Terlalu Halus untuk Dunia yang Kasar: Dostoevsky, Empati, dan Bahaya Menjadi Orang Baik di Media Sosial
Ada sebuah kebiasaan aneh di zaman internet: kalau ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, kita tinggal menempelkan nama tokoh besar di belakangnya.
“Jangan terlalu baik kepada orang lain.”
Biasa.
Tetapi kalau ditulis:
“Kesalahan terbesar orang-orang berjiwa halus adalah terlalu
berempati.”
lalu di bawahnya diberi nama Fyodor Dostoevsky,
mendadak kalimat itu tampak seperti hasil perenungan seorang manusia yang
selama tiga malam tidak tidur sambil memandangi salju Rusia.
Padahal, setelah diperiksa, Dostoevsky kemungkinan besar
tidak pernah mengatakannya.
Ini bukan masalah kecil. Di internet, sebuah kutipan palsu
bisa hidup jauh lebih panjang daripada kutipan asli. Bahkan kadang lebih
populer. Kutipan asli harus bekerja keras melalui buku, konteks, penerjemahan,
dan penelitian. Kutipan palsu cukup punya font yang bagus, latar belakang
hitam-putih, foto seorang filsuf berjanggut, dan sedikit suasana muram.
Selesai. Ia telah menjadi “kebenaran”.
Dostoevsky Tidak Pernah Mengatakannya, tetapi Internet
Sudah Terlanjur Yakin
Kutipan yang beredar itu kira-kira mengatakan bahwa
kesalahan terbesar orang-orang sensitif adalah terlalu banyak berempati, sebab
dunia ini terlalu kasar dan manusia-manusia medioker terlalu bodoh untuk
menghargai kehalusan jiwa.
Kalimatnya indah.
Agak menyakitkan.
Dan sangat cocok dijadikan status WhatsApp oleh seseorang
yang baru saja ditinggal seen.
Masalahnya: indah bukan berarti asli.
Tidak ditemukan bukti meyakinkan bahwa kalimat tersebut
berasal dari Dostoevsky. Ia tidak muncul dalam karya-karya terkenalnya seperti Crime
and Punishment, The Brothers Karamazov, The Idiot, atau Notes
from Underground.
Namun secara tematis, kutipan tersebut memang terdengar
seperti sesuatu yang mungkin keluar dari sebuah novel Dostoevsky.
Dan di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Kita sering tidak memeriksa apakah sebuah kutipan
benar-benar pernah diucapkan seorang tokoh. Kita hanya memeriksa apakah kutipan
itu terdengar seperti dia.
Kalau kalimatnya muram, kita kasih Dostoevsky.
Kalau terdengar bijaksana, kita kasih Einstein.
Kalau terdengar romantis, kita kasih Shakespeare.
Kalau terdengar seperti sedang menyerah kepada kehidupan,
kita kasih Nietzsche.
Kalau tidak tahu siapa yang mengatakannya, kita tulis saja:
“—Anonim”.
Ironisnya, “Anonim” mungkin merupakan satu-satunya nama yang
paling jujur di internet.
Tetapi Ada Sesuatu yang Dostoevskian di Dalamnya
Walaupun kutipan tersebut palsu, gagasannya tidak sepenuhnya
asing dari dunia Dostoevsky.
Lihat saja Pangeran Myshkin dalam The Idiot.
Myshkin adalah manusia yang sangat lembut, penuh belas
kasih, polos, dan memiliki kecenderungan untuk memahami penderitaan orang lain.
Ia memasuki dunia sosial yang penuh ambisi, kecemburuan, manipulasi, uang,
nafsu, dan berbagai komplikasi psikologis manusia.
Dengan kata lain, Myshkin masuk ke dalam masyarakat seperti
anak kucing masuk ke rapat direksi.
Ia membawa kebaikan.
Dunia membawa kalkulator.
Dan hasilnya tidak terlalu menggembirakan.
Tragedi Myshkin memperlihatkan bahwa kebaikan tidak selalu
mendapat hadiah. Orang yang tulus tidak otomatis mendapatkan perlakuan tulus.
Orang yang memahami penderitaan orang lain bahkan kadang justru menjadi tempat
pembuangan penderitaan seluruh dunia.
Ada orang yang datang kepadanya membawa masalah.
Besok datang lagi.
Lusa datang lagi.
Minggu depan datang lagi.
Sementara Myshkin tampaknya tidak pernah sempat mengatakan:
“Maaf, hari ini saya sedang tidak bisa menjadi pusat layanan
pelanggan emosional.”
Di sinilah persoalan empati menjadi rumit.
