Schopenhauer dan Seni Menikmati Kesendirian: Bahagia Tanpa Grup WhatsApp

Ada filsuf yang mengajarkan manusia bagaimana menjadi bahagia. Ada yang mengajarkan bagaimana menemukan makna hidup. Ada pula yang, setelah mengamati manusia cukup lama, sampai pada kesimpulan: sebaiknya jangan terlalu sering bertemu manusia.

Yang terakhir ini adalah Arthur Schopenhauer.

Schopenhauer adalah filsuf yang tampaknya tidak pernah mendapat memo bahwa kehidupan sosial adalah anugerah. Ketika orang lain berkata, “Ayo kita berkumpul, biar tidak kesepian,” Schopenhauer mungkin menjawab, “Terima kasih. Justru saya sedang berusaha agar tidak bertemu kalian.”

Bagi Schopenhauer, kesendirian bukan masalah. Masalahnya justru adalah manusia lain.

Kesendirian: Kemewahan yang Tidak Perlu Dibayar

Menurut Schopenhauer, kedamaian dan ketenangan merupakan sebagian dari kebaikan terbesar dalam hidup, setelah kesehatan. Dan tempat terbaik untuk menemukannya adalah kesendirian.

Ini masuk akal.

Cobalah duduk sendirian di rumah pada malam hari. Tidak ada yang bertanya, “Kamu kenapa diam?” Tidak ada yang berkata, “Kok sekarang berubah?” Tidak ada yang mengirim pesan:

“Lagi apa?”

Kita jawab:

“Lagi sendiri.”

Lalu dibalas:

“Kenapa?”

Inilah bukti bahwa manusia kadang tidak rela melihat manusia lain menikmati kesendirian.

Bahkan ketika kita sedang duduk diam membaca buku, selalu ada seseorang yang datang dan bertanya, “Kok sendirian?”

Seolah-olah duduk sendirian adalah gejala penyakit yang harus segera ditangani.

Schopenhauer justru melihatnya sebagai kemewahan.

Kesendirian memberi seseorang kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus memainkan peran sosial. Tidak perlu tertawa ketika lelucon sebenarnya tidak lucu. Tidak perlu mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”. Tidak perlu menghadiri acara yang sejak awal sudah kita tahu akan berakhir dengan foto bersama dan pertanyaan, “Kapan nyusul?”

Manusia dan Ilusi Bernama “Kita Sepemikiran”

Schopenhauer juga cukup pesimistis terhadap hubungan manusia.

Menurutnya, tidak mungkin dua manusia benar-benar menyatu secara sempurna. Setiap orang memiliki watak, temperamen, pengalaman, keinginan, dan kebiasaan masing-masing.

Dengan kata lain, bahkan orang yang kita cintai tetap memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat kita berpikir:

“Kok bisa dia berpikir begitu?”

Teman terbaik pun memiliki titik di mana kita mulai bertanya-tanya apakah persahabatan ini masih layak dipertahankan.

Pasangan hidup juga demikian.

Awalnya:

“Kita benar-benar cocok.”

Beberapa tahun kemudian:

“Mengapa handuk harus diletakkan di situ?”

Dari sinilah filsafat Schopenhauer terasa sangat praktis. Disonansi antarmanusia bukan kecelakaan. Ia adalah bagian dari paket kehidupan.

Kita membeli hubungan, bonusnya adalah perbedaan pendapat.

Semakin Kaya Batin, Semakin Betah Sendirian?

Schopenhauer punya gagasan yang lebih menarik lagi: semakin kaya kehidupan batin seseorang, semakin sedikit ia membutuhkan hiburan dari luar.

Orang yang pikirannya penuh mungkin tidak memerlukan keramaian untuk merasa hidup.

Ia bisa duduk membaca, berpikir, menulis, mendengarkan musik, atau sekadar memandang langit sambil memikirkan pertanyaan yang tidak menghasilkan uang.

Sementara itu, orang yang tidak tahan sendirian akan merasa harus terus terhubung.

Buka WhatsApp.

Tidak ada pesan.

Buka Instagram.

Tidak ada yang baru.

Buka Facebook.

Masih orang yang sama.

Buka X.

