tidak Pernah Kita Hadiri

Di antara masa lalu dan masa depan terdapat sebuah wilayah kecil bernama sekarang.

Inilah satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki.

Tetapi justru di sinilah manusia sering tidak hadir.

Saat makan, kita melihat ponsel.

Saat bersama keluarga, pikiran berada di kantor.

Saat bekerja, kita memikirkan liburan.

Saat liburan, kita memikirkan pekerjaan.

Saat bersama orang yang kita cintai, kita sibuk memotret agar bisa membuktikan kepada orang lain bahwa kita sedang bahagia.

Akhirnya kita bukan lagi menjalani kehidupan.

Kita menjadi fotografer kehidupan sendiri.

Momen sedang berlangsung, tetapi kita sibuk mencari sudut kamera.

Bahkan kopi pun sekarang tidak cukup hanya diminum. Ia harus difoto, diberi caption, diberi filter, lalu menunggu komentar orang lain.

Kopi yang tadinya masuk ke tubuh, sekarang lebih dulu masuk Instagram.

Inilah ironi zaman digital: manusia memiliki kamera yang semakin canggih untuk mengabadikan kehidupan, tetapi semakin sulit menikmati kehidupan ketika kehidupan itu berlangsung.

Seneca Sudah Mengingatkan, Kita Malah Scroll

Gagasan semacam ini sebenarnya bukan penemuan baru.

Para filsuf Stoik telah lama mengingatkan manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu.

Seneca, misalnya, berbicara panjang tentang singkatnya kehidupan dan betapa manusia sering merasa hidupnya pendek, padahal sebagian besar waktunya diberikan secara cuma-cuma kepada hal-hal yang tidak penting.

Marcus Aurelius juga mengingatkan pentingnya hidup dalam momen yang sedang dijalani.

Dua ribu tahun kemudian, masalahnya tetap sama.

Bedanya hanya alat gangguannya.

Dulu manusia mungkin terganggu oleh pesta, ambisi, gosip, dan urusan politik.

Sekarang kita punya notifikasi.

Dulu orang bisa kehilangan waktu karena ngobrol terlalu lama.

Sekarang kita bisa kehilangan dua jam hanya karena berniat melihat satu video pendek.

“Cuma sebentar.”

Kalimat paling berbahaya dalam sejarah umat manusia.

Cuma sebentar membuka TikTok.

Cuma sebentar melihat WhatsApp.

Cuma sebentar membaca berita.

Tahu-tahu ayam sudah berkokok.

Kita bahkan belum tahu mengapa video tentang orang memperbaiki mesin cuci bisa membawa kita kepada video tentang kehidupan gurita di dasar laut.

Masa Lalu untuk Belajar, Masa Depan untuk Bersiap

Lalu apakah kita harus melupakan masa lalu?

Tidak.

Masa lalu tetap penting. Tetapi tempatnya bukan di kursi pengemudi.

Ia seharusnya duduk di kursi belakang.

Sesekali boleh bertanya:

“Dari pengalaman tadi, apa yang bisa kita pelajari?”

Tetapi jangan biarkan ia memegang kemudi.

Begitu pula masa depan.

Kita perlu merencanakannya. Menabung, belajar, bekerja, menjaga kesehatan, mempersiapkan keluarga—semuanya penting.

Tetapi masa depan seharusnya menjadi tujuan, bukan rumah tempat kita tinggal secara mental.

Kita tidak perlu pindah ke masa depan hanya karena takut sesuatu akan terjadi di sana.

Sebab bisa jadi ketika kita sampai di sana, masalah yang kita takutkan ternyata tidak terjadi.

Dan kalau terjadi pun, kita baru akan menghadapinya saat waktunya tiba.

Mengapa harus membayar cicilan kecemasan sebelum barangnya datang?

Hidup di Sekarang Bukan Berarti Tidak Punya Rencana

Ada kesalahpahaman tentang hidup di masa kini.

Sebagian orang mengira hidup di masa kini berarti:

“Yang penting bahagia sekarang.”

Belanja sekarang.

Makan sekarang.

Bersenang-senang sekarang.

Besok urusan nanti.

Itu bukan hidup di masa kini.

Itu namanya menyerahkan masalah kepada versi diri kita di masa depan.