Empati Itu Indah, tetapi Tidak Harus Berarti Menjadi
Keset
Kita sering salah memahami empati.
Empati bukan berarti setiap kali seseorang sedih, kita harus
ikut tenggelam.
Kalau teman kita jatuh ke sungai, membantu dia keluar adalah
empati.
Ikut terjun tanpa tahu berenang bukan empati.
Itu namanya membuat dua orang tenggelam sekaligus.
Begitu pula dalam kehidupan.
Kita boleh memahami kesedihan seseorang tanpa harus
menjadikan kesedihan itu sebagai pekerjaan penuh waktu.
Kita boleh membantu orang lain tanpa harus menghancurkan
diri sendiri.
Kita boleh memaafkan tanpa harus memberikan akses VIP kepada
orang yang sama untuk menyakiti kita berkali-kali.
Dan kita boleh berkata:
“Tidak.”
Kalimat ini pendek, tetapi bagi sebagian orang berjiwa
lembut, mengucapkannya terasa seperti melakukan kudeta.
Mereka takut mengecewakan orang.
Takut dianggap jahat.
Takut dianggap tidak peduli.
Akhirnya mereka berkata “iya” kepada semua orang, sementara
tubuh dan pikirannya diam-diam mengajukan surat pengunduran diri.
Dunia Tidak Selalu Jahat, tetapi Dunia Juga Bukan Biara
Kutipan palsu tadi menarik karena menyentuh satu kenyataan
yang agak pahit: dunia tidak selalu menghargai kelembutan.
Ada orang yang melihat kebaikan sebagai kebaikan.
Ada pula yang melihat kebaikan sebagai peluang.
Yang pertama berkata:
“Terima kasih sudah membantu.”
Yang kedua berkata:
“Kalau begitu, besok bantu lagi, ya.”
Lalu minggu depan:
“Sekalian bantu yang ini.”
Lalu sebulan kemudian:
“Kok sekarang berubah?”
Beginilah perjalanan panjang seseorang dari orang baik
menjadi orang yang akhirnya belajar memasang batas.
Masalahnya bukan karena ia berhenti baik.
Ia hanya akhirnya menyadari bahwa kebaikan tanpa batas
sering kali menghasilkan korban baru: dirinya sendiri.
Karena itu, mungkin yang perlu dikurangi bukan empatinya,
melainkan ketidakmampuannya berkata cukup.
Media Sosial dan Industri Jiwa Sensitif
Kutipan seperti ini sangat populer di media sosial karena
menawarkan sesuatu yang sangat kita sukai: pembenaran.
Kita merasa lelah.
Lalu membaca:
“Jangan terlalu peduli kepada dunia.”
Kita merasa dimengerti.
Kita merasa:
“Nah! Ternyata bukan saya yang terlalu sensitif. Dunia
memang terlalu kasar.”
Ini jauh lebih nyaman daripada pertanyaan yang lebih sulit:
“Apakah saya terlalu sensitif?”
atau bahkan:
“Apakah saya sebenarnya belum tahu bagaimana mengelola emosi
saya?”
Pertanyaan kedua tidak enak.
Tidak cocok untuk Instagram.
Tidak cocok untuk poster dengan foto Dostoevsky sedang
menatap ke kejauhan.
Media sosial lebih menyukai kesimpulan daripada pemeriksaan
diri.
Kita ingin kalimat yang mengatakan:
“Kamu baik. Dunia yang salah.”
Padahal kehidupan sering kali jauh lebih rumit.
Kadang kita memang baik.
Kadang dunia memang kasar.
Kadang kita juga salah.
Dan kadang-kadang masalahnya hanya karena kita terlalu
banyak membaca status WhatsApp orang pada pukul dua pagi.
Bahaya Menjadikan Empati sebagai Identitas
Ada satu jebakan lain.
Seseorang bisa terlalu bangga karena merasa dirinya “lebih
peka” daripada orang lain.
“Aku terlalu sensitif untuk dunia ini.”
Kalimat ini terdengar indah.
Tetapi jika tidak hati-hati, ia bisa berubah menjadi
kesombongan yang memakai pakaian kerendahan hati.
Kita mulai membagi manusia menjadi dua kelompok:
Orang-orang halus seperti kita.
dan
orang-orang medioker yang tidak memahami kita.
Nah, ketika sudah sampai sini, kita sebenarnya sedang
berjalan menuju masalah baru.
Empati yang seharusnya membuat kita memahami orang lain
justru membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ironis sekali.
Kita menjadi orang yang sangat sensitif terhadap
penderitaan, tetapi tidak sensitif terhadap kemungkinan bahwa kita juga bisa
salah menilai orang.
