Ada dua benda di dunia yang paling jujur: timbangan dan cermin. Bedanya, timbangan masih bisa kita salahkan karena baterainya lemah. Cermin? Susah. Ia tidak pernah menerima suap, tidak bisa diblokir, dan belum ada fitur "beauty filter" di kamar mandi. Karena itulah banyak tragedi eksistensial dimulai bukan dari rapat kantor, bukan dari tagihan listrik, tetapi dari seseorang yang berdiri di depan cermin sambil berkata lirih,
"Lho... ini siapa?"
Bukan karena rumahnya kemasukan maling.
Tetapi karena yang muncul di depan cermin tampak seperti
versi bajakan dirinya sendiri.
Begitulah kira-kira suasana batin yang digambarkan dalam
kutipan puitis dari akun @GustavoAdolf_. Sebuah renungan yang mengingatkan
bahwa titik terendah hidup kadang bukan ketika dompet kosong atau sinyal Wi-Fi
hilang, melainkan ketika kita kehilangan hubungan baik dengan orang yang paling
dekat dengan kita: diri sendiri.
Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh. Kita bisa lupa
menaruh kunci motor selama dua jam, tetapi lebih sering lagi lupa menaruh diri
sendiri selama bertahun-tahun.
Ada yang kehilangan dirinya demi mengejar jabatan.
Ada yang menitipkan identitasnya kepada jumlah pengikut
media sosial.
Ada pula yang menggantung harga dirinya pada angka saldo
rekening.
Begitu salah satu hilang, seluruh bangunan kepercayaan
dirinya ikut roboh seperti menara balok yang ditendang bocah TK.
Lalu datanglah cermin.
Cermin tidak pernah berkata kasar. Ia hanya menunjukkan
fakta. Tetapi entah mengapa fakta sering lebih menyakitkan daripada komentar
netizen.
Saat itulah muncul pertanyaan klasik:
"Bagaimana aku bisa sampai begini?"
Pertanyaan ini terdengar sangat filosofis. Padahal sering
kali jawabannya sangat sederhana.
Kurang tidur.
Kebanyakan lembur.
Terlalu sering membandingkan hidup sendiri dengan orang yang
baru lima menit lalu upload foto liburan di Swiss, padahal fotonya hasil
cicilan empat belas bulan.
Media sosial memang menciptakan spesies manusia baru.
Mereka tampak selalu bahagia.
Sarapan bahagia.
Ngopi bahagia.
Macet bahagia.
Putus cinta pun estetik.
Sementara kita melihat semua itu sambil makan mi instan rasa
"akhir bulan", lalu bertanya kepada semesta mengapa hidup terasa
seperti serial drama yang episodenya tidak kunjung tamat.
Padahal setiap orang diam-diam sedang berantakan.
Ada yang edit fotonya.
Ada yang edit emosinya.
Ada pula yang edit kenyataan.
Yang menarik dari renungan tadi justru bukan bagian
"neraka"-nya.
Kalau soal neraka kehidupan, hampir semua orang punya paket
langganan masing-masing.
Yang menarik justru kemunculan sebuah tangga.
Mengapa tangga?
Mengapa bukan lift?
Karena kehidupan ternyata mengikuti logika bangunan tua.
Naik harus pakai kaki sendiri.
Lift hanya tersedia di pusat perbelanjaan.
Bukan di perjalanan memperbaiki hidup.
Tangga adalah simbol yang sangat tidak modern.
Ia lambat.
Melelahkan.
Kadang membuat lutut bunyi "krek-krek."
Tetapi justru itu rahasianya.
Perubahan besar hampir tidak pernah datang lewat lompatan
spektakuler.
Ia datang lewat kebiasaan kecil yang dilakukan
terus-menerus.
Tidur lebih awal.
Mengurangi membandingkan diri.
Minta maaf.
Berani meminta bantuan.
Berjalan kaki.
Membaca buku.
Menertawakan diri sendiri.
Anak tangga kehidupan ternyata lebih mirip daftar pekerjaan
rumah daripada adegan film superhero.
Ironisnya, banyak orang ingin keluar dari kegelapan
menggunakan cara yang sama yang membuatnya jatuh ke sana.
Stres karena media sosial, obatnya... membuka media sosial.
Lelah bekerja, obatnya... mencari pekerjaan tambahan.
Capek berpikir, obatnya... debat di kolom komentar.
Seolah-olah seseorang mencoba memadamkan api dengan menyiram
bensin premium.
Kalimat penutup kutipan itu sangat sederhana:
"Dari neraka pun orang bisa keluar, asal memilih tangga
yang benar."
Kalimat ini terdengar indah karena mengandung harapan.
Namun, kalau dipikir-pikir, ia juga mengandung sindiran.
Masalahnya bukan tidak ada tangga.
Masalahnya sering kali kita sibuk mengecat dinding neraka
supaya terlihat lebih estetik.
Kita membeli kursi baru untuk ruangan yang sebenarnya ingin
kita tinggalkan.
Kita mengganti wallpaper penderitaan, tetapi lupa mencari
pintu keluar.
Padahal hidup bukan lomba siapa yang paling nyaman tinggal
di dasar jurang.
Hidup adalah keberanian untuk berkata,
"Baiklah... hari ini aku naik satu anak tangga
saja."
Satu saja.
Besok satu lagi.
Lusa mungkin terpeleset sedikit.
Tidak apa-apa.
Tangga memang diciptakan untuk dinaiki, bukan untuk difoto
lalu dijadikan status motivasi.
Pada akhirnya, mungkin cermin bukan musuh kita.
Ia hanya pegawai paling jujur di dunia.
Ia tidak pernah menghina.
Ia hanya berkata tanpa suara,
"Aku tidak peduli siapa kamu kemarin. Yang ingin
kutahu, apakah besok kamu masih mau menjadi orang yang sama?"
Dan kalau suatu pagi kita kembali berdiri di depannya lalu
tersenyum karena akhirnya mengenali wajah sendiri, mungkin saat itulah kita
sadar bahwa kemenangan terbesar bukanlah menjadi lebih hebat daripada orang
lain.
Melainkan berhasil kembali menjadi diri sendiri.
Karena sesungguhnya, versi terbaik manusia bukanlah versi
yang selalu tampak sempurna.
Melainkan versi yang pernah hancur, sempat tersesat, lalu
menemukan jalan pulang—meski harus menaiki tangga sambil sesekali berhenti
karena napas tinggal setengah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.