Lima menit kemudian menyesal.

Akhirnya kita sadar bahwa teknologi berhasil membuat kita terhubung dengan seluruh dunia, tetapi belum tentu berhasil membuat kita akrab dengan diri sendiri.

Kita tahu apa yang dilakukan ribuan orang setiap hari, tetapi kadang tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan dengan hidup kita.

Schopenhauer dan Anjingnya

Ada satu hal menarik dari kehidupan Schopenhauer: ia memang dikenal sebagai pribadi yang menyendiri dan memiliki hubungan sosial yang tidak selalu mudah.

Ia bahkan hidup bersama seekor anjing bernama Atma.

Ini tentu memberikan pertanyaan filosofis yang menarik.

Mengapa anjing?

Mungkin karena anjing adalah makhluk yang tidak pernah berkata:

“Menurut saya, pemikiranmu tentang metafisika terlalu pesimistis.”

Anjing juga tidak meminta penjelasan panjang.

Kalau lapar, ia makan.

Kalau senang, ia menggoyangkan ekor.

Kalau diajak jalan, ia senang.

Kalau Schopenhauer sedang murung, anjing mungkin hanya duduk di sampingnya.

Barangkali Schopenhauer menemukan bentuk hubungan ideal: dekat, tetapi tidak banyak debat.

Namun Ada Masalah: Kesendirian dan Kesepian Itu Berbeda

Di sinilah kita perlu sedikit mengerem kendaraan Schopenhauer.

Sebab sendiri tidak sama dengan kesepian.

Sendiri adalah kondisi.

Kesepian adalah pengalaman batin.

Seseorang bisa sendirian dan merasa sangat damai. Tetapi seseorang juga bisa berada di tengah pesta, dikelilingi seratus orang, lalu pulang dengan perasaan sangat kosong.

Sebaliknya, seseorang bisa tinggal sendirian, membaca buku sepanjang malam, dan merasa hidupnya baik-baik saja.

Jadi persoalannya bukan berapa banyak manusia yang berada di sekitar kita.

Persoalannya adalah apakah kita mampu hidup bersama diri sendiri.

Ini barangkali inti paling berharga dari Schopenhauer.

Zaman Modern: Kita Takut Kehilangan Wi-Fi Lebih dari Kehilangan Diri

Schopenhauer hidup pada abad ke-19. Ia belum mengenal internet, smartphone, algoritma, influencer, notifikasi, doomscrolling, dan orang yang mengunggah foto makanan sebelum makan.

Kalau ia hidup sekarang, mungkin ia akan mendapatkan bukti tambahan mengenai teorinya.

Manusia modern sangat takut sendirian.

Begitu duduk sendiri, tangan otomatis mencari ponsel.

Tidak ada notifikasi?

Periksa lagi.

Masih tidak ada?

Refresh.

Tetap tidak ada?

Mulai merasa tidak dihargai oleh alam semesta.

Padahal mungkin alam semesta sedang berkata:

“Cobalah lima menit tanpa saya kirimi apa-apa.”

Kita hidup dalam zaman hiper-konektivitas. Semua orang dapat menghubungi kita kapan saja. Tetapi justru karena itu, kemampuan untuk tidak dapat dihubungi menjadi sebuah kemewahan.

Mode pesawat kadang lebih dekat dengan pencerahan daripada seminar motivasi.

Tetapi Jangan Sampai Menjadi Pertapa yang Membenci Semua Orang

Namun Schopenhauer tidak boleh dibaca secara terlalu harfiah.

Kalau kita memahami kesendirian sebagai alasan untuk membenci manusia, kita bukan sedang menjadi bijaksana. Kita hanya sedang mencari pembenaran filosofis untuk malas bersosialisasi.

Ada perbedaan antara:

“Saya menikmati kesendirian.”

dan:

“Semua manusia bodoh kecuali saya.”

Yang pertama mungkin kebijaksanaan.

Yang kedua biasanya hanya kesombongan yang sedang memakai jas filsafat.

Hubungan sosial tetap penting. Kita membutuhkan orang lain untuk berbagi pengalaman, membantu ketika sakit, tertawa ketika hidup terlalu absurd, dan sesekali mengingatkan bahwa kita mungkin sedang salah.