Dostoevsky dan Penderitaan Manusia
Yang lebih menarik dari Dostoevsky justru bukan ajakan untuk
mengurangi empati.
Dalam karya-karyanya, penderitaan manusia sering menjadi
jalan untuk memahami kedalaman jiwa.
Manusia bisa jatuh.
Manusia bisa melakukan kejahatan.
Manusia bisa berbohong.
Manusia bisa menjadi sangat buruk.
Tetapi manusia juga masih mungkin berubah.
Di situlah belas kasih menjadi penting.
Dostoevsky tidak menawarkan dunia yang sederhana: orang baik
melawan orang jahat, lalu orang baik menang sambil mendapatkan hadiah.
Dunianya jauh lebih kacau.
Orang baik bisa melakukan kesalahan.
Orang jahat bisa memiliki sisi manusiawi.
Orang yang tampaknya hina bisa memiliki kemungkinan
penebusan.
Dan orang yang merasa paling bermoral pun kadang ternyata
hanya sedang mencari alasan untuk merasa lebih tinggi.
Karena itu, kalau kita ingin mengambil pelajaran dari
Dostoevsky, mungkin bukan:
“Jangan terlalu berempati.”
Melainkan:
“Berempatilah, tetapi pahami bahwa manusia itu
rumit—termasuk dirimu sendiri.”
Kelembutan Tidak Perlu Dibunuh, Hanya Perlu Diberi Pintu
Kita tidak perlu menjadi manusia dingin agar tidak terluka.
Kita hanya perlu belajar bahwa hati juga membutuhkan pintu.
Tidak semua orang harus masuk.
Tidak semua masalah harus kita selesaikan.
Tidak semua penderitaan harus kita tanggung.
Dan tidak setiap orang yang mengatakan “saya butuh bantuan”
otomatis menjadikan kita bertanggung jawab atas hidupnya.
Menjadi manusia yang lembut bukan berarti membiarkan diri
dipukul oleh dunia sampai kita lupa bentuk wajah sendiri.
Kelembutan yang sehat mempunyai batas.
Ia bisa berkata:
“Aku memahami kamu.”
tanpa berkata:
“Aku akan menghancurkan diriku demi kamu.”
Ia bisa berkata:
“Aku memaafkanmu.”
tanpa berkata:
“Silakan ulangi lagi.”
Ia bisa berkata:
“Aku peduli.”
tanpa berkata:
“Semua masalahmu sekarang menjadi masalahku.”
Akhirnya, Bukan Empati yang Berlebihan yang Berbahaya
Mungkin persoalan terbesar bukan terlalu banyak empati.
Yang berbahaya adalah empati tanpa kebijaksanaan.
Kebaikan tanpa batas bisa berubah menjadi pengorbanan yang
tidak sehat.
Kepekaan tanpa batas bisa berubah menjadi kelelahan.
Kepedulian tanpa batas bisa berubah menjadi kehilangan diri
sendiri.
Tetapi sebaliknya, ketidakpedulian juga bukan solusi.
Kalau setiap kali kita terluka lalu menyimpulkan bahwa
seluruh dunia tidak layak dipercaya, kita bukan sedang menjadi bijaksana.
Kita hanya sedang memasang pagar setinggi mungkin di sekitar
hati.
Memang aman.
Tetapi burung pun tidak bisa masuk.
Dan barangkali itulah pelajaran paling menarik dari kutipan
palsu yang mengatasnamakan Dostoevsky ini.
Kutipannya mungkin palsu, tetapi kegelisahannya nyata.
Kita memang hidup di dunia yang kadang kasar.
Kita memang akan bertemu orang yang memanfaatkan kebaikan.
Kita memang akan kecewa.
Tetapi solusinya bukan membunuh kelembutan.
Solusinya adalah membuat kelembutan menjadi lebih cerdas.
Sebab menjadi baik tanpa batas adalah kebodohan, tetapi
menjadi kejam karena pernah disakiti juga bukan kebijaksanaan.
Yang kita perlukan mungkin bukan hati yang lebih keras.
Kita hanya membutuhkan hati yang tetap lembut, tetapi sudah
belajar memasang pagar.
Dan kalau suatu hari ada orang mengunggah kutipan baru
dengan tulisan:
“Orang bijaksana tidak percaya semua kutipan di internet
— Fyodor Dostoevsky”
jangan langsung percaya.
Periksa dulu.
Sebab bisa jadi Dostoevsky bahkan belum pernah punya akun
Instagram.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
8/21/2026 09:45:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.