Dan versi diri kita di masa depan biasanya sangat kecewa kepada kita.

Hidup di masa kini bukan berarti mengabaikan masa depan. Justru sebaliknya: kita mempersiapkan masa depan tanpa kehilangan hari ini.

Kita menanam pohon sambil menikmati teduhnya.

Kita bekerja untuk masa depan sambil tetap menyadari bahwa hidup bukan sekadar daftar target yang harus dicentang.

Sebab manusia bisa begitu sibuk mengejar kehidupan yang ideal sampai lupa bahwa kehidupan yang sedang dijalani sebenarnya sudah berlangsung.

Waktu Tidak Pernah Meminta Kita untuk Mengejarnya

Barangkali inilah paradoks terbesar manusia.

Kita mengejar waktu seolah-olah waktu sedang melarikan diri.

Padahal waktu tidak pernah berlari.

Kitalah yang berubah.

Hari berganti malam, anak-anak tumbuh, rambut memutih, orang-orang datang dan pergi.

Kita sering baru menyadari indahnya sebuah masa setelah masa itu menjadi kenangan.

Ketika masih kecil, kita ingin cepat dewasa.

Ketika dewasa, kita ingin kembali muda.

Ketika bekerja, kita menunggu libur.

Ketika libur, kita memikirkan pekerjaan.

Ketika punya banyak uang, kita ingin punya waktu.

Ketika punya waktu, kita bingung menggunakannya.

Manusia memang makhluk yang sangat kreatif dalam menyia-nyiakan sesuatu yang paling berharga.

Padahal waktu tidak pernah bisa ditabung.

Uang yang hilang mungkin bisa dicari lagi.

Barang yang rusak bisa dibeli.

Kesempatan tertentu bisa datang kembali.

Tetapi pukul 04.00 yang sudah lewat tidak akan pernah kembali menjadi pukul 04.00.

Ia sudah pensiun dari kehidupan kita.

Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Waktu

Barangkali yang kita perlukan bukan tambahan waktu.

Kita membutuhkan perhatian yang lebih utuh terhadap waktu yang sudah ada.

Secangkir kopi yang benar-benar diminum.

Percakapan yang benar-benar didengarkan.

Makan malam tanpa memeriksa ponsel setiap tiga menit.

Berjalan tanpa terburu-buru.

Memandang wajah orang yang kita cintai tanpa berpikir tentang pekerjaan berikutnya.

Duduk sebentar.

Bernapas.

Menyadari bahwa kita masih hidup.

Sebab kehidupan tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar.

Kadang-kadang kehidupan hanya berupa pagi yang tenang, nasi hangat, suara anak-anak, obrolan sederhana, udara setelah hujan, atau seseorang yang bertanya:

“Sudah makan?”

Kalimat sederhana itu mungkin tidak akan masuk buku filsafat.

Tetapi bagi orang yang sedang lapar, ia adalah filsafat tingkat tinggi.

Penutup: Jangan Sampai Hidup Kita Hanya Menjadi Arsip

Masa lalu adalah arsip.

Masa depan adalah kemungkinan.

Masa kini adalah kehidupan.

Kita boleh membuka arsip untuk belajar. Kita boleh melihat peta masa depan untuk menentukan arah. Tetapi kaki tetap harus berdiri di tanah yang bernama sekarang.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengenang kehidupan yang sudah berlalu dan terlalu takut pada kehidupan yang belum terjadi, sehingga lupa bahwa kehidupan sedang mengetuk pintu tepat di depan kita.

Dan mungkin, pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah kemampuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok.

Bukan pula kemampuan untuk mengubah apa yang telah terjadi kemarin.

Kebijaksanaan mungkin jauh lebih sederhana:

mengetahui kapan harus belajar dari kemarin, kapan harus bersiap untuk besok, dan kapan harus berhenti sebentar untuk benar-benar hidup hari ini.

Sebab waktu tidak pernah meminta kita untuk menjadi sempurna.

Ia hanya terus berjalan.

Dan ironisnya, satu-satunya manusia yang sering tertinggal adalah kita sendiri—karena sibuk melihat ke belakang, terlalu cepat berlari ke depan, sementara kehidupan yang sesungguhnya diam-diam lewat di samping kita sambil berkata:

“Masih di sini, lho.”

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.