Bahkan manusia yang sangat mandiri tetap membutuhkan manusia lain.

Setidaknya untuk memperbaiki Wi-Fi ketika router bermasalah.

Kekayaan Batin Bukan Berarti Kemiskinan Sosial

Barangkali kesalahan terbesar dalam membaca Schopenhauer adalah menganggap bahwa kita harus memilih: hidup sendiri atau hidup bersama orang lain.

Padahal kita tidak harus memilih salah satunya.

Kita bisa memiliki kehidupan batin yang kaya sekaligus memiliki hubungan yang sehat.

Kita bisa menikmati malam sendirian tanpa harus membenci pagi bersama keluarga.

Kita bisa membaca buku sendirian tanpa menganggap semua orang yang tidak membaca buku sebagai kaum barbar.

Kita bisa mematikan ponsel tanpa menghapus semua kontak.

Dan kita bisa mencintai seseorang tanpa berharap orang itu memahami kita seratus persen.

Sebab mungkin cinta yang dewasa bukanlah menemukan manusia yang selalu sependapat dengan kita.

Cinta adalah menemukan manusia yang pendapatnya berbeda, tetapi masih bersedia duduk bersama kita sambil membicarakannya.

Kesendirian sebagai Ruang Pulang

Schopenhauer mungkin terlalu pesimistis terhadap manusia. Ia mungkin terlalu cepat menyimpulkan bahwa hubungan antarmanusia pada dasarnya adalah sumber gangguan.

Tetapi ia memberi kita satu nasihat yang sangat penting:

Jangan sampai kita begitu bergantung pada dunia luar sehingga tidak sanggup hidup bersama diri sendiri.

Kesendirian yang sehat bukan berarti melarikan diri dari manusia.

Ia adalah kemampuan untuk pulang kepada diri sendiri.

Kita pergi ke keramaian, berbicara dengan banyak orang, tertawa, bekerja, bercinta, berdebat, membuka media sosial, lalu akhirnya kembali ke kamar.

Di sanalah kita bertemu seseorang yang paling sulit kita hindari:

diri sendiri.

Kalau kita tidak betah dengannya, masalahnya bukan kurangnya teman.

Mungkin kita memang belum kenal dengan penghuni rumah sendiri.

Dan kalau setelah mengenalnya kita masih tidak tahan, jangan buru-buru menyalahkan Schopenhauer.

Bisa jadi kita hanya membutuhkan secangkir kopi.

Atau libur.

Atau, dalam kasus yang lebih serius, mematikan notifikasi grup keluarga.

Penutup: Bahagia Itu Kadang Berarti Tidak Perlu Membalas Pesan

Pada akhirnya, mungkin Schopenhauer tidak benar sepenuhnya.

Kesendirian bukan kebahagiaan tertinggi bagi semua orang.

Kebersamaan juga bukan sumber penderitaan bagi semua orang.

Manusia membutuhkan keduanya.

Kita membutuhkan orang lain agar tidak menjadi pulau.

Tetapi kita juga membutuhkan kesendirian agar tidak berubah menjadi pasar malam yang buka dua puluh empat jam.

Kita perlu belajar menikmati kebersamaan tanpa kehilangan diri sendiri, dan menikmati kesendirian tanpa kehilangan kemampuan mencintai orang lain.

Sebab kehidupan yang sehat mungkin bukan kehidupan tanpa manusia lain.

Melainkan kehidupan di mana kita dapat berkata:

“Saya senang bersama kalian.”

dan, pada kesempatan lain:

“Sekarang saya ingin sendiri dulu.”

Tanpa drama.

Tanpa tersinggung.

Tanpa membuat status:

“Kadang kita harus menjauh untuk mengetahui siapa yang benar-benar peduli.”

Karena kalau Schopenhauer melihat status seperti itu, mungkin ia akan tersenyum kecil dan berkata:

“Nah. Itulah alasan saya memilih anjing.”

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Schopenhauer dan Seni Menikmati Kesendirian: Bahagia Tanpa Grup WhatsApp Schopenhauer dan Seni Menikmati Kesendirian: Bahagia Tanpa Grup WhatsApp Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/26/2026 03:22:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list