Drama Nasional Setetes Tinta

Atau: Mengapa Manusia Bisa Galau karena WiFi Lemot, Padahal Meteor Tidak Pernah Minta Izin?

Ada dua jenis manusia di dunia.

Yang pertama kehilangan dompet, lalu berkata, "Ya sudahlah, mungkin rezeki orang lain."

Yang kedua kehilangan sinyal WiFi selama lima detik, lalu menatap langit seolah-olah alam semesta telah mengkhianati kontrak sosial.

Sayangnya, populasi jenis kedua jauh lebih banyak.

Kalau Yusuf as-Siba'i masih hidup hari ini, mungkin ia tidak perlu lagi menulis Ard an-Nifaq. Cukup membuka media sosial selama lima belas menit. Bahan satirnya sudah tersedia gratis, lengkap dengan kolom komentar yang lebih dramatis daripada sinetron azab.

Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa membuat status sepanjang tiga halaman hanya karena kopi yang dipesannya kurang manis.

Padahal bumi tetap berputar.

Matahari tetap terbit.

Dan kasir yang salah menakar gula itu mungkin sedang memikirkan cicilan motor.


Kesedihan Modern: Semakin Canggih Teknologi, Semakin Sensitif Perasaan

Dulu orang bersedih karena gagal panen.

Sekarang orang bersedih karena baterai tinggal 2%.

Padahal charger ada di tas.

Manusia memang makhluk kreatif. Kalau tidak ada alasan untuk sedih, ia akan menciptakannya.

Ada yang panik karena jumlah likes postingannya hanya sembilan puluh delapan.

"Apa aku sudah tidak menarik lagi?"

Tenang.

Bisa jadi dua orang yang belum menekan tombol suka sedang tidur.

Atau sedang mandi.

Atau lebih ekstrem lagi: mereka sedang menjalani kehidupan nyata.


Setetes Tinta dan Segalon Air Mata

Yusuf as-Siba'i memberi contoh sederhana: seseorang menangisi setetes tinta yang jatuh di baju putih.

Kalau contoh itu diperbarui ke zaman sekarang, mungkin bunyinya begini:

Seorang pemuda menangis karena layar ponselnya tergores.

Lima menit kemudian ia hampir tertabrak truk karena sibuk memeriksa goresan itu.

Untung selamat.

Lucunya, setelah selamat ia kembali sedih karena goresannya belum hilang.

Inilah keajaiban manusia.

Nyawa lolos.

Fokusnya tetap tempered glass.


Ekonomi Kesedihan

Ada ilmu ekonomi.

Ada ekonomi politik.

Lalu ada ekonomi kesedihan.

Modalnya kecil.

Untungnya besar.

Misalnya kehilangan uang lima ribu rupiah.

Secara finansial, kerugiannya lima ribu.

Tetapi secara emosional, kerugiannya setara dengan kehilangan hak waris keluarga kerajaan.

Sepanjang hari wajah murung.

Malamnya sulit tidur.

Besok paginya masih mengingat uang yang mungkin sekarang sedang dipakai membeli gorengan oleh orang lain.

Padahal tubuh kita setiap hari menghabiskan miliaran sel yang mati tanpa mengadakan upacara pelepasan.

Jantung tetap bekerja.

Paru-paru tetap bernapas.

Hati tetap sabar menghadapi menu makan yang kadang lebih mirip eksperimen laboratorium.

Tubuh tidak pernah mengeluh.

Pemiliknya yang ribut.


Klub Pecinta Masalah

Ada hobi baru manusia modern.

Mengoleksi masalah yang bahkan belum terjadi.

Hari Senin mengkhawatirkan Jumat.

Hari Jumat menyesali Senin.

Hari Sabtu takut Minggu cepat habis.

Hari Minggu stres karena besok Senin.

Kalau dibuat grafik, hidup kita seperti sedang mengejar kereta yang ternyata sedang parkir.

Kata Yusuf as-Siba'i, sebagian besar kesedihan lahir bukan karena musibah.

Melainkan karena imajinasi kita bekerja lembur tanpa dibayar.


Perspektif: Obat yang Tidak Dijual di Apotek

Bayangkan dua orang.

Yang pertama mengeluh karena hujan.

Yang kedua bersyukur karena sawahnya tidak kekeringan.

Hujannya sama.

Langitnya sama.

Awan yang bertugas juga sama.

Yang berbeda hanyalah cara melihatnya.

Perspektif memang barang mahal.

Anehnya, gratis.

Tidak perlu cicilan.

Tidak perlu diskon akhir bulan.

Cukup menggeser sudut pandang beberapa sentimeter.

Sayangnya, manusia lebih suka menggeser layar daripada menggeser perspektif.


Dunia Tidak Sedang Mengincar Anda

Ada kabar baik.

Alam semesta sebenarnya tidak punya waktu khusus untuk membuat hidup kita sengsara.

Laptop hang bukan karena semesta membenci Anda.

Macet bukan hasil rapat rahasia galaksi.

Sendal putus bukan konspirasi internasional.

Kadang memang... sendalnya sudah tua.

Tetapi manusia memiliki bakat luar biasa menganggap dirinya tokoh utama dalam film tragedi.

Padahal bagi semesta, kita hanya satu penumpang yang sedang numpang lewat.


Bahagia Itu Tidak Berisik

Orang yang benar-benar bahagia biasanya sederhana.

Ia tertawa ketika tehnya tumpah, lalu membuat teh lagi.

Ia kehilangan uang receh, lalu berkata, "Mungkin memang bukan rezekiku."

Ia gagal sekali, lalu mencoba lagi.

Bukan karena hidupnya lebih mudah.

Tetapi karena ia sadar energi terlalu mahal untuk dihabiskan menangisi hal-hal yang bahkan seminggu lagi mungkin sudah lupa.

Sebaliknya, orang yang gemar memelihara kesedihan akan menemukan alasan baru setiap pagi.

Hari ini cuaca.

Besok tetangga.

Lusa algoritma media sosial.

Kalau semuanya baik-baik saja, ia akan sedih karena hidup terlalu tenang.


Jangan Sampai Air Mata Lebih Mahal daripada Masalahnya

Yusuf as-Siba'i seolah ingin berkata, "Hidup ini sudah cukup sulit tanpa bantuan dramatisasi dari pikiran kita sendiri."

Memang ada kesedihan yang layak dihormati: kehilangan orang tercinta, sakit, musibah besar, atau ketidakadilan yang nyata. Tetapi di sela-sela semua itu, kita sering menambahkan bonus kesedihan yang sebenarnya diproduksi sendiri.

Kita menangisi noda yang bisa dicuci.

Meratapi uang receh yang bisa dicari lagi.

Mengutuk hari yang sebenarnya hanya lewat seperti biasa.

Padahal hidup ini terlalu singkat untuk dijadikan festival mengeluh.

Kalau setiap tetes kopi yang tumpah harus diratapi, kapan kita sempat meminumnya?

Mungkin kebijaksanaan terbesar bukanlah hidup tanpa masalah.

Melainkan mampu membedakan mana yang benar-benar layak membuat kita menangis, dan mana yang cukup ditertawakan sambil berkata,

"Ya sudahlah... paling-paling cuma setetes tinta. Jangan sampai harga air mata lebih mahal daripada noda yang dicucinya."

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Drama Nasional Setetes Tinta Drama Nasional Setetes Tinta Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/01/2026 03:22